Resmi, Politisi Golkar Jadi Tersangka Korupsi Pengadaan Al Quran

Jum’at, 29 Juni 2012 , 01:41:00 WIB

RMOL. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meningkatkan kasus dugaan tindak pidana korupsi proyek pengadaan Alquran di Kementerian Agama ke tingkat penyidikan. Bersamaan dengan itu, KPK menetapkan anggota Komisi VIII DPR RI Zulkarnaen Djabar sebagai tersangka. “ZD sudah dikeluarkan sprindiknya (surat perintah dimulainya penyidikan), dinyatakan sebagai tersangka,” kata Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto (Kamis malam, 28/6).

Diberitakan sebelumnya, KPK menelusuri dua peristiwa tindak pidana korupsi dalam proyek pengadaan Al Quran tahun tahun anggaran 2011-2012. Pertama, dugaan transaksi suap terkait pembahasan anggaran pengadaan Al Quran senilai Rp 35 miliar. Kedua, dugaan korupsi pada proses pengadaan Al Quran. Selain anggota Komisi VIII DPR, Zulkarnaen juga anggota Badan Anggaran DPR RI. KPK menjerat politisi Partai Golkar itu denga pasal suap. Ia diduga telah menerima imbalan atau hadiah saat pembahasan anggaran pengadaan Al Quran. http://www.rmol.co/read/2012/06/29/6…daan-Al-Quran-
Profil Tersangka Korupsi Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an …

Quote:

***

Zulkarnaen Djabar “Urang Awak” Sukses Dirantau
Tuesday, 08 November 2011 20:40

Padangpariaman, SitinjauNews– Drs H Zulkarnaen Djabar, anggota Komisi VIII DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) VI Provinsi Jawa Barat (Jabar), Bekasi dan Depok. Pria asal Sicincin, Kabupaten Padangpariaman, berbicara dalam forum Diskusi Palanta Persatuan Keluarga Daerah Piaman (PKDP) di aula Hotel Nan Tongga Pariaman, Sabtu, (10 /11/ 2011. Zulkarnaen Djabar, mengungkapkan kecintaannya yang luar-biasa kepada daerah asalnya meski mewakili rakyat provinsi lain. Kecintaan itu ia wujudkan dengan berupaya mendukung usulan-usulan untuk kepentingan Padangpariaman khususnya dan Sumbar umumnya dalam sidang-sidang pembahasan di DPR RI.

Dikatakan, dia sudah tiga periode menjadi wakil rakyat Jabar; 1997 – 1999, 2004 – 2009 dan 2009 – 2014. “Saya aktif dalam berbagai kegiatan di Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PKDP di Jakarta. Bahkan, mendapat informasi akan ada diskusi palanta ini di ranah, yang biasanya berlangsung di Jakarta, saya sengaja pulang,” ujar politisi yang terkenal vokal itu. Lebih jauh disampaikan, kepulangannya ke kampung halaman dalam aktivitas yang dia lakukan di tengah-tengah masyarakat semata-mata untuk mewujudkan kecintaannya ke kampung halaman, jauh dari maksud-maksud kepentingan politik. “Itu sebabnya saya tak punya lawan politik di daerah ini,” ujarnya.

Menurutnya, hubungannya dengan sesama politisi Senayan asal Dapil II Sumbar yang mencakup Padangpariaman (Piaman – red), Agam, Bukittinggi dan beberapa kabupaten/ kota. “Tak ada persaingan dalam mencari simpati konstituen. Bahkan, saya kerap menjadi penengah di antara mereka jika terjadi perbedaan pendapat,” katanya lagi. Ditemui usai dia memberikan pemaparan, Zulkarnaen menjelaskan, ia lahir tahun 1952 dan bersekolah hingga tamat Sekolah Dasar (SD) di Sicincin, Kecamatan 2×11 Enam Lingkung. ” Kelas V langsung ikut ujian akhir dan melanjutkan SMP di Kota Padang, kemudian merantau ke Jakarta,” kata Zulkarnaen.

Sembari berusaha layaknya orang merantau, ia terus bersekolah dan kuliah di IAIN Syarif Hidayatullah. “Karena aktif di Dewan Mahasiswa, tahun 1978 saya sempat ditangkap aparat,” kenangnya. Ditanya aktivitasnya sebelum menjadi anggota DPR RI, Zulkarnaen menyebutkan dirinya banyak bergerak di bidang usaha transportasi. “Saya pernah menjadi Direktur President Taksi selama sepuluh tahun dan hingga kini masih menjadi Ketua Koperasi Mikrolet se-DKI Jakarta. Mungkin semasa kuliah saya mengambil jurusan transportasi ya?” ia pun tertawa. Gelar magister juga dia peroleh di IAIN (kini UIN) Syarif Hidayatullah.
source: http://www.sitinjaunews.com/kabupate…kses-dirantau-
PROFIL LENGKAP ANGGOTA DPR Drs. H. Zulkarnaen Djabar, MA

http://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=15189300

***

Ayah dan Anak Jadi Tersangka Korupsi Al Quran

  • Pasangan ayah dan anak itu adalah Zulkarnaen Djabar dan Dendi Prasetya Zulkarnaen.

