• Melihat rendahnya urgensi kunjungan dan dana sebesar 3,1 miliar Rupiah yang telah dikeluarkan untuk membiayai perjalanan ini, PPI Jerman, PPI Berlin, dan NU Cabang Istimewa Jerman sepakat untuk menolak kedatangan Ibu Bapak Wakil Rakyat beserta keluarga dan rombongannya.

Rombongan DPR alias wakil rakyat dari Indonesia kena batunya di Jerman. Mereka yang datang ke Jerman itu mendapat penolakan dari kalangan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI).

Mereka melakukan pekerjaan yang nggak “guna”. Jauh-jauh ribuan kilometer dari Jakarta ke Berlin, cuma hanya ingin mengetahui Kedutaan Besar Indonesia. Mereka berlagak mau “sidak”. Padahal, pekerjaan itu,  hanya menghamburkan uang rakyat. Sementara itu, rakyat perutnya melilit lapar, dan hanya makan singkong.

Menghadapi kedatangan rombongan wakil rakyat dari berbagai partai politik yang datang ke Berlin itu, justeru Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Jerman, bersama dengan PPI Berlin, dan Nahdlatul Ulama Cabang Istimewa Jerman, menolak kedatangan Komisi I DPR-RI yang datang ke Jerman. Mereka tak sudi melihat kedatangan mereka itu.

Penolakan disampaikan secara bersama oleh para mahasiswa-mahasiswi yang hadir di acara tatap muka dengan para wakil rakyat. Seperti dilansir dari situs ppi-jerman.org, Kamis (26/4).

Acara tersebut berlangsung di KBRI Berlin, dengan dihadiri oleh para anggota DPR-RI Komisi I beserta keluarga dan rombongan, para pejabat dan staf KBRI-KJRI Jerman, juga sejumlah organisasi dan kelompok masyarakat setempat.

Ada pun anggota-anggota DPR yang hadir pada saat itu adalah: H. Tri Tamtomo, SH dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, DR. Nurhayati Ali Assegaf,M.SI dari Fraksi Partai Demokrat, H. Hayono Isman S.IP dari Fraksi Partai Demokrat, Vena Melinda SE dari Fraksi Partai Demokrat, Ahmed Zaki Iskandar Zulkarnaen, B.Bus dari Fraksi Partai Golongan Karya, Drs. H.A. Muchamad Ruslan dari Fraksi Partai Golongan Karya, IR. Neil Iskandar dari Fraksi Partai Golongan Karya, Tantowi Yahya dari Fraksi Partai Golongan Karya, Yorrys Raweyai dari Fraksi Partai Golongan Karya dan Luthfi Hasan Ishaaq dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Sebelum pernyataan dikeluarkan, seorang mahasiswa sempat mengutarakan pertanyaan yang menyindir kedatangan Komisi I, antara lain mempertanyakan sikap anggota DPR yang senang berbondong-bondong ke luar negeri bak orang desa rindu ke kota. Apalagi dengan membawa keluarga dan rombongan yang dipastikan akan mengganggu kinerja perwakilan RI setempat, misalnya yang paling nyata adalah pelayanan imigrasi.

Perlu diperhatikan, setiap keluarga tamu negara mendapat pelayanan yang sama dengan tamu negara yang sebenarnya. Dengan sumber daya KBRI yang terbatas, apa lagi dengan dikuranginya anggaran untuk perwakilan RI oleh Pusat sebanyak 37%, maka bisa dibayangkan betapa terganggunya kinerja perwakilan RI yang kedatangan rombongan wisatawan negara.

Dalam pernyataan penolakanya, PPI Jerman, PPI Berlin, dan NU menuntut tiga hal, yaitu transparansi, laporan, dan pengertian dari para wakil rakyat, yang mana dalam pernyataan mereka dijabarkan sebagai berikut:

Transparansi dari setiap anggota DPR RI mengenai agenda kunjungan ke luar negeri beserta biaya yang akan dikeluarkan. Informasi tersebut harus dipublikasikan paling lambat 1 bulan sebelum keberangkatan.

Melaporkan hasil kunjungan tersebut kepada rakyat melalui website DPR RI dan media massa.

Pengertian Ibu Bapak wakil rakyat untuk tidak menghamburkan uang rakyat dengan terbang ribuan kilometer untuk Rapat Dengar Pendapat dengan KBRI dan KJRI. Hal ini bisa dilakukan lewat tele-konferens, atau ketika pejabat-pejabat KBRI dan KJRI berada di Jakarta.

Melihat rendahnya urgensi kunjungan dan dana sebesar 3,1 miliar Rupiah yang telah dikeluarkan untuk membiayai perjalanan ini, PPI Jerman, PPI Berlin, dan NU Cabang Istimewa Jerman sepakat untuk menolak kedatangan Ibu Bapak Wakil Rakyat beserta keluarga dan rombongannya.

Setelah pembacaan pernyataan selesai, para mahasiswa yang tergabung dalam PPI, bersama dengan perwakilan NU Cabang Istimewa Jerman, sepakat untuk mempertegas protes mereka lewat aksi walk-out.

Sebenarnya, para wakil rakyat itu paham tentang perlunya transparansi, Laporan, dan keprihatinan. Tiga hal sederhana yang seharusnya sudah dipegang baik-baik oleh para Wakil Rakyat ketika mereka duduk di gedung DPR. Para mahasiswa melihat aksi protes skala kecil ini sebagai salah satu cara mengingatkan atau  sedikit “menampar” mereka yang tertidur.

Para anggota PPI Berlin itu berharap agar aksi ini dapat menjadi renungan bagi para anggota DPR supaya lebih serius dalam menjalankan amanah yang telah mereka terima dari rakyat. (af/tm) voaislam, Jum’at, 27 Apr 2012

(nahimunkar.com)

(Dibaca 219 kali, 1 untuk hari ini)