PERAWATAN – Sejumlah anak yang mendapatkan perawatan di Puskesmas Seteluk setelah divaksin rubella. (Suara NTB/ist)


Taliwang (Suara NTB) – Puluhan siswa dari sejumlah sekolah di kecamatan Seteluk terpaksa dilarikan ke Puskesmas setempat, Rabu, 1 Agustus 2018. Mereka mengeluh sakit setelah sebelumnya mengikuti imunisasi rubella yang dilaksanakan di sekolahnya.

Informasi yang diperoleh Suara NTB, para siswa tidak langsung merasakan keluhan sakit sesaat setelah menjalani imunisasi. Mereka baru ada yang merasakan gejalanya saat sekolah usai dan pulang ke rumah masing-masing. Di rumah mereka baru mulai merasakan pusing, mual, hingga ada muntah-muntah.

Para orang tua mereka pun langsung panik dan melarikan anak-anaknya ke Puskesmas Seteluk. Di Puskemas anak-anak yang terdiri dari siswa SD dan SMP ini kemudian mendapatkan perawatan dengan cara diinfus agar kondisinya kembali normal.

Pihak Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) yang dikonfirmasi mengenai kejadian itu tidak menampiknya. Kabid Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P), H. M. Yusfi Khalid yang dikonfirmasi wartawan, mengatakan, pihaknya telah menerima laporan tersebut dan melalui Puskesmas Seteluk telah diberikan penanganan langsung. “Sudah ditangani dan informasinya sebagian anak sudah bisa pulang karena kondisinya sudah stabil,” terangnya.*/www.suarantb.com/2 Agustus 2018 17:55

***

Imunisasi MR Ditunda bagi Masyarakat Muslim, karena Belum Jelas Halalnya

Posted on 6 Agustus 2018 – by Nahimunkar.com

“Menkes RI menunda pelaksanaan imunisasi MR bagi masyarakat muslim sampai ada kejelasan hasil pemeriksaan dari produsen dan ditetapkan fatwa MUI. Sementara untuk masyarakat yang tidak memiliki keterikatan tentang kehalalan/kebolehan secara syar’i,  tetap dilaksanakan,” kata Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Niam Sholeh, dalam keterangannya, di Jakarta,  (3/8/2018).

Inilah beritanya.

***

Pertemuan MUI dan Menkes RI Hasilkan Kesepakatan Soal Vaksin MR

JAKARTA (voa-islam.com), Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) melaksanakan silaturrahim dan pertemuan dengan Pimpinan MUI untuk konsultasi keagamaan dan permohonan fatwa tentang imunisasi MR yang diprogramkan Pemerintah.

Pertemuan dilaksanakan pada Jumat lalu (3/8/2018) selepas shalat Jumat, di lantai 2 Kantor MUI Jl. Proklamasi Jakarta mulai pukul 13.15 – 14.45 WIB.

“Pertemuan ini merupakan inisiasi kedua belah pihak,  sbg komitmen untuk menjamin kesehatan masyarakat dan menjamin hak beragama. Kemenkes mengajukan surat permohonan konsultasi keagamaan tanggal 24 Juli 2018, dan MUI bersurat kepada Menkes pada 25 Juli 2018,” kata Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Niam Sholeh, dalam keterangannya, Jakarta,  (3/8/2018).

Dalam pertemuan tersebut, lanjut Niam, hadir dari MUI Ketua Umum MUI KH. Ma’ruf Amin, Wakil ketua umum,  beberpa ketua dan wakil sekjen MUI,  Direktur dan beberapa wakil direktur LPPOM MUI, serta Sekretaris, bbrpa wakil sekretaris dan anggota Komisi Fatwa. Sementara dari Kemenkes,  hadir Menkes Ibu Nila Muluk,  Dirjen P2P,  Staf Ahli,  serta Dirut PT. Biofarma selaku importir vaksin MR yang digunakan untuk program imunisasi MR. Rapat dipandu oleh Direktur LPPOM dan diberikan arahan langsung Ketua Umum MUI.

“Dalam pertemuan tersebut,  MUI,  sesuai Fatwa Nomor 4/2016 menjelaskan: (i) Imunisasi pada dasarnya dibolehkan (mubah) sebagai bentuk ikhtiar untuk mewujudkan kekebalan tubuh (imunitas) dan mencegah terjadinya suatu penyakit tertentu. (ii) Vaksin untuk imunisasi wajib menggunakan vaksin yang halal dan suci,”jelas Niam.

