Foto: Sukmawati dan kumpulan buku puisi ‘Ibu Indonesia’

Penyelidikan terhadap Sukmawati tidak seharusnya didahului meminta keterangan dari seluruh saksi pelapor. Karena, tindak pidana yang dilakukan Sukmawati sudah jelas.

Terlebih lagi delik pada Pasal 156a KUHP bukan delik aduan dan tidak membutuhkan adanya akibat dan korban.

Dipertanyakan, tindakan Polri yang ingin mengetahui motif masing-masing pelapor. Motif di balik ungkapan puisi Sukmawati lah yang seharusnya digali oleh penyidik.

Inilah sorotan tajam terhadap polisi.

***

Tindak Pidana Jelas, Polisi Diminta Segera Periksa Sukmawati

Foto: Sukmawati dan kumpulan buku puisi ‘Ibu Indonesia’

KIBLAT.NET, Jakarta – Hingga saat ini, penyidik Bareskrim Polri belum juga memanggil Sukmawati untuk diperiksa. Putri Bung Karno itu dilaporkan sejumlah pihak terkait pusinya berjudul ‘Ibu Indonesia’ yang bermuatan penghinaan terhadap Islam. Polri beralasan para saksi pelapor akan diperiksa dahulu, sebelum dilakukan pemanggilan.

Menanggapi hal ini, Ahli Hukum Pidana Dr. Abdul Chair Ramadhan mengatakan penyelidikan terhadap Sukmawati tidak seharusnya didahului meminta keterangan dari seluruh saksi pelapor. Karena, tindak pidana yang dilakukan Sukmawati sudah jelas.

“Banyaknya laporan dan aksi massa yang dilakukan diberbagai daerah menunjukkan adanya informasi tentang adanya peristiwa pidana. Terlebih lagi delik pada Pasal 156a KUHP bukan delik aduan dan tidak membutuhkan adanya akibat dan korban,” katanya melalui keterangan tertulis, Ahad (22/04/2018).

“Delik ini adalah delik biasa dan bersifat formil. Adapun korbannya adalah kepentingan agama itu sendiri yang harus dilindungi oleh negara,” tambahnya.

Dia kemudian mempertanyakan tindakan Polri yang ingin mengetahui motif masing-masing pelapor. Abdul Chair menegaskan, motif di balik ungkapan puisi Sukmawati yang seharusnya digali oleh penyidik.

“Terbuka ruang bagi penyidik untuk mencari motif lanjutan, yakni apakah ungkapan tersebut dapat dihubungkan ‘dengan maksud’ menjadikan sesorang untuk tidak beragama atau ateis sebagaimana dimaksudkan Pasal 156a huruf b KUHP?” ungkapnya.

Pasal 156a mengandung dua corak (gradasi) tindak pidana. Tindak pidana pertama menunjuk pada ketentuan huruf a yang bersifat alternatif, permusuhan kepada agama atau penyalahgunaan agama atau penodaan agama. Tindak pidana yang kedua menunjuk pada huruf b, yakni dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apapun juga yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa.

 “Apabila terbukti kelak di pengadilan semua unsur pada huruf b, maka terbukti pula semua unsur pada huruf a,” katanya sembari menekankan kepada Polri agar segera memanggil Sukmawati untuk diproses sesuai ketentuan undang-undang yang berlaku.

Reporter: Ibas Fuadi

Editor: M. Rudy / kiblat.net

***

Advokat GNPF Ulama Bantah Alasan Polisi Tak Panggil Sukmawati

Foto: Sukmawati Soekarnoputri membacakan puisi berjudul Ibu Indonesia

KIBLAT.NET, Jakarta- Anggota Tim Advokasi GNPF Ulama, Nasrullah Nasution menanggapi alasan polisi yang tak kunjung memeriksa Sukmawati karena ingin memeriksa semua pelapor. Ia menilai, yang seharusnya digali adalah terlapor, yaitu Sukmawati sendiri.

“Seharusnya segera dilakukan pemeriksaan terhadap Sukmawati sebagai terlapor. Yang harus digali itu motif terlapor atas puisi yang dibacakannya yang menodai agama Islam. Bukan justru sebaliknya,” katanya saat dihubungi Kiblat.net pada Ahad (22/04/2018).

Ia juga menegaskan bahwa baik terlapor maupun pelapor memang harus diperiksa. Namun, ia menekankan tidak perlu semua pelapor diperiksa. Menurut Advokat SNH Advocacy Center ini, cukup sebagian besar saja.

“Keduanya diperiksa tapi kan sudah sebagian besar diperiksa. Kalaupun ada harus disampaikan siapa dan berapa banyak. Dan setahu kami sudah dilakukan pemeriksaan tidak lama dari pelaporan,” tuturnya.

Nasrullah juga berpendapat bahwa sikap kepolisian yang belum memeriksa Sukmawati akan menjadi catatan bagi masyarakat. Menurutnya, masyarakat akan menilai penegakan hukum di Indonesia masih buruk.

“Dengan lambannya pemeriksaan terhadap Sukmawati akan menjadikan catatan bagi masyarakat Indonesia bahwa inilah sikap aparat penegak hukum khususnya Polri dalam penanganan kasus publik seperti ini,” terangnya.

Sebagaimana diketahui, polisi belum memeriksa Sukmawati karena ingin memeriksa semua pelapor. “Ya nunggu 18 (pelapor) ini, apakah sudah diperiksa semua apa belum. Pertama, (pemeriksaan terhadap) pelapor,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto seperti dilansir Tribunnews.

Reporter: Taufiq Ishaq
Editor: Syafi’i Iskandar / kiblat.net

***

Menyagkut agama,bukan pribadi, maka Ulama dan siapapun tidak berhak memaafkan

Puisi Sukmawati Menghina Islam, Bukan Sekadar Menghina Pribadi yang Dapat Dimaafkan

Oleh: Dr. Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA

Penista agama tidak boleh dimaafkan sebagaimana dijelaskan dalam ayat 64-66 dari surat At-Taubah dan hadits-hadits Nabi saw. Rasulullah saw memaafkan orang yang menghinanya secara pribadi, namun beliau tidak memaafkan orang yang menghina agama Allah Swt. Aisyah ra. berkata:

وَاللَّهِ مَا انْتَقَمَ لِنَفْسِهِ فِي شَيْءٍ يُؤْتَى إِلَيْهِ قَطُّ، حَتَّى تُنْتَهَكَ حُرُمَاتُ اللَّهِ، فَيَنْتَقِمُ لِلَّهِ

“Demi Allah, tidaklah Rasulullah saw membalas  sesuatu yang ditujukan kepada dirinya kecuali ketika kehormatan agama Allah Swt dilanggar maka beliaupun marah semata-mata karena Allah.” (HR. Al-Bukhari). https://www.facebook.com/HartonoAhmadJaiz/posts/1588030794647264

(nahimunkar.org)

(Dibaca 587 kali, 1 untuk hari ini)