(Kronologi dan Penyebabnya)

  • Polisi Langsung Arahkan Tembakan ke Massa di Pelabuhan Sape Bima
  • Saat membubarkan massa, beberapa polisi terlihat langsung mengarahkan senjata serbu mereka ke arah massa.
  • Polisi menembaki dan memukuli warga

Inilah berita Polisi menembaki massa, kronologi, dan penyebabnya.

***

Penyerbuan Pelabuhan Sape

Polisi Langsung Arahkan Tembakan ke Massa

Metro TV/sa

JAKARTA–MICOM: Dugaan bahwa korban tewas saat polisi membubarkan massa yang menduduki Pelabuhan Sape, Bima, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (24/12) pagi mencapai belasan orang kemungkinan ada benarnya.

Pasalnya saat membubarkan massa, beberapa polisi terlihat langsung mengarahkan senjata serbu mereka ke arah massa.

Dalam tayangan di Metro TV, terlihat ada polisi yang membawa senjata laras panjang melepaskan tembakan dengan laras mengarah ke depan dan bukan ke atas sebagai tembakan peringatan. Dengan laras mengarah ke depan, bukan tidak mungkin peluru yang ditembakkan mengenai massa yang menduduki Pelabuhan Sape sejak sepekan ini.

Hingga kini, korban tewas yang sudah teridentifikasi berjumlah empat orang. Saat ini jenazah berada di RUSD Bima.

Anggota DPRD Fraksi Partai Rakyat Demokratik Adi Rahmat mengungkapkan korban tewas yang telah teridentifikasi adalah Arif Rahman, Syaiful, Alamsyah dan Ismail. “Saat ini jenazah ada di RSUD Bima,” kata Adi di Bima melalui sambungan telepon.

Menurutnya, korban Arif Rahman, 18, dan Syaiful, 17, merupakan pelajar SMA yang tinggal di Desa Suni, Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima. Sedangkan Ismail berusia 51 tahun merupakan warga sekitar. Sementara korban tewas bernama Alamsyah belum diketahui asal-usulnya.

Terkait adanya nama Owen alias Ansyari yang turut tewas, Adi mengungkapkan Owen hanya menderita luka tembak dan kini ditangkap polisi dan ditahan di kantor polisi. “Kemungkinan korban tewas bertambah karena polisi menembaki dan memukuli warga,” kata Adi. (X-12/OL-04) MICOM Sabtu, 24 Desember 2011 21:13 WIB

***

Kronologis Kerusuhan Bima Versi LSM

Jakarta – Koalisi Rakyat NTB* yang tergabung dari berbagai elemen merilis kronoligis terjadinya bentrok berdarah di area Pelabuhan Sape yang terjadi, Jumat 24 Desember 2011.

Inilah kronologis bentrokan berdarah di Pelabuhan Sape, Bima yang dirilis, Sabtu (24/12) :

1 – Protes massa rakyat Kecamatan Lambu Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat atas kebijakan Bupati Bima yang mengeluarkan Ijin Usaha Pertambangan dalam bentuk Surat Keputusan Nomor 188.45/347/004/2010 tanggal 28 April 2010 yang di berikan kepada PT.Sumber Mineral Nusantara dengan Luas 24.980 hektar untuk melaksanakan ekplorasi mineral emas (Au) dan mineral pengikutnya selama 5 tahun dengan luas 24.080 hektar di Kecamatan Sape, Lambu dan Langgudu.  PT.Sumber Mineral Nusantara juga memiliki perizinan (Kuasa Pertambangan Penyelidikan Umum) dari Kementerian ESDM dengan Kepmen Nomor 1463.K/29/2000 tertanggal 22 mei 2008 dengan nomor kuasa pertambangan Nomor 621 tahun 2008.

2 – 8 Januari dan 31 Januari 2011 : Warga masyarakat Lambu, Sape dan Langgudu menggelar aksi massa yang tergabung dalam Front Rakyat Anti Tambang sebanyak dua kali dalam bentuk aksi massa. Warga yang berasal dari tiga kecamatan menggelar aksi massa yang ketiga pada Pada kamis 10 Februari 2011. Aksi itu diikuti ribuan massa rakyat yang berujung pada pembakaran kantor camat Lambu dan beberapa kendaraan yang ada serta menimbulkan korban tembak atas nama Muhammad Nasir yang kena tembak bagian kaki dan Pengadilan Negeri Bima mengkriminal empat warga atas tuduhan pengrusakan.

3- Atas insiden ini warga dan aktivis pergerakan melakukan laporan ke Komnas HAM di Jakarta. Komnas HAM memberikan beberapa Rekomendasi Nomor 2.784/K/KPMT/XI/2011  09 November 2011 kepada Bupati Bima agar menjaga ketertiban, memperbaiki sistem informasi dan sosialisasi, mendesak jaminan kelestarian, bersama menteri ESDM dan Dinas ESDM Provinsi NTB untuk menjalankan pengawasan dan menghentikan aktivitas PT SMN, serta melaksanaan CSR, berikut juga menyampaikan perkembangan ke Komnas HAM selama 30 hari sejak surat diterima.

