Oleh Hartono Ahmad Jaiz

canstockphoto_854273

Ilustrasi : canstockphoto.com

Berikut ini bentuk PR (pekerjaan rumah) bagi Ummat Islam berupa soal dan sekaligus ada kunci jawabannya. Ini perlu dipelajari, agar Ummat Islam lulus dalam ujian-ujian selama hidup. Semoga saja. Amien.

Inilah materinya.

Soal nomor 1:

Di dunia ini ada satu negeri yang jumlah Ummat Islamnya terbesar. Karena besarnya jumlah itu, maka menjadikan takut dan khawatirnya pihak-pihak yang tidak senang dengan Islam. Di antara sifat orang yang tidak senang kepada Ummat Islam tentu sudah diberitahukan oleh Allah Ta’ala kepada kaum Muslimin sejak awal. Sebutkan ayat yang dimaksud.

Kunci jawaban 1:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ (118) هَا أَنْتُمْ أُولَاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلَا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الْأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (119) إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ} [آل عمران: 118 – 120]

118. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.

119. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada Kitab-Kitab semuanya. apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.

120. jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. (QS Ali Imran/3 : 118-120).

Soal nomor 2:

Yang sifat-sifatnya benci terhadap Islam dan kaum Muslimin itu juga akan menjadi senang bukan hanya ketika kaum Muslimin mendapatkan bencana, yaitu ketika kaum muslimin bersikap mudahanah. Apa itu mudahanah?

Kunci jawaban 2:

Mudahanah artinya bepura-pura, menyerah dan meninggalkan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar serta melalaikan hal tersebut karena tujuan duniawi dan ambisi pribadi. Kaitan mudahanah dengan al-wala’ wal bara’ yaitu meninggalkan pengingkaran terhadap orang-orang yang bermaksiat padahal ia mampu melaksanakannya (untuk mengingkari itu) bahkan sebaliknya ia menyerah kepada mereka dan berpura-pura baik kepada mereka. Hal itu berarti meninggalkan cinta kepada Allah dan permusuhan karena Allah. Bahkan ia makin memberikan dorongan kepada para pendurhaka dan perusak. Maka orang yang penjilat atau (mudahin) seperti ini termasuk dalam firman Allah :

{ لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (78) كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ (79) تَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ} [المائدة: 78 – 80]

 “Telah dila`nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan `Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. “ (Al-Maidah : 78 s.d. 80). (Makalah AQIDAH WALA’ DAN BARA’ Oleh: Ust. Agus Hasan Bashari Lc, M. Ag).

Soal nomor 3:

Mudahanah itu termasuk melayani musuh Islam, bukan sekadar basa-basi, karena sudah mengorbankan unsur agama (Islam), hingga disukai oleh musuh Islam. Maka musuh Islam pun telah disifati dalam Al-Qur’an tentang keinginan itu. Sebutkan ayatnya dan maksudnya.

Kunci jawaban 3:

{وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ} [القلم: 9]

9. Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). (QS Al-Qalam/ 68: 9).

Maksudnya,

وقال مجاهد: المعنى ودوا لو ركنت إليهم وتركت الحق فيمالئونك. تفسير القرطبي (18/ 230)

Maksudnya, sebagimana kata Mujahid: maknanya, mereka menginginkan kalau kamu condong kepada mereka dan kamu tinggalkan kebenaran (alhaq) maka mereka bersikap lunak kepadamu. (Tafsir Al-Qurthubi dalam menjelaskan ayat 9 Surat Al-Qalam).

Soal nomor 4:

Ketika orang Muslim sudah melaksanakan mudahanah sehingga musuh Islam menyukainya, pada dasarnya sudah masuk ke perangkap mereka. Bagaimana kalau yang digarap untuk bermudahanah itu para pemimpin? Mereka akan menegakkan kebatilan atau kebenaran. Jawab dan beri dalilnya.