Kemudian, (iii) Penggunaan vaksin imunisasi yang berbahan haram dan/atau najis hukumnya haram. (iv) Imunisasi dengan vaksin yang haram dan/atau najis tidak dibolehkan
kecuali:

a. digunakan pada kondisi al-dlarurat atau al-hajat;
b. belum ditemukan bahan vaksin yang halal dan suci; dan
c. adanya keterangan tenaga medis yang kompeten dan dipercaya bahwa tidak ada vaksin yang halal.

Dalam forum tersebut, sambung Niam, dijelaskan mengenai permasalahan yang muncul untuk memperoleh jalan keluar, di antaranya:

a. Produk vaksin MR belum dimohonkan sertifikasi halal, sehingga belum ada pemeriksaan. Dg demikian tidak bisa dikatakan bahwa vaksin yg diproduksi Serum Institut of India (SII) tersebut halal atau haram. Kemenkes berkomitmen untuk memperhatikan aspek keagamaan dalam pelaksanaan imunisasi MR dg konsultasi dan peemhonan fatwa.

b. Adanya keresahan masyarakat mengenai kesimpangsiuran informasi tentang kehalalan perlu segera direspon secara bijak dan agar ada kepastian serta ada panduan keagamaan yang tepat.

5. Beberapa kesepakatan yang menjadi hasil pertemuan adalah:

a. Menkes dan Dirut PT Biofarma sbg importir vaksin MR produksi SII berkomitmen untuk segera mengajukan sertifikasi halal atas produk vaksin MR dan permohonan fatwa tentang pelaksanaan imunisasi MR.

b. Menkes RI atas nama negara mengirim surat ke SII untuk memberikan dokumen terkait bahan-bahan produksi vaksin dan akses untuk auditing guna pemeriksaan halal.

c. Komisi Fatwa, atas permintaan Kemkes akan segera membahas n menetapkan fatwa ttg imunisasi MR dengan menggunakan vaksin MR produk SII dalam waktu secepatnya.

“D. Menkes RI menunda pelaksanaan imunisasi MR bagi masyarakat muslim sampai ada kejelasan hasil pemeriksaan dari produsen dan ditetapkan fatwa MUI. Sementara untuk masyarakat yang tidak memiliki keterikatan tentang kehalalan/kebolehan secara syar’i,  tetap dilaksanakan,” tandasnya. (bil/voa-islam)

voa-islam.com, Ahad, 24 Zulqaidah 1439 H / 5 Agutus 2018 21:32 wib

***

Berita Okotober yang lalu ini perlu disimak kembali.

***

Korban-Korban Imunisasi MR

Saturday, 14 October 2017, 10:07 WIBbyzuhdi

Foto: Istimewa

Kaidah-kaidah dalam ushul fiqih dapat digunakan ketika tidak ada nash yang menjelaskan suatu hal secara eksplisit. Sayangnya, mayoritas umat Islam lebih mendalilkan amal daripada mengamalkan dalil

Wartapilihan.com, Jakarta –Permasalahan mengenai kontroversi vaksin tidak kunjung tuntas dan banyak pengaduan kepada komunitas halal. Salah satunya Halal Corner dan Tanya ASI seputar kehalalan vaksin, KIPI, sweeping pada beberapa sekolah/daerah yang cakupan target vaksinasinya rendah dan ancaman pada pihak yang tidak mau divaksin.

“Kami dari Komunitas Halal Corner sangat khawatir dengan kondisi yang ada akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Kami meminta MUI untuk bertindak tegas pada Kementerian Kesehatan RI dan PT. Biofarma beserta nakes agar tidak sewenang-wenang dalam self claim status kehalalan produk vaksin yang akan diedarkan pada masyarakat,” ujar CEO Halal Corner Aisha Maharani kepada Wartapilihan.com di Jakarta, Jumat (13/10).

Aisha meminta MUI untuk bertindak tegas pada Kementerian Kesehatan RI agar memperhatikan masalah KIPI yang sudah menelan banyak korban dan tidak menutupi fakta lagi adanya KIPI.

