Persaudaraan Alumni (PA) 212 resmi mempolisikan Sukmawati Soekarnoputri ‎dengan nomor laporan: LP/455/IV/2018/Bareskrim Polri tertanggal 4 April 2018 atas dugaan tindak pidana penistaan agama Islam melalui puisi yang dibacakan pada ajang Indonesia Fashion Week 2018.

Pelapor bernama Dedi Suhardadi mengatakan pihaknya tidak terima jika kidung Ibu pada bait puisi yang dibacakan Sukmawati disamakan dengan azan masjid.

Juru Bicara Persaudaraan Alumni 212, Novel Bamukmin menilai, puisi berjudul ‘Ibu Indonesia’ yang dibacakan Sukmawati itu lebih parah dibandingkan pidato mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang menimbulkan reaksi di kalangan umat muslim. Lantaran itu, pihaknya tidak akan tinggal diam dengan orang-orang yang dianggapnya telah menistakan agama Islam.

Menurut dia, pidato Ahok itu bersifat spontan dan dilontarkan di hadapan komunitas tertentu, bukan di publik. Sementara puisi Sukmawati dibacakan di acara resmi yang tentunya membutuhkan latihan dan persiapan khusus. Hal itu dibuktikan saat dibacakan juga menampilkan teks puisi.

“Dari sisi hukum ini lebih parah dari Ahok, ini tersistem, secara masif ini dipersiapkan untuk bisa menyerang azan dan cadar, ini kalamullah yang diserang. Sementara Sukmawati yang kita yakini hingga kini KTP-nya Islam,” ujarnya.

Sebelumnya, puisi berjudul “Ibu Indonesia” dibacakan Sukmawati Soekarnoputri di acara 29 tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018, di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Rabu, 28 Maret 2018. Puisi itu menuai kontroversi lantaran menyinggung-nyinggung soal azan dan cadar.

Sumber: viva.co.id/ muhammad adib

***

Persaudaraan Alumni 212 Polisikan Sukmawati Soekarnoputri

Sukmawati Soekarnoputri – Istimewa

JAKARTA – Persaudaraan Alumni (PA) 212 resmi mempolisikan Sukmawati Soekarnoputri ‎dengan nomor laporan: LP/455/IV/2018/Bareskrim Polri tertanggal 4 April 2018 atas dugaan tindak pidana penistaan agama Islam melalui puisi yang dibacakan pada ajang Indonesia Fashion Week 2018.

Pelapor bernama Dedi Suhardadi mengatakan pihaknya tidak terima jika kidung Ibu pada bait puisi yang dibacakan Sukmawati disamakan dengan azan masjid.

Menurutnya, suara azan masjid dinilai sangat sakral dan tidak bisa disetarakan dengan kidung Ibu pada puisi yang berjudul Ibu Indonesia.

“Alhamdulilah kami sudah melaporkan Sukmawati hari ini ke Bareskrim Polri. Saya tidak terima dia menodai agama saya, ketia suara azan itu dia bandingkan dengan kidung Ibu,‎ itu tidak sebanding. Suara azan itu lebih mengusik hati saya dan kidung Ibu adalah produk budaya,” tuturnya, Rabu (4/4/2018).

Dia mengaku pihaknya tidak akan memaafkan Sukmawati Soekarnopteri, meskipun anak Presiden Soekarno tersebut sudah meminta maaf sembari menangis. Pasalnya, dia menegaskan Sukmawati dinilai telah melukai hati umat Islam karena membanding-bandingkan suara azan dengan kidung Ibu dan membandingkan cadar dengan budaya Indonesia.

“Saya tidak terima dia bandingkan cadar dan suara azan dengan budaya Indonesia, karena itu kami melaporkan Sukmawati ke Bareskrim Polri hari ini,” katanya.

April 04/ 2018 17:33 WIB Oleh :Sholahuddin Al Ayyubi

Tag : penistaan agama

Editor : Nancy Junita/ kabar24.bisnis.com

(nahimunkar.org)

(Dibaca 431 kali, 1 untuk hari ini)