Kunci jawaban 4:

Penggarapan untuk mudahanah bagi pemimpin itu sudah otomatis. Tidak boleh tidak. Maka pemimpin Islam seharusnya sudah faham betul dari awal, agar tidak tergarap atau tidak mempan digarap. Sebab telah secara aksiomatis, para pemimpin itu digarap oleh teman jahat. Tinggal mempan atau tidak. Dalam hadits diriwayatkan :

“مَا بَعَثَ اللهُ مِنْ نَبِي وَلا اسْتَخْلَفَ مِنْ خَلِيفَة إلا كَانَتْ لَهُ بِطَانَتَانِ: بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالْخيرِ وتَحُضُّهُ عَلَيْهِ، وَبِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالسُّوءِ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ، وَالْمَعْصُومُ مَنْ عَصَم اللهُ ” (3)  (3) صحيح البخاري برقم (6611، 7198) والنسائي في الكبرى برقم (8755).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ وَالٍ إِلَّا وَلَهُ بِطَانَتَانِ بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَاهُ عَنْ الْمُنْكَرِ وَبِطَانَةٌ لَا تَأْلُوهُ خَبَالًا فَمَنْ وُقِيَ شَرَّهَا فَقَدْ وُقِيَ وَهُوَ مِنْ الَّتِي تَغْلِبُ عَلَيْهِ مِنْهُمَا

Dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada seorang pemimpinpun kecuali ia memiliki dua orang teman karib, seorang teman yang menyuruhnya berbuat kebaikan dan melarangnya dari perbuatan mungkar, dan seorang teman yang mengajaknya berbuat kerusakan, maka barangsiapa yang terjaga dari keburukannya maka ia telah terjaga dan ia termasuk diantara yang menang diantara keduanya.” (HR NASAI – 4130)

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْ نَبِيًّا وَلَا خَلِيفَةً إِلَّا وَلَهُ بِطَانَتَانِ بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَاهُ عَنْ الْمُنْكَرِ وَبِطَانَةٌ لَا تَأْلُوهُ خَبَالًا وَمَنْ يُوقَ بِطَانَةَ السُّوءِ فَقَدْ وُقِيَ

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mengutus seorang Nabi dan tidak juga khalifah kecuali memiliki dua kubu, satu kubu yang menyuruhnya kepada kebaikan dan mencegahnya dari kemunkaran, dan kubu lain yang tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu, dan barangsiapa yang dihindarkan dari teman yang jahat maka dia telah terjaga.” (Tirmidzi/ Abu Isa berkata: hadits ini hasan shahih gharib).

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا اسْتُخْلِفَ خَلِيفَةٌ إِلَّا لَهُ بِطَانَتَانِ بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالْخَيْرِ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ وَبِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالشَّرِّ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ وَالْمَعْصُومُ مَنْ عَصَمَ اللَّهُ

Dari Abu Sa’id Al Khudzri dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda: “Tidaklah seorang khalifah dilantik melainkan ia mempunyai dua kubu, kubu yang memerintahkan dan mendorongnya melakukan kebaikan, dan kubu yang memerintahkan dan mendorongnya melakukan keburukan, dan orang yang terjaga adalah yang dijaga Allah.” (HR BUKHARI – 6121)

Soal nomor 5:

Pemimpin yang terjaga tampaknya kini jarang. Justru yang tampaknya banyak adalah yang kalah oleh pengaruh jahat, bahkan kadang bukan sekadar kalah dengan pengaruh jahat, tetapi bahkan kalah jauh. Analisanya bagaimana.

Kunci Jawaban 5:

Mereka jadi pemimpin itu sendiri tampaknya banyak yang karena ambisi, yang dalam Islam dikenal dengan sitilah hawa nafsu. Sedangkan hawa nafsu itu sendiri jelas memerintahkan kepada kejahatan. Karena Allah telah berfirman:

{وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ} [يوسف: 53]

53. Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang. (QS Yusuf/ 12: 53).

