Polisi

DALAM perspektif Islam, lembaga kepolisian adalah pelaksana nahi munkar yang secara resmi dan secara khusus dibentuk oleh pemerintah. Salah satu tujuannya, untuk membawa pelaku kemunkaran ke dalam proses hukum, bekerja sama dengan instansi terkait seperti kejaksaan dan pengadilan.

Sayangnya, dari lembaga ini masih terdengar sejumlah kasus kemunkaran yang justru pelakunya (oknum) kepolisian sendiri. Tentu sangat merepotkan bila pelaku dan pemberantas kemunkaran berada dalam satu atap.

Perzinaan dan Pencabulan

Pada April 2009 lalu, terbetik kabar tentang perbuatan 5 anggota polisi yang melakukan perbuatan tidak terpuji terhadap pasangan mahasiswa-mahasiswi di Makassar, Sulawesi Selatan. Menurut media massa, kelima polisi itu memergoki seorang mahasiswi yang tengah berpacaran di dalam sebuah mobil di Pantai Akkarena, Tanjung Bunga, Makassar, Sulawesi Selatan.

Kedua sejoli itu pun diinterogasi. Saat interogasi, kelima polisi itu tidak hanya membentak sang Mahasiswi dan pacarnya, tetapi juga meminta sang Mahasiswi membuka pakaian bawahnya. Selanjutnya para polisi tersebut mengambil gambar alat vital gadis itu dengan menggunakan handphone. Alasannya, untuk membuktikan apakah Mawar telah berbuat asusila atau belum dengan kekasihnya. Anehnya, rekaman gambar itu kemudian malah beredar luas di Makassar. (http://www.detiknews.com/read/2009/05/19/101031/ 1133751/10/agar-jera-polisi-cabul-harus-diberi-sanksi)

Seharusnya, kelima polisi itu menasehati kedua pasangan itu, melaporkannya kepada kedua orangtua masing-masing, kalau perlu juga kepada pimpinan di lembaga pendidikan tempat mereka menuntut ilmu, agar peristiwa serupa tidak terulang. Karena, perbuatan kedua sejoli itu sudah tergolong perzinaan. Bukanya menasehati, mereka malah memaksa sang mahasiswi membuka pakaian untuk diabadikan melalui ponsel dan dikabarkan melakukan pemerasan sebesar Rp 500 ribu.

Kasus Video Mesum, 5 Polisi Terancam Hukuman 7 Tahun

Senin, 25 Mei 2009 | 06:32 WIB

MAKASSAR, KOMPAS.com — Lima anggota Patroli Motor Polwiltabes Makassar yang terlibat dalam perbuatan, pemerasan, dan penyebaran video porno mahasisiwi STIEM terancam kurungan penjara selama enam hingga tujuh tahun, Minggu (24/5).

Sementara itu, Brigadir Arifin yang juga wakil komandan regu terancam hukuman penjara selama sembilan tahun karena telah melakukan pemerasan sebesar Rp 500.000 untuk tiap bulannya sesuai Pasal 368 KUHP.

Sejumlah elemen mahasiswa dan aktivis LSM di Makassar, termasuk LBH Makassar, yang menangani pembelaan terhadap kasus ini meminta Polri bersikap tegas dan memberikan sanksi berat berupa pemecatan terhadap kelima oknun Polwiltabes Makassar itu.

Berkas acara pemeriksaan itu terungkap, ancaman penjara para oknum polisi asusila itu sudah diproses dan semuanya dikenakan pasal berlapis. Nantinya mereka akan menjalani sidang di pengadilan umum dan sidang etik Polri.

Apakah nantinya kelima oknum polisi ini akan dipecat dari kesatuan Polri akan ada sidang etika Polri. “Mereka ini sudah mencoreng nama baik Polri,” kata Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Hery Subiasauri, Minggu kemarin.

Heri menyampaikan, perkembangan kasus tindakan asusila yang dilakukan oleh sejumlah oknum polisi ini adalah bentuk keseriusan Kapolda dalam menyikapi tindakan oknum kepolisian.

Hery juga mengatakan bahwa langkah-langkah polda selanjutnya dalam kasus ini adalah melakukan rehabilitasi perbaikan nama korban dan juga memberikan pengamanan sesuai dengan permintaan korban beberapa waktu lalu.

