“Pinteran” yang Mana, Pengurus NU Jogja yang Rektor UIN (Kini Kepala BPIP) ataukah Pengurus NU Sidotopo Surabaya (Arsip)

  • Yudian Wahyudi Kepala BPIP, pengurus NU Jogja, mantan Rektor UIN Jogja itu ternyata
    menulis buku (sebagai editor) hasil penelitian sejumlah orang, berjudul “Gerakan Wahabi di Indonesia(Terbit 2009) . Isinya sangat tidak ilmiah dan memalukan.
  • … menurut APPERTI (Aliansi Penyelenggara Perguruan Tinggi), sampeyan (Yudian Wahyudi, kini Kepala BPIP) itu melanggar konstitusi dan menikam agama.


Ilustrasi. Logo NU (Nahdatul Ulama). Foto/net

Pengurus NU Jogja yang juga rektor UIN Jogja, Yudian Wahyudi (kini Ketua BPIP) sedang jadi pembicaraan ramai karena mengeluarkan surat resmi dan mengancam untuk memecat mahasiswi UIN Jogja yang berniqob/ bercadar di kampus (Maret 2018).

Di samping ancaman memecat mahasiswi bercadar itu dinilai berbagai pihak merupakan  pelanggaran terhadap konstitusi, UU HAM, dan bahkan penikaman terhadap agama, ternyata dia (Yudian) menulis buku (sebagai editor) hasil penelitian sejumlah orang, berjudul “Gerakan Wahabi di Indonesia” (terbit 2009) .

Buku itu disoroti di medsos, di antaranya sebagai berikut:

Ada beberapa hal yang menarik yang bisa kita cermati dari penelitian ini, setelah menjelaskan keburukan wahabisme dan bahayanya bagi NKRI maka siapakah yang dimaksud dengan wahabi di Indonesia menurut para penyusun buku ini?

Di antara gerakan neo wahabisme abad 21 adalah FPI (Front Pembela Islam) (hlm. 75), Muhammadiyah, Persis, LDII termasuk gerakan neo wahabisme karena tidak tahlilan, tidak (baca buku) barzanji, dst. (lihat hlm 84 s.d 125)

Gerakan salafi tertata melalui ikhwanul muslimin. Tokoh paling pentingnya adalah Sayyid Qutub yang pemikirannya disebut sebagai salafi modern (hlm. 185)

Gerakan Wahhabi di Indonesia diwakili oleh: Sarekat Islam, Muhammadiyah, Persatuan Islam, dan Al Irsyad. (hlm.234-235)

Pondok Pesantren Al Fatah Temboro (Jamaah Tabligh) adalah pondok wahabi karena mengajarkan cadar bagi wanita dan celana di atas tumit bagi santri laki-laki. [Di bukunya memang tertulis begitu, di atas tumit. Penulisnya mungkin tidak bisa membedakan tumit dan mata kaki]. (hlm. 239)

MTA (Majelis Tafsir Al Quran) di Solo merupakan gerakan salafi/Wahabi. (hlm.313)

Baik… Coba kita rekap nama ormas/gerakan yang dimasukkan sebagai wahhabi yang membahayakan NKRI dalam buku ini:

  1. FPI (Front Pembela Islam)
    2. Muhammadiyah
    3. Persis
    4. LDII
    5. Ikhwanul muslimin
    6. Sarekat Islam
    7. Al Irsyad
    8. Jamaah Tabligh
    9. MTA

Menarik bukan? Jadi siapa yang bukan wahabi dan tidak berbahaya di negeri ini?

Via FB Wira Mandiri Bachrun

***

Ancaman pelarangan cadar dan buku itu pun ramai dikomentari netizen. Di antaranya ini:

Pak Yudian, Rektor UiIN Jogja yang juga pengurus NU Jogja ancam pecat mahasiswi yang bercadar.

Kang Prof, sampeyan ngajio (mengajilah) lagi, NU kan menjunjung tinggi mazhab 4 wabil khusus madzhab Syafi’i. Silakan baca itu. Tapi bagaimana sampeyan mau faham, lha wong nulis buku atas nama penelitian saja ngawur poll, diguyu pitik (ayam). masa’ pesantren temboro (jamaah tabligh), FPI dan lainnya sampeyan cap wahabi … membahayakan (?). aku bukan JT, bukan FPI tapi dengan buku sampeyan spt itu, malah kasihan thd sampeyan. Kalau sampai dimarahi oleh para sponsor karena merasa tertipu, dan dilabrak Umat Islam yang sampeyan fitnah, opo sampeyan ga’ kisinan (malu berat?).

Apalagi ancaman sampeyan ke mahasiswi yang pakai cadar mau sampeyan pecat. Itu menambah betapa rendahnya tingkat pemahaman sampeyan terhadap tatanan yang ada (UUD 1945, UU HAM, bahkan ayat suci yg melarang pengharaman — pelarangan– dan penghalalan/ pembolehan dalam agama tanpa berdasar wahyu dari Allah Ta’ala), apalagi terhadap agama. Maka menurut APPERTI (Aliansi Penyelenggara Perguruan Tinggi), sampeyan itu melanggar konstitusi dan menikam agama.