Ketika dari awal berambisi untuk jadi pemimpin, karena mengikuti nafsu, maka cara yang ditempuh pun tidak mempedulikan lagi apakah baik atau buruk. Yang namanya main sogok atau suap agar terpilih, sudah menjadi rahassia umum. Bahkan pelanggaran yang sudah menjurus kepada kemusyrikan bahkan kemusyrikan tu sendiri sering ditempuh oleh para calon pemimpin yang ambisius. Entah itu mereka mendatangi dukun-dukun dengan mengikuti syarat-syarat yang diperintahkan dukun, ataupun bahkan sampai meminta-minta kepada isi kubur, yang itu jelas perbuatan syirik.

{ قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَرُونِي مَاذَا خَلَقُوا مِنَ الْأَرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِي السَّمَاوَاتِ ائْتُونِي بِكِتَابٍ مِنْ قَبْلِ هَذَا أَوْ أَثَارَةٍ مِنْ عِلْمٍ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (4) وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ} [الأحقاف: 4، 5]

4. Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkan kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit? bawalah kepada-Ku kitab yang sebelum (Al Quran) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar”

5. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka? (QS Al-Ahqaf/ 46: 4-5).

Demikianlah ayatnya. Ketika sudah paling sesat, maka akibatnya jalan-jalan yang ditempuh adalah yang berlawanan dengan kebenaran, bahkan membela kesesatan, sekaligus untuk menjatuhkan kebenaran.

Soal nomor 6:

Apakah mungkin pemimpin yang seharusnya menegakkan kebenaran dan memberantas kesesatan tetapi yang dilakukan justru sebaliknya? Jawab dengan contoh.

Kunci jawaban 6:

Mungkin. Contohnya, sebelum masa reformasi, untuk melarang aliran sesat secara nasional itu dapat dilakukan oleh Kejaksaan Agung. Contohnya pelarangan terhadap aliran sesat Islam Jama’ah (kini LDII) dengan nama apapun pada tahun 1971 oleh Jaksa Agung 1971. Setelah masa reformasi sampai kini, Kejaksaan Agung mengaku tidak berwenang lagi untuk melarang aliran sesat secara nasional, karena hanya di tangan presiden. Namun kenyataannya, aliran sesat Ahmadiyah yang terbuti menodai agama dengan memiliki nabi sendiri yakni Mirza Ghulam Ahmad, namun mengaku Islam; tidak dilarang, bahkan dbela oleh presiden di depan para dubes asing. Itu berarti membela kesesatan sekaligus berhadapan dengan Islam.

Akibatnya, aneka aliran sesat menjamur dan meresahkan di mana-mana. Bentrok fisik terjadi di mana-mana seperti di sampang Madura, kasus aliran sesat Syi’ah. Alhamdulillah pentolannya, Tajul Muluk tokoh aliran sesat syiah di Sampang divonis penjara dan naik banding lalu kasasi dan ternyata MA menolak kasasinya, hingga tetap dihukum penjara 4 tahun karena telah melakukan penodaan agama. Ini mestinya, syiah seharusnya dilarang secara nasional karena telah menodai agama (Islam).

Karena aliran sesat tidak dilarang secara nasional, seperti Ahmadiyah, ketika ada yang mengusik aliran sesat itu, bahkan diproses hukum. Contohnya, sudah ada pelarangan kegiatan Ahmadiyah dari Gubernur Jawa Barat, tapi pihak Ahmadiyah nekat, lalu ada reaksi dari Ummat Islam, maka diadili lah di pengadilan si orang yang bereaksi itu, seperti yang terjadi di Bandung.

Akibat lainnya, para penjilat di antara pemimpin Islam pun banyak yang membela kesesatan dan berani berhadapan dengan Islam. Jadi pemimpin yang membela kesesatan itu disamping menyuburkan aliran sesat masih pula menyuburkan para penjilat yang memusuhi Islam atau berseberangan dengan Islam walau kadang sosoknya justru tokoh Islam.

Soal nomor 7:

Apakah ada ancaman musibah akibat dari prilaku pemimpin, dan beri contoh musibah secara maknawi dalam kehidupan Ummat Islam akibat prilaku pemimpin.

