Ilustrasi oleh: arrahmah.com

Pada pertengahan Desember 2011, Khairul Ghazali terpidana kasus perampokan Bank CIMB Medan dan mendapat vonis 5 tahun, meluncurkan sebuah buku berjudul Mereka Bukan Thagut.

Menurut Khairul, telah terjadi distorsi tentang pemahaman istilah thagut. Misalnya, pemahaman bahwa seluruh aparatur negara, PNS (pegawai negeri sipil), semua orang yang bertemu dengan pemimpin negara, atau yang hadir dalam majelis resmi kenegaraan akan disebut thagut atau ansharut thagut, kafir dan akan masuk neraka. Tidak terkecuali ulama yang berdekatan dengan pemerintah dan penguasa, ulama yang memberi nasihat, pendapat dan bimbingan kepada pemerintah juga dianggap bagian dari thagut.

Pemahaman itu, menurut Khairul Ghazali, tidak sekedar salah kaprah dan keliru, tetapi juga sama dengan memutilasi syariat dan ajaran Islam. “Pemahaman dan pengertian soal thagut, bisa disunat sedemikian rupa, diobrak-abrik menurut selera pemahaman, ideologi dan kepentingan mereka.”

Peluncuran buku dan pandangan Khairul soal toghut mendapat reaksi dari Son Hadi (Direktur JAT Media Center). Menurut Son, pandangan Khairul pada buku Mereka Bukan Thagut tidak berdiri di atas argumen dalil syar’i melainkan dalih yang dicari-cari. Bahkan Son Hadi berpendapat, buku Mereka Bukan Thagut merupakan proyek lain deradikalisasi untuk menghantam wacana sentral yaitu tentang Thaghut yang sering dibicarakan ulama muwahhid seperti ustadz Abu Bakar Ba’asyir dan ustadz Aman Abdurrahman.

Menurut Ba’asyir, mereka yang dikatakan bukan toghut oleh Khairul Ghazali adalah toghut. Menurut Ba’asyir: “Thaghut-thaghut penguasa N.K.R.I menampakkan diri sebagai muslim dengan mengamalkan sholat, shiyam, zakat, haji dan lain-lain agar ummat Islam bersedia menerimanya sebagai Ulil Amri yang ditaati, bahkan untuk tujuan ini thaghut-thaghut menyewa ulama-ulama suu’, ustadz-ustadz, mubaligh yang berakidah Murji’ah Ekstrim untuk meyakinkan ummat Islam bahwa mereka bukan Thaghut.”

Menurut Abu Sulaiman Aman Abdurrahman, Khairul Ghazali melalui bukunya itu sedang membela pemerintah thaghut dengan cara mencampur-adukan makna thaghut secara lughawiy (bahasa) dengan makna syar’iy (istilah), dan saat menyimpulkan tulisannya tersebut, menurut Aman, Khairul berpegang terhadap makna lughawiy dan mencampakkan makna syar’iy.

Padahal, menurut Aman, Islam itu datang dengan membawa perubahan makna lughawiy kepada makna syar’iy. Misal, kata sholat secara lughawi adalah do’a sedangkan makna syar’i adalah ucapan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Begitu pula istilah thaghut secara bahasa maknanya adalah melampaui batas, sedangkan makna syar’iy adalah segala yang dilampaui batasnya oleh si hamba baik itu yang diibadati ataupun yang diikuti ataupun yang ditaati.

Untuk membantah pandangan Khairul Ghazali tentang toghut, Abu Sulaiman Aman Abdurrahman menyempatkan diri merampungkan tulisan berpuluh halaman, yang kemudian dibukukan dengan judul Yaa… Mereka Memang Thaghut!

Sedangkan menurut Abdullah Sunata, terbitnya buku berjudul Mereka Bukan Thagut karya Khairul Ghazali merupakan pesanan BNPT untuk menyerang ‘aqidah dan melemahkan para mujahidin, sekaligus merupakan salah satu contoh nyata bentuk penggembosan terhadap ibadah jihad, mujahidin dan ‘aqidah yang haq.

