Senin, 26 November 2012

Alfian Tanjung

Hidayatullah.com–Partai Komunis Indonesia (PKI) yang pernah memberontak pada tahun 1965 di Jakarta tak pernah berhenti. Meskipun eksistensinya dibubarkan, tapi generasi penerusnya masih merapatkan barisan. Demikian  ditegaskan Ustad Alfian Tanjung, pengamat komunis pada saat mengisi acara “Training for Trainers Mujahid Dakwah” di Pesantren Darul Fallah, Bogor, Jawa Barat,  Sabtu (24/11/2012).

Dalam presentasinya yang bertajuk “Menyikapi Kebangkitan PKI”, Alfian mengatakan, “Bahwa ini merupakan sebuah gerakan elaborasi sejarah, meskipun kini mereka berani tampil terbuka, tapi kini mereka sudah tersebar di berbagai institusi, baik pemerintah, pengusaha, dan aktivis partai politik.”

Menurut Alfian, kebangkitan PKI ini bukan sekedar isapan jempol. Dalam berbagai kesempatan, jelas Alfian, Ribka Tjiptaning yang pernah menulis buku “Aku Bangga Menjadi Anak PKI” selalu menyampaikan bahwa PKI tetap eksis.

“Partai kita belum pernah membubarkan diri,” ucap Alfian menirukan perkataan wanita yang merupakan putri Sucipto, tokoh PKI Solo.

Sayangnya, kebangkitan partai yang pernah membantai umat Islam dalam kasus Kanigoro pada tanggal 14 Januari 1964 ini seolah disepelekan.

“Baik oleh para pelaku sejarah, generasi muda, maupun pemerintah,” terang pria yang juga Pimpinan Taruna Muslim ini. Lebih lanjut, Alfian menjelaskan, kebangkita ini disepelekan para pelaku sejarah karena terpolarisasinya secara acak dan tidak terinventarisir kekuatan, sehingga urusan melawan gerakan PKI tidak terkelola dengan baik secara nasional.

Lain halnya pada generasi muda. “Generasi muda cenderung menyepelekan kebangkitan ini karena memang tidak adanya asupan info mutakhir tentang gerakan PKI. Ditambah lagi, mereka berada pada zaman yang membuat mereka tidak sadar akan adanya PKI,” jelas pria yang sehari-hari mengajar di Universitas Buya Hamka, Jakarta.

Sementara itu, para aktivis partai berhaluan kiri ini bisa masuk ke pemerintah, kata Alfian, kurang ketatnya seleksi calon PNS, Legislatif, Pejabat Publik, dan institusi lainnya termasuk akademi militer dan polisi terhadap anasir PKI. “Hal ini membuat mereka berada di semua lapisan instansi pemerintah,” lanjut Alfian.

Menurut Alfian Tanjung, saat ini kelompok-kelompok yang menjadi pendukung PKI juga telah menyebar di beberapa kalangan, seperti: buruh, petani, mahasiswa/pelajar, LSM, dan partai politik.

“Bahkan ada tokoh yang akan bertanding dalam pilkada yang telah mengaku sebagai Gerwani (organisasi wanita PKI-red) Muda,” terang Alfian.

Termasuk menjelang Pemilu 2014 ini, PKI telah mempersiapkan beberapa agenda penting.

“Mereka terus mengintensifkan pertemuan, antar sesama kader, baik kaum tua maupun muda,” terang Alfian yang mengaku mendapatkan informasi akurat mengenai hal ini. Salah satu pertemuan yang mereka lakukan, misalnya Kongres ke-10 di Desa Ngablak, Magelang, Jawa Tengah pada bulan Agustus 2010.

Selain itu, mereka juga memperkokoh jaringan kader, melalui yayasan, LSM, serta ormas, baik melalui kegiatan formal, informal, maupun rahasia.  Termasuk pembentukan Komite Sentra (dulunya CC PKI), Komite Daerah Perlawanan (KDP), dan Komite Basis.Jadi, tegas Alfian, bisa saja umat Islam tidak percaya dengan kebangkitan ini. “Tapi perlu diingat bahwa mereka terus konsolidasi menguatkan barisan, jangan sampai umat Islam terkaget jika pada saatnya nanti mereka benar-benar menunjukan eksistensinya,” pungkasnya.*

Rep: Ahmad Damanik

Red: Muhammad Usamah

(nahimunkar.com)

(Dibaca 866 kali, 1 untuk hari ini)