4- Surat yang dikeluarkan Komnas HAM tidak hanya ditujukan kepada Bupati Bima, Komnas HAM juga mendesak Kapolda Nusa Tenggara Barat untuk melakukan langkah koordinatif dan komunikatif dengan seluruh unsur Pemda, tokoh masyarakat untuk mencegah konflik horizontal, melakukan evaluasi kelembagaan terhadap Kapolresta Bima, memeriksa dan memberikan sanksi hukum pada anggota kepolisian yang menggunakan peluru tajam saat aksi, dan menjamin kebebasan dalam menyampaikan aspirasi.

5- Pihak Kepolisian dalam hal ini Polres Bima Jumat 02 Desember 2011 melakukan penangkapan terhadap Adi Supriadi alias Japong Korlap Aksi 10 Februari 2011. Atas penangkpan Adi Supriadi Alias Japong ini menyulut kemarahan massa rakyat yang tergabung dalam Front Rakyat Anti Tambang (FRANT) dan melakukan konsolidasi untuk melakukan aksi protes dalam bentuk Pemblokiran Pelabuhan Sape, Kabupaten Bima yang di mulai Selasa 20 Desember 2011.

6- 24 Desember 2011 Pukul 09.00 Wita,  massa yang berkumpul di Pelabuhan Sape dibubarkan secara paksa. Penembakan oleh Aparat Keamanan terjadi pukul 09.00 Wita, dimana aparat kepolisian awalnya melakukan tembakan peringatan sehingga 200 massa rakyat yang tersisa melakukan pemblokiran, berhamburan mencari perlindungan, sementara di tempat terpisah aparat kepolisian memblokir warga yang menuju pelabuhan untuk bergabung kembali namun tak ada selang waktu aparat kepolisian pun membrondong tembakan kearah 200 massa rakyat di pelabuhan sape hingga belasan luka-luka diantaranya meninggal dunia .

7- Aparat juga menceburkan warga ke laut yang hingga kini belum ditemukan, serta aparat melakukan pengejaran terhadap masyarakat yang sebelumnya menduduki pelabuhan Sape.

____

*Koalisi Rakyat NTB tersebut terdiri dari Partai Rakyat Demokratik (PRD), Serikat Tani Nasional (STN), Liga Mahasiswa Nasional Untuk Demokrasi (LMND), Kesatuan Mahasiswa Lambu (Kamil) Mataram, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Nusa Tenggara Barat, Front Mahasiswa Nasional (FMN).

Kelompok itu juga terdiri dari Komite Persiapan Pemuda Merdeka (KP SPM), LBH Reform, Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI), HMI MPO, Himpinan Mahasiswa Frado (HMF) Bima, Tim Pembela Petani Lambu (TPPL), Lembaga Cegah Kejahatan Indonesia (LCKI), SERIKAT PETANI INDONESIA (SPI NTB).

(mas/asr) Minggu, 25 Desember 2011, (erabaru.net)

***

Kronologi Pembubaran Paksa Unjuk Rasa di Sape Bima

(Bima) – Aksi unjuk rasa masyarakat Bima yang meblokir Pelabuhan Sape berujung tindakan kekerasan aparat kemanan hingga mendapat perlawanan dari pihak pengunjuk rasa.

Kedua belah pihak kemudian saling serang. Pihak pasukan gabungan yang terdiri atas unsur Brimob Polda NusaTenggara Barat dan Polres Bima dibantu pihak TNI dari Batalyon Kompi A Bima, pagi itu sekitar pukul 07.00 Wita melakukan pembubaran paksa terhadap lebih dari 90 orang yang sejak 19 Desember lalu menduduki dan menutup jalur ke pintu masuk Pelabuhan Sape yang menghubungkan jalur penyeberangan ke Labuhan Bajo, Nusa Tenggara Timur.

Rentetan tembakan pun keluar dari mulut senjata hingga menimbulkan jatuh korban di pihak pengunjuk rasa.

Berikut Kronologis kekerasan di Pelabuhan Sape:

