{سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لَا يُؤْمِنُوا بِهَا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ (146) وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَلِقَاءِ الْآخِرَةِ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ هَلْ يُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ } [الأعراف: 146، 147]

( 146 )   Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya.

( 147 )   Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mendustakan akan menemui akhirat, sia-sialah perbuatan mereka. Mereka tidak diberi balasan selain dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS Al-A’raf: 146-147).

3 sub judul:

Pola Penyebaran Syi’ah

Bahaya Bangkitnya PKI Komunis di Indonesia

Dibalik Laju Perusakan Islam di Indonesia

***

Pola Penyebaran Syi’ah

Pola Penyebaran Syi’ah

by nahimunkar.com, Jan 17th, 2014

Publikasi: Jum’at, 15 Rabiul Awwal 1435 H / 17 Januari 2014 08:55

Surakarta (An-najah.net) – Syi’ah Imamiyah merebut kekuasaan Iran tahun 1979 disusul maklumat ideologi negara berganti menjadi Syi’ah. Nama resmi yang disematkan: Republik Islam Iran, bukan Republik Syi’ah Iran. Sejak saat itu, episode penipuan dimulai. Banyak umat Islam terkecoh dengan predikat Islam yang tersemat. Euforia kemenangan Islam bergelora di penjuru dunia Islam karena inilah untuk pertama kalinya revolusi dengan label Islam dapat merebut kekuasaan negara pasca runtuhnya khilafah Islamiyah Turki Usmani pada tahun 1924.

Tapi sayang, Revolusi Iran memberi harapan palsu. Saat revolusi itu meletus, poster Khomeini, pemimpin besar revolusi, tersebar luas. Banyak anak muda yang gandrung dengan fotonya, seolah menyimpan spirit perlawanan terhadap kezaliman. Khomeini menjadi simbol perlawanan dunia Islam terhadap Barat.

Menjual Predikat Terdzalimi

Syi’ah sejak awal kelahirannya menjual sentimen ‘terzalimi’ oleh pihak yang lebih kuat. Dimulai dengan jualan terzaliminya Ali bin Abi Thalib yang dianggap hak kekuasaannya dirampas oleh Abu Bakar, Umar dan Utsman. Dalam pandangan Syi’ah, seharusnya yang berhak melanjutkan kekuasaan sepeninggal Rasulullah SAW adalah Ali, tapi dirampas secara zalim dengan intrik dan konspirasi kotor oleh Abu Bakar.

Cerita kezaliman ini dijadikan komoditi yang dijajakan ke mana-mana. Satu demi satu orang bersimpati dengan cerita kezaliman ini, lalu ditanamkan dendam kepada kelompok yang menzalimi, siapa lagi kalau bukan Ahlussunnah wal Jamaah.

Pasca Ali, Syi’ah punya jualan lebih hot, yaitu kasus terbunuhnya Husain di tanah Karbala. Terbunuhnya Husain dianggap sebagai puncak akumulasi kezaliman terhadap keturunan Nabi SAW (ahlul bait). Bahkan nama Husain kelak menjadi ikon sentral aqidah Syi’ah. Di balik peristiwa ini terselip kezaliman, ada kepahlawanan dan dengan mudah dipakai untuk mendefinisikan musuh Syi’ah, yaitu dinasti Umayyah. Musuh ini kelak makin mengerucut menjadi Ahlussunnah wal Jamaah.

Pada era modern, jualan Syi’ah berbentuk pencitraan Iran sebagai musuh Barat, wabilkhusus AS dan Israel. Seluruh negara di dunia bersimpuh tunduk di hadapan AS, tapi Iran dengan lantang dan kepala tegak memusuhi AS. Untuk level Timur Tengah, Iran dengan lantang memamerkan perseteruannya dengan Israel, musuh besar umat Islam.

Berawal dari simpati terhadap kepahlawanan Iran, banyak anak muda tertarik dengan Syi’ah. Makin lama penetrasi ideologi Syi’ah di tengah umat Islam kian dalam. Maka dapat disimpulkan, penyebaran Syi’ah tak lepas dari strategi menjual kezaliman dan kepahlawanan, meski jika disibak sejatinya hanya kepalsuan.

Taqiyah dan Budaya, Senjata Andalan Syi’ah

Syi’ah punya senjata dakwah bernama taqiyah, konsep mengelabuhi lawan meski dengan kedustaan dan kepura-puraan. Seorang penganut Syi’ah diperkenankan untuk berpura-pura sebagai Sunni bahkan berpura-pura menghujat Syi’ah demi menghilangkan hambatan dakwahnya.

