Jakarta|Harian88 – Pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung yang masuk dalam investasi jangka panjang dipertanyakan keuntungannya.

Pengamat ekonomi politik Salamuddin Daeng mengatakan, pembangunan kereta cepat sangat membahayakan karena lebih banyak membawa keuntungan bagi investor dari China, sementara Indonesia tidak akan mendapat keuntungan sedikitpun.

Salamuddin menegaskan pada proyek tersebut pemerintah Indonesia melalui beberapa BUMN, diharuskan membayar seluruh biaya investasi tersebut mulai dari upah pekerja, biaya bahan seperti besi dan armada. Seluruhnya dibayarkan menggunakan dolar Amerika. Sementara itu, Indonesia hanya mendapatkan pemasukan dari penjualan tiket yang patokan harganya menggunakan rupiah.

“Jadi kita mendapatkan bayaran rupiah dari warga yang menggunakan kereta cepat untuk membayar hutang investasi menggunakan dolar, tentu ini harus diwaspadai,” ujarnya dalam diskusi ‘Percepatan Pembangunan Infrastruktur VS Restrukturisasi BUMN’ yang di selenggarakan oleh Jaringan Rakyat Peduli BUMN (JRP BUMN) di Jakarta, Minggu (31/1), seperti diberitakan rmol.co.

Lebih lanjut Kepala Pusat Kajian Ekonomi Politik Universitas Bung Karno ini mengatakan, pengerjaan proyek kereta cepat hanya membangkitkan usaha dalam negeri China, sebab seluruh komponen di buat di negara tersebut. Mulai dari pembuatan besi untuk rel hingga teknologi keretanya. Dengan demikian Indonesia tidak mendapatkan apa-apa.

“Ini yang harus diketahui oleh masyarakat Indonesia, bahwa ada sisi gelap dari proyek pembangunan kereta cepat Jakarta Bandung,” tuturnya.

Lebih lanjut yang menjadi pertanyaan adalah mengapa pembangunan tersebut di jalur Jakarta-Bandung yang selama ini sudah ada moda transportasi yang memadai. Mulai dari kereta dan tol yang membuat waktu tempuh Jakarta-Bandung bisa lebih cepat.

“Harusnya jika memang ingin membangun infrastruktur kenapa tidak di lokasi yang belum tersentuh sama sekali misalnya jalur strategis jarak jauh Jakarta-Surabaya,” demikian Salamuddin. [rmol/88]

By: harian88.com/Jan 31, 2016

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.979 kali, 1 untuk hari ini)