Ratusan anggota polisi Pamekasan Madura melakukan aksi demo Sabtu (4/10) lalu dengan membawa kambing.
Untuk apa?
Untuk menyindir sejumlah pemimpin polisi yang sedang mereka demo, karena mereka dinilai berakhlak binatang. Bahkan para pemimpin polisi sering berkata kasar menganjing-anjingkan anggota polisi di saat apel.
“Kalau sedang apel, anggota dibilang anjing, pelacur, kurang ajar, tidak becus. Anggota semuanya mangkel sehingga aksi demo ini sebagai bentuk penyampaian aspirasi seluruh anggota,” terang ES, salah satu anggota Reskrim.

Seperti diketahui, polisi biasanya menjaga orang-orang yang sedang berdemo. Dalam menjaga itu tidak jarang justru yang terjadi adalah bentrok dengan para pendemo. Bahkan yang memalukan, di Jakarta, seperti yang terlihat di video rekaman, bentroknya polisi dengan para pendemo Ahok (yang menolak Ahok, jangan sampai nangkring di kursi gubernur DKI Jakarta di antaranya karena mulutnya sering berkata kasar dan mengandung hinaan terhadap Islam) tampaknya justru dipicu oleh ulah polisi. Makanya ada media yang menilai, justru polisilah yang memprovokasi alias jadi provokatornya. https://www.nahimunkar.org/?p=37179
Bagaimana pula ketika yang berdemo adalah polisi, sedang yang didemo juga polisi. Tentu saja rawan kericuhan. Dan memang benar terjadi. Mereka ricuh sesama polisi. Hingga pemimpin tertinggi polisi pun harus bicara.
Ternyata para polisi sendiri juga sebel dengan polisi ya…
Inilah beritanya.
***

Demo Polisi Ricuh, Tuntut Wakapolres Mundur Karena Sering Berkata Kasar
Senin, 06/10/2014 20:49:12

Jakarta (SI Online) – Terkait kericuhan di kantor kepolisian Pamekasan, Kapolri Jenderal (Pol) Sutarman menegaskan akan menindak setiap anggota polisi yang melanggar.

“Semuanya sedang di periksa Propam untuk mengetahui apa masalahnya. Siapapun yang melanggar akan kita tindak,” kata Sutarman seperti dikutip Beritasatu.com, Senin (6/10).

Seperti diketahui, ratusan anggota polisi Pamekasan melakukan aksi demo Sabtu (4/10) lalu untuk menuntut Wakapolres Pamekasan Kompol Hartono, Kabag Ops Kompol Slamet Riyadi, dan Kabag Sumber Daya (Sumda) Kompol Sugeng Santoso untuk diganti. Mereka minta para pimpinan polisi itu hengkang karena kerap berkata kasar.

“Kalau sedang apel, anggota dibilang anjing, pelacur, kurang ajar, tidak becus. Anggota semuanya mangkel sehingga aksi demo ini sebagai bentuk penyampaian aspirasi seluruh anggota,” terang ES, salah satu anggota Reskrim.

Perkataan kasar dan hinaan kepada para anggota itu, sudah dianggap tidak manusiawi. Apalagi dikatakan di depan umum seperti di monumen Arek Lancor, atau di beberapa tempat anggota Polres yang sedang melakukan pengamanan.

Awalnya demo berlangsung damai, namun aksi berubah menjadi keributan saat salah seorang perwira polisi didorong polisi lain. Para pendemo juga membawa kambing sebagai tanda protes kepada atasan karena dianggap bertindak seperti binatang. Tidak hanya itu, pengunjuk rasa juga menyegel rumah dinas Wakapolres dan menutup ruangan penyidik Reskrim.

Akibat aksi ini, pelayanan masyarakat di Mapolres Pamekasan sempat lumpuh karena para petugasnya mogok kerja. Namun suasana berhasil diredam oleh Wakapolda Jawa Timur Brigjen Suprojo Wiro Sumarjo yang turun ke lokasi kejadian.

red: adhila/dbs

(nahimunkar.com)

(Dibaca 898 kali, 1 untuk hari ini)