PINJOL (pinjaman online), Harusnya Presiden Malu, Bukan Bangga


PINJOL

 

Menurut pengamatan saya, orang-orang yang meminjam melalui pinjol (pinjaman online) rata-rata orang-orang kepepet. Mereka mengajukan pinjol untuk kebutuhan sehari-hari, bayar sekolah, bayar utang, gali lobang tutup lobang, dll.

 

Dengan bunga yang mencekik (rata-rata 2% hingga 3%) plus potongan ini itu yang kalau ditotal pinjaman bisa bertambah 40% dari pinjaman pokok, sangat sulit uang hasil pinjol ini diputar untuk bisnis. Pebisnis yang sehat pasti mencari pinjaman di bank konvensional yang bunganya lebih masuk akal.

 

Lalu apanya yang luar biasa dari besarnya penyaluran pinjol ini?

 

Jika kredit yang sudah disalurkan mencapai 128 triliun rupiah, dan besaran kredit dianggap rata-rata 5 juta, berarti kira-kira ada sekitar 25 juta kepala lebih yang hidupnya saat ini sedang kepepet. Itu baru data dari pinjol.

 

Harusnya sih malu, bukan bangga.

 

(By Wendra Setiawan)

portal-islam.id, Sabtu, 14 November 2020  CATATAN

 

***

 

Hukum Bunga Bank Menurut Beberapa Ulama

Meskipun praktek bunga bank sudah jelas mernyerupai riba, namun keberadaanya di Indonesia sendiri masih menjadi dilematis dan sulit dihindari. Sehingga tidak heran banyak ulama yang bertentangan perihal hukum bunga bank menurut islam.

Sebut saja Ijtima’Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia, pada tahun 2003 mereka telah menfatwakan bahwa pemberian bunga hukumnya haram, baik di lakukan oleh Bank, Asuransi,Pengadilan, dan Lembaga Keuangan lainnya maupun individu. Selain itu, pertemuan 150 Ulama terkemuka pada tahun 1965 di konferensi Penelitian Islam, Kairo, Mesir juga menyepakati bahwa keuntungan yang diperoleh dari berbagai macam jenis pinjaman (termasuk bunga bank) merupakan praktek riba dan diharamkan.

Ulama lain seperti Yusuf Qardhawi, Abu zahrah, Abu ‘ala al-Maududi Abdullah al-‘Arabi dan Yusuf Qardhawi sepakat jika bunga bank termasuk riba nasiah yang diharamkan oleh Islam. Maka dari itu, umat Islam tidak dibolehkan bermuamalah dengan bank yang menganut sistem bunga kecuali dalam kondisi darurat. Keharaman praktik bunga bank juga diungkapkan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah dalam Musyawarah Nasional (Munas) ke-27 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Kesimpulannya, mayoritas ulama menetapkan bahwa bunga bank hukumnya  sama dengan riba yang berarti dilarang Allah SWT. Keputusan ini berlandaskan pada Al Quran, Al Hadist, serta hasil penafsiran dari fuqaha’ (ulama yang ahli dalam bidang fiqh).

Wallahu a’lam bishawab.

Dikutip seperlunya dari sini: https://dalamislam.com/hukum-islam/hukum-bunga-bank-menurut-islam

***

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ ، فَقَدْ أَحَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ

“Apabila zina dan riba telah nampak di suatu negeri, maka sungguh penduduk negeri itu telah menghalalkan azab Allah bagi diri-diri mereka.” [HR. Al-Hakim dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma, Shahihut Targhib: 2401]

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 800 kali, 1 untuk hari ini)