PB, JAKARTA – Mesin untuk melakukan sensor di dunia maya senilai Rp. 194 miliar sudah mulai operasikan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Mesin diklaim oleh pihak Kominfo akan bekerja untuk mengawasi sekaligus menjadi “Bom Sampah Digital”.

Istilah Bom Sampah Digital diucapkan oleh Sekretaris Kabinet Pramono Anung. Dari postingan Pramono Anung ternyata yang dimaksud dengan Bom Sampah Digital adalah para politikus yang akan merebut sebuah jabatan, agar berhati hati untuk menyebarkan postingan mereka di dunia maya. Bahkan peringatan Pramono juga ditujukan kepada para pendukung politikus yang dijagokan, karena seluruh yang dilakukan di dunia maya, selain tersimpan rapi, juga akan dikuarkan (mungkin yang dimaksud dikeluarkan) pada saat yang tepat. Namun dengan yang dimaksud dikuarkan, tidak dijelaskan oleh Pramono.

Bagi siapapun yg pengen jabatan politik, dan harus ikut berkompetisi dlm pilihan, hati2 dengan sampah digital yg berkaitan dgn tindakan moralitas akan tersimpan dengan rapi dan akan dikuarkan pada sat yg tepat#BOMSampahDigital #SekedarInfo.” tulis Pramono Anung melalui akunnya @pramonoanung, Kamis (4/1/2018), pada pukul 09.38 wib.

Dari keterangan yang disampaikan oleh Kementerian Kominfo melalui Kepala Sub Direktorat Penyidikan, Arifiyadi, mesin yang dianggarkan sejak bulan Agustus 2017 lalu, mampu melakukan pencidukan jutaan situs dan konten yang dianggap tidak pantas, hanya dengan menggunakan satu kata kunci.

Selain itu mesin yang direncanakan akan dioperasikan oleh 50 orang tenaga operator, akan bisa menghemat waktu untuk mencari serta mengawasi situs serta konten dalam waktu cepat, bahkan kecepatan mengoptimalkan waktu, bisa mempercepat untuk diambil langkah hukum.

Walaupun sudah mengeluarkan anggaran sebesar Rp. 192 miliar, namun mesin tersebut ternyata belum bisa dioperasionalkan secara cepat, karena masih memerlukan tambahan dana sebesar Rp. 72 miliar lagi, yang direncanakan akan dianggarkan pada pengajuan anggaran berikutnya.

Namun dari penelusuran media ini, ternyata tidak diketemukan satupun data mengenai mesin yang diadakan oleh pemenang tender proyek, PT. Indusstri Telekomunikasi Indonesia, baik merek maupun asal pembelian dari negara mana, tidak diketemukan.

Saat ini negara yang sudah melakukan sistim pengawasan dan juga sebagai pengendali situs adalah Amerika, bahkan sistim yang diterapkan oleh pemerintah Amerika menggunakan sistim Deep Packet Inspection, dan sistim langsung melakukan surveillance atau melakukan pantauan sekaligus dilakukan pemblokiran.

Namun menurut salah satu staff Kemenkominfo beberapa waktu lalu ketika memberikan keterangan kepada media, jika sistim yang akan dipakai oleh mesin milik Kemenkominfo ini dengan sistim Crawling, yang dianggap sangat berbeda dengan sistim DPI yang dipakai di Amerika.

Mesin sensor milik Kemenkominfo ini akan mulai mengawasi 9 situs atau konten seperti, Google, Facebook, Twitter, WhatsApp, Blackberry Message (BBM), Telegram, Bigo, Line dan Instagram. Namun tidak menutup kemungkinan situs yang akan diawasi akan bertambah. Bahkan direncanakan setelah mesin diterima, dua hari kemudian langsung mulai beraksi mengawasi para pemakai sosial media. (jall)

Sumber: pembawaberita.com / Jall Jazz Pb

(nahimunkar.org)

(Dibaca 481 kali, 1 untuk hari ini)