Abdullah Sunata adalah terdakwa kasus teroris pelatihan perang ala militer di Aceh yang sempat divonis 10 tahun dan kini mendekam di LP Cipinang, Jakarta. Sunata didakwa ikut serta mendukung pelaksanaan pelatihan di Aceh, memberikan bantuan dan menyembunyikan informasi adanya teroris. Sedangkan Aman Abdurrahman didakwa telah memberi bantuan dana bagi pelatihan militer Aceh kepada Dulmatin, juga berperan membantu Dulmatin mendapatkan tumpangan setelah melarikan diri dari serbuan Detasemen khusus 88 Anti Teror Polri di Aceh. Ia ditahan di LP Cipinang. Berbeda dengan itu, Abu Bakar Ba’asyir berada di dalam tahanan Bareskrim Mabes Polri.

Kalau diamati dengan jeli, di sela-sela hiruk-pikuk proyek basah deradikalisasi yang kontroversial, ternyata masih bisa terbaca tentang adanya sebuah perbedaan yang cukup signifikan diantara para jihadis. Yaitu, tentang keberadaan JI (Jama’ah Islamiyah).

Selama ini jihadis ABB selalu menafikan keberadaan JI, dan menyangkal keterlibatannya di lembaga tandzim sirri tersebut. Sementara itu, AR sampai saat ini konsisten dengan sikapnya tentang keberadaan JI dan keterlibatannya sebagai salah satu petinggi JI.

Salah satu media online bercorak Islamis yang rajin menurunkan artikel seputar deradikalisasi dan segala aspek dinamis yang terkait dengan hal itu adalah voaislam yang berkantor pusat di Bekasi

Pada salah satu edisinya, Rabu 28 Desember 2011, diturunkan artikel berjudul Abu Rusydan: Berhentilah Membicarakan Aib Para Aktivis! Pada alinea keenam, voaislam menuliskan: “Tokoh JI (Jamaah Islamiah) yang memiliki nama lain Thoriquddin alias Hamzah ini menyitir…”

Pada alinea berikutnya voaislam memberikan informasi kepada kita bahwa AR alias Thoriquddin alias Hamzah adalah “…alumnus pelatihan Akademi Militer Mujahidin Afghanistan di Sadda, Pakistan…”

Dari artikel itu pembaca dengan mudah akan hinggap pada kesimpulan, bahwa eksistensi JI (Jama’ah Islamiah) yang selama ini dinafikan keberadaannya bukan saja oleh ABB tetapi juga oleh SBY, ternyata memang nyata, dan AR salah satu petingginya. Selain itu, melalui artikel tersebut voaislam juga memberikan informasi gamblang, bahwa alumni Afghan itu benar-benar ada.

Keterbukaan AR sebagai petinggi JI (bukan mantan), sebelumnya sudah bisa ditemukan di berbagai media, antara lain pada majalah Risalah Mujahidin edisi 24 (Dzulhijjah 1429 H bertepatan dengan bulan Nov-Des 2008). Tahun berikutnya, keterbukaan itu bisa ditemukan di majalah Sabili No. 2 Th. XVII (Juli 2009), khususnya di halaman 16-21. Kepada Sabili ketika itu AR mengatakan: “…yang jelas saya bukan mantan. Karena JI itu bukan sesuatu yang buruk sehingga harus saya tinggalkan.”

Masih di tahun 2009, berkenaan dengan kasus peledakan di Hotel JW Mariott dan Hotel Ritz Carlton (Juli 2009), AR juga tampil di berbagai media sebagai narasumber. Antara lain di TVONE, Liputan 6 SCTV dan media online detikcom. Ledakan di JW Mariott sebelumnya pernah terjadi pada 05 Agustus 2003.

Bahkan beberapa tahun sebelumnya, sebagaimana diberitakan harian Kompas edisi Selasa 13 Januari 2004, AR mengakui bahwa ia menjadi pelaksana harian tugas Amir JI (Jama’ah Islamiyah).

Pemberitaan itu memang sesuai fakta. Pada April 2002 di Villa Setia, Puncak, Jawa Barat, dalam sebuah pertemuan tingkat Mantiqi, disepakati mengangkat AR sebagai pelaksana harian tugas Amir Jama’ah Islamiyah (JI), karena ABB yang saat itu menjabat Amir JI menggantikan AS, tidak bisa aktif secara penuh di JI akibat kesibukannya di MMI (Majelis Mujahidin Indonesia). Inisiatif mengangkat AR sebagai pelaksana harian tugas Amir JI datang dari Zu alias Da alias Ar S.

