ilustrasi3

Fathurrahman Kamal

***

Polri Akui Densus 88 Lalai

densus 88 lalai

Keluarga mendesak Polri melakukan autopsi forensik.

JAKARTA – Pihak Mabes Polri mengakui ada kelalaian petugas yang berujung pada kematian Siyono (34 tahun), warga Klaten, Jawa Tengah, ketika Detasemen Khusus Antiteror 88 (Densus 88) mencokok yang bersangkutan, pekan lalu. Kadiv Humas Mabes Polri Anton Charliyan mengindikasikan ada prosedur pengawalan yang dilanggar dalam kejadian itu.

Menurut Anton, anggota Densus 88 mengawal Siyono (33) dengan keamanan yang minim. Saat kejadian, hanya seorang yang mengawal Siyono, sedangkan satu lainnya mengemudikan kendaraan. Selain itu, kata Anton, petugas pengawal juga menyalahi prosedur dengan melepaskan penutup mata dan borgol Siyono.

“Kami juga menyayangkan. Kami juga mempertanyakan kenapa cuma sendiri, karena yang bersangkutan mata ditutup dan diborgol,” kata Kadiv Humas Mabes Polri Anton Charliyan, Senin (14/3).  Ia mengatakan, Propam langsung melakukan penyelidikan terkait tewasnya Siyono. “Secara internal akan kita tindak,” kata dia.

Sebelum tewas, Siyono dijemput tiga petugas Densus 88 pada Selasa (8/3). Pada Rabu (9/3), Densus 88 menggeledah tempat tinggal Siyono dan orang tuanya yang juga menjadi lokasi TK Rouddatul Athfal Terpadu (RAT) Amanah Ummah saat jam belajar.

Petugas polisi kemudian membawa ayah beranak lima itu untuk menunjukkan lokasi tempat menyimpan senjata api yang menurut polisi diketahui yang bersangkutan. Namun, upaya itu tak membuahkan hasil.

Setelah itu, saat tiba di satu tempat di Prambanan, Klaten, Siyono meminta penutup wajah dan borgolnya dilepas. Menurut Anton, saat itulah Siyono melakukan perlawanan dan memukul anggota Densus 88. Anggota Densus 88 membalas dengan tangan kosong.

Akibat saling pukul di dalam mobil petugas, kendaraan sempat menghantam pembatas jalan. Siyono masih melakukan perlawanan hingga kepalanya terbentur besi dan pingsan. Siyono kemudian dibawa ke rumah sakit Bhayangkara Yogyakarta tetapi meninggal dunia dalam perjalanan.

Menurut Anton, Siyono adalah anggota Jamaah Islamiyah dan bertugas sebagai perakit senjata api. Kedudukan Siyono, kata Anton, juga termasuk tinggi dan diyakini berperan sebagai panglima. Namun, sejauh ini polisi belum menemukan keterkaitan Siyono dengan penyerangan di Jalan Thamrin maupun hubungannya dengan jaringan Santoso.

Di pihak lain, keluarga Siyono meminta kepolisian melakukan autopsi forensik agar kasus tersebut menjadi jelas. ”Kita meminta rekomendasi untuk autopsi forensik, biar semuanya jelas,” ujar kuasa hukum dari keluarga Siyono, Sri Kalono, di Klaten, kemarin.

Menurut Sri Kalono, berdasarkan pengamatan dan rekaman video saat proses penggantian kain kafan, pihaknya menemukan kejanggalan pada kondisi jenazah Siyono. Menurut dia, kondisi tersebut mustahil karena perkelahian. ”Ada lebam pada kedua mata. Lebam biru kehitam-hitam pada pelipis, jadi pipi sebelah kanan sampai dahi bagian tengah,”katanya.

Kemudian juga, bagian tulang hidung Siyono patah. Lalu, kepala bagian belakang saat pembukaan kain kafan masih meneteskan darah. Kedua kaki, dari paha sampai ke mata kaki, bengkak hitam.

Sri Kalono mengungkapkan, hingga pemakaman almarhum pada Ahad (13/3) dini hari, keluarga belum menerima surat keterangan kematian dari institusi yang bersangkutan. Ia meminta penyebab kematian Siyono diungkap sejelas-jelasnya agar kasus Siyono tidak kembali berulang.

Kepala Pusat Kedokteran Kesehatan (Dokkes) Mabes Polri Brigjen Arthur Tampi mengiyakan, Siyono meninggal akibat benda tumpul. “Kiriman jenazah diantar Densus dari Yogyakarta. Kita (tim Labfor Mabes Polri) langsung melakukan pemeriksaan,” kata dia, kemarin.

Arthur menuturkan, melalui pemindaian, dia melihat ada luka memar dan pendarahan di rongga kepala bagian belakang Siyono. Selain itu, hasil visum juga menunjukkan ada beberapa luka memar di wajah, tangan, dan kaki.

Tim Laboratorium Forensik Mabes Polri  juga telah melakukan visum di RS Bhayangkara Yogya terhadap anggota Polri yang berkelahi dengan Siyono. “Ada luka memar leher kiri dan kanan. Luka gores pada lengan bawah kiri dan lengan bawah kanan,” kata dia. rep: Edy Setyoko, c21, ed: Fitriyan Zamzami

Sumber: republika.co.id/Selasa, 15 Maret 2016, 13:37 WIB

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.047 kali, 1 untuk hari ini)