Komisi Pemberantasan korupsi (KPK) telah memproses hukum sepasang suami istri, yaitu M Nazaruddin dan Neneng Sri Wahyuni.

Sekarang giliran pasangan ayah dan anak sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran tahun 2011-2012, di Direktorat Jenderal (Ditjen) Pembinaan Masyarakat Islam dan pengadaan laboratorium komputer Madrasah Tsanawiyah (MTS) di Ditjen Pendidikan Islam di Kementerian Agama.

Pasangan ayah dan anak itu adalah Zulkarnaen Djabar, anggota Komisi VIII DPR, sekaligus anggota Badan Anggaran DPR dan Dendi Prasetya Zulkarnaen, Direktur Utama PT KSAI.

Ketua KPK, Abraham Samad, dalam konferensi pers yang digelar di KPK, Jumat (26/5) menjelaskan bahwa Dendi merupakan kerabat dari Zulkarnaen. Abraham tidak menyebutkan secara spesifik hubungan Zulkarnaen dengan Dendi.

Namun, ketika dikonfirmasi melalui pesan singkat oleh wartawan, Abraham mengakui Dendi merupakan anak dari politisi Partai Golkar.

“Iya, dia (Dendi) itu anaknya ZD (Zulkarnaen Djabar),” kata Abraham.

Hari ini KPK mengumumkan penetapan tersangka Zulkarnaen dan Dendi. Keduanya diduga telah menerima hadiah atau janji terkait pengurusan anggaran pengadaan barang dan jasa di Kementerian Agama.

KPK menyangkakan keduanya dengan pasal 5 ayat 2 dan atau pasal 12 huruf a atau b dan atau pasal 11 Undang-Undang No.31/1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi jo pasal 55 ayat 1 kesatu KUHP.

Zulkarnaen diduga telah mengarahkan oknum di Direktorat Jenderal Pembinaan Masyarakat Islam (Ditjen Bimas Islam) Kemenag untuk memenangkan PT Adhi Aksara Abadi Indonesia (AAAI) dalam proyek pengadaan Al Quran.

ZD memerintahkan oknum Ditjen Pendidikan Islam untuk mengamankan proyek laboratorium MTS dan sistem komputer agar memenangkan perusahaan PT BKM.

Penulis: Rizky Amelia/Ririn Indriani

beritasatu.com, Jumat, 29 Juni 2012 | 19:30

***

Rincian anggaran pengadaan Al-Qur’an dan kasus korupsi 

JAKARTA–: KPK telah menetapkan anggota Komisi VIII DPR sekaligus anggota Banggar DPR RI dari Fraksi Golkar Zulkarnaen Djabar sebagai tersangka dalam dugaan kasus korupsi proyek pengadaan Alquran anggaran 2011-2012 dengan jumlah Rp35 miliar.

Koordinator Investigasi dan Advokasi Fitra Uchok Sky Khadaf memaparkan seharusnya pengadaan Alquran di Kementerian Agama (Kemenag) adalah bagian dari instrumen penghayatan dan pengamalan ajaran agama yang idealnya sangat jauh dan seharusnya dijauhkan dari praktik korupsi.

“Alquran kan landasan etik dan moral dalam kehidupan untuk mendorong kesalehan, ini masih dikorupsi juga,” ujar Uchok, di DPR RI, Jumat (29/6).

Uchokpun membeberkan anggaran kementerian yang diduga dikorupsi untuk pengadaan Alquran kepada wartawan dari anggaran 2009 hingga 2011.

Berikut anggaran Kementerian Agama untuk pengadaan Alquran:

  1. Pada 2009, Kementerian Agama melakukan pengadaan Alquran sebanyak 78.079 buah dengan nilai kontrak sebesar Rp2,5 miliar dari pagu anggaran APBN sebesar Rp2,5 miliar, dengan rincian:

a)    Mushaf besar Al Quran sebanyak 42.600 buah, dengan harga satuan sebesar Rp26.421, dengan total nilai kontrak sebesar Rp902 juta dari pagu anggaran APBN sebesar Rp909 juta.

b)    Tafsir Alquran sebanyak 20 ribu buah dengan satuan harga sebesar Rp45.116, dengan total nilai kontrak sebesar Rp1,1 miliar dari pagu anggaran APBN sebesar Rp1,1 miliar.

c)     Alquran terjemahan sebanyak 10 ribu buah dengan harga satuan Rp48.350 per buah, dengan total nilai kontrak sebesar Rp483 juta dari pagu anggaran APBN sebesar Rp488 juta.

d)    Juz Amma dan Terjemahan sebanyak 5.479 buah, dengan harga satuan sebesar Rp6.700 per buah dengan total nilai kontrak sebesar Rp36,7 juta dari pagu anggaran APBN sebesar Rp36,7 juta.