Pertemuan di Villa Setia tersebut, selain dihadiri oleh AR dan Zu, juga dihadiri oleh sejumlah tokoh JI seperti: NA, Mu, Ms, A F alias I Th alias A A, Ab R (adik A F), O M, H, Ar, Ah, Sa alias Ah R, Ya, Ab alias Z, Ra, Su, Ma, Mo Q, Ad, Ab F. Sedangkan ABB tidak hadir. Pertemuan di Villa Setia disiapkan oleh Ketua Mantiqi II (saat itu) Sya dan Ir. Su alias Za alias Zn bin Is (kelahiran Sragen, 05 September 1963).

Keberadaan JI dan keterkaitan ABB dengan JI, selain bisa diperoleh melalui dinamika pemberitaan seputar A R, juga bisa ditemukan melalui dinamika pemberitaan tentang NA, Far, dan sebagainya.

Salah satu contoh, posisi ABB sebagai Amir JI dapat diperoleh melalui dinamika pemberitaan seputar Ik Mi bin Wa (kelahiran Solo, 07 Mei 1963). Menurut dia, pada 1997 dirinya diangkat sebagai Ketua Wakalah Solo oleh A F alias Ib Th alias Ab An yang saat itu menjabat sebagai Ketua Mantiqi II.  Pengangkatan dirinya berlangsung di rumah kontrakan A F di daerah Kota Manahan, Solo. Sedangkan pada tahun 2000 Ik Mi pernah dipanggil ke rumah kontrakan A F, diberitahu bahwa pengganti AS adalah ABB.

Struktur organisasi JI saat itu adalah Mantiqi, Wakalah, Katiban, Kirdas, dan Fiah. Artinya, A F alias Ib Th saat itu merupakan atasan Ik Mi. Boleh dibilang, A F alias Ib Th merupakan satu-satunya petinggi JI yang licin. Terbukti, hingga kini ia tidak pernah berhasil ditangkap aparat. Namun demikian, A F juga pernah mendekam di penjara selama 9 tahun untuk kasus Usroh (bebas 1993).

A F juga merupakan salah satu tangan kanan AS, selain A R. Selama AS dan ABB masih berada dalam pelarian di Malaysia, operanional JI di Indonesia dikendalikan oleh AR dan A F, plus Sa alias Ah Ro yang ditangkap dan ditahan sejak April 2003 karena menyembunyikan Mu pelaku Bom Bali pertama. Ah Ro alias Sa masih tergolong cucu dari KH Ahmad Dahlan, pendiri persyarikatan Muhammadiyah.

AR alias Tho alias Ha (kelahiran Kudus, 16 Agustus 1960), adalah salah satu putra Haji Moh. Faleh, mantan pejuang kemerdekaan dari Laskar Hisbullah. Dalam usia relatif muda, AR berhasil menyelesaikan studinya di Fisipol UNS jurusan Komunikasi Massa angkatan tahun 1983. Meski cerdas dan sehat secara fisik, ia ditolak masuk AKABRI, hanya karena ia anak seorang tokoh DI (Darul Islam) yang juga pernah terlibat kasus Komando Jihad semasa Jenderal Ali Moertopo menjadi petinggi badan intelejen.

AR pernah mendekam di penjara selama satu tahun lebih (sejak penangkapannya yang berlangsung pada April 2003), karena disangkakan melindungi Mu pelaku Bom Bali pertama. AR juga pernah menjadi instruktur di Akmil Mujahidin Afghanistan milik Tanzim Ittihad Islami di Sada Pakistan, di bawah pimpinan ustadz Abdur Robbir Rosul Sayyaf. Salah satu murid AR adalah NA (angkatan 1987).

Itulah kali pertama NA bertemu dengan AR (1987), sebagai instruktur pelajaran taktik perang, khususnya taktik keterampilan individual (individual stalk). Kali kedua, NA bertemu AR tahun 1996 di Johor Baru (Malaysia), persisnya di Pesantren Lukmanul Hakim. Pertemuan ketiga, awal tahun 2000 di Palu. NA ke Palu untuk memenuhi undangan Ms alias Ab Th alias Pr Y alias Im dalam rangka Musyawarah tingkat Mantiqi III. Sedangkan AR ke Palu hanya sekedar mampir. Ms (kelahiran Semarang, 04 Januari 1962), saat itu menjabat sebagai Ketua Mantiqi III.