  1. Hari Senin tanggal 19 Desember 2011 jam 09:00 Wita masa dari Lambu dan sebagian dari Sape, Langgudu dan Wera, terdiri dari laki dan perempuan menduduki dermaga penyebrangan Sape dengan tuntutan pencabutan SK BUPATI BIMA NO. 188 th 2010 tentang eksplorasi pertambangan emas di  Kec. Sape dan Lambu.
  2. Selasa tanggal 20 Desember 2011, Bupati Bima melakukan negosiasi dengan KORLAP pendemo di kantor camat Sape dengan menawarkan penghentian sementara ijin eksplorasi tambang emas untuk 1 tahun, para pendemo tetap menolak dengan keras dan tetap dengan tuntutan mereka “PENCABUTAN IJIN”.
  3. Hari Rabu,  Kamis, Jumat, massa tetap menguasai dermaga penyebrangan Sape dan pada hari Jumat jam 15:30 Wita atas permintaan Kapolda NTB, dua anggota DPRD Bima yakni H. Nadjib dan Firdaus, bernegosiasi dengan perwakilan massa (KORLAP). 7 orang KORLAP bertemu dengan anggota DPRD Bima di rumah H. Nadjib dan menawarkan solusi kepada masyarakat,  bagaimana kalau penghentian sementara 1 tahun yang ditawarkan oleh bupati, dirubah substansinya dengan redaksional sebagai berikut: “Bupati menghentikan segala kegiatan eksplorasi tambang emas di Kec. Lambu dalam waktu 1 tahun dan kemudian dapat diperpanjang lagi dalam waktu yang ditentukan kemudian“. Perwakilan massa tetap menolak dan pencabutan ijin adalah harga mati.
  4. Karena tidak ada kesepakatan, aksi kemudian dilanjutkan hingga hari Sabtu. Kesal dengan ulah pengunjuk rasa yang keras kepala memblokir Pelabuhan Sape, aparat keaman mengambil tindakan dengan membubarkan secara paksa para pengunjuk rasa. Pembubarakan paksa itu menimbulkan perlawanan masyarakat hingga terjadi bentrokan.  Dengan tidak segan-segan aparat keamanan pun mengeluarkan tembakan untuk menghalau perlawan pengujuk rasa.
  5. Saling serang terajdi antara aparat gabungan dengan pihak pengujuk rasa. Akibat penyerbuan aparat keamanan itu 2 orang tewas, 11  orang menderita luka-luka yang sekarang masih dirawat di rumah sakit terdekat.

(K-2) Komhukum Minggu, 25 Desember 2011 16:43:40 WIB

***

Korban Tewas Lebih 2 Orang Dalam Bentrokan Sape

Komhukum (Jakarta) – Jumlah korban akibat bentrokan antar massa pengunjuk rasa dengan pihak aparat kepolisian di Sape, Bima, NTB  masih simpang siur.

Korban tewas dalam aksi kekerasan itu  disebutkan beragam, mulai dari dua hingga empat orang. Bahkan ada pula yang menghitung lebih dari 12 warga tewas.

Sementara itu  keterangan yang diperoleh dari RSUD Bima, tempat jenazah korban kini disemayamkan, tertera dua nama korban yang diketahui tewas, yakni atas nama Arifrahman (18) dan Syaiful (17). Keduanya warga Desa Suni, Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima, di penghujung timur Pulau Sumbawa.

Pihak kepolisan melalui Kadiv Humas Mabes Polri mengatakan, jumlah korban dalam  bentrokan antara massa pengunjuk rasa dengan keamanan, ada dua orang tewas dan 8 luka-luka.

“Dua orang meninggal, dan 8 orang  dirawat di rumah sakit Bima,”. kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Saud Usman Nasution saat diwawancarai sebuah televisi swasta, di Jakarta, Sabtu (24/12/2011) malam.

Menurut Saud Usman, pembubaran unjuk rasa yang dilakukan kepolisan sudah sesuai prosedur. Karena menurutnya, polisi sudah memberikan beberapa kali peringatan agar para pengunjuk rasa membuka blockade.

“Kita upayakan pendekatan persuasif, kemudian tembakan peluru hampa,” kata Saud Usman.

Menurut Kadiv Humas Mabes Polri, para pengunjuk rasa tidak mau keluar dari pelabuhan Sape walaupun sudah diberikan peeringatan..

Padahal pihak kepolisian sedang melakukan operasi lilin terkait perayaan hari Natal dan Tahun Baru.

“Penyeberangan fery lumpuh total, sementara negosiasi gagal. Pimpinan hukum, Kapolda turun langsung ke Sape,” tandas Saud Usman.

Di pihak lain, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) melalui ketua Walhi NTB, Ali Usman Khair mengatakan ada 5 korban tewas dalam bentrokan di Pelabuhan Sape.

“5 orang meninggal, bahkan mungkin lebih dari 5 orang yang meninggal,” kata Ali Usman Khair saat diminta komentar oleh sebuah stasiun televisi swasta, Sabtu (24/12/2011) malam.

Menurut Ali Usman, polisi memang melakukan  tembakan peringatan ke  udara, namun setelah itu aparat kepolisian mengeluarkan tembakan arah mendatar dengan peluru tajam. (K-2) Minggu, 25 Desember 2011 16:49:13 WIB (Komhukum)

***

Polisi & Pengunjuk Rasa Bentrok di Bima, 4 Orang Tewas

Sabtu, 24 Desember 2011 14:06 WIB

Bima, (tvOne)

Bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa terjadi di pelabuhan Sape, Bima, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (24/12).  Bentrokan tak terhindarkan setelah polisi membubarkan paksa aksi blokade di Pelabuhan Sape yang telah berlangsung selama enam hari.Setidaknya empat orang dipastikan tewas dalam bentrokan ini. Dua diantaranya bernama Arif Rahman (19 tahun) dan Syaiful (17 tahun), sementara dua orang lainnya belum teridentifikasi. Kabar yang beredar menyebutkan korban tewas mencapai 12 orang.

Sebagian besar pengunjuk rasa merupakan mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Puluhan orang mengalami luka, sementara setidaknya 20 orang telah diamankan aparat kepolisian. (tvOne)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 418 kali, 1 untuk hari ini)