.

 

Publikasi: Jum’at, 15 Rabiul Awwal 1435 H / 17 Januari 2014 08:55

Surakarta (An-najah.net) – Syi’ah Imamiyah merebut kekuasaan Iran tahun 1979 disusul maklumat ideologi negara berganti menjadi Syi’ah. Nama resmi yang disematkan: Republik Islam Iran, bukan Republik Syi’ah Iran. Sejak saat itu, episode penipuan dimulai. Banyak umat Islam terkecoh dengan predikat Islam yang tersemat. Euforia kemenangan Islam bergelora di penjuru dunia Islam karena inilah untuk pertama kalinya revolusi dengan label Islam dapat merebut kekuasaan negara pasca runtuhnya khilafah Islamiyah Turki Usmani pada tahun 1924.

Tapi sayang, Revolusi Iran memberi harapan palsu. Saat revolusi itu meletus, poster Khomeini, pemimpin besar revolusi, tersebar luas. Banyak anak muda yang gandrung dengan fotonya, seolah menyimpan spirit perlawanan terhadap kezaliman. Khomeini menjadi simbol perlawanan dunia Islam terhadap Barat.

Menjual Predikat Terdzalimi

Syi’ah sejak awal kelahirannya menjual sentimen ‘terzalimi’ oleh pihak yang lebih kuat. Dimulai dengan jualan terzaliminya Ali bin Abi Thalib yang dianggap hak kekuasaannya dirampas oleh Abu Bakar, Umar dan Utsman. Dalam pandangan Syi’ah, seharusnya yang berhak melanjutkan kekuasaan sepeninggal Rasulullah SAW adalah Ali, tapi dirampas secara zalim dengan intrik dan konspirasi kotor oleh Abu Bakar.

Cerita kezaliman ini dijadikan komoditi yang dijajakan ke mana-mana. Satu demi satu orang bersimpati dengan cerita kezaliman ini, lalu ditanamkan dendam kepada kelompok yang menzalimi, siapa lagi kalau bukan Ahlussunnah wal Jamaah.

Pasca Ali, Syi’ah punya jualan lebih hot, yaitu kasus terbunuhnya Husain di tanah Karbala. Terbunuhnya Husain dianggap sebagai puncak akumulasi kezaliman terhadap keturunan Nabi SAW (ahlul bait). Bahkan nama Husain kelak menjadi ikon sentral aqidah Syi’ah. Di balik peristiwa ini terselip kezaliman, ada kepahlawanan dan dengan mudah dipakai untuk mendefinisikan musuh Syi’ah, yaitu dinasti Umayyah. Musuh ini kelak makin mengerucut menjadi Ahlussunnah wal Jamaah.

Pada era modern, jualan Syi’ah berbentuk pencitraan Iran sebagai musuh Barat, wabilkhusus AS dan Israel. Seluruh negara di dunia bersimpuh tunduk di hadapan AS, tapi Iran dengan lantang dan kepala tegak memusuhi AS. Untuk level Timur Tengah, Iran dengan lantang memamerkan perseteruannya dengan Israel, musuh besar umat Islam.

Berawal dari simpati terhadap kepahlawanan Iran, banyak anak muda tertarik dengan Syi’ah. Makin lama penetrasi ideologi Syi’ah di tengah umat Islam kian dalam. Maka dapat disimpulkan, penyebaran Syi’ah tak lepas dari strategi menjual kezaliman dan kepahlawanan, meski jika disibak sejatinya hanya kepalsuan.

Taqiyah dan Budaya, Senjata Andalan Syi’ah

Syi’ah punya senjata dakwah bernama taqiyah, konsep mengelabuhi lawan meski dengan kedustaan dan kepura-puraan. Seorang penganut Syi’ah diperkenankan untuk berpura-pura sebagai Sunni bahkan berpura-pura menghujat Syi’ah demi menghilangkan hambatan dakwahnya.

Turunan strategi taqiyyah, dakwah Syi’ah menggunakan tradisi dan budaya sebagai pintu masuk penyebaran Syi’ah.  Kultur masyarakat dieksploitasi untuk mengesankan kesamaan. Semakin banyak kesamaan yang bisa dimanfaatkan Syi’ah, semakin besar peluang menipu masyarakat tersebut.

