وفاة المفكر الإسلامي عبد الصبور شاهين

Professor Abdus Shabur Shahin Musuh Nashr Hamid Abu Zayd Wafat.

Professor Abdus Shabur Shahin “peletak dasar-dasar bukti murtadnya” Nashr hamid Abu Zayd wafat dalam usia 82 tahun, Ahad 26/ 9 2010.

Nama Shahin sempat mencuat secara kontroversial ketika ia memfatwa “murtad” Nashr

Hamid Abu Zayd di dekade 90-an terkait tesisnya seputar konsep tekstualitas Alqur’an. Abu Zayd adalah salah satu pemikir liberal asal Mesir yang kemudian menjadi guru besar kajian Alqu’an di Belanda. Fatwa tersebut diturunkan langsung oleh Shahin dalam khutbahnya di Masjid Amr ibn Ahs. Kemudian Nashr Hamid Abu Zayd benar-benar divonis murtad oleh mahkamah Agung Mesir tahun 1996, maka dia lari ke Belanda. Akhirnya Nashr Hamid mati (5/ Juli 2010, lihat nahimunkar.com, Nasr Hamid Abu Zayd Meninggal

9:38 pm ,

https://www.nahimunkar.org/nasr-hamid-abu-zayd-meninggal/#more-2798).

Inilah berita wafatnya Prof Abdus Shabur Shahin, di bagian bawah dilengkapi dengan artikel pertarungannya dengan Nashr Hamid Abu Zayd:

Professor Shabur Shahin, Intelektual Cemerlang Muslim-Mesir itu Wafat

Dunia Islam kembali kehilangan salah satu cendikiawannya yang cemerlang. Sore hari Ahad (26/9) kemarin, Prof. Dr. Abdus Shabur Shahin, guru besar ilmu-ilmu dan kajian keislaman asal Mesir, meninggal dunia dalam usianya yang ke-82 tahun.

Sepanjang hidupnya, Shahin tercatat memiliki reputasi dan dedikasi tinggi terhadap dunia Islam, khususnya kepada ilmu-ilmu keislaman. Shahin terhitung sebagai guru besar di beberapa universitas terkemuka di Timur Tengah, semisal Cairo University, Institut Studi Islam Kairo, selain imam dan khatib di Masjid Amr ibn Ash Kairo, masjid yang didirikan pertamakali di benua Afrika.

Beberapa buah pemikiran Shahin pun dijadikan rujukan penting dalam kajian keislaman. Di antara buku-buku karangannya adalah Dustur al-Akhlaq fi al-Qur’an (Garis Besar Etika dalam Alqur’an), Tarikh al-Qur’an (Sejarah Alqur’an), Shahabiyat Hawla ar-Rasul (Para Sahabat di Sekitar Rasul), Ummahat al-Mu’minin, dan lain-lain.

Nama Shahin sempat mencuat secara kontroversial ketika ia memfatwa “murtad” Nashr Hamid Abu Zayd di dekade 90-an terkait tesisnya seputar konsep tekstualitas Alqur’an. Abu Zayd adalah salah satu pemikir liberal asal Mesir yang kemudian menjadi guru besar kajian Alqu’an di Belanda. Fatwa tersebut diturunkan langsung oleh Shahin dalam khutbahnya di Masjid Amr ibn Ahs.

Dedikasi Shahin terhadap dunia keilmuan Islam terus berlanjut sampai menjelang akhir hayatnya. Beliau setia memberikan kuliah dan pengajian. (ag/msr)

Eramuslim, Senin, 27/09/2010 12:46 WIB

Shahin dan vonis murtad atas Nashr Hamid Abu Zayd

Upaya Shahin untuk menegaskan murtadnya Nashr Hamid Abu Zayd hingga benar-benar Nashr yang menganggap al-Qur’an adalah munatj tsaqafi (produk budaya) divonis murtad oleh Mahkamah Agung Mesir 1996 telah menjadi kenyataan sejarah. Nashr Hamid Abu Zayd kemudian justru lari ke Belanda dan diangkat sebagai guru besar Ulumul Qur’an (di antara muridnya ada yang dosen IAIN kini UIN Jogjakarta).

Abdus Shabur Shahin kini telah wafat pada hari Ahad (26/9 2010). Sedang Nashr Hamid Abu zayd pun telah mati, Senin pagi (5/ Juli 2010) di Cairo akibat terkena virus aneh, setelah pulang dari Indonesia karena ditolak kehadirannya di Indonesia oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) Riau, dan Jawa Timur.

