Ketua Dewan Pertimbangan MUI Prof Dr Din Syamsuddin kembali menegaskan bahwa apa yang diucapkan oleh Ahok (Dibohongin Pakai Al Maidah 51) dalam sebuah pertemuan di Kepulauan Seribu pada 27 September lalu tidak dapat dipungkiri adalah penistaan agama, dalam hal ini Kitab Suci Al-Qur’an.

Menurutnya, Ahok memberikan penilaian (judgment) terhadap pemahaman pihak lain dan dengan menggunakan kalimat pejoratif (dibodohi).

“Maka tidak perlu ada yang membela-bela bahwa ayat itu (QS Al Maidah 51) memiliki multi-tafsir,” kata Din.

Dia menilai unjuk rasa yang digelar umat Islam terkait kasus dugaan penistaan terhadap Al-Qur’an itu wajar.

Inilah beritanya.

***

Prof Din: ‘Wajar Umat Islam Demo Ahok’

JAKARTA (SALAM-ONLINE): Ketua Dewan Pertimbangan MUI Prof Dr Din Syamsuddin menilai unjuk rasa yang digelar umat Islam terkait kasus dugaan penistaan terhadap Al-Qur’an oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saat masih menjadi Gubernur DKI Jakarta aktif, adalah hal yang wajar dan absah di alam demokrasi selama tidak mengambil bentuk kekerasan atau anarkisme.

Namun Din mengingatkan aksi-aksi demo itu jangan sampai terprovokasi dan kena jebakan anarkisme. “Diimbau kepada umat Islam agar waspada dari upaya provokasi atau jebakan kepada anarkisme,” tandasnya seperti dikutip RMOL.co, Jumat (28/10).

Ia juga kembali menegaskan bahwa apa yang diucapkan oleh Ahok dalam sebuah pertemuan di Kepulauan Seribu pada 27 September lalu tidak dapat dipungkiri adalah penistaan agama, dalam hal ini Kitab Suci Al-Qur’an.

Menurutnya, Ahok memberikan penilaian (judgment) terhadap pemahaman pihak lain dan dengan menggunakan kalimat pejoratif (dibodohi).

“Maka tidak perlu ada yang membela-bela bahwa ayat itu (QS Al Maidah 51) memiliki multi-tafsir,” kata Din.

Guru Besar UIN Jakarta yang pernah menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah dan MUI Pusat ini menegaskan pernyataan Ahok tersebut adalah bentuk kekerasan verbal (verbal violence).

Tapi karena Ahok sudah meminta maaf, dia menambahkan, maka perlu dimaafkan dengan syarat tidak mengulangi lagi. Din mengingatkan umat Islam tidak perlu membalas dengan kekerasan. Namun, proses hukum harus tetap jalan.

“Karena itu perbuatan penistaan dan merupakan pelanggaran hukum yang berlaku, maka kita dorong dan serahkan kepada penegak hukum (Polri) untuk memproses dalam rangka penegakan keadilan dan kebenaran di negara yang berdasarkan hukum ini,” tegas Din.

Sementara terkait sebuah tulisan dengan judul “Nasihat Pak Din Syamsuddin untuk Kita” yang beredar belakangan ini, bukan berasal dari dia. Tulisan tanpa nama penulis tersebut memuat pernyataan Din yang disebutkan disampaikan dalam sebuah pertemuan di rumahnya.

“Itu bukan dari saya,” ujarnya.

Sumber: RMOL.co/salam-online.com

(nahimunkar.com)