Sebagai contoh, tradisi kenduri, yasinan, tasawuf dan kecintaan kepada habib, bisa dieksploitasi para duat Syi’ah untuk menyebarkan kesesatannya. Masyarakat Bengkulu punya tradisi Tabot, sebuah ritual visualisasi kejadian Karbala yang diadakan tiap tahun. Pemda Bengkulu meresmikan tradisi ini sebagai paket wisata andalan daerah. Tradisi tersebut dimanfaatkan oleh Syi’ah untuk menegaskan bahwa tradisi Syi’ah bukan barang baru di tanah nusantara.

Sebagai bagian dari penyesatan, mereka menampilkan Iran dari sisi budayanya. Iranian Cultural Center (ICC) di Jakarta bisa menjadi contoh lain. Iran yang kental ideologi Syi’ahnya ditawarkan kepada publik Indonesia dengan pendekatan budaya, sehingga minim resistensi. Sama dengan pusat-pusat kebudayaan negara lain.

Jargon Persatuan untuk Menipu

Kosa kata persatuan juga selalu digunakan untuk mengelabuhi umat Islam Ahlu Sunnah di manapun untuk tanpa sadar menerima Syi’ah. Mereka menonjolkan kesamaan, misalnya sama-sama mentauhidkan Allah, bernabikan Muhammad, melaksanakan shalat, memakai busana muslim dan unsur-unsur persamaan lain.

Kaum Syi’ah selalu menggunakan argumen, jangan sampai sesama umat Islam berpecah belah atau dengan sengaja menimbulkan perpecahan, sebab jika kita berpecah belah musuh-musuh Islam akan bertepuk tangan. Mari kita rajut silaturrahmi dan saling memahami. Bahkan di Jakarta ada radio yang kuat indikasi Syi’ahnya – Radio Silaturrahmi – secara teratur memutar  lagu kenangan danPanggilan Jihad yang kerap diputar di radio era 80-an.

Liriknya yang menyerukan persatuan, dimanfaatkan misi Syi’ah sebagai jargon tipuan:

Pemuda pemudi Islam bangunlah – panggilan jihad rampungkan

Wasiat Muhammad peganglah – harta dan jiwa serahkan

Binalah persatuan, sirnakan perpecahan – persatuan …kalam Tuhan

Kalam ilahi menutut persatuan – perpecahan meruntuhkan  kekuatan

Pertikaian menguntungkan musuh Tuhan – hanya iman tauhid dapat menyatukan

Panggilan jihad hidupkan –  Allahu Akbar Allahu Akbar Allah Allahu Akbar..

Syi’ah biasa menggunakan jargon persatuan sebagai alat penipuan. Sebuah ironi , mereka menjual persatuan, padahal aqidah Syi’ah dibangun di atas spirit dendam. Dendam kepada Aisyah, istri Nabi SAW dan dendam kepada mayoritas sahabat. Setelah umat Islam mendekat kepada mereka karena tertarik jargon persatuannya, mereka menyiapkan tikaman mematikan dari belakang.

Stigma Takfiri dan Wahabi

Syi’ah era modern punya senjata khas, yakni mendelegitimasi para aktifis muslim yang kritis terhadap Syi’ah sebagai kaum takfiri (suka menvonis kafir kepada sesama muslim). Selain stigma Takfiri, kaum Syi’ah juga menggunakan stigma Wahabi sebagai senjata. Lebih menyedihkan lagi, stigma Wahabi ini bisa menjadi tali penyambung untuk merangkul komunitas NU yang antipasti dengan istilah Wahabi.

Syi’ah akan terus mengeksplorasi berbagai muslihat untuk menjajakan ideologinya. Mereka sadar, kejahatan tak akan bisa disebarkan kecuali dengan kedustaan, kelicikan, penipuan, kezaliman bahkan kalau perlu intimidasi dan ancaman pembunuhan. Aura kebencian kepada Ahlussunnah dengan jelas  terlihat di balik sorot mata mereka.(Anwar/annajah)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.199 kali, 1 untuk hari ini)