Untuk melihat seberapa pergulatan awal dan formal antara Abdus Shabur Shahin dan tokoh sesat Nashr Hamid Abu zaid, berikut kami kutipkan tulisan Ustadz Hartono Ahmad Jaiz tahun 1993 sebagai berikut:

Ulama Mesir Tegar Menghadapi Kelompok Intelektual Sekular

Tegarnya  ulama Mesir dalam menghadapi aneka usaha  kelompok intelektual  sekular  pantas  ditiru.  Kasus  terakhir,  gagalnya ilmuwan  sekular  Dr  Nashr Hamid  Abu  Zaid  untuk  meningkatkan statusnya  menjadi  profesor di Universitas Cairo  adalah  bukti ketegaran ulama Mesir dalam menghadapi sekularisasi.

Daud Rasyid MA, alumni Fakultas Darul Ulum jurusan  Syari’ah Universitas Cairo,   mengemukakan   kasus   ramainya    masalah sekularisasi di Mesir itu kepada penulis, 18/8 1993.

Yang  jadi pertanyaan, lanjut Daud Rasyid, kenapa  hangatnya pempopuleran sekularisasi itu waktunya bersamaan antara di  Mesir dan Indonesia. Sifatnya pun sama, sekularisasi itu didukung  oleh media  massa  tertentu. Dan tokohnya saling kenal.  Bahkan  tokoh sekular Mesir, Hassan Hanafi, disebut-sebut oleh tokoh  Indonesia seperti Nurcholis Madjid sering saling berjumpa dalam seminar  di

Eropa,  ungkap Daud. Penggerak sekularisasi itu adalah  pengikut-pengikut  Thaha Husein dan Ali Abdul Raziq yang  dikucilkan  oleh para ulama Mesir namun di Indonesia disanjung.

Pertanyaan  kedua, lanjutnya,  kenapa  lontaran  sekularisasi  itu  justru   sengaja dilontarkan saat muslimin di berbagai tempat sedang dibantai oleh non  Muslim seperti di Bosnia, Palestina, Somalia,  Kashmir,  dan Myanmar.

Kasus  terakhir  tersebut  (gagalnya Dr  Abu  Zaid,  asisten profesor pada jurusan Bahasa Arab, dalam meraih profesor), lanjut Daud  Rasyid, justru diputar balikkan faktanya di Indonesia  oleh majalah  berita di Jakarta pekan lalu, dengan  menyebut pemimpin pengujinya orang fundamentalis.

Sudah  dikenal,  ungkap Daud Rasyid, panitia  ilmiyah  tetap untuk  menyeleksi peningkatan status menjadi profesor/  al-ustadz terdiri dari 13 ustadz dari berbagai universitas selain Al-Azhar. Kemudian  3 orang dari anggota itu ditugasi untuk meneliti  karya ilmiyah  anggota  badan  pengajar  yang  mengajukan  diri   untuk meningkatkan status.

Karya  “ilmiyah”  Dr  Nashr Hamid Abu Zaid  ini  bukan  saja tertolak  dari  segi ilmiyah, tetapi justru  dari  faktor  aqidah pula. Panitia Ilmiyah Tetap Peningkatan Status di Universitas itu memutuskan  gagalnya  Dr  Nashr Abu  Zaid  dalam  meraih  profesor setelah  3 anggotanya memeriksa karya ilmiyah Nashr. 3  pemeriksa itu:  Dr  Abdus Shobur Shahin profesor pada Fakultas  Darul  Ulum tempat  Daud  Rasyid  belajar, Dr  Mahmud  Makki  profesor  pada Fakultas  Adab,  dan Dr Auni Abdur Rauf profesor  pada  Fakultas Bahasa-bahasa  (Alsun).  Laporan  pemeriksa  pertama   menyatakan negatif, sementara laporan dua lainnya menganggap laik Dr  Nashr. Lantas  panitia mengesahkan laporan Dr Abdus Shobur  Shahin  yang menemukan   hal-hal  negatif  dalam  karya  Abu  Zaid  itu,   dan ditandatangani  oleh  profesor-profesor  anggota  lajnah:  Syauqi Dhoif,  Ahmad  Haikal,  Ramadhan Abut  Tawwab,  Nabilah  Ibrahim, Mahmud  Hijari, Abdus Salam Abdul Aziz, Auni Abdur  Rauf,  Mahmud Dzahni, Abdus Shobur Shahin; dan tak mau bertandatangan Dr  Sayid Hamid  Siyag.  Kemudian  Dewan  Universitas  (Majlis  Al-Jami’ah) sepakat atas  laporan  Dr  Abdus  Shobur  Shahin  dan   menolak peningkatan status Dr Nashr Hamid Abu Zaid.