Turunan strategi taqiyyah, dakwah Syi’ah menggunakan tradisi dan budaya sebagai pintu masuk penyebaran Syi’ah.  Kultur masyarakat dieksploitasi untuk mengesankan kesamaan. Semakin banyak kesamaan yang bisa dimanfaatkan Syi’ah, semakin besar peluang menipu masyarakat tersebut.

Sebagai contoh, tradisi kenduri, yasinan, tasawuf dan kecintaan kepada habib, bisa dieksploitasi para duat Syi’ah untuk menyebarkan kesesatannya. Masyarakat Bengkulu punya tradisi Tabot, sebuah ritual visualisasi kejadian Karbala yang diadakan tiap tahun. Pemda Bengkulu meresmikan tradisi ini sebagai paket wisata andalan daerah. Tradisi tersebut dimanfaatkan oleh Syi’ah untuk menegaskan bahwa tradisi Syi’ah bukan barang baru di tanah nusantara.

Sebagai bagian dari penyesatan, mereka menampilkan Iran dari sisi budayanya. Iranian Cultural Center (ICC) di Jakarta bisa menjadi contoh lain. Iran yang kental ideologi Syi’ahnya ditawarkan kepada publik Indonesia dengan pendekatan budaya, sehingga minim resistensi. Sama dengan pusat-pusat kebudayaan negara lain.

Jargon Persatuan untuk Menipu

Kosa kata persatuan juga selalu digunakan untuk mengelabuhi umat Islam Ahlu Sunnah di manapun untuk tanpa sadar menerima Syi’ah. Mereka menonjolkan kesamaan, misalnya sama-sama mentauhidkan Allah, bernabikan Muhammad, melaksanakan shalat, memakai busana muslim dan unsur-unsur persamaan lain.

Kaum Syi’ah selalu menggunakan argumen, jangan sampai sesama umat Islam berpecah belah atau dengan sengaja menimbulkan perpecahan, sebab jika kita berpecah belah musuh-musuh Islam akan bertepuk tangan. Mari kita rajut silaturrahmi dan saling memahami. Bahkan di Jakarta ada radio yang kuat indikasi Syi’ahnya – Radio Silaturrahmi – secara teratur memutar  lagu kenangan danPanggilan Jihad yang kerap diputar di radio era 80-an.

Liriknya yang menyerukan persatuan, dimanfaatkan misi Syi’ah sebagai jargon tipuan:

Pemuda pemudi Islam bangunlah – panggilan jihad rampungkan

Wasiat Muhammad peganglah – harta dan jiwa serahkan

Binalah persatuan, sirnakan perpecahan – persatuan …kalam Tuhan

Kalam ilahi menutut persatuan – perpecahan meruntuhkan  kekuatan

Pertikaian menguntungkan musuh Tuhan – hanya iman tauhid dapat menyatukan

Panggilan jihad hidupkan –  Allahu Akbar Allahu Akbar Allah Allahu Akbar..

Syi’ah biasa menggunakan jargon persatuan sebagai alat penipuan. Sebuah ironi , mereka menjual persatuan, padahal aqidah Syi’ah dibangun di atas spirit dendam. Dendam kepada Aisyah, istri Nabi SAW dan dendam kepada mayoritas sahabat. Setelah umat Islam mendekat kepada mereka karena tertarik jargon persatuannya, mereka menyiapkan tikaman mematikan dari belakang.

Stigma Takfiri dan Wahabi

Syi’ah era modern punya senjata khas, yakni mendelegitimasi para aktifis muslim yang kritis terhadap Syi’ah sebagai kaum takfiri (suka menvonis kafir kepada sesama muslim). Selain stigma Takfiri, kaum Syi’ah juga menggunakan stigma Wahabi sebagai senjata. Lebih menyedihkan lagi, stigma Wahabi ini bisa menjadi tali penyambung untuk merangkul komunitas NU yang antipasti dengan istilah Wahabi.