“Kami berharap MUI menghentikan kegiatan sweeping pada sekolah atau daerah yang rendah cakupan target vaksinasinya dan menghormati pilihan tidak memvaksin anaknya tanpa disertai ancaman dari pihak nakes,” tegasnya.

Berikut 13 kasus –dari 24 kasus KIPI (kejadian ikutan pasca imunisasi)– vaksin measles dan rubella (MR) Tahun 2017 yang diterima Warta Pilihan dari Komunitas Tanya ASI For Thinker Parents:

  1. Niken Angelia, SMPN 4, Demak.
    Kronologis : siang vaksin, malam mulai pegal dari pinggang hingga kaki, hingga lumpuh. Dirawat lebih dari seminggu di RS NU Demak. Diduga ada 3 siswa lain yang drop setelah vaksin, tetapi tidak separah Niken.
    Ketua Pokja KIPI menyangkal lumpuhnya Niken akibat vaksin.
    Sumber berita : tribunews
  2. No name. Siswi SMP Sukaresmi 1.
    Kronologis : Pagi itu seperti biasanya anak-anak SMP SUKARESMI 1 berangkat sekolah. Kira-kira jam 08.30 nakes datang ke sekolah. Anak-anak dikurung di kelas masing-masing dan dijaga ketat oleh guru. Semua murid disuntik MR RUBELLA CAMPAK, kecuali anak yang kabur pulang. Selesai vaksinasi,anak-anak tidak menunjukan gejala apa-apa. Sampai di rumah, si anak vaksin muntah, keringetan, ruam, gatal dan jatuh pingsan. Hari itu juga si anak dibwa ke puskesmas kata nakes disana kerena meningtinitis. Penyakit ini sudah ada sebelum vaksin kata nakes. Akhirnya si anak dirujuk ke Alinda Husada Klinik. Tapi si anak menghembuskan nafasnya yang terakhir. Masyarakat yang vaksin percaya kalau itu bukan kerena vaksin.
    Sumber berita : seorang ibu di grup TAFTP
  3. Krisna, kelas 8 SMP 2 Lumajang.
    Kronologis : “saudara sepupu ipar pingsan di sekolah dan sekarang 4 hari koma, sempat dinyatakan meninggal, tapi alhamdulillah Tuhan masih sayang, setelah dilakukan CT scan dan cek lab, dokter tidak menemukan penyakit dan kerusakan organ dalam dan tidak pernah punya riwayat penyakit, sebelumnya di sekolah dapat vaksin rubella, apakah itu penyebabnya?”
    Sumber berita : status seseorang di FB (nama : Hanz) yang kemudian status ini diedit berkali2 oleh yang bersangkutan dikarenakan RS melarangnya untuk menyebarkan di medsos. Bukti asli masih kami simpan. Update tgl 30 agustus, anak tersebut belum juga sadar. Dokter masih belum tahu penyakitnya apa. Keluarga sudah pasrah. Dokter memvonis lumpuh.
  4. No name. Ciledug, Haji Mencong, Jakarta.
    Kronologis : “tetangga saya setelah vaksin MR padahal tidak pernahmenderita sakit apapun. Sebelum disuntik MR pun sehat walafiat. Tetapi setelah vaksin, anak tsb pingsan, setelah sadar dia mengeluh dadanya sakit, badan pada kaku, muntah. mohon dibantu share @asianparent_id bagaimana kami tidak cukup resah dgn adanya berbagai macam keluhan vaksin MR untungnya pihak WHO (mungkin maksudnya pihak dinkes) langsung bertandang ke rumah alm. kami sekeluarga syok banget dengar kabar tetangga kami tersebut meninggal, pihak pemerintahan mau janji datang lagi, di tunggu phk almh tdk dtng jg smpi detik ini, gimana kami mau percaya sm vaksin sprti ini, maaf sy bcra begini karna kita tau ank2 kita sebenarnya sehat2 saja, mana tau ada menigitis, atw penyakit yg di luar dugaan kita bun, ttpi stlh si almh di vaksin hr itu jg dia pingsan, mengeluhkan dadanya skt, badan kaku semua..semoga almh tenang berada di Surga Aamin Yaa Rabbal Al’aamin ”
    Sumber berita : Komentar seseorang di ig asianparent_id.
  5. Guna (ghina?) Naziba Yasmin. 11 tahun. SDN Sentul I. Warga Desa Nutug RT 03/RW 06, Kecamatan Citeuteup, Kabupaten Bogor.
    Kronologis : (dari tutur sang Ibu) 9 Agustus disuntik vaksin rubella di sekolahnya.
    Tiga hari pasca disuntik vaksinasi Ghina mengalami buang air besar hebat 2 hari, setelah itu anak saya sekolah seperti biasa tetapi sambil kakinya diseret, ketika saya tanyakan katanya kakinya sakit, sebelum disuntik anak saya baik-baik saja dan sehat, tidak ada yang aneh pada diri anak saya, tetapi pasca disuntik kok malah anak saya sakit”.
    Bukan itu saja, keluarga juga seperti dilarang membeberkan kejadian yang menimpa anaknya itu kepada publik.
    “Dokter tidak menjelaskan tentang penyakit anak saya, bahkan setelah anak saya meninggal dunia saya diminta pihak rumah sakit untuk tutup mulut,” terangya.Seminggu setelah mendapatkan suntikan imunisasi rubella di sekolahnya SDN Sentul I, tiba tiba Ghina lumpuh, Karena panik, sang ibu mengajak paman korban ke rumah sakit. Namun beberapa rumah sakit yang didatangi selalu menolak dengan alasan keterbatasan alat.

