Polisi Akhirnya Akui Ada 46 Korban Bentrok

Respon kepolisian terhadap para pendukung Prabowo-Hatta sangat berlebihan padahal aksi berlangsung damai, tertib dan tidak ada pengrusakan. Menurut dia, cara Polda Metro Jaya menyikapi aksi pendukung Prabowo-Hatta sama sekali tidak profesional.

Menurut Fadli Zon Sekretaris Tim Pemenangan Prabowo-Hatta itu, suasana tidak konsusif dipicu oleh ketidakprofesionalan Polda Metro Jaya dalam bertindak.

“Kesalahan fatal Polda Metro Jaya membuat kawat berduri. Kalau itu dibuka saya kira tidak terjadi apa-apa. Menembakan peluru karet kepada pendukung yang sedang di mobil, sedang berorasi ini saya kira cara-cara jelek,” papar Fadli.

“Saya kira peninjauan Kapolda Metro Jaya perlu dilakukan, harus dicopot, harus dievaluasi,” pungkasnya.
Inilah beritanya.
***

Fadli Zon: Brutal Atasi Pendemo, Copot Kapolda Metro Jaya!

RMOL. Partai Gerindra mendesak Kapolda Metro Jaya Irjen Dwi Priyatno dicopot dari jabatannya.

Musababnya, Partai Gerindra menilai Dwi Prayitno telah melakukan kesalahan fatal dalam memimpin jajarannya merespon demonstrasi pendukung Prabowo-Hatta di sela pembacaan putusan sengketa Pilpres oleh Mahkamah Konstitusi.

“Aksi pendukung Prabowo-Hatta ditanggapi dengan cara over acting, sehingga terjadi insiden yang menyebabkan puluhan orang jadi korban tersebar di beberapa rumah sakit. Ada yang kena tembakan gas air mata, ada yang kena peluru karet,” ujar Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon kepada wartawan di Jakarta sesaat lalu (Kamis, 21/8).

Dikatakan dia, respon kepolisian terhadap para pendukung Prabowo-Hatta sangat berlebihan padahal aksi berlangsung damai, tertib dan tidak ada pengrusakan. Menurut dia, cara Polda Metro Jaya menyikapi aksi pendukung Prabowo-Hatta sama sekali tidak profesional.

Menurut Sekretaris Tim Pemenangan Prabowo-Hatta itu, suasana tidak konsusif dipicu oleh ketidakprofesionalan Polda Metro Jaya dalam bertindak.

“Kesalahan fatal Polda Metro Jaya membuat kawat berduri. Kalau itu dibuka saya kira tidak terjadi apa-apa. Menembakan peluru karet kepada pendukung yang sedang di mobil, sedang berorasi ini saya kira cara-cara jelek,” papar Fadli.

“Saya kira peninjauan Kapolda Metro Jaya perlu dilakukan, harus dicopot, harus dievaluasi,” pungkasnya.[dem] Kamis, 21 Agustus 2014 , 20:03:00 WIB/ Laporan: Ade Mulyana
***

RPKAD Protes Aksi Brutal Polisi

A. Z. Muttaqin Jum’at, 26 Syawwal 1435 H / 22 Agustus 2014 08:08

Polisi menyemprotkan air dan menembakkan gas air mata kepada para pendemo di Bundaran Patung Kuda, Jakarta, Kamis (21/8/2014)