Syi’ah akan terus mengeksplorasi berbagai muslihat untuk menjajakan ideologinya. Mereka sadar, kejahatan tak akan bisa disebarkan kecuali dengan kedustaan, kelicikan, penipuan, kezaliman bahkan kalau perlu intimidasi dan ancaman pembunuhan. Aura kebencian kepada Ahlussunnah dengan jelas  terlihat di balik sorot mata mereka.(Anwar/annajah)

***

Bahaya Bangkitnya PKI Komunis di Indonesia

Bahaya Bangkitnya PKI

by nahimunkar.com, Mei 7th, 2016

Di erah globalisasi, reformasi, demokratisasi dan transparansi informasi dewasa ini, PKI sekarang  yang motori Aidit junior (Putra DN ketua PKI} sudah mulai berani bergerak menggalang opini guna membelokkan fakata sejarah dengan mengadakan Simposium Nasional Tragedi 1965, 19-04-2016. (Jawa Pos 20 April 2016). Pengikut Komunis ini memanfaatkan peluang ini untuk kembali menawarkan ideologi komunis kepada bangsa Indonesia, sebagai ideologi alternatif. Rencana kebangkitan PKI bergerak kembali ternyata bukan isapan jempol (http://www.tniad.id/indek.php/2015/08/komunis bergerak dalam senyap}

Propaganda Komunis dan keturunannya juga sudah merajalela, seperti film “Senyap”, buku “Aku Bangga Jadi Anak PKI” ini juga contoh nyata upaya penggalan opini dan simpati mnasyaralkat yang saat ini semakin miskin pemahaman sejarah.  Propaganda keturunan PKI yang sudahsemakin merajalela di negeri ini (http://www.pelita.or.id/baca.php?d=2126harian umumPELITA Jakarta, Pelita Kiai Haji Yusuf Hasyimwww.pelita.or.id

Maka disinilah letak pentingnya kita untuk mengetahui dan mewaspadainya karena Partai Komunis Indonesia (PKI) berkerja berdasarkan atas program maksimum dan program minimum. Program maksimum adalah program idelogi yang berlaku secara universal yaitu membentuk sistem ideologi dan politik dengan cara revolusi. Sedangkan program minimum adalah program yang menyangkut kepentingan praktis bagi pengembangan ideologi dan perluasan pengaruhnya. Kedua program ini saling berkait dan berhubungan satu sama lain secara ideologi dan gerakannya.

Di Indonesia program maksimum komunis adalah mendirikan kekuatan politik dan menanamkan ideology komunisme kepada masyarakat. Program minimum pada periode ini adalah usaha menghidupkan kembali PKI, konsolidasi organisasi, dan aksi-aksi memperluas pengaruhnya ke seluruh lapisan masyrakat dengan strategi front persatuan. Proses pencapaian kedua program itu menurut istilah komunis disebut “masa transisi”. Kapan awal dan akhir masa transisi itu, sulit untuk dikatakan, karena ciri pokok dari setiap gerakan yang dilakukannya selalu tertutup dan rahasia.

Dalam alam pikiran orang-orang komunis dan juga  PKI, ideology bangsa Indonesia terbagi atas tiga golongan:

  1. Golongan progresif (golongan berideologi progresif yaitu PKI)
  2. Golongan tengah (golongan yang ticdak memusuhi komunis)
  3. Golongan kepala batu (golongan yang anti komunis)

(Bahaya Laten Komunisme di Indonesia , Pusat Sejarah Dan Tradisi ABRI, Jakarta, 1995)

 Di samping ketiga golongan ini, masih ada golongan lain yang belum tentu berideologi komunis, namun mereka dianggap sebagai sumber dari kekuatan komunis, mereka itu adalah:

  • Golongan miskin (roofless proletariat) yaitu kaum gelandangan, pengemis, orang-orang miskin kota, pengangguran akibat urbanisasi.
  • Golongan cendekiawan yang frustasi dan resah (frustrated intellectuals), golongan terpelajar yang merasa tidak mendapat tempat dalam masyarakat, seperti penganggur inte;lektual, pensiunan, seniman, budayawan.
  • Golongan petani yang tidak lagi memiliki tanah atau buruh tani

Berdasarkan pembagian golongan-golongan dalam masyarakat ini, PKI mengembangkan suatu taktik dan teknik untuk mendekati golongan yang sesuai dengan situasi, kondisi, psikpologi tempat dan waktu. Situasi dan kondisi yang dianggap amat menguntungkan apabila di dalam masyarakat terdapat:

  • Adanya kelompok masyarakat yang membenci terhadap sesuatu kekuasaan
  • Adanya keinginan untuk mengadakan perubahan secara cepat
  • Pertumbuhan proletariat yang cepat
  • Korupsi yang merajalela
  • Adanya instabilitas ekonomi dan politik
  • Adanya kesenjangan antara golongan kaya dan miskin
  • Adanya perasaan ketidakadilan dan perasaan tertindas di dalam masyarakat

(Bahaya Laten Komunimes di Indonesia, Pusat Sejarah Dan Tradisi ABRI, Jakarta, 1995)

Apabila dalam masyarakat tumbuh gejala-gejala sebagaimana disebut diatas, orang-orang komunis mulai melakukan penilaian yang kemudian dikembangkan taktik dan teknik peleksanaanya dengan:

  • Membentuk kelompok awam yang melakukan aksi propaganda secara halus dan menarik perhatian masyarakat
  • Melakukan kritik-kritik terhadap pemerintah, tetapi tidak mau mengkritik kawan seideologi, atau lawan setujuannya
  • Melakukan penetrasi, infiltrasi terhadap organisasi politik, organisasi massa, birokrasi, dan angkatan bersenjata
  • Menciptakan kultus individu, pemujaan pahlawan, mendewa-dewakan seorang pemimpin
  • Memanfaatkan konflik-konflik social dalam organisasi massa, birokrasi dan angkatan bersenjata
  • Melaksanakan propaganda yang terus menerus sampai orang percaya kebohongannya untuk menarik kepercayaan masyarakat terhadap komunis
  • Memasalahkan ideologi Negara Pancasila, mengingkari kebenarannya, memutar balikkan sejaran secara terbuka dan tertutup
  • Memprogandakan hak-hak azazi manusia, untuk mengangkat citra bahwa komunis adalah pendekar dan pembela hak azasi.

(Bahaya Laten Komunisme di Indonesia, Pusat Sejarah Dan Tradisi ABRI, Jakarta, 1995)

Adapun sasaran pokoknya adalah golongan masyarakat yang masih lemah ketahanan ideologinya, khususnya kelompok pemuda, pemimpin-pemimpin organisasi pemuda, mahasiswa yang berjiwa liberal, perwira-perwira muda angkatan bersenjata.

Itulah taktik dan teknik komunis dalam rangka mengembangkan dan melaksanakan program minimumnya dengan program front persatuan dan parlementer yang pernah dilakukan oleh bekas PKI maupun organisasi-organisasi massanya. Pada periode ini PKI sengaja menghentikan aksi-aksi kekerasan karena focus kegiatannya menggalang, merangkul, membujuk organisasi massa untuk berpihak kepada PKI.

Maka untuk membendung bangkitnya kembali bahaya laten komunis ini, apabila kita menemukan pertautan gejala atau peristiwa yang tidak biasa, patut kita perhatikan dan perlu kita waspadai. Di samping kita sadari bahwa lahirnya gejala tersebut hampir sama dengan gejala perubahan masyarakat, yang tengah berangkat dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri.

Mengapa pertautan beberapa gejala dalam perubahan masyarakat ini patut diperhatikan ? Oleh karena komunis lihai memanfaatkan situasi dan kondisi serta momentum yang tepat, berganti-ganti wajah setiap saat, sebagai upaya pencapaian tujuannya. Partai komunis bisa hancur dan bisa runtuh ataupun dilarang, namun komunisme dan sistemnya tetap ditawarkan oleh para pengikutnya kepada masyarakat, kapanpun dan dimanapun. (Choirul Hisyam)

***

Dibalik Laju Perusakan Islam di Indonesia

Laju Perusakan Islam

Laju Perusakan Islam01

by nahimunkar.com, Jan 14th, 2015

Laju kerusakan aqidah di Indonesia lebih cepat dibanding perbaikannya. Di antara faktornya ada dua:

  1. Cara memahami Islam di pesantren-pesantren dan masyarakat umum dipotong di tengah jalan, agar tidak sampai pada merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Caranya, agar cukup dilihat para tokoh agama melakukan atau tidak. Ketika mereka melakukan, berarti itulah agama. Padahal, aneka bid’ah, bahkan kesesatan, yang kemungkinan sampai tingkat syirk akbar dilakukan oleh para tokoh agama. Akibatnya, laju kesesatan lebih cepat dan berkembang dibanding da’wah shahihah, apalagi da’wah yang membendung kesesatan.
  2. Cara memahami Islam di tingkat perguruan tinggi yang berlabel Islam dialihkan dari merujuk kepada dalil menjadi merujuk kepada fenomena sosial. Pemahaman ini mengikuti Kristen dengan memahami agama pakai metode sosiologi agama. Padahal sosiologi agama itu sendiri pelopornya yang terkemuka Émile Durkheim (Paris, France April 15, 1858 – November 15, 1917) menganggap agama itu hanya gejala sosial, dan yang namanya Tuhan itu hanya ada bagi yang menganggapnya ada. Sehingga, dari metode itu, apapun yang menggejala di masyarakat itulah agama, dan semuanya sah-sah saja. Sehingga antara yang kafir dengan yang mu’min tidak ada bedanya. Hingga arah Pendidikan tinggi Islam di Indonesia untuk menghasilkan manusia-manusia yang pemahaman Islamnya terbalik. Seharusnya makin dididik itu makin mampu membedakan mana yang haq dan mana yang batil, namun sebaliknya justru menyamakan antara yang mukmin dengan yang kafir. Lebih dari itu justru menjadi pembelaIa orang kafir yang merusak Islam. Contohnya Azyumardi Azra dari UIN Jakarta sangat membela Ahmadiyah ciptaan nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad. Dia tidak sayang terhadap Umat Islam yang dimurtadkan oleh Ahmadiyah, tapi justru lebih sayang kepada Ahmadiyah yang merusak itu. Itulah perusakan Islam yang sebenar-benarnya, bahkan lebih dahsyat dibanding pembunuhan fisik, karena yang dibunuh adalah imannya diganti dengan kemusyrikan baru yang disebut pluralisme agama dan ditingkatkan jadi multikulturalisme. Itulah yang sejatinya pemurtadan, bahkan secara sistematis lewat pendididkan tinggi Islam. Makanya sampai ditulis buku “Ada Pemurtadan di IAIN” (Hartono Ahmad Jaiz, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta), maksudnya adalah perguruan tinggi Islam di Indonesia.

