Prof. Budi Santosa Purwokartiko Hina Pakaian Muslimah: “Menutup Kepala Ala Manusia Gurun”???!!!!

 

Silakan simak ini.

***

Penghinaan Prof. Budi Santosa Purwokartiko terhadap Pakaian Muslimah “Menutup Kepala Ala Manusia Gurun”???!!!!

Prof. Ir. Budi Santosa Purwokartiko, Ph.D adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK) untuk periode 2018 sampai 2022. Dan Tim Penguji LPDP Kementerian Keuangan RI.

 

Rupanya ujian bagi kaum muslimin Indonesia di penghujung Ramadhan ini masih ada.

Semoga kita semua bisa bersabar dan fokus berjuang memperbaiki diri dan kehidupan.

 

Adapun anggapan-anggapan dan sikap rasis yang sangat menjijikan seperti ini, selayaknya kita anggap sebagai ujian yang memicu diri kita untuk menjadi pribadi muslimah yang lebih baik. Dan dengan keistiqomahan keyakinan yang membuat kita konsisten menenggerkan kain untuk menutupi aurat kita, disitulah keberkahan dan ketenangan hidup kita peroleh.

 

Tak perlu bersedih jika ada yang menganggap wanita muslimah yang berjilbab itu bodoh, terbelakang, lamban dan tidak kompetitif. Karena, sungguh, mau dilihat dari jaman yang manapun, atau masa yang bagaimanapun, akan selalu kita temukan wanita-wanita berhijab yang mampu membawa kebaikan yang bermanfaat bagi peradaban di berbagai belahan bumi. Wanita berpenutup kepala yang membaktikan dirinya kepada negara, bangsa, manusia dan ilmu pengetahuan, dengan tetap mengedepankan ketaatan atas perintah Tuhan.

 

Justru pemikiran yang diungkap oleh seorang profesor yang mendiskreditkan perempuan berjilbab inilah yang sangat ketinggalan jaman. So old style. Seperti fosil peradaban. Layaknya seseorang yang percaya bahwa melahirkan bayi perempuan adalah sebuah kesialan, begitulah kekerdilan pemikiran sang profesor ini patut disetarakan.

 

Menyedihkan sekali.

Ranah dan lembaga akademisi universal yang seharusnya ramah dan terbuka terhadap semua pemikiran dan keyakinan, malah dijadikan tempat pengkotak-kotakan manusia yang mengukur tingkat kecerdasan perempuan berdasarkan ada tidaknya penutup kepala yang dikenakan. Jika demikian, dimana letak open mindednya? Dimana letak ke-universalannya?

 

Padahal ini adalah program pemerintah yang sumber dananya berasal dari kantong seluruh rakyat Indonesia. Tapi kenapa pihak penyelenggara malah menempatkan seorang rasis dan fasis sebagai penguji? Yang secara langsung dan terbuka bertindak sangat subjektif, mendiskriminasi, memecah belah dan mengolok-olok para pihak yang mungkin dianggap bersebrangan dengannya.

 

Padahal gaji yang ia peroleh pun berasal dari seluruh rakyat Indonesia, baik yang berpenutup kepala maupun yang tidak. Padahal posisi yang dia ampu pun adalah amanah penyelenggara negara yang dipilih dan digaji oleh rakyat Indonesia, baik yang herpenutup kepala maupun tidak.

 

Oleh karena itu, saya mohon pihak:

Forum Beasiswa Luar Negeri DIKTI Republik Indonesia

LPDP Kementerian Keuangan RI

KEMENDIKBUD REPUBLIK INDONESIA

DITJEN DIKTI Kemendiknas

 

Mempertimbangkan kembali tentang keberadaan BUDI SANTOSO PURWOKARTIKO sebagai tim penguji. Sungguh apa yang beliau tuliskan ini sangatlah tidak pantas keluar dari seorang akademisi, sangat tidak profesional, menyakiti hati kaum muslimin dan berpotensi memperuncing perbedaan yang bisa memecah belah bangsa.

 

Dan untuk ke depannya, bisa dengan lebih cermat dan seksama memilih orang-orang yang benar-benar kompeten, objektif, cerdas, mencintai persatuan dan kesatuan bangsa dan memegang keluhuran nilai-nilai Pancasila sehingga tidak berpikiran rasis dan fasis terhadap warga negara Indonesia.

 

Sungguh kita harus menindak tegas semua pihak yang dengan sengaja menyulut sumbu perpecahan bangsa. Terimakasih.

 

Ttd

 

(Aisha Rara)

Jumat, 29 April 2022  CATATAN

 

***

Tulisan Prof Budi Santosa Purwokartiko ini bisa masuk kategori ‘rasis‘ dan ‘xenophobia’

Banyak kalangan yang mulai memberi tanggapan atas pernyataan ini. Salah satunya adalah guru besar Muhammadiyah. 

“Ada Rektor sebuah PTN yg mencari rasis dan xenofobik. Merasa dirinya paling Pancasila, paling nasionalis. Padahal Bung Karno saja dalam bicara 1 Juni 1945 mengutip Gandhi: ‘My nationalistm is humanity.’ Nasionalisme Indonesia berwawasan kemanusiaan, menjunjung HAM dan demokrasi,” tulis Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof Aidul Fitriciada di akun Twitter-nya.

Ada pula kecaman dari pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi. Dalam cuitan media sosial pribadinya, tegak lurus dirinya menyatakan bahwa “tulisan Prof Budi Santosa Purwokartiko ini bisa masuk kategori ‘rasis‘ dan ‘xenophobia’. Rasis: pembedaan berdasarkan ras (manusia gurun, Arab).”

“Xenophobia: benci pada orang asing (manusia gurun). Saya kira beliau contoh korban “firehose of kadrunisasi,” katanya lagi.***

 hops.id, Sabtu, 30 April 2022 | 12:52 WIB

(nahimunkar.org)