JAKARTA (Arrahmah.com) – RPKAD (Relawan Penjaga Kemurnian Akidah dan Daulah) lewat pembinanya Ustadz Muhammad al Khaththtath memprotes aksi brutal polisi dalam menangani aksi demo warga masyarakat di Bundaran Patung Kuda, Jakarta Pusat, Kamis (21/8/2014).
Dirinya menyesalkan tindakan brutal itu. “Kami sesalkan tindakan anggota Bapak di bundaran air mancur yang melarang massa hadiri sidang MK secara damai.Bahkan polisi tembakkan gas air mata padahal massa tidak anarkis,” isi pesan pendek Ustadz Khaththath kepada Kapolri Sutarman yang diterima redaksi Kamis malam.
“Saya yang juga ikut merasakan pedasnya gas air mata dan melihat banyak pengunjuk rasa termasuk ibu-ibu yang jatuh dan terinjak-injak, dan ada yang pingsaan saat selamatkan diri dari serangan gas air mata yang ditembakkan polisi secara membabi buta,” tambah Ustadz Khaththath.
Para korban kebrutalan polisi, sebut Ustadz Khaththat, sangat takut, muka seperti terbakar pedih dan sangat sakit, mata tak bisa dibuka. “Ada ibu ketua rombongan jatuh dan terinjak-injak,” katanya.
Sementara pihak Polda Metro Jaya menyatakan sebanyak 46 orang pendemo di Bundaran Patung Kuda yang sempat menjalani perawatan di beberapa rumah sakit karena terkena tembakan gas air mata, terkilir, dan luka benturan pada kepala serta tubuh.
“Namun mereka sudah kembali pulang ke rumah,” kata Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Musyafak, di Jakarta, Kamis (21/8/2014), tulis Antara.
Musyafak menyebutkan jumlah pendemo yang terkena tembakan gas air mata terdiri dari tujuh orang di Rumah Sakit (RS) Tarakan, 26 orang di RS Budi Kemuliaan dan 13 orang di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta Pusat.
Musyafak mengungkapkan berdasarkan keterangan 40 orang yang terkena gas air mata sudah diizinkan pulang, empat orang di RS Tarakan luka benturan di kepala dan badan dan dua orang dirawat di RSCM akibat keseleo pada kaki dan luka pada dahi.
Sedangkan seorang petugas Polres Metro Jakarta Pusat, Brigadir Polisi Giyanto, menjalani perawatan di Dokkes Polda Metro Jaya.
Pimpinan Polda Metro Jaya membantah petugas menggunakan senjata peluru karet atau tajam saat membubarkan aksi anarkis pendemo di Bundaran Patung Kuda.(azm/arrahmah.com)
***

SENGKETA PILPRES 2014 Polisi Akhirnya Akui Ada 46 Korban Bentrok

Solopos.com, JAKARTA — Polda Metro Jaya yang semula mengklaim hanya jatuh delapan korban terluka dalam bentrok antara aparatnya dengan warga yang mereka adang datang ke Gedung Mahkkamah Konstitusi (MK), Kamis (21/8/2014), akhirnya merevisi pernyataan. Polisi kini menyebut angka 46 korban, namun tetap membantah telah memukuli ataupun menembak warga.
Seperti diberitakan Solopos.com, bentrok dengan polisi terjadi saat warga yang hendak mengikuti sidang perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) Pilpres 2014 diadang di seputaran Bundaran Patung Kuda, Jakarta. Polisi mengakui jatuhnya delapan korban luka akibat insiden itu, jauh lebih sedikit ketimbang angka yang disebut media massa lokal yang mengakumulasikan pula korban yang dirawat di Rumah Sakit Budi Kemuliaan.
Belakangan, Polda Metro Jaya menyatakan 46 warga yang terlibat bentrok dengan aparatnya di Bundaran Patung Kuda, Jakarta Pusat, kini menjalani perawatan di beberapa rumah sakit karena terkena tembakan gas air mata, keseleo, dan luka benturan pada kepala dan badan. “Namun mereka sudah kembali pulang ke rumah,” kilah Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Metro Jaya Kombes Pol Musyafak yang semula menyebutkan hanya adanya delapan korban terluka.
Musyafak menyebutkan jumlah pendemo yang terkena tembakan gas air mata terdiri atas tujuh orang di Rumah Sakit (RS) Tarakan, 26 orang di RS Budi Kemuliaan, dan 13 orang di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta Pusat. Musyafak mengungkapkan berdasarkan keterangan 40 orang yang terkena gas air mata sudah diizinkan pulang, empat orang di RS Tarakan luka benturan di kepala dan badan, serta dua orang dirawat di RSCM akibat keseleo pada kaki dan luka pada dahi. Di sisi lain, seorang anggota Polres Metro Jakarta Pusat Brigadir Pol Giyanto menjalani perawatan di Dokkes Polda Metro Jaya./ Kamis, 21 Agustus 2014 20:35 WIB

(nahimunkar.com)

(Dibaca 341 kali, 1 untuk hari ini)