Jusuf Kalla (JK)


POJOKSATU.id, JAKARTA – Ramalan Jusuf Kalla (JK) pada pertengahan tahun 2012 lalu yang menyebutkan bahwa negara ini bisa hancur jika dipimpin Joko Widodo alias Jokowi kembali diungkit.

Prediksi itu dinilai sudah mendekati kenyataan. Tata kelola pemerintahan di bawah kepemimpinan Jokowi dianggap minim koordinasi, tak ubahnya seperti mengelola toko kelontong.

Kondisi ini dipandang bisa saja menyebabkan hancurnya negeri ini sebagaimana prediksi JK sebelum menjadi Wapres mendampingi Jokowi.

Direktur Eksekutif Indonesia Development Monitoring (IDM), Bin Firman Tresnadi mengatakan, tidak adanya koordinasi kerap terjadi di pemerintahan Jokowi. Penyebab utamanya adalah pemerintah sekarang memposisikan Jokowi sebagai “one man show”.

“Hal seperti ini sering terjadi di era Jokowi. Semua hal adalah Jokowi, semua itu karena Jokowi dan sebagainya. Manajemen “one man show” ini bisa terlihat dari foto-foto Jokowi yang sering kita lihat sendiri. Baik dalam sebuah proyek atau bencana,” ujar Bin Firman, Selasa (5/2).

Hal ini diungkapkannya menanggapi janji Jokowi untuk menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) dan Keputusan Presiden (Keppres) untuk mengangkat 17.000 Tenaga Harian Lepas Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL-TBPP) menjadi PNS, yang seakan ditepis sendiri oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB), Syafruddin.

Syafruddin mengatakan bahwa THL-TBPP bukan diangkat sebagai ASN, melainkan melalui proses penerimaan Pegawai Pemerintahan dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Menurut Bin Firman, semestinya sebelum mengeluarkan statement Jokowi terlebih dahulu berkoordinasi dengan para menterinya selaku anak buah.

Menurutnya, jika manajemen pemerintahan tanpa didukung oleh koordinasi yang ketat dan pemahaman yang kuat antar lembaga, maka itu akan menyebabkan miskoordinasi.

“Seperti yang sering kita lihat selama Jokowi memimpin dimana keputusan Jokowi direvisi oleh menteri-menterinya. Begitu juga sebaliknya,” terang pengamat politik ini.

Manajemen seperti ini tidak cocok diterapkan dalam mengelola negara, karena yang dibutuhkan untuk membangun bangsa adalah supertim, bukanlah orang yang ingin menjadi superman seperti Jokowi.

“(Manajemen seperti itu cocoknya diterapkan di) perusahaan baru dibangun atau toko kelontong. Bisa hancur negara ini seperti kata Pak JK,” pungkas Bin Firman.

Seperti diketahui, pada pertengahan 2012 lalu, rekaman video Jusuf Kalla ketika diwawancara di salah satu stasiun televisi beredar luas. Saat itu, JK dimintai pendapat bila Indonesia dipimpin seorang Joko Widodo alias Jokowi.

Dalam wawancara itu, JK terang-terangan mengatakan bahwa Indonesia akan hancur bila dipimpin Jokowi. Rekaman itu jadi perbincangan ramai ketika Jokowi terpilih menjadi Gubernur DKI dan diwacanakan menjadi calon presiden.

“Dia kan gubernur DKI, pengalamannya lewat wali kota Solo. Tapi jangan tiba-tiba karena dia terkenal di Jakarta, tiba-tiba dicalonkan presiden, bisa hancur negeri ini, bisa masalah negeri, tapi kalau sukses di DKI, ya silakan,” kata JK dalam video berdurasi 3 menit 38 detik itu.

“Biarlah dulu dia fokus sebagai Gubernur DKI. Jangan tiba-tiba dicampur aduk, nanti negeri ini tidak punya nilai, nanti kacau negeri ini,” tambahnya.

Pada tahun 2014, rekaman itu kembali ramai diperbincangkan, terutama ketika JK diwacanakan menjadi cawapres Jokowi.

JK pun menanggapi video tersebut. Dia berdalih rekaman itu diambil pertengahan tahun 2012. Saat itu, usia kepemimpinan Jokowi di DKI baru seumur jagung setelah dilantik sebagai gubernur DKI.

“Waktu itu Jokowi belum apa-apa. Masa baru 2-3 bulan mau diusulkan. Kebetulan dia (presenter) menanyakan soal umur, makanya saya bilang harus ada pengalaman,” terang JK.

Setelah dua tahun Jokowi memimpin Jakarta, lanjut JK, ternyata program-program yang dikerjakan Jokowi sudah menunjukkan hasil positif.

Dengan keberhasilannya itu, JK merasa Jokowi sudah layak dicalonkan sebagai Presiden RI.

“Sekarang Jokowi sudah punya pengalaman. Langkah-langkah yang dilakukannya saya lihat cukup baik dan cukup mempunyai kemampuan. Sekarang sudah 2 tahun dan punya pengalaman dan tentu berbeda,” jelas JK.

(rus/rmol/pojoksatu)

(nahimunkar.org)

(Dibaca 2.081 kali, 1 untuk hari ini)