“Kami ke RS Insani, Annisa, Trimitra, RSUD Cikaret, saat kami sebutkan lumpuhnya anak kami setelah imunisasi mereka angkat tangan. Baru kemudian kami ke Sentra Medika diterima dan di sana anak saya meninggal setelah sempat dirawat,

Hasil pemeriksaan : Dinkes memastikan berdasarkan hasil audit, Ghina meninggal bukan karena imunisasi rubella, melainkan terkena infeksi otak. tidak ada kaitan antara vaksinasi MR dgn kematiannya. Hasil pemerikasaan dokter RSSM, laboratorium, rontgen, MRI, cek cairan otak menunjukkan adanya infeksi otak (encefalomyelitis).
Sumber berita :
jabar pojoksatu

  1. 8 Balita dirawat di rumah sakit, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.
    Kronologis : Dari 125 laporan efek samping ringan mulai dari demam, muntah dan diare yang cukup diberikan obat, dapat sembuh. Sementara 8 sasaran yang rata-rata balita, terpaksa dirawat di puskesmas atau rumah sakit karena mengalami penurunan kondisi tubuh. (Hendro Subagyo, Kasi Imunisasi dan Surveilan Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar). menurut Hendro semua laporan itu sudah ditindaklanjuti dan sudah ditangani tim kesehatan dan dinyatakan sembuh. Hendro mengaku rata-rata mereka yang terkena efek samping karena saat imunisasi dalam kondisi kurang sehat tetapi enggan mengatakan kepada petugas imunisasi.
    Sumber berita : news detik
  2. Arya Dimas, 4 tahun, warga Dusun Besole Desa RT 1 RW 3 Desa Darungan, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Kronologis : Tgl. 15 Agustus vaksin MR, Dimas masih bisa bersekolah dan melakukan kegiatan seperti biasanya. Tgl. 17 agustus, Dimas mengalami muntah, diare, serta kejang.

Balita itu mengalami demam tinggi selama tiga hari. Keluarganya lalu membawanya ke RS Aminah di Kota Blitar hingga akhirnya jiwanya tak tertolong.

Menurut Kades : pelaksanaan teknis imunisasi di desanya mulai awal sampai akhir, tidak ada kendala dan tidak ada kesalahan. Yang tangani ini bidan senior. Dan bidannya bilang, anak ini siap mendapat imunisasi. Badannya sehat dan tidak ada masalah. Laporan dari Dinkes Provinsi, Dimas memang memiliki riwayat GE (Gastroenteritis) atau penyakit infeksi pada perut. Kata Krisna, imunisasi MR tersebut waktunya bersamaan atau berdekatan dengan sakit GE.

Ortu korban tidak dapat ditanyai dikarenakan duka yang mendalam.

