Ilustrasi: voa-islam.com

Polri baru saja didukung Menteri Agama Surya Dharma Ali dalam pernyataannya yang sudah tersiar bahwa polisi tidak menerbitkan rekomendasi akan diselenggarakannya konser music Lady Gaga, artis porno pemuja setan dari Amerika. Tapi tahu-tahu malah diberitakan, ada isyarat dari pihak kepolisian untuk membolehkan digelarnya konser yang telah banyak ditolak di berbagai Negara lain itu.

Ini permainan media massa atau pihak-pihak yang pro porno? Belum jelas.

Inilah beritanya.

***

Polri Isyaratkan Beri Izin Konser Lady Gaga

Penulis : Rita Ayuningtyas

Selasa, 22 Mei 2012 07:40 WIB    

KEPOLISIAN Republik Indonesia (Polri) mengisyaratkan akan memberi izin konser Lady Gaga jika promotor memenuhi sejumlah persyaratan baku. Polisi juga meminta promotor Big Daddy Family Entertaintment memberi jaminan kepada masyarakat bahwa penyanyi yang populer disebutmother monster itu akan menghormati kebudayaan Indonesia.

“Kalau memenuhi persyaratan, akan kita berikan. Kenapa tidak? Kan tidak ada yang melarang,” ujar Kepala Divisi Humas Polri Irjen Saud Usman Nasution di Mabes Polri, Jakarta, kemarin.

Menurut Saud, Big Daddy belum menyertakan legalitas dari tempat konser itu diselenggarakan (Gelora Bung Karno) dan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Promotor konser Lady Gaga baru mengajukan surat permohonan keramaian pada 5 Mei 2012.

Selain faktor-faktor legalitas dari pihak pelaksana, masih kata Saud, Polri akan memintakan rekomendasi dari Kementerian Hukum dan HAM terkait dengan visa kedatangan Lady Gaga. Polri juga akan memintakan rekomendasi dari Kementerian Tenaga Kerja, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Agama, dan Majelis Ulama Indonesia.

Saud meminta promotor menjelaskan kepada masyarakat soal penampilan pelantun lagu Bad Romance tersebut. Sebab, yang menjadi pertimbangan polisi tidak menerbitkan rekomendasi ialah banyaknya masyarakat yang khawatir Lady Gaga bakal tampil vulgar dan menjurus pada pornoaksi.

Chaos 

Sementara itu, Ketua Front Pembela Islam (FPI) Bekasi Murhali Barda menegaskan pihaknya telah mengantongi 157 tiket konser Lady Gaga. Tiket itu dibeli dari uang pemuda Bekasi yang menolak konser dan ingin turun ke lokasi pertunjukan bukan untuk menonton, melainkan membuat chaos.

“Harus dibubarkan. Kondisi di lokasi panggung akan kami buat chaos,” kata Murhali kepada Media Indonesia, kemarin.

Murhali tidak membantah bahwa aksi itu bisa dikategorikan melawan hukum. Menurut dia, itu bagian dari risiko. “Meski melanggar pidana, kami tetap akan melawan,” katanya. “Sebelum konser, FPI se-Jabodatek dan Riau akan mendatangi Polda Metro Jaya dan Mabes Polri menolak konser.”

Di sisi lain, Menteri Agama Suryadharma Ali menyatakan pihaknya berkewajiban mengingatkan pihak-pihak terkait agar membatalkan konser Lady Gaga di Jakarta guna melindungi agama-agama yang ada di Indonesia.

Adapun pihak promotor Big Daddy mengadukan nasib kepada DPR RI, kemarin. Mereka ditemui Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santosa.

“Kami minta perlindungan hukum. Kami siap kompromi dan mediasi, tetapi semua instansi kayaknya alergi dengan kita, jadi kita bingung,” kata kuasa hukum Bid Daddy, Minola Sebayang, di Gedung DPR, kemarin.

Saat menanggapi hal itu, Priyo mengimbau agar Kapolri bersikap arif menyikapi persoalan ini.(Edn/Bob/GG/SW/Ant/*/X-9).

***

Sedangkan berita yang baru saja beredar sebelum ini adalah dukungan menteri agama kepada polri untuk membatalkan konser Lady Gaga.

Inilah beritanya:

***

Menag Dukung Polri tak Izinkan Konser Lady Gaga

Kamis, 17/05/2012 – 20:45

JAKARTA, (PRLM).- Menteri Agama Suryadharma Ali mendukung langkah Polri yang tidak mengizinkan konser Lady Gaga. Pemerintah, kata dia, memiliki tugas dan tanggungjawab menjaga moral dan akhlak bangsa. Ia berharap agar keputusanPolri itu menjadi barometer bagi daerah-daerah lainnya. SDA mengatakan itu di Jakarta, Kamis (17/5/12).

Meski belum pernah menonton aksi Lady Gaga melaui video atau medium lainnya, SDA mengaku telah mendapat cerita dari sumber-sumbernya yang ia sebut dapat dipercaya. Lady Gaga tidak akan diizinkan menggelar konser di Imdonesia karena beberapa alasan.

Pertama, kostum Lady Gaga selalu menampakkan beberapa bagian tubuh yang tidak pantas. “Kedua, dalam konsernya, Lady Gaga menampakkan seperti memuja setan. Lirik-liriknya antiagama,” ujarnya.

Alasan ketiga, kata dia, karena adanya desakan dari pihak-pihak tertentu. Oleh karena itu, selaku menteri agama sekaligus Ketua Harian Satgas Antipornografi, SDA mendukung langkah Polri.

“Atas dasar itu, larangan Polri saya nilai tepat. Memang ada yang mengganggap pemerintah antikebebasan berekspresi. Tapi, kita harus mendudukkan kebebasan berekspresi secara proporsional. Tidak ada kebebasan yang absolut. Kebebasan disertai aturan,” katanya.

Dikabarkan sebelumnya, Polda Metro Jaya tidak mengeluarkan izin bagi konser Lady Gaga yang rencananya akan digelar di Gelora Bung Karno, Senayan, 3 Juni mendatang. Polisi menganggap pengambilan keputusan itu berdasarkan masukan dari sejumlah organisasi kemasyarakatan.

Polda Metro Jaya mendapat berbagai masukan yang intinya menolak Lady Gaga menggelar konser dengan alasan, penggunaan busana Lady Gaga yang seringkali mengumbar aurat.

Menanggapi larangan Lady Gaga, Wakil Ketua DPR RI Anis Matta juga ikut bicara. Bahkan, ia mengapresiasi keputusan yang diambil Polda Metro Jaya. Pelarangan konser artis Lady Gaga itu, kata dia, murni masalah keamanan.

“Polisi melarang karena pasti ada informasi dari intelijen mereka, dan dikuatirkan akan berdampak pada masalah keamanan,” ujar Anis, yang juga Sekjen Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.

Senada dengan Anis, Ketua MPR RI Taufiq Kiemas juga turut menanggapi langkah polisi sebagai tindakan murni perhitungan perkembangan keamanan terakhir. Meskipun ia mempertanyakan kaitan konser Lady Gaga dengan pergelaran-pergelaran musik dari artis asing sebelumnya, yang tidak menuai kekhawatiran.“Polisi sudah mempertiimbangkan. Selama ini tidak ada yang dilarang. Mungkin ada betulnya juga,” ujarnya. (A-156/A-196/A-88)*** pikiran-rakyat.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 604 kali, 1 untuk hari ini)