Menghujat Ayat Allah, Mengganti Lafal Kafir

Keputusan NU 2019 (mengenai sebutan kafir diganti muwathinun untuk non Muslim) itu menantang Allah.

Demikian penilaian seorang doktor yang telah membahas dan meneliti tentang (keputusan-keputusan) Bahtsul Masail NU dari 1926 sampai 1999.

Beliau adalah Guru Besar Ilmu Fiqih UIN Sunan Ampel Surabaya Prof. Dr Ahmad Zahro, yang juga seorang hafidz qur’an.

Silakan simak Video ini:

Gepostet von Ade Irawan am Sonntag, 3. März 2019

***

Allah Ta’ala telah mengecam penghujat ayat-ayat Allah

Sudah ada penegasan dari Allah Ta’ala:

{وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الْكَافِرُونَ} [العنكبوت: 47]

Dan tiadalah yang mengingkari ayat-ayat kami selain orang-orang kafir [Al ‘Ankabut47]

{وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ} [العنكبوت: 49]

Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim [Al ‘Ankabut49]

{ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا كُلُّ خَتَّارٍ كَفُورٍ} [لقمان: 32]

Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar [Luqman32]

وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٖ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلٗا مُّبِينٗا ٣٦ [سورة الأحزاب,٣٦]

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata[Al Ahzab36]

***

Penilaian itu berkaitan dengan Keputusan NU 2019

Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama menetapkan untuk tidak lagi memakai kata kafir untuk menyebut warga non muslim.

Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU KH Abdul Muqsith Gozali berdalih, kata kafir yang selama ini digunakan untuk melabeli warga non muslim telah menyakiti hati non-muslim. Penggunaan kata ini pun diganti dengan istilah muwathinun yang artinya warga negara.

Perlu diketahui, Konferensi Besar Nahdlatul Ulama adalah pertemuan terbesar setingkat di bawah Muktamar, kalau di Muhammadiyah namanya Sidang Tanwir. Jadi dihadiri utusan perwakilan dari pusat dan berbagai daerah.

Kegiatan NU kali ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, Rabu-Jumat (27/2-1/3/2019)

Kenapa keputusan NU itu dinilai menentang Allah Ta’ala?

Perlu diingat, Istilah kafir itu dari Allah Ta’ala. Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani yang tidak masuk Islam setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) disebut kafir itu jelas dari Allah Ta’ala.

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ شَرُّ ٱلۡبَرِيَّةِ  [ الـبينة:6]

Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. [Al Bayyinah:6]

Ketika sudah ada keputusan / ketetapan dari Allah Ta’ala dan RasulNya maka tidak ada pilihan lain-lain lagi.

وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٖ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلٗا مُّبِينٗا  [ الأحزاب:36-36]

36. Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. [Al Ahzab:36]

Kecuali kalau memang sengaja pilih dalam barisan kafir dan munafik, ya tidak ada paksaan untuk takut kepada ayat-ayat ancaman Allah Ta’ala itu. Dan juga masih ada larangan yang mustinya diperhatikan dalam hal ini. Apalagi itu atas nama ‘Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama’. Di antaranya ayat ini:

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.:

{وَلا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ}

dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. (Al-Ahzab: l)

Artinya, janganlah kamu mendengar ucapan mereka dan jangan pula meminta saran dari mereka. (Tafsir Ibnu Katsir).

(nahimunkar.org)

(Dibaca 757 kali, 1 untuk hari ini)