Ilustrasi google search


Oleh : Dr. Slamet Muliono*

Kepemimpinan Utsman bin Affan Radhiallahu ‘Anhu digoncang dengan berbagai fitnah hingga menciptakan prahara yang berujung pembunuhan terhadap dirinya. Pemberontakan terhadap pemimpin, sebagaimana yang terjadi pada khalifah ketiga ini, tidak pernah terjadi sebelumnya. Setidaknya ada lima faktor yang memicu terjadinya pemberontakan itu. Pertama, peran Abdullah bin Saba’yang memprovokasi masyarakat untuk meruntuhkan pemerintahan. Kedua, luasnya wilayah Islam dengan berbagai ragam etnis, budaya dan karakter masyarakat. Ketiga, tersebarnya kemakmuran seluruh negeri. Keempat, adanya perbedaan pola kepemimpinan Utsman yang lemah lembut-pemaaf. Kelimat, kepemimpinan Quraisy yang selama ini mendominasi. Di antara berbagai faktor di atas, peran Abdullah bin Saba’ sangat dominan sehingga menyulut api pemberontakan hingga hilangnya nyawa Utsman Radhiallahu ‘Anhu.

Abdullah bin Saba’ dan Provokasi Pemberontakan

Peran Abdullah bin Saba’ sangat jelas dalam menyulut prahara dan dendam kaum  muslimin hingga terprovokasi melakukan pemberontakan terhadap pemeritahan Utsman. Dalam sejarah Islam, Abdullah bin Saba’ dikenal sebagai orang yang Yahudi yang berpura-pura masuk Islam guna merusak dari dalam. Hal ini tidak lepas dari dendam dan kebencian kaum Yahudi terhadap perkembangan Islam yang demikian luas dan merupakan kekuatan besar yang menghempaskan kekuatan Persia. Kecintaan terhadap Persia yang demikian mendalam yang jatuh oleh Islam, maka mendorong Abdullah bin Saba’ untuk melampiaskan dendamnya.

Dengan kebencian yang mendalam ini, Abdullah mulai menyulut api kebencian terhadap Islam dengan menebar fitnah yang ditujukan pada Utsman Radhiallahu ‘Anhu. Beberapa fitnah yang dituduhkan di antaranya bahwa kepemimpinan Utsman berbau nepotisme. Utsman dituduh mempercayakan posisi penting kepada kelompok bani Umayyah, seperti Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Abdullah bin Saad bin Sahr, Al Walid bin Uqbah,  Said bin Ash, Abdullah bin Amr. Mereka berlima diangkat Utsman sebagai pejabat penting pada kepemimpinannya.

Tuduhan lain bahwa Utsman Radhiallahu ‘Anhu dianggap mengasingkan Abu Dzar dari kampungnya sehingga hidup menyendiri hingga meninggal dunia, Utsman Radhiallahu ‘Anhu juga dituduh membakar mushaf untuk membuat mushaf tunggal. Juga dituduh memukuli Abdullah bin Mas ud hingga patah tulang rusuknya. Utsman juga dituduh menambah tanah Himah (tanah lapang untuk gembala ternak). Bahkan Ustman ketika tidak melakukan qashar tetapi justru melengkapkan 4 rakaat saat memimpin  shalat dhuhur, juga dijadikan bahan firnah. Sementara yang lebih jahat lagi, Utsman dituduh tidak ikut perang Badar, lari dari perang Uhud, dan tidak berpartisipasi dalam Bai’aturridwan, serta tidak mengqishash Ubaidullah bin Umar yang telah membunuh Hurmuzan yang dituduh bersekongkol dalam pembunuhnya Umar.

Fitnah-fitnah itu sudah dibantah dan dijelaskan oleh para sahabat, namun provokasi dan kebodohan sudah demikian luas tanpa melakukan tabayyun, sehingga bergolaklah seluruh negeri menuntut Utsman mundur dari singgasana kekuasaan. Karena keteguhan Utsman dalam membela kebenaran dan siap menerima resiko terburuk, maka di tetap mempertahankan kekuasannya hingga nyawanya terhempas.

Luasnya Wilayah dan Beragamnya Etnis-Budaya

Cepatnya fitnah menyebar tidak lepas dari luasnya wilayah Islam dan beragamnya wawasan pemahaman agama. Di era kepemimpinan Utsman Radhiallahu ‘Anhu, Islam menyebar secara luas hingga ke benua Afrika, Eropa dan negara-negara Rusia, sehingga sulit mengendalikan rakyat yang tersebar di berbagai penjuru. Provokasi untuk melakukan pembangkangan terhadap pemimpin amat mudah. Berbagai ragam etnis, budaya dan karakter masyarakat yang demikian kompleks ini sangat mudah untuk dibelah untuk kepentingan tertentu, termasuk kepentingan untuk menyampaikan ketidakpuasan terhadap pemimpin.

Kalau sebelum Islam menaklukkan negeri-negeri yang cukup dan luas, umat Islam bisa mempelajari Islam melalui para sahabat. Mendatangi para sahabat untuk belajar dan memperdalam Al-Qur’an dan Hadits secara intensif. Bahkan para sahabat juga mendatangi mereka dengan mengajarkan Islam secara berkala. Dengan demikian, kaum muslim memahami agama Islam dengan benar, sehingga mereka benar-benar diliputi dan dipandu dengan petunjuk Islam.

Hal ini berbeda ketika Islam memiliki daerah kekuasaan yang luas, maka jangkauan dakwah Islam juga jauh. Kaum muslimin yang hidup jauh dari pusat Islam tidak memiliki peluang dan kesempatan untuk mendalami Islam sebagaimana ketika wilayah Islam masih tidak begitu luas. Hal ini tutut membentuk karakter yang jauh dari Islam, sehingga mereka kurang mendapatkan pencerahan dengan nilai-nilai Islam. Betapa banyak kaum muslimin yang tinggal di Arfrika dan Eropa tidak mengetahui Asbabun-Nuzul sehingga tidak mengetahui dengan baik latar belakang ayat dan hikmah yang terkandung di dalamnya. Mereka juga tidak mengetahui degan baik tentang sejarah kenabian dan perjuangannya, sehingga mempengaruhi spirit jihad dan kesungguhannya dalam membela Islam.

Banyaknya keterbatasan pemahaman agama inilah yang memudahkan masuknya fitnah, sehingga cepat terprovokasi tanpa bisa dikendalikan. Belum lagi wilayah-wilayah kekuasaan Islam itu memiliki kepentingan untuk melepaskan diri, dan ingin mandiri serta hidup tanpa diperintah oleh kekhalifahan Islam secara lagsung. Kondisi yang demikian sangat berpengaruh mudahnya menelan informasi yang belum tentu sesuai dengan nilai-nilai agama. Situasi ini memudahkn pihak-pihak yang memiliki kepentingan tersembunyi untuk mengajak dan mempengaruhinya, khususnya ikut serta berkomplot dalam menggulingkan Utsman.

Orang-orang luar yang hadir di Madinah, ketika peristiwa pemberontakan terhadap Utsman, tidak banyak tahu tentang apa yang mereka lakukan. Mereka hanya datang dan ikut-ikutan untuk menumbangkan khalifah Utsman yang dianggap telah menyimpang dan telah keluar dari nilai-nilai Islam. Mereka inilah korban fitnah sehingga ikut terlibat dan bekomplot untuk membunuh khalifah agung ini.

Surabaya, 18 Maret 2019

*Penulis adalah Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya dan Direktur PUSKIP (Pusat Kajian Islam dan Peradaban)

(nahimunkar.org)

(Dibaca 811 kali, 1 untuk hari ini)