Tujuh hari pasca meninggalnya Dimas, Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar menyatakan jika penyebab kematian Dimas bukan karena dampak atau kejadian ikutan pasca imunisasi (Kipi) MR.

Sumber berita : Detiknews, Kumparan

  1. Adik dari salah seorang pemilik account di FB sehabis suntik MR, kulit melepuh. bukti SS masih kami simpan, karena sesudah beliau upload foto keadaan adiknya, postingan gak lama menghilang dikarenakan desakan publik.
  2. Fajrik (lelaki), kec rowosari kendal, Jawa Tengah. antara kelas 1 atau 2 SD tantenya kebetulan kurang ingat.
    Kronologis : Setelah imunisasi badan nya panas . Secara biasanya si ibu memberikan parasetamol. Kurang faham parasetamol nya dari bidan yg mengimunisasi ato beli sendiri . ( si kakak nya bekerja di apotik . Jadi kami yakin tidak ada istilah kadaluarsa parasetamol nya ato salah beli parasetamol . Tapi kerabatku bilang parasetamol nya dari si bidan yang memberikan imunisasi )
    dari imunisasi sampe hari ke 5 panas juga belum turun dan badan mulai melepuh sekujur tubuh sampe mata nya melepuh ber air .
    Lalu di bawa ke rumah sakit MONTONG ( montong nama desa lokasi rumah sakit terdekat . Kami biasa menyebut RS montong jadi saya lupa nama RS nya apa ) di rs montong hanya beberapa jam saja lalu pihak rumah sakit merujuk di RS yang agak besar . RS kendal ( lupa juga nama RS nya apa )
    di RS kendal belum genap 3 hari . Pihak RS kendal menyerah dan merujuk ke rumah sakit yg lbh besar lagi RS SEMARANG . Dan di rs semarang langsung di ruang isolasi ( kurang faham pernah masuk ruang isolasi ato tdk )
    di ruang isolasi pasien dilarang bertemu dengan orang lain karena keringat orang lain akan berdampak tdk baik buat pasien. Setiap pernah sekeluarga datang menengok sipasien . Dokter langsung bilang diharap jangan pada nengok karna setiap orang keluar masuk menjenguk si pasien. Badannya tambah panas. Mungkin karna kulit nya infeksi. Tidak bisa makan dan minum karna mulut nya terkena radang. Mungkin karena panas nya suhu dan mulut mengeluarkan darah. Jadi makan n minum lewat selang di hidung. Sampe sekarang nasih diruang isolasi. Dan biaya RS di tangung pemerintah. Dokter tidak berani mengklaim karena efek imunisasi . Dokter cenderung bilang mungkin karna efek parasetamol.
    Sebagai catatan., keponakan saya tidak mempunyai alergi kulit dan tidak tercatat punya penyakit apa-apa atau penyakit keturunan pun tidak.
    Kami pasrah mungkin lagi di uji oleh Allah mengingat 2 ponakan yang lain yang divaksin tidak apa apa. Melepuh nya sudah kering sehingga terlihat merah merah kayak bekas terbakar . Sekalian minta doa nya semoga cepat diberi kesembuhan. Amien. Total dia panas sudah 3 minggu dr semenjak imunisasi.
    Tgl 1 sept (update)
    Fajrik masih di ruang isolasi, menunggu hingga radangnya membaik. Radang di mulut membuat Fajrik susah makan lewat mulut. Tapi alhamdulillah ngga rewel. Bekas-bekas melepuh di tubuh juga mulai kering. Semoga berangsur membaik.
    Sumber Berita : Shannaz Nur Tracak (tante korban)
  3. Sarifah Paradika. 11 tahun. Siswi kelas V SD Negeri Jogoyudan 2 Lumajang Jawa Timur.
    Kronologis : setelah vaksin di sekolah, sorenya demam tinggi hingga kejang, keluar air seni tak beraturan sebelum akhirnya meregang nyawa. Sarifah sempat mendapat penanganan medis dari Puskesmas Kota dan dirujuk ke RSI. Kepala Dinkes Lumajang mengatakan bahwa pihaknya telah melaksanakan prosedur imunisasi dengan benar. Sebelumnya korban pernah sakit seminggu sehingga tdk masuk sekolah. Namun ketika vaksin MR, sang ibu memaksanya ke sekolah untuk ikut vaksin.
