Pluralisme dalam Keyakinan Agama Kita Adalah Kekufuran

Setelah berhasil mempertahankan Disertasi Doktoralnya di Fakultas Dakwah dan Ushuluddin Universitas Islam Madinah pada Ahad (25/9/16) dengan hasil Summa Cum Laude, Ust. Firanda Akhirnya bersedia untuk menyampaikan muhadhoroh ilmiah tentang disertasinya tersebut kepada mahasiswa Indonesia di madinah pada malam ini, jumat (7/10/16).

Penulis disertasi dengan judul, “Membantah Dai-dai Pluralisme Yang Berdalil dengan Al-Quran dan Sunnah,” ini menyampaikan materinya dalam beberapa bahasan. Di antaranya dalam konteks apa beliau menulis disertasi tersebut dan poin-poin yang tertuang padanya.

Namun, kajian yang dimulai sejak pukul 21.30 hingga 23.00 ini lebih luas bahasannya kepada pembahasan mengenai pluralisme itu sendiri. Definisinya, sejarahnya, tokoh-tokohnya di Indonesia, serta beberapa ulasan (syubhat) yang sering diutarakan oleh penganut paham pluralisme dan bantahannya.

Mahasiswa Indonesia dari berbagai jenjang terlihat sangat antusias mengikuti kajian beliau. Sejak setelah shalat Isya sudah berdatangan, beberapa sudah memasang kamera dengan pijakan tripodnya dan yang lainnya merekam suara bahkan ada yang Live Streaming lewat fasilitas Siaran Langsung Facebook. Termasuk akun ini (Page PPMI Madinah) ikut menayangkan secara live.

menangkal-pluralisme0002

Ranah Pembahasan

Kata beliau, tulisan-tulisan bantahan untuk pluralisme dengan menyerang balik dari sisi logika itu sudah banyak. Nah, para penganut Pluralisme sering memakai al-Qur’an dan Sunnah untuk menguatkan opini mereka. Seperti yang ditulis oleh Abdul Moqsith Ghazali dalam Disertasi Doktoralnya yang berjudul, “Argumen Pluralisme Agama.”

“Gampang saja sebenarnya kalau mau membantah mereka dari sisi ini. Buka saja tafsir dari ayat yang mereka pakai. Disitu akan ditemukan jawabannya. Sering mereka potong perkataan Ibnu Katsir dan lain sebagainya. Sehingga pemahaman sebenarnya menjadi terbalik.”

Padahal jika dibuka lebih dalam referensi yang mereka gunakan akan cepat ketahuan kalau ternyata meraka seenaknya memotong perkataan ulama. Bahkan memotong ayat al-Qur’an. Mereka memakai kaidah, fawailun lil mushallin (maka celakalah untuk orang-orang yang shalat) titik. Seperti yang dilakukan oleh Zuhairi Misrawi. Bahwa Nabi Sulaiman mengirim Surat Rahmat untuk Ratu Saba’. Yaitu firman Allah, “Innahu min Sulaimana wa innahu bismillahirrahmanirrahim” sesungguhnya itu dari Sulaiman dan ia adalah dengan menyebut nama Allah yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang. Titik. Padahal ada sambungan ayatnya, “alla ta’lu ‘alayya wa’tuni muslimin” Jangan berlaku sombong padaku, serta datanglah padaku dalam keadaan berserah diri/Islam!

Syubhat dan Bantahan

Pada pembahasan mengenai beberapa syubhat para penganut Pluralisme beliau paparkan beberapa di antaranya serta bantahannya.

Satu di antaranya adalah mengenai Syubhat bahwa agama ini hanya sarana, kalau akhlaknya bagus, dari agama manapun maka ia akan masuk surga. Karena sebenarnya tujuan beragama adalah untuk membentuk akhlak yang baik.

Bantahannya adalah bahwa perkara akhlak itu nomor dua. Aqidah nomor satu. Allah kafirkan kaum nashrani dalam al-Qur’an bukan karena akhlaknya. Mereka ahli ibadah. disifati dengan rahbaniyah. Allah kafirkan kaum nashrani karena akidahnya yang terlalu berlebihan kepada Nabi Isa dan menyamakan derajatnya dengan Allah.

Sementara itu, beberapa orang baik di Jazirah Arab, Rasulullah kabarkan bahwa mereka adalah penduduk neraka. Di antaranya adalah paman beliau sendiri. Abu Thalib. Beliau rela mati untuk menolong dakwah ponakannya. Akhlak seperti apa coba yang menandingi kebaikan dan pengorbanan beliau ini. Tapi Rasuullah kabarkan dia termasuk penghuni neraka karena tidak beriman kepada Allah.

Begitu juga dengan Hatim at-Tha’i, seorang dari Jazirah arab yang dijadikan contoh dan teladan dalam kedermawanan, tapi kata Nabi, dia juga termasuk penduduk neraka.

Amr bin Luhay al-Khuza’i pun demikian. Orang Mekkah sepakat mengatakan bahwa beliau adalah yang terbaik dalam akhlaknya. Tapi Nabi katakan dia sedang menyeret ususnya di neraka. Karena kekufurnnya.

Mengenai judul di atas, “Pluralisme dalam Keyakinan Agama Kita Adalah Kekufuran.” bahwa para penganut paham Pluralisme seenaknya saja memutar balik hukum, yang homo dibilang halal, yang kafir dikatakan masuk surga dan setersunya. Sering menolak hukum dengan jargon, “Ini tafsirnya harus kontekstual.”

Mereka hina Imam Syafii yang katanya membuat-buat kaidah Ushul Fiqh untuk mempersempit umat. Padahal mereka yang tidak mau ada kaidah. Karena mereka mau bebas. Sampai Ulil Abshar mengatakan, tidak boleh lagi hudud (hukuman berdasar syariat Islam) diberlakukan.

Semua ini jelas sekalia merupakan bentuk lain dari penolakan atas syariat Allah.

Masih ada beberapa Syubhat dan Bantahan yang beliau paparkan. Silakan diliat di video Siaran Langsung yang telah terupload di Page ini.

Setelah merasa cukup dengan paparan beliau, moderator akhirnya membuka sesi tanya jawab yang disambut dengan sangat antusias oleh para mahasiswa. Sampai ada yang bertanya kepada beliau pada hal yang agak pribadi. “Kapan Ust balik ke Indonesia, dan kalau Ust Balik siapa yang akan menggantikan mengisi di Masjid Nabawi?”

“Kalau bisa besok saya pulang besok. Karena empat anak ada di Indonesia. Yang disini Istri cuma satu, (istri) yang lainnya di Indonesia. Belum ada.” Jawab Ust. Firanda yang disambut tawa oleh para hadirin.

menangkal-pluralisme0003

*Admin PPMI Madinah

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.675 kali, 1 untuk hari ini)