Pintu Surga Terbuka Luas tapi Kenapa Justru Dihindari


Ilustrasi. Foto/ nehwp

Seorang kakek berjalan tertatih-tatih pulang dari shalat Jum’at di Masjid berjarak 500-an meter. Istrinya, seorang nenek sudah menunggu di gang sebelah rumah karena sang kakek yang suaminya itu telat banget pulangnya. Khawatir kenapa-kenapa. Alhamdulillah tidak apa2, hanya telat datangnya di rumah. Karena memang sang kakek sudah susah untuk jalan, dan matanya pun tidak awas lagi.

Jum’at berikutnya, sang kakek pulang dari shalat Jum’at tepat pada waktunya. Karena ada seorang temannya yang mengantarnya pakai motor. Bersyukur dan terimakasih lah sang kakek pada pengantarnya ini ketika berpisah di depan rumah.

Apakah sang kakek tak punya anak? Tak punya mantu?

Jangan ditanya, anaknya maupun mantu2nya justru tukang nganterin orang pakai motor alias tukang ojek.

Lha kok dibiarkan saja sang kakek itu sebegitu?

Ya, begitulah kenyataannya. Pintu surga yang terbuka lebar bila berbakti kepada orang tua yang telah renta, apalagi di bulan Puasa Ramadhan, ternyata disia-siakan oleh sang anak.

Justru yang diilih adalah ancaman yang nyata yang ditegaskan dalam hadits dengan lafal : رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ

Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh beberapa sahabat yaitu dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda.

رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الكِبَرِ، أَحَدُ هُمَا أَوكِلَيْهِمَا، فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ

“Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau keduanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk syurga” [Hadits Riwayat Muslim 2551, Ahmad 2:254, 346]

Kalau sang anak beriman dan berbakti kepada orang tua yang sudah tua maka pintu surga terbuka untuknya. Apalagi di buan puasa Ramadhan. Sebaliknya, ketika justru hatinya pun tidak tergerak untuk berbakti kepada orang tuanya, hingg a dibiarkan saja orang tua susah payah berjalan tertatih-tatih ke masjid tidak diantarkannya, maka lafal ancaman “Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka…” jutru sudah di depan mata.

Kami tidak tega meneruskan untuk menulis keadaan yang mencolok di depan mata macam ini.

Generasi yang sudah digondol hatinya oleh manusia2 yang berkuasa dan semacamnya ke arah jalan yang jauh dari tuntunan agama. Sehingga, pintu surga yang terbuka lebar di depan mata di bulan puasa Ramadhan pun tak digubris. Mereka lebih pilih jalan lain yang jauh dari agama, hingga akan menjatuhkan diri2 mereka ke jurang2 celaka yang amat dalam.

Na’udzubillahi min dzalik! Kami berlindung kepada Allah dari hal yang demikian!.

Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.org)

 

(Dibaca 201 kali, 1 untuk hari ini)