    Sumber berita : suarajatimpost
  4. Anak tetangga mbak alicia (facebook). desa grinting kec tulangan sidoarjo.
    Kronologis : anak lelaki 1,5 tahun. masuk icu rs siti fatimah tulangan sidoarjo , Rabu tgl 6 di vaksin di posyandu, kamis pagi panas, siang step langsung di bawa ke icu, isya baru sadar. Sebelum vaksin ada batuk ringan.
    Sumber berita : mbah anak tersebut melalui mbak alicia di komentar trit grup tanya asi..
  5. Nana Puspita Sari. 14 tahun. Siswi SMP Negeri 3 Kasihan Bantul. warga Dusun Nitiprayan, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. keluarga menolak memberikan kronologis.(harianjogja)
    Kronologis dari Solopos : korban menjalani imunisasi Rubella pada Selasa (29/8/2017) lalu. Namun saat itu, kondisi korban tengah tidak vit karena sedikit flu dan demam ringan, ditambah lagi saat itu merupakan masa-masa menjelang menstruasi. Namun lantaran hanya flu biasa korban masih mampu berangkat sekolah. Sepulang sekolah, korban menderita demam tinggi hingga mengalami gejala kelumpuhan di bagian kakinya. Ia sempat berobat ke puskesmas dan dirujuk ke sejumlah rumah sakit. Kondisinya terus memburuk hingga menghembuskan nafas terakhir pada Jumat lalu. Jenazah dimakamkan Sabtu (9/9/2017)
    Nahasnya pada hari yang bersamaan, SMP Negeri 3 Kasihan tengah menggelar imunisasi massal Rubella yang merupakan program nasional. Gadis malang itu tak luput dari tindakan imunisasi seperti rekan-rekannya yang lain, meski saat itu ia sudah memberitahukan kepada petugas imunisasi kondisinya tengah tidak vit.
    Sumber berita : harianjogja, Solopos.
  6. Aisyah Zahira Albaiza (5th) vaksin MR di TK Rabbani Arcamanik Bandung.
    Kronologis :
    Di vaksin di sekolah (TK Rabbani) kamis tgl 24 agustus 2017 dalam keadaan sehat karena yang tidak divaksin hari itu diliburkan. Malamnya langsung panas tinggi 39 C dkasih tempra forte tidak turun-turun, jumat pagi dibawa ke dr. Nurahim dikasih obat tapi panas tetep ga turun.. sabtu pagi dibawa ke RS limijati dgn prof. Mirna dicek lab dbd negatif, mungkin typus dminta lagi cek lab hari senin.. tapi sabtu malam zha (panggilan Albaiza) sudah hilang kesadaran dan kejang2, sang ibu membawanya ke IGD RSIA Graha Bunda dan opname ditangani prof. Hary garna. selama opname cek lab typus negatif, rontgen bagus, dbd ulang msh negatif.. hari senin malam pulang ke rumah karena panas sudah turun dan semua hasil lab negatif.. akan tetapi di rumah kembali panas, sakit perut, dan sakit semua badan, kembali panas tinggi kejang-kejang hilang kesadaran bahkan tertawa2 sendiri.. kembali di bawa ke IGD RS Graha bunda, cek lab dbd lagi karena ada bintik merah tapi hasil tetap negatif hanya trombosit rendah dan ada pengentalan darah.. masuk lagi opname, sampai sini dokter belum kasih diagnosa walaupun sang ibu bilang berulang kali zha panas setelah di vaksin. Selama opname utk bab zha harus dibantu dulkolax.. jadi 3 kali dimasukin via anal. Selama opname zha dicek darah 2 kali sehari pagi dan sore. Sampai akhirnya zha sembuh.. sang ibu mendesak profnya utk mendiagnosa, dan beliau bilang memang ada kemungkinan KIPI. Vaksin gratis, tetapi sang ibu harus mengeluarkan uang sebesar 7 juta rupiah ditambah pengalaman yang sangat mengerikan. Zha baru pertama kali ini kejang seumur hidupnya.
    Sumber berita : Fitri Albaiza (ibu korban), melalui FB.

Ahmad Zuhdi

Sumber : wartapilihan.com

(nahimunkar.org)

(Dibaca 653 kali, 8 untuk hari ini)