Merendahkan Al-Quran

Dr  Abu  Zaid  itu, menurut  laporan  Majalah  Palestin  Al-Muslimah Juli 1993, berpendapat bahwa al-Quran itu legende  dan hasil  budaya manusia, sedang Syafi’i adalah  mulfiq  muta’asshib pencampur  aduk  madzhab  yang fanatis,  serta  sahabat bukanlah orang-orang pilihan.

Dr  Abdus Shobur dalam laporannya menyebutkan, karya Dr  Abu Zaid  itu  sangat  merendahkan Al-Quran  dan  Sunnah  Rasul  shallallahu ‘alaihi wa sallam, menghina sahabat dan Imam Syafi’i rahimahullah, dan mengemukakan kesalahan- kesalahan  besar tentang dzat Ketuhanan, serta pemikiran  sekular dan   marxisme  berdasarkan  teori  meterialisme  yang   tertolak kebenarannya.

Majalah  itu  melaporkan,  keputusan  gagalnya  dosen  untuk meraih  profesor seperti itu sudah biasa. Namun, dalam kasus  Abu Zaid  yang  sekular itu, begitu Universitas  memutuskan  gagalnya sang  tokoh, serentak sontak penulis-penulis sekular  dan  marxis ramai-ramai mengecam Dr Abdus Shobur Abu Shahin sebagai ekstrimis dan  teroris  pemikiran. sedang Universitasnya  dianggap  sebagai pembantai  kebebasan  mimbar ilmiyah dan  pembersihan  pemikiran. Kecaman-kecaman itu kemudian ditujukan kepada aliran Islam.

Kecaman  dari golongan kiri dan sekular itulah  yang  disampaikan

pula  di  Indonesia  oleh sebuah majalah  mingguan,  ungkap  Daud

Rasyid.  “Padahal  seharusnya justru ketegasan para  ulama  Mesir

dalam  menolak usaha sekularisasi itulah yang perlu dihargai  dan

ditiru oleh ulama Indonesia,” keluh Daud Rasyid yang saat itu sedang

menyiapkan buku ”Pembaruan” Islam dan Orientalisme dalam Sorotan,

menanggapi pemikiran-pemikiran Nurcholish Madjid.

Jakarta, Rabu 18/8 1993M, 30 Shafar 1414H

(Dikutip dari buku Hartono Ahmad Jaiz, Bila Hak Muslimin Dirampas, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 1994).

Berita tentang sekitar wafat dan pemakaman serta hal-hal yang melingkupi Prof Shahin sebagai berikut:

بغياب لافت للأزهر ودار الإفتاء

تشييع الداعية عبد الصبور شاهين

شُيع اليوم الاثنين جثمان المفكر الإسلامي عبد الصبور شاهين الذي اشتهر بمعاركه الفكرية ومؤلفاته الدينية العديدة التي يعد كتاب “أبي آدم” أكثرها شهرة لما أثاره من ضجة وجدل كبيرين في مصر والعالمين العربي والإسلامي.

وخرجت الجنازة من مسجد عمرو بن العاص أكبر وأقدم مساجد مصر والذي كان شاهين خطيبه السابق قبل أن يُمنع من الخطابة فيه فيضطر إلى بناء مسجده الخاص الذي دأب على إلقاء خطبه فيه وتقديم دروسه الدينية حتى وفاته.

وقد شارك في تشييعه تلاميذه الذين اعتادوا حضور خطبه أيام الجمع، ووفد من جماعة الإخوان المسلمين ضم عددا كبيرا من قيادات الجماعة وعلى رأسهم مرشدها السابق محمد مهدي عاكف، ووفد من كلية دار العلوم التي تتلمذ على يديه فيها الآلاف، بينما غاب عن الحضور ممثلو المؤسسة الدينية سواء الأزهر الشريف أو دار الإفتاء.

وشغل شاهين –الذي وافته المنية أمس الأحد في مقر سكنه بحدائق الأهرام بالجيزة عن عمر يناهز 82 عاما- عضوية مجلس الشورى المصري، كما عمل أستاذا متفرغا بكلية دار العلوم بجامعة القاهرة وبقسم الدراسات الإسلامية بجامعة الملك فهد للبترول والمعادن في الظهران شرق السعودية.

واشتهر شاهين بمعاركه الفكرية، وأشهرها معركته مع الراحل نصر حامد أبو زيد التي أثارت جدلا وانتهت بصدور حكم قضائي بالتفريق بين أبو زيد وزوجته، وجاءت على أثر تقديم الأخير دراسته “نقد الفكر الديني” للحصول على ترقية في الجامعة، وهي الدراسة التي اعتبرها شاهين أساسا لتكفير أبو زيد.