Menurut dia, Brigpol Andi Fahruddin yang juga Komandan Regu Patroli Motor Polwiltabes, Briptu Syahrul, Briptu M Asis, Bripda Jonas (ketiganya anggota patroli motor) telah melakukan pelanggaran Pasal 27 Ayat 1dan 3 UU Nomor 11 Tahun 2008, dengan ancaman hukuman enam hingga tujuh tahun penjara karena menyebarkan video yang akhir-akhir ini menyedot perhatian sejumlah kalangan di Kota Makassar. (cr3)

http://regional.kompas.com/read/xml/2009/05/25/06323641/kasus.video.mesum.5.polisi.terancam.hukuman.7.tahun

Nampaknya, aparat kepolisian kita belum siap bersikap professional. Hal serupa di atas, beberapa tahun lalu pernah terjadi di Jambi, sekitar Februari 2006. Ketika itu, siswa-siwi di SMU Tebo (Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi) sedang darmawisata di Taman Semagi, Kabupaten Bungo, 380 km dari kota Jambi. Dalam rombongan ikut sepasang kekasih DM (19) dan SN (18) dari sekolah tersebut. Karena sedang dimabuk cinta, keduanya memisahkan diri dari temannya ke tempat sepi. Dan mereka melakukan hubungan intim layaknya suami-istri.

Saat itu oknum Briptu RM dan DD yang sedang patroli memergoki perbuatan dua siswa tersebut. Saat memergoki kejadian itu oknum polisi tersebut bukannya mengamankan atau menasehati keduanya, mereka malah menyuruh kedua sejoli tadi kembali beradegan mesum di bawah ancaman senjata api, kemudian mengabadikannya melalui telepon genggam berkamera. (http://www.kapanlagi.com/h/0000160521.html)

Di Batam, salah seorang anggota Direktorat Samapta Polda Kepri (berinisial JS), didakwa melanggar pasal 290 KUHP dengan ancaman hukuman pidana penjara paling lama tujuh tahun, karena diduga melakukan pencabulan terhadap seorang perempuan pertengahan Februari 2008 lalu. Ketika itu, JS memergoki sepasang insan berlainan jenis sedang berduaan dengan teman prianya di Tanjungpinggir. JS menduga keduanya berbuat mesum. Untuk membuktikan mereka tidak berbuat mesum, JS membawa keduanya ke markas polisi. Di markas polisi, JS melakukan pemeriksaan dengan caranya sendiri, yang menjurus kepada pencabulan. (http://kepritoday.com/content/view/11868/35/)

Masih ada kasus yang lebih berat lagi, yaitu oknum polisi mengajak berbuat mesum, namun ketika ditolak dan diancam mau dilaporkan kepada atasannya, sang oknum justru menembak mati korbannya (Nia, 15 tahun). Peristiwa itu terjadi pada Agustus 2007, di kawasan Bogor.

Pada suatu malam, Nia dan kawan-kawan bermaksud menghadiri pengajian, mereka membuat janji berangkat bersama dari rumah Fitrah, tetangganya. Dari rumah Fitrah, mereka menuju ke tempat pengajian, namun ternyata acara pengajian batal. Maka, Nia pun diantar pulang oleh kakak Fitrah bernama Dede (19 tahun) yang mengendarai Suzuki Thunder. Di tengah jalan menuju pulang, terbetik keinginan untuk jalan-jalan dulu ke kota Bogor. Dede tak keberatan. Belum lama memutari kota Bogor, mereka kehabisan bensin. Saat itu hari sudah mulai larut. Sepasang makhluk berbeda jenis ini, masih merasa beruntung, karena saat kehabisan bensin dan mogok, posisi mereka tak jauh dari Polres Bogor. Keduanya pun beristirahat sejenak.

Tak berapa lama, melintas Suwandi (oknum) polisi anggota Polres Bogor, yang hendak ke kantornya dengan Yamaha Vega-R warna hitam. Dede mengira Suwandi adalah tukang ojek, dan menyetopnya untuk minta diantar mencari bensin. Waktu menunjukkan pukul 22:30 wib. Ketika itu Suwandi mengantarkan Dede ke pangkalan ojek, dan menyuruhnya mencari bensin dengan naik ojek di pangkalan tersebut. Dari tukang ojek beneran, Dede baru tahu bahwa yang mengantarnya barusan itu anggota intel polisi.