  1. Pada 2010, Kementerian Agama melakukan pengadaan buku al quran sebanyak 170.250 buah dengan nilai kontrak sebesar Rp3 miliar dari pagu anggaran APBN sebesar Rp3,2 miliar, rincian:

a)    Tafsir Alquran sebanyak 750 buah dengan harga satuan Rp852.043 per buah, dengan total nilai kontrak sebesar Rp639 juta dari pagu anggaran APBN sebesar Rp639 juta.

b)    Yasin sebanyak 60 ribu buah dengan harga satuan Rp2.800 per buah, dengan nilai kontrak sebesar Rp168 juta dari pagu anggaran APBN sebesar Rp168 juta;

c)     Pengadaan Mushaf Besar Alquran sebanyak 45 ribu dengan harga satuan Rp 28.700 per buah, dengan total nilai kontrak sebesar Rp1,2 miliar dari pagu anggaran APBN sebesar Rp1,4 miliar;

d)    Pengadaan Al Quran saku sebanyak 4.500 buah dengan harga satuan sebesar Rp 23.150 per buah, dengan total nilai kontrak sebesar Rp104 juta dari pagu anggaran APBN sebesar Rp104 juta.

e)    Pengadaan Alquran terjemahan sebanyak 10 ribu dengan harga satuan Rp45.900 per buah, dengan nilai kontrak sebesar Rp459 juta dari Pagu anggaran APBN sebesar Rp482 juta.

f)     Pengadaan Juz Amma sebanyak 50 ribu buah dengan harga satuan sebesar Rp7.350 per buah dengan total nilai kontrak sebesar Rp367 juta dari pagu anggaran APBN sebesar Rp367 juta.

  1. Pada 2011, kementerian agama melakukan pengadaan buku Alquran sebanyak 225.045 buah, dengan nilai kontrak Rp4,5 miliar untuk APBN murni 2011.
  2. Untuk APBN Perubahaan 2011, pengadaan Alquran sebanyak 653 ribu buah dengan nilai kontrak sebesar Rp20,5 miliar dari pagu anggaran APBN sebesar Rp 22,8 miliar, rincian:

a)    Pengadaan Mushaf besar Alquran sebanyak 67.600 buah dengan harga satuan Rp26.240 per buah, dengan nilai kontrak sebesar Rp1,7 miliar dari pagu anggaran APBN sebesar Rp2,1 miliar.

b)    Pengadaan Alquran saku sebanyak 10 ribu buah dengan harga satuan Rp25.420 perbuah dengan nilai kontrak sebesar Rp254 juta dari pagu anggaran APBN sebesar Rp310 juta.

c)     Alquran terjemahan sebanyak 20 ribu buah dengan harga satuan Rp41.520 per buah dengan nilai kontrak sebesar Rp836 juta dari pagu anggaran APBN sebesar Rp1 miliar.

d)    Pengadaan Juz Amma sebanyak 61 ribu dengan harga satuan Rp6.150 per buah, dengan nilai kontrak sebesar Rp375 juta dari Pagu anggaran APBN sebesar Rp457 juta.

e)    Pengadaan Tafsir Alquran sebanyak 1.445 buah, dengan satuan harga sebesar Rp861 ribu, dengan nilai kontrak sebesar Rp1,2 miliar dari pagu anggaran APBN sebesar Rp1,5 miliar.

f)     Pengadaan Yasin sebanyak 65 ribu buah, dengan harga satuan sebesar Rp1.722 per buah, dengan nilai total kontrak sebesar Rp111 juta dari pagu anggaran APBN sebesar Rp136 juta.

Uchok menyatakan bahwa pengadaan Alquran ini dianggap mahal, dan cenderung ada penggelembungan harga barang atau mark up. Menurutnya pengadaan Mushaf besar Alquran pada APBN Murni 2011, harga satuan hanya Rp26.240 per buah, tetapi pada APBN Perubahaan 2011, harga satuan naik menjadi Rp31.500 per buah.

“Ini memperlihatkan orang-orang Kementerian Agama sangat memalukan, dan cenderung menjadi orang bejat karena kitab suci Alquran milik Allah SWT saja dikorupsi,” paparnya.

Uchok menganggap korupsi Alquran di Kemenag dianggap sebagai kecelakaan sejarah pemerintahan SBY dan merupakan kesalahan kebijakan Presiden SBY dalam pengangkatan Menteri Agama dari partai. “Selama ini kan yang jadi menteri agama dari orang profesional bukan dari partai,” ungkapnya. (OL-11)

MICOM, Fitra Beberkan Rincian Korupsi Pengadaan Alquran

Penulis : Hafizd Mukti

Jumat, 29 Juni 2012 17:47 WIB

(nahimunkar.com)

(Dibaca 688 kali, 1 untuk hari ini)