وبينما يتهم بعض اليسار المصري شاهين بأنه مفتي شركات توظيف الأموال التي أوقفتها الحكومة قبل سنوات بعد أن وجهت إليها اتهامات بالاستيلاء على أموال الموظفين المصريين، فإن بعض الإسلاميين يعتبرونه بالمقابل من أشرس المقاتلين دفاعا عن الإسلام في مواجهة التيارات اليسارية والعلمانيين المصريين والعرب بشكل عام.

وهو يعد في نظر البعض من أشهر الدعاة في مصر والعالم الإسلامي بعدما تخطت مؤلفاته الدينية السبعين كتاباً ما بين مؤلفات وتراجم.

لكن ذلك لم يمنع بعض الإسلاميين من تكفيره أيضا، وقد أقام عليه الشيخ يوسف البدري دعوى تفريق بينه وبين زوجته بعدما طرح شاهين مؤلفه الشهير “أبي آدم” الذي قوبل بعاصفة شديدة حيث عرض فيه وجهة نظر جديدة بشأن خلق سيدنا آدم عليه السلام.

فالمؤلف الراحل يفرق في الكتاب المذكور بين آدم النبي وبين الرجل الذي دب على الأرض أول مرة، وقد ألفت كتب عديدة لمناقشة هذه الفكرة، كما تناظر شاهين بشأنها تلفزيونيا مع الداعية الإسلامي زغلول النجار.

ومن بين المؤلفات الشهيرة الأخرى للمفكر الراحل موسوعة “أمهات المؤمنين” و”صحابيات حول الرسول” في مجلدين اشترك في تأليفهما مع زوجته، إضافة إلى ترجمته كتاب “دستور الأخلاق في القرآن”، و”مفصل آيات القرآن” الذي جاء في عشرة مجلدات، و”تاريخ القرآن” الذي رد فيه على آراء المستشرقين الخاصة بجمع القرآن، وغيرها العشرات.

المصدر:

وكالات

http://www.aljazeera.net/NR/exeres/5ED31A0E-0642-4B73-8A3D-E6DF8710FC91.htm

Abdus shobur shahin wafat

وفاة المفكر الإسلامي عبد الصبور شاهين

الاثنين 18 شوال 1431 الموافق 27 سبتمبر 2010

الإسلام اليوم/ صحف

تُوفِّي الكاتب والمفكر الإسلامي المصري الدكتور عبد الصبور شاهين مساء الأحد عن عمر ناهز 82 عامًا، في خسارة كبيرة للعالميْن العربي والإسلامي اللذين فقدَا بوفاته أشهر المفكرين والدعاة الإسلاميين في مصر والعالم الإسلامي.

وعمل شاهين أستاذًا متفرغًا بكلية دار العلوم جامعة القاهرة، وبقسم الدراسات الإسلامية بجامعة الملك فهد، كما عمل خطيبًا سابقًا لمسجد عمرو بن العاص، والذي ستشيع الجنازة منه ظهر اليوم الاثنين.

ولشاهين العديد من الكتب الفكرية الهامة تناولت شتّى القضايا الإسلامية وبلغت نحو 65 كتابًا ما بين مؤلفات وتراجم، حيث كان يجيد اللغة الفرنسية وترجم العديد من المؤلفات الفرنسية إلى العربية.

ومن أشهر مؤلفاته كتاب “أبى آدم” الذي أثار ضجة كبيرة بعد أن طرح فيه وجهةَ نظر جديدة حول خلق سيدنا آدم عليه السلام، إضافة إلى “مفصل آيات القرآن”، “ترتيب معجمي “، “تاريخ القرآن “.

ويعتبر شاهين أول من اشترك مع زوجته في التأليف إذ أخرَجَا معًا موسوعة “أمهات المؤمنين” و”صحابيات حول الرسول” في مجلدين، وينسب له تعريبه لمصطلح “حاسوب” وهو المقابل العربي لكلمة “كمبيوتر” والذي أُقرّ من قبل مجمع اللغة العربية.

وكان من آرائه حول جماعة الإخوان المسلمين، أنهم دعوة الله ودعوة الإسلام ولهم برنامج فعلي للوصول إلى تطبيق الشريعة في جزئيات مُعَيّنة ولكن الظروف السياسية لا تسمح لهم بأكثر مما هم عليه الآن.

http://islamtoday.net/albasheer/artshow-12-139801.htm

(nahimunkar.com)