Sejak meninggalkan Nia dan motornya, Dede sebenarnya sudah merasa was-was. Oleh karena itu, begitu bensin sudah terbeli, Dede pun segera kembali ke tempat semula (depan kantor Polres Bogor). Di tempat itu Dede mendapati motornya sudah berpindah tempat. Namun, Nia tidak ditemuinya. Berulangkali Dede menghubungi ponsel Nia, tapi tak ada jawaban. Sampai dini hari Dede berputar-putar mencari Nia. Setelah lelah, Dede kembali ke rumah (Nia), dan menceritakan semuanya, termasuk soal sosok Suwandi.

Berdasarkan hasil pengusutan, ternyata ketika Dede mencari bensin, Suwandi melakukan perbuatan tak senonoh terhadap Nia. Namun, Nia melawan, Bahkan Nia mengancam akan melaporkan perbuatan Suwandi kepada atasannya. Suwandi pun panik, dan berusaha membungkam Nia dengan cara menembak kepalanya.

Selasa pagi berikutnya, Warga menemukan mayat Nia dalam posisi telentang di semak-semak di belakang kantor Desa Tengah, Cibinong, Bogor. Kepalanya digenangi darah kental. Baju kaus dan kutangnya tersingkap. Kancing dan risleting celana jinsnya terbuka. (http://www.indoforums.info/forums/viewtopic.php?f=1&t=43743)

Dari Polsekta Kedungkandang, Malang, Jawa Timur, pernah muncul kasus pencabulan yang dilakukan Bripka Mamat. Korbannya, gadis belia berusia 16 tahun berinisial If, yang saat itu merupakan tahanan polsek untuk kasus pencurian ponsel. Oknum Bripka Mamat menjanjikan akan membebaskan If dari kasus pencurian ponsel, asalkan bersedia diajak tidur (berzina). “…kamu bisa ngasih saya apa kalau dilepaskan. Kalau uang saya tidak mau, saya mau dikeloni…”

Bahkan, If mengaku sudah dua kali dicabuli Pencabulan itu terjadi di dalam mobil saat perjalanan pulang menuju Polsekta Kedungkandang dari rumah, usai mengambil pakaian dan saat di ruangan penyidikan. Atas perbuatannya itu, pada hari Senin tanggal 8 Juni 2009, Bripda Mamat hanya divonis 8 bulan penjara. oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Malang. (http://www.surya.co.id/2009/06/09/polisi-cabul-divonis-8-bulan-pengacara-bripka-mamat-nyatakan-banding.html)

Sebelumnya, 24 Maret 2009, Pengadilan Negeri Medan menjatuhkan vonis satu tahun untuk Ginda Kaharuddin Pohan (25 tahun), anggota samaptha Poltabes Medan. Ia terbukti melanggar pasal 293 ayat 1 KUHP tentang perbuatan cabul. Peristiwa pencabulan berawal dari perkenalan Ginda Kaharuddin Pohan dengan Indah pada tahun 2004. Lalu pada tahun 2006 Ginda Kaharuddin Pohan menjemput Indah di Asrama Akademi Kebidanan Helvetia Medan dengan mengendarai sepeda motor, dan mengajaknya jalan-jalan.

Pada pukul 22.00 Wib Ginda Kaharuddin Pohan membawa Indah ke Hotel Citra Atsari Jalan KH Wahid Hasyim Medan, dan seterusnya, terjadilah pencabulan itu. Perbuatan itu berulang di tahun 2008. Hingga akhirnya Indah melihat Ginda Kaharuddin Pohan mengandeng wanita lain, yang membuatnya sakit hati dan melaporkan Ginda ke pihak berwajib. (http://www.pphe-ri.com/detailhlb.asp?id=1287)

Penganiayaan, Pemerasan dan Berbuat Mesum

November 2008, di Makassar, seorang pembantu bernama Nani (45 tahun) melaporkan diri ke Polresta Makassar Timur, karena telah dianiaya oleh tiga anggota polisi dari Polresta Gowa. Menurut Nani, ia dituduh mencuri laptop dan HP milik bosnya, padahal ia tidak tahu apa-apa. Tapi tetap saja bosnya itu melapor ke polisi. Di kantor polisi, Nani justru dipaksa mengaku mencuri.