Allah beri kesempatan pegang amanat mimpin perguruan tinggi Islam kok malah menikam Islam. Kufur ni’mat tingkat stadium berapa kalau begini?

Demikian salah satu tanggapan netizen di medsos.

***

Berikut ini kisah nyata tentang seorang pengurus NU di Sidotopo Surabaya, dikisahkan dalam tulisan dan disebarkan di medsos oleh seorang kyai NU di Malang. Silakan bandingkan dengan Prof Yudi rektor UIN Jogja yang juga pengurus NU Jogja (kini Kepala BPIP), siapa yang lebih “pinter”.

***

NU Di Persimpangan

Suatu hari, saya pergi ke Surabaya dan kebetulan mampir ke rumah salah satu pengurus NU di wilayah Sidotopo. Saat saya berada di rumah pengurus NU ini, terjadilah perbincangan yg cukup `gayeng` di antara kami berdua. Sayang sekali, saya tidak mungkin menyebut nama besar beliau demi menjaga privasi sesama muslim.

Hampir lima jam tanpa terasa saya bertamu, dan banyak hal yg kami bicarakan, khususnya tentang ke-NU-an, mulai dari dunia pendidikan NU, Rumah Sakit, kepengurusan, dan lain sebagainya, hingga menyangkut aliran-aliran sesat yang merambah Indonesia. Entah karena apa, sepanjang waktu dialog beliau lebih banyak bertanya kepada saya daripada memberi input.

Atau barangkali, sebagai pengurus NU struktural, beliau ingin mengorek keterangan sebanyak-banyaknya dari orang lapangan seperti saya, yakni warga NU yg benar-benar kultural semata, dengan istilah sekaang sebagai NU METAL (Melok Tahlil) alias ikut tahlilan warga NU. Saya juga menyampaikan keprihatinan kepada beliau tentang maraknya aliran sesat yang masuk ke dalam tubuh NU sendiri. Misalnya masuknya JIL dan Syi`ah Iraniyah ke dalam pemikiran beberapa tokoh struktur NU.

Tatkala saya sedang asyik menerangkan perbedaan aqidah antara keyakinan Sunny versus Syi`ah, semisal mayoritas umat Islam di dunia ini adalah penganut Ahlus sunnah, yang sangat menghormati Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar bin Khatthab, Khalifah Utsman bin Affan, dan Khalifah Ali bin Abi Thalib RA.

Sedangkan kaum Syi`ah yang keberadaannya di dunia ini minoritas, justru mencaci-maki khalifah ke satu, ke dua, dan ke tiga, bahkan di dalam kitab panduan utama mereka, yaitu Alkafi, karangan Alkulaini, cetakan Teheran Iran, kaum Syi`ah telah mengkafirkan Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar, dan Khalifah Utsman serta mayoritas para Shahabat RA.

Sedangkan yang diakui ke khalifahannya oleh kaum Syi`ah hanyalah Khalifah Ali bin Abi Thalib. Lebih ekstrimlagi, Khomeini sang tokoh kaum Syi`ah, dalam bukunya, dia menyakini bahwa kedudukan Imam Ali bin Abi Thalib lebih tinggi daripada derajat Nabi Muhammad SAW.

Tiba-tiba pengurus NU ini berkomentar: “Ustadz, timbulnya aliran Syi`ah itu, kan di saat pemerintahan Sayidina Ali bin Abi Thalib, terus mengapa Sayidina Abu Bakar, Sayidina Umar, dan Sayidina Utsman KOK DIAM SAJA, tidak ikut bersama-sama dengan Sayidina Ali memerangi kaum Syi`ah, yang telah mengkafirkan mereka bertiga? Padahal jaman itu kan banyak peperangan seperti membasmi `nabi-nabi palsu`… “.

Mendengar komentar beliau, hati saya menjadi prihatin, khususnya kepada warga NU, yg mendapatkan tokoh pemimpin justru tidak mengenal dunia Islam. Tidakkah beliau pernah menbaca kitab atau mendengar pengajian, yang menerangkan bahwa Sayidina Abu Bakar, Sayidina Umar, dan Sayidina Utsman radliyallahu `anhum telah wafat, saat Sayidina Ali bin Abi Thalib diangkat menjadi Khalifah ke empat?.

Demikianlah, setelah selidik punya selidik, ternyata tokoh pengurus NU ni, tidak pernah mengenyam pendidikan Pesantren, sebagaimana layaknya para pengurus NU di masa-masa awal berdirinya Jam`iyyah Nahdlatul Ulama.

Via Fb Luthfi Bashori

(Dikutip sebagian saja, dari judul Sekularisme Paham Sesat Dikembangkan Kelompok Liberal Dalam Upaya Membangun Indonesia Baru/ Oleh Luthfi Bashori)

Posted on 9 Maret 2018

by Nahimunkarcom

 

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 1.308 kali, 1 untuk hari ini)