M N bin Ab alias NA alias Su alias Le alias Ma alias Mal alias Kha alias Ab H alias Ad Sa alias Ed Mu (kelahiran Singapura, 06 Mei 1969), meyakini ABB merupakan salah satu petinggi JI (orang kedua setelah AS).

Pada tahun 1998 di Sandakan, Sabah, Malaysia, ABB mem-bai’at sebelas orang (terdiri dari 8 laki-laki dan tiga wanita), secara terpisah, sebagai anggota Jama’ah Islamiyah dari Wakalah Badar (Sabah) yang diketuai oleh NA. ABB ketika itu mewakili AS (Amir Jama’ah Islamiyah) yang saat itu berhalangan. Saat itu, secara kebetulan ABB sedang memberikan ceramah di sekitar Sandakan.

Dari fakta-fakta yang ada, sebenarnya sudah cukup menjelaskan keberadaan Jama’ah Islamiyah sebagai tandzim sirri, serta keterkaitannya dengan ABB yang hingga kini menyangkal.

Misalnya, ketika ABB menyampaikan pembelaannya di PN Jakarta Pusat tanggal 23 Jumadil Akhir 1424 H (bertepatan dengan 21 Agustus 2003), ia mengatakan: “…saya sebagai orang yang dekat dengan almarhum Ustadz AS tidak pernah mendengar bahwa beliau adalah amir apa yang dinamakan JI, kalau hal ini benar mustahil saya tidak tahu. Tetapi yang saya tahu bahwa beliau adalah seorang muballigh yang aktif bertabligh baik di kalangan anggota jamaah ittibaaussunnah yaitu kelompok pengajian orang Malaysia yang dipimpin oleh seorang ulama yang bernama Ustadz Hasyim Ghani yang berpusat di Kuala Pilah Negeri Sembilan…”

 

ABB juga menyangkal dirinya menjadi amir Jama’ah Islamiyah menggantikan Ustadz A S, sebagai berikut: “…Wallahi, sama sekali saya tidak pernah dilantik sebagai amir apa yang dinamakan JI, sedang saya baru mendengar istilah JI setelah saya berada dalam tahanan baik melalui mulut-mulut polisi maupun dari media massa…”

Bahkan ABB dalam pembelaannya saat itu sempat menuduh salah satu saksi bernama Jafar bin Mistooki sebagai mata-mata Singapura yang berpura-pura ditahan untuk kemudian menjadi saksi yang membenarkan dan meyakinkan keberadaan Jama’ah Islamiyah.

Jafar bin Mistooki adalah warga negara Singapura, anggota Jama’ah Islamiyah, yang pernah ke Afghanistan sekitar tahun 1991, satu angkatan dengan Imam Samudera pelaku Bom Bali pertama. Kemudian ia sempat kembali lagi ke Afghanistan pada tahun 1998 dan 2000. Jafar terlibat kasus pemboman Malam Natal 2000, khususnya di kawasan Batam.

Sebenarnya ABB sendiri pada mulanya tidak menyangkal keberadaan dan keterlibatannya di JI, sebagaimana bisa dilihat pada Biodata yang dipublikasikan majalah Sabili No. 6 Th. VIII 6 Sep 2000 (hal. 45). Namun pasca Bom Malam Natal Desember 2000, aparat mengkaitkan pelaku pemboman di malam Natal itu dengan JI, apalagi diperkuat dengan pengakuan Al-Farouq di majalah Time. Pada 23 September 2002 majalah tersebut menurunkan artikel berjudul Confessions of an Al Qaeda Terrorist yang memuat pengakuan Umar Al-Farouq, warga Yaman yang saat itu berusia 31 tahun dan pernah ditangkap di Bogor pada Juni 2002.

Usai penangkapan, Al-Farouq langsung dibawa ke Halim Perdanakusumah untuk diterbangkan ke Bagram, Afganistan. Setelah beberapa bulan bungkam, akhirnya Al-Faruq mengakui bahwa dirinya operator Al-Qaeda di Asia Tenggara, dan mengaku memiliki hubungan dekat dengan ABB. Menurut Al-Farouq, ABB adalah pemimpin spiritual kelompok Jama’ah Islamiyah. Farouq juga mengakui keterlibatannya sebagai otak rangkaian peledakan bom malam Natal (24 Desember 2000).