Selain dipaksa mengaku, Nani juga dipukul di dada, kakinya ditendang, perutnya dipukul oleh tiga petugas polisi, serta mulutnya ditutup dan hidungnya dimasukkan dua botol air mineral. Nani disiksa dari pukul 01.00 sampai 03.00 WITA (Jumat dini hari). Karena tak terbukti, oknum polisi itu kemudian memberi Nani sebesar Rp 100 ribu dengan syarat tidak melaporkan kejadian tersebut kepada polisi lainnya, dan menyuruh Nani pulang untuk istirahat.

Di Bandung, 24 Juni 2009 lalu Satreskrim Polresta Bandung Barat menangkap dua anggota polisi masing-masing berinisial DDN (30 tahun), anggota Samapta Polwiltabes Bandung, dan RAM (24 tahun), anggota Polres Pandeglang. Keduanya ditangkap karena melakukan tindak pidana pemerasan, penyekapan dan penganiayaan. Dalam melakukan tindak pidana, kedua oknum polisi tadi dibantu oleh dua warga sipil, yaitu CN (30 tahun), seorang buruh lepas warga Batujajar, dan AAH (46 tahun), berprofesi sebagai supir taksi.

Salah satu korban komplotan ini adalah Suratno (25 tahun). Pada 12 Juni 2009 lalu, Suratno mengaku ditangkap oleh komplotan itu di Jalan Garuda. Ia dituding sebagai pelaku perbuatan judi. Kemudian Suratno dimasukkan ke dalam mobil dan diancam akan dijebloskan ke penjara jika tidak memberi uang sebesar Rp 20 juta. Saat itu, mulut dan tangan Suratno dilakban, kemudian dianiaya.

Dari para komplotan itu, berhasil disita satu unit mobil Toyota Avanza silver yang digunakan saat beraksi, tiga telepon genggam berbagai merk milik korban, dan dua buah dompet milik korban. (http://www.rakyatmerdeka.co.id/nusantara/2009/06/25/10133/Komplotan-Polisi-Pemeras-Dibekuk)

Di Lumajang, Jawa Timur, Aipda Totok Subekti, anggota Samapta Polres Lumajang, kepergok warga sedang berbuat mesum dengan NV (siswi sebuah SMA di Kecamatan Pronojiwo), di Desa Taman Ayu, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. Perbuatan itu memicu amuk massa, dan berujung kepada proses main hakim sendiri, sehingga anggota polisi tersebut babak belur.

Sejumlah anggota Polsek Pronojiwo dan Polsek Candipuro yang datang ke lokasi kejadian untuk menenangkan warga, tak bisa berbuat banyak. Mereka hanya bisa melarikan Aipda Totok Subekti, dengan mobil patroli Polsek Pronojiwo.

Contoh kasus di atas hanya sebagian saja dari banyak kasus lainnya yang berpotensi kian menurunkan citra polisi di mata masyarakat luas. Namun demikian, untuk menjaga dan meningkatkan citra kepolisian, harus ditempuh dengan cara-cara yang baik dan realistis, bukan dengan membela anak buah atau korps secara membabi-buta. Sebab, masih banyak rakyat Indonesia yang pantas menjadi aparat kepolisian yang baik dan professional. Oleh karena itu, institusi kepolisian tidak perlu mengintervensi proses hukum dan instansi terkait dalam rangka membela dan meringankan anggotanya yang jelas-jelas berbuat tindak pidana.

Justru seharusnya, aparat kepolisian yang terbukti melakukan tindak pidana, dijatuhi hukuman lebih berat dibanding warga sipil biasa, bukan sebaliknya, diberi ‘hadiah’ dengan hukuman ringan. Sebab, ‘kebijakan’ seperti itu akan memberi preseden buruk bagi penegakkan disiplin di lingkungan kepolisian. Petinggi Polri juga sudah saatnya memikirkan pembinaan kerohanian (agama) yang jauh lebih baik dan intensif kepada seluruh jajaran kepolisian, sehingga mereka dapat berfungsi sebagai aparat pembasmi kemunkaran yang professional. “Selamat Ulang Tahun Polri…” (haji/tede)

(Dibaca 658 kali, 1 untuk hari ini)