syi'ahDalam kasus Suriah, propagandis Syi’ah di Indonesia jelas memposisikan diri mendukung Bashar al-Assad. Para pejuang Muslim, para mujahid di Suriah yang melawan rezim syi’ah Bashar al-Assad, mereka sebut sebagai pemberontak. Penggunaan istilah yang sama dengan yang dilakukan AS dan sekutunya ketika menilai pejuang Palestina.

Para propagandis syi’ah tersebut, antara lain Jose Rizal Jurnalis (Jakarta), Ustadz Mudzakir (Solo), dan Dina Y. Sulaeman.

Jose Rizal Jurnalis adalah presidium Mer-C yang juga narasumber Radio Syi’ah RASIL AM720. Menurut Jose, di bawah kepemimpinan Bashar al-Assad Suriah termasuk donatur dan pemasok utama dana dan persenjataan bagi Hamas, Jihad Islam, Hizbullah, dan berbagai faksi perlawanan terhadap Israel di Palestina.

Menurut Jose, upaya menggulingkan Bashar al-Assad bukan karena ia rezim syi’ah yang membantai Muslim, bukan karena Bashar al-Assad anti demokrasi, tetapi karena Israel menginginkan Bashar turun dengan memperalat Amerika Serikat melalui kebijakan luar negerinya. Agar lebih hot, menurut Jose, upaya penggulingan itu dikaitkan dengan isu Sunni-Syi’ah.

Pendapat batil Jose seperti bersahutan dan saling dukung dengan pendapat batil ustadz Mudzakir, yang pada sebuah kesempatan mengatakan bahwa pemberontak di Suriah dibiayai Amerika Serikat.

Berkenaan dengan Al-Buthi, ustadz Mudazkir mengatakan bahwa sikap Al-Buthi yang tidak memihak rezim Bashar al-Assad namun juga tidak memihak ‘pemberontak’ sehingga dinilai munafik dan dibantai oleh para ‘pemberontak’ tadi.

Yang dimaksud ustadz Mudzakir dengan ‘pemberontak’ di sini adalah para mujahid yang sedang membela akidahnya dari jajahan syi’ah sejak kawasan itu direbut oleh Hafiz al-Assad melalui kudeta militer 13 November 1970. Hafiz al-Assad  saat itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan Suriah, dan ia merupakan bapak kandung Bashar al-Assad.

Dalam kasus al-Buthi, ustadz Mudzakir sudah memposisikan secara tegas, bahwa al-Buthi dibunuh oleh ‘pemberontak’ melalui upaya bom bunuh diri. Padahal, karena al-Buthi juga tidak berpihak kepada rezim Bashar, tetap punya kemungkinan dibunuh oleh sang rezim.

Suriah adalah kawasan Muslim (Sunni) yang kemudian berusaha direbut oleh kaum syi’ah melalui kudeta bersenjata. Kudeta militer sebelumnya terjadi pada 28 September 1961, namun belum berhasil. Barulah pada 1970, berhasil. Siapa pendukung kudeta? Ternyata adalah Negara-negara Barat yang berkepentingan, termasuk Amerika Serikat.

Kini, mereka pulalah yang menginginkan rezim Bashar al-Assad yang anti demokrasi itu bubar. Bagi Barat (dan Amerika termasuk di dalamnya), demokrasi adalah tuhan. Sehingga ketika sebuah rezim di sebuah kawasan dinilai tidak demokratis, cenderung tiran, maka rezim itu harus digulingkan.

Berbeda dengan itu, kaum mujahidin yang berperang melawan rezim Bashar al-Assad, adalah dalam rangka membela akidah, menggulingkan pemerintahan syi’ah yang tiran, sehingga akidah Muslim di kawasan itu terjaga. Jadi, tidak benar penilaian yang mengatakan bahwa para pejuang itu dibiayai atau menjalani agenda Barat. Mereka punya agenda sendiri-sendiri: yang satu demi demokrasi, yang satu demi akidah.

Lagi pula, yang menghendaki rezim Bashar al-Assad tetap eksis juga dari kalangan kafirin komunis, yaitu Rusia dan Cina, serta Venezuela, sebuah negara di ujung utara Amerika Selatan yang mayoritas penduduknya non Muslim.

Salah satu tokoh syi’ah yang juga getol membela rezim syi’ah laknatullah Bashar al-Assad adalah Dina Y. Sulaeman, kelahiran Semarang 30 Juli 1974. Lulusan Fakultas Sastra Arab Universitas Padjadjaran tahun 1997 ini, pada 1999 memperoleh beasiswa S2 dari pemerintah Iran untuk belajar di Faculty of Teology, Tehran University.

Jadi, jelas doktrin syi’ah sudah merasuk ke dalam diri Dina. Apalagi, selama lima tahun (2002-2007), Dina bekerja sebagai jurnalis di Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB). Kekentalan doktrin syi’ah semakin menyatu dengan akidah Dina, ketika ia berjodoh dengan Otong Sulaeman, lulusan Qom yang juga bekerja di IRIB.

Kini, Dina berkiprah sebagai Research Associate di The Global Future Institute (GFI), yang berdiri sejak 11 Oktober 2007. Salah seorang pendirinya, Hendrajit, adalah sosok kelahiran Jakarta 8 September 1963, alumnus Fakultas Sosial-Politik Universitas Nasional, yang pernah bekerja sebagai wartawan Tabloid Detik (1992-1994) pimpinan Eros Djarot. Mudah-mudahan bukan propagandis syi’ah.

Militansi Dina terhadap paham sesat syi’ah laknatullah tetap terjaga meski ia tidak lagi bekerja untuk media yang secara resmi menyuarakan pembelaannya terhadap syi’ah dan rezim syi’ah yang sedang berkuasa di sebuah negara.

Di GFI, Dina memanfaatkan betul posisinya untuk menyuarakan lebih lantang visi dan misinya sebagai propagandis syi’ah laknatullah. Apalagi, GFI merupakan media online berbahasa Inggris, sehingga dapat lebih efektif menjangkau sasaran masyarakat berbahasa Inggris, yang negaranya secara resmi menghendaki rezim Bashar al-Assad tumbang.

Salah satu upaya Dina adalah mewawancarai Agus Nizami, yang selama ini menolak disebut berpaham syi’ah namun selalu mendukung syi’ah. Agus Nizami, yang bukan ulama ini, oleh Dina dikesankan sebagai tokoh Islam yang layak kutip untuk mendukung visi misinya mempropagandakan syi’ah, mendukung rezim syi’ah laknatullah Bashar al-Assad.

Sebelumnya, Dina mewawancarai jurnalis senior Syria yang mendukung rezim syi’ah laknatullah Bashar al-Assad. Dina mengaku merasa beruntung bisa mewawancarai sosok yang bernama samaran As-Souri ini. Namun ketika ia ditawarkan untuk diperkenalkan dengan sosok aktivis atau jurnalis yang berseberangan dengan rezim syi’ah laknatullah, Dina menolak. “… ngapain saya repot-repot wawancara jurnalis pro-pemberontak?”

Nah, semakin jelas posisi Dina. Ia memang propagandis syi’ah laknatullah, ia membela Bashar al-Assad, seraya menyebut lawannya sebagai pemberontak. Ini barangkali sebuah indikasi, bahwa propagandis syi’ah di Indonesia semakin terbuka, berani, kurang ajar, dan ngelunjak. (haji/tede/nahimunkar.com)

(Dibaca 4.520 kali, 1 untuk hari ini)