ilustrasi ermslm


JAKARTA – Puisi “Ibu Indonesia” yang dibacakan tokoh politik senior yang juga adalah putri Proklamator Bung Karno kian menimbulkan kontroversi. Banyak pihak merespon kasus tersebut. Salah satunya adalah Anies Matta yang merupakan salah satu bakal Calon Presiden (bacapres) dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Menurut Anis Matta, kasus puisi “konde dan kidung vs cadar dan adzan” Sukmawati Soekarnoputri sangat menyakiti umat Islam dan kian memperdalam pembelahan di tengah anak bangsa.

“Kasus ini dampaknya bisa lebih besar dari kasus penodaan agama yang dilakukan oleh Ahok. Sebab luka di kalangan umat, akibat kasus Al Maidah hingga kini belum sembuh. Jadi semacam luka di atas luka,” tegas Anis.

Fenomena puisi Sukma dalam analisis Anis Matta, menunjukkan adanya kekhawatiran atas gelombang kebangkitan umat Islam Indonesia secara sosial dan politik.

“Banyak yang berpikir seperti Sukma, dan Ahok. Namun ada yang terucapkan, ada yang tidak,” imbuh tokoh muda asal Sulawesi Selatan itu.

Anis Matta sendiri sangat menyayangkan apabila tokoh sekelas Sukmawati Soekarnoputri tidak peka dengan soal yang sangat sensitif, dan bahkan terkesan menantang umat Islam.

Pembacaan puisi, tidak bisa disebut sebagai keseleo lidah. Sebagai penulis, Anis Matta sangat paham, bahwa puisi mencerminkan perasaan yang sangat dalam dari seseorang.

Sementara membacakan puisi adalah sebuah ekspresi dan pesan yang sangat kuat yang ingin disampaikan kepada publik.

Melihat besar dan massifnya reaksi yang muncul, Anis Matta menduga kasus ini bisa mendorong munculnya kembali Aksi Bela Islam (ABI) yang melahirkan peristiwa fenomenal 411 dan 212.

(bm/bti)/cakrawarta.com April 3rd, 2018, 5:01 pm

***

Puisi Sukmawati Dinilai Politisi Hanura Lebih Parah dari Pidato Ahok

Badriyanto, Jurnalis · Kamis 05 April 2018 06:33 WIB

JAKARTA – Ketua DPP Hanura Amron Asyhari menilai puisi Sukmawati Soekarnoputri lebih parah dibandingkan dengan pidato mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Kepulauan Seribu. Dengan demikian, Sukmawati layak dilaporkan karena dianggap menistakan Agama Islam, sama seperti Ahok.

Amron menjelaskan, pidato Ahok yang menyadur Surat Almaidah Ayat 51 itu bersifat spontan atau tanpa disengaja sebelumnya. Berbeda dengan puisi Sukmawati yang dibacakan di Jakarta Convention Center (JCC) saat acara Fashion Week 2018, tentu telah dipersiapkan sebelumnya, bahkan dimungkinkan ada latihan terlebih dahulu.

“Terus terang ini lebih parah dari pada kasus Ahok, kalau Pak Ahok itu kan otodidak, dia responsif. Kalau puisi itukan sesuatu yang ditulis, dikarang, lalu dituangkan dalam bentuk tulisan, setelah itu dibacakan, artinya kan sudah terkonsep. Beda dengan kasus Ahok,” ungkap Amron saat dikonfirmasi Okezone, Kamis (5/4/2018).

Amron merupakan salah satu orang yang turut melaporkan Sukmawati ke Polda Metro Jaya atas tuduhan penistaan Agama. Ia menegaskan, laporan itu dibuat bukan atas nama partai Hanura melainkan inisiatif pribadi sebagai umat muslim yang merasa keberatan dengan puisi Sukmawati.

Amron juga menegaskan, tidak akan mencabut laporannya meski putri Soekarno itu telah menyesali perbuatannya dan resmi meminta maaf kepada umat Islam, bahkan sambil meneteskan air matanya. Menurut Amron, kasus itu harus berlanjut agar menjadi pelajaran bagi orang lain supaya berhati-hati dengan agama.

“Kalau secara manusia, saya sudah memaafkan, tetapi hukum itu tidak seperti itu, rusak hukum kalau seandainya semuanya selesai dengan kata permintaan maaf, jadi biarkan ini mengalir biarkan polisi melakukan lidik dan sidik,” pungkas Amron.

Sebelumnya, Rabu 4 April kemarin Sukmawati secara resmi menyampaikan permohonan maaf kepada umat Islam di seluruh Indonesia yang merasa tersinggung dengan puisinya. Sambil berderai air mata, ia mengaku tidak ada niat sedikitpun untuk menghina umat Islam di Indonesia.*/(muf)/ news.okezone.com

***

Anggota DPR: Puisi Sukmawati Sama Seperti Kasus Penistaan Agama AHOK

zahid – Selasa, 18 Rajab 1439 H / 3 April 2018 16:30 WIB

Eramuslim – Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Muslim Ayub menilai puisi Sukmawati Soekarnoputri yang dibacakan pada acara 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018 menggambarkan orang yang dangkal agama.

“Makanya, dia tidak tahu apa syariat. Kalau dia mendalami apa itu syariat dia tidak akan membuat (ulah) yang demikian. Mungkin, pendalaman agamanya kurang, itu saja. Saya menyikapi begitu saja. Makanya, bagi saya, itu tidak usah diperdebatkan. Kita anggap saja pendangkalan, akidahnya kurang,” kata Muslib di komplek parlemen, Jakarta, Selasa (3/4/2018).

Namun demikian, kata dia, tak bisa dipungkiri puisi yang menimbulkan kontroversial karena diduga menghina azan dan cadar itu telah melukai hati umat Islam di Tanah Air.

Politisi asal Dapil Aceh ini menyebut, bagaimana pun puisi tersebut tidak pantas membandingkan antara konde dengan cadar lalu azan disamakan dengan kidung.

Ia pun berpendapat, tindakan Sukmawati tidak jauh beda dengan kasus yang menimpa mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Poernama alias Ahok.

“Saya sudah beberapa kali ditelepon dari daerah. ‘Kenapa Ahok dikategorikan penghinaan agama? Ini sebenernya Ahok dengan ini (puisi Sukmawati) tidak jauh beda tipis ini’,” katanya./eramuslim.com

(nahimunkar.org)

(Dibaca 304 kali, 1 untuk hari ini)