Sukmawati Soekarnoputri/Net


Puisi Sukmawati Soekarnoputri yang berjudul “Ibu Indonesia” dapat menimbulkan kegaduhan, bahkan konflik beragama di Indonesia.

Begitu dikatakan anggota Komisi VIII DPR, Deding Ishak saat dikontak, Selasa (3/4).

“Hal ini justru berpotensi konflik, umat beragama, dan justru sekarang ini, sangat kita hindari,” ujarnya.

Deding menyesalkan puisi tersebut terlontar dari putri Proklamator RI, Soekarno. Sukmawati, seolah lupa bahwa dasar negara yaitu Pancasila sudah mampu menyatukan agama dan budaya yang beragam di Indonesia.

“Saya menyesalkan hal itu, dari sosok yang kita anggap anak tokoh proklamator kita, dan juga sebagai aktifis. Dan kita paham sekali bagaimana tentang pancasila ini sebagai ideologi yang mengayomi semua agama yang ada dan termasuk islam.” jelasnya.

Perihal adanya kelompok masyarakat yang melaporkan Sukmawati ke pihak Kepolisian, Deding meminta polisi serius menangani kasus ini.

“Kalau memang ini sekedar sudah ada yang melaporkan. Kepada polisi saya harap jangan pandang bulu,” tukas politisi Golkar itu. [sam]

Laporan: Ahmad Kiflan Wakik / politik.rmol.co

***

Disayangkan Ada Keluarga Bung Karno Yang Gagal Pahami Islam

RMOL. Setelah Megawati Soekarnoputri, kini sang adik Sukmawati Soekarnoputri yang mendapat sorotan karena mempertentangkan antara Islam dan Pancasila.

Sukmawati dalam pusinya “Ibu Indonesia” seakan menyudutkan syariat Islam, cadar dan juga suara azan.

“Kita prihatin kenapa ada keluarga tokoh proklamator yang gagal memahami akidah iman, Islamnya sebegitu parah ya?” kata Wakil Ketua Komisi Hukum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Irjen Pol (Purn) Anton Tabah Digdoyo, Selasa (3/4).

“Tahun lalu Mbakyunya (Megawati) di pidato resmi PDIP mengaku heran pada orang-orang yang mempercayai ada kehidupan setelah mati padahal mereka belum pernah mengalaminya? Itu berarti ia tak percaya alhirat kan? Kini, Sukmawati melecehkan syariat yang sangat dimuliakan, diagungkan dan dihormati umat Islam sedunia, azan dan jilbab,” tuturnya menambahkan.

Jelas Anton Tabah yang juga aktif di ICMI dan KAHMI Pusat, saking mulianya azan, Nabi Muhammad SAW melarang berbicara ketika mendengar azan dikumandangkn. Dalam sabdanya yang masyhur, ‘siapa yang bicara ketika dengar azan dikumandangkan ia akan kepayahan ketika sakaratul maut’.

“Begitulah keagungan azan, kok dilecehkan,” imbuhnya.

Tokoh-tokoh seperti ilmuwan Barat juga banyak yang kagum dengan azan tanda waktunya umat Islam untuk berdoa bahkan banyak di antara tokoh-tokoh tersebut yang menjadi mualaf.

“Antara lain, Prof. Garry Miller pakar matematika, bahkan aktor dan sutradara AS ternama pemenang academy award Morgan Freeman yang Nasrani itu bilang bahwa azan tanda waktu-waktu berdoa umat Islam adalah suara terindah di dunia yang ia dengar,” ungkap Anton Tabah.

Demikian pula tentang jilbab bagi kaum muslimah kini digandrungi wanita-wanita non muslim karena ternyata ajaran Islam tentang jilbab justru menaikan kehormatan kaum hawa. Satu persatu kebenaran Islam terkuak dengan saintek dan peradaban yang lebih humanis.

“Saya sarankan untuk Sukmawati jika tak tahu syarat Islam, belajarlah syariat Islam jangan malah melecehkan,” terangnya.

“Mungkin karena tidak percaya adanya Allah atau adanya akhirat ya enggak usah bersandar pada Allah pada Pancasila dan UUD 1945 saja yang tegas pada Pasal 28 dan 29 UUD tersebut bahwa Indonesia berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dan setiap warga negaranya wajib beragama dan menjalankan ajaran agamanya sesuai kitab sucinya,” demikian Anton Tabah menambahkan. [rus]

Laporan: Ruslan Tambak / politik.rmol.co

(nahimunkar.org)

(Dibaca 381 kali, 1 untuk hari ini)