Punya Pengharapan Surga kok Shalatnya Asal-Asalan


Orang mau melamar kerja atau bahkan melamar gadis dengan harapan diterima lamarannya, maka segala sesuatunya dipersiapkan sebaik-baiknya. Sikap dan tindakannya begitu hati2, jangan sampai terkesan ceroboh asal-asalan. Karena bila ternyata asal-asalan, kemungkinan besar akan tertolaklah lamarannya. Harapannya jadi hampa hingga bisa merana.

Manusia ini pada dasarnya senantiasa ada pengharapan. Jangan dikira ketika suami istri sudah berumah tangga, tidak ada lagi pengharapan dari istri ke suami dan juga sebaliknya. Tempo-tempo pas ada pengharapan dari istri untuk sang suami, misalnya, maka sang