Kunci jawaban 7:

Ancaman musibah telah jelas. Karena Allah Ta’ala berfirman:

{وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا (16) وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِنَ الْقُرُونِ مِنْ بَعْدِ نُوحٍ وَكَفَى بِرَبِّكَ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا} [الإسراء: 16، 17]

16. Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya Perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.

17. Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh telah Kami binasakan. dan cukuplah Tuhanmu Maha mengetahui lagi Maha melihat dosa hamba-hamba-Nya. (QS Al-Israa’/ 17: 16-17)

Dalam kasus kejahatan pemimpin, membela aliran sesat yang menodai Islam itu adalah kejahatan kefasikan yang nyata tinggi. Sama sekali tidak mentaati Allah Ta’ala, tetapi mendurhakainya. Maka kalau di negeri ini terjadi banyak bencana, tentu bukan karena Allah dhalim, tetapi adalah manusianya yang begitu dhalim lagi durhaka.

Adapun contoh musibah maknawi bagi kehidupan Ummat Islam, maka banyak sekali. Seperti perguruan tinggi Islam se-Indonesia itu dalam sejarahnya adalah hadiah untuk Ummat Islam. Mestinya adalah untuk mendidik generasi Muslim agar faham terhadap Islsam. Tetapi tdak. Justru sebaliknya, yakni agar pemahaman generasi Islam jauh dari pemahaman Islam yang benar. Justru IAIN, UIN, SAIN dan sebagainya se-Indonesia adalah untuk memusyrikkan dan memurtadkan Ummat Islam. Dari keyakinan Tauhid digiring secara sistematis untuk berkeyakinan kemusyrikan baru yakni pluralisme agama dan multikulturalisme (lihat buku Hartono Ahmad Jaiz, Ada Pemurtadan di IAIN). Dosen-dosennya pun banyak yang menjerumuskan ke arah kemurtadan dengan aneka cara. Contoh kecil, berita ini:

***

Azyumardi Azra dan Valentine Ala Indonesia

14/02/2008 11:31 WIB

 Iqbal Fadil – detikcom

azyumardi-azra_823453743

Ilustrasi : republika.co.id

Jakarta – Pelarangan perayaan hari Valentine di Indonesia dinilai tidak tepat. Apalagi kalau dengan pendekatan doktrinal keagamaan. Tidak akancocok. Namun tidak ada salahnya dengan Valentine alaIndonesia.“Valentine’s Day memang tradisi yang berakar dari Katolik. Karena  pengaruh globalisasi, hari Valentine menyebar ke mana-mana,” tutur cendekiawan  muslim Azyumardi Azra di Hotel Sultan, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Kamis  (14/2/2008).

Menurut mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah ini, Valentine saat ini sudah berubah menjadi fenomena sosial budaya. “Pelarangan oleh pemerintah tidak tepat. Valentine adalah gejala globalisasi. Gejala gayahidup yang menyebar ke mana-mana,” ujarnya. Menurut Azyumardi, antisipasi yang harus dilakukan justru dengan pendekatan sosial kultural juga, yakni mengarahkan perayaan Valentine kepada hal-hal yang positif.

“Jadi kalau ada yang merayakan Valentine, disesuaikan dengan konteks

Indonesia. Sebab Valentine tidak bisa dicegah, sulit untuk dibendung dan

dilarang,” pungkas Azyumardi. ( ziz / sss )

 Source :       http://www.detiknew

Tanggapan :

mungkin besok2 dia akan bilang : “Iblis itu sulit dibendung, dan syetan ada dimana-mana. Jadi gak usah dicegah, cukup disesuaikan dgn kultur kita, maka jadilah syetan yang Indonesiawi. ..” (to:[email protected]

From:”Akmal”

Date:Mon, 18 Feb 2008 11:36:13 +0700)

(bersambung, insya Allah)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 619 kali, 1 untuk hari ini)