Tentu saja seluruh pengakuan Al-Farouq itu disangkal sepenuhnya oleh ABB. Di persidangan dan proses hukum, ABB bisa saja menyangkal keberadaan JI dan keterlibatannya di JI. Bahkan proses hukum tidak mampu membuktikan keberadaan JI dan keterlibatan ABB di dalamnya. Namun, orang sudah mafhum dan sudah bisa menerima fakta bahwa ABB adalah petinggi JI, sebagaimana orang sudah bisa menerima bahwa AR adalah petinggi JI (bukan mantan).

Mengapa ABB menyangkal? Apapun alasannya, penyangkalan itu membuat dirinya berjarak dengan orang-orang JI. Penyangkalan ABB terhadap sejumlah orang yang dikatakannya tidak pernah kenal dan tidak pernah bertemu, membuat ia berpeluang dicap sebagai tidak bertanggung jawab, atau tidak kesatria.

Satu hal yang pasti, rentetan peledakan di tanah air sejak 2000 yang dikaitkan dengan JI, dan di persidangan sebagian pelakunya mengaku sebagai aktivis JI dan pernah berinteraksi dengan ABB, adalah peristiwa yang sangat membebani umat Islam secara psikis dan sosial. Dakwah Islam juga terbebani. Sehingga para praktisi bid’ah dan penganjur kesesatan begitu jumawa dan kian berani menisbahkan dakwah Islam yang hanif dan bersih dari bid’ah dengan terorisme. Artinya, kekerasan yang dilakukan oleh (oknum) aktivis JI dan kalangan yang sepaham dengannya membuat Islam dan dakwah Islam mendapat stigma negatif.

Kalau JI adalah sesuatu yang baik dan benar, serta sama sekali tidak terlibat aksi peledakan sebagaimana pernah terjadi sejak tahun 2000, agaknya keberadaannya tidak perlu disangkal. Kalau toh ada (oknum) JI yang terlibat aksi terorisme, bukankah ABB bisa mengatakan bahwa orang tersebut bukan lagi anggota JI, sebagaimana pernah dilakukan terhadap pelaku Bom Cirebon (15 April 2011) dan Bom Solo (25 September 2011), yang dinyatakan sudah keluar dari JAT (Jama’ah Ansharut Tauhid), pimpinan Abu Bakar Ba’asyir? Qoulan sadiida, itu ayatnya.

Sepertinya apa yang mereka berikan itu adalah suguhan atau tontonan yang belum tentu menarik bagi umat Islam. Sesama mereka mencap kafir mantan kawan seiringnya, seperti Be As mantan anggota JAT Cirebon yang mengkafirkan ustadz Ba’asyir dan JAT, dengan alasan Ba’asyir dan JAT mau berhukum di pengadilan toghut dan menggunakan pengacara (TPM, Tim Pembela Muslim), dan melakukan unjuk rasa (demonstrasi).

Sementara itu ABB menuding NA kafir karena sudah bekerja sama dengan toghut. Hal tersebut diucapkan ABB ketika NA mendatangi dia di Rutan Bareskrim pada 01 Desember 2011: “Antum itu sudah kafir sebaiknya antum segera bertaubat, berhentilah membantu toghut dalam memerangi mujahidin. Taubat antum yang paling baik adalah pergi saja ke Afganistan atau ke Yaman sana untuk berjihad dan jangan pulang kembali, itu yang terbaik untuk antum.” (http://ansharuttauhid.com/read/akhbar/274/nasir-abbas-mengkampanyekan-deradikalisasi-kpd-ust-abu-bakar-baasyir/)

Barangkali memang begitulah femomena suatu komunitas di Indonesia yang sedang dibicarakan ini: berpecah-pecah, berbantah-bantah, menyangkal selagi masih bisa. Kami sebagai umat Islam biasa dan penuh kekurangan ini ingin mengingatkan kepada diri sendiri dan sesama Muslim, hanya bisa urun rembug: berpegang teguhlah kepada tali Allah…. (tede/ nm)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.949 kali, 1 untuk hari ini)