Pemurtadan itu menurut Al-Qur’an adalah lebih dahsyat bahayanya dibanding pembunuhan fisik. Karena kalau seseorang itu yang dibunuh badannya, sedang hatinya masih beriman (bertauhid), maka insya Allah masuk surga. Tetapi kalau yang dibunuh itu imannya, dari Tauhid diganti dengan kemusyrikan atau kekafiran, maka masuk kubur sudah kosong iman tauhidnya berganti dengan kemusyrikan/ kekafiran; maka masuk neraka selama lamanya.

Hingga ditegaskan dalam Al-Qur’an:

وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ  [البقرة/191]

dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan. (QS Al-Baqarah: 191)

وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ [البقرة/217]

Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. (QS Al-Baqarah: 217).

Arti fitnah dalam ayat ini adalah pemusyrikan, yaitu mengembalikan orang mu’min kepada kemusyrikan. Itu dijelaskan oleh Imam At-Thabari dalam tafsirnya:

عن مجاهد في قول الله:”والفتنة أشدُّ من القتل” قال: ارتداد المؤمن إلى الوَثن أشدُّ عليه من القتل. –تفسير الطبري – (ج 3 / ص 565)

Dari Mujahid mengenai firman Allah وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ ia berkata: mengembalikan (memurtadkan) orang mu’min kepada berhala itu lebih besar bahayanya atasnya daripada pembunuhan. (Tafsir At-Thabari juz 3 halaman 565).

Itulah betapa dahsyatnya pemusyrikan yang kini justru digalakkan secara intensip dan sistematis, masih pula ditemani secara mesra oleh mereka yang tidak menyayangi iman Umat Islam. Relakah generasi Muslim yang menjadi mayoritas penduduk Indonesia bahkan merupakan penduduk yang jumlah Muslimnya terbesar di dunia ini dibunuhi imannya secara sistematis?

Dengan digalakkannya dua metode pemahaman Islam yang sebenarnya sangat merusak Islam lewat jalur masyarakat umum di satu sisi, dan jalur perguruan tinggi Islam di sisi yang lain, berarti perusakan aqidah Islam dilakukan secara sistematis dan menyeluruh.

Di samping itu masih pula ditambah dengan pengaruh gencarnya propaganda syiah dari Iran ke Indonesia, juga aneka faham liberal yang tidak sesuai dengan Islam. Sehingga, aqidah Umat Islam Indonesia benar-benar perlu diselamatkan.

Dari sinilah kita menyadari betapa pentingnya untuk mempersiapkan kader-kader mahasiswa yang lurus ilmunya dan teguh agamanya untuk menjadi barisan terdepan dalam menghadapi bahaya perusakan aqidah yang dilancarkan secara massif di Indonesia.

Jakarta, 13 Rabi’ul Awwal 1436H/ 4 Januari 2015

 Hartono Ahmad Jaiz     

Penulis buku-buku Islam di Jakarta

  • *Disampaikan dalam seminarIntelektual Studi Islam Intensif di Gedung Renald, Tasikmalaya Jawa Barat, Rabu 17 Ramadhan 1437/ 22 Juni 2016. Acara ini diselenggarakan oleh PC Pemuda Persatuan Islam Cihideung Tasikmalaya bekerjasama dengan sejumlah lembaga Islam setempat, Bandung dan lainnya.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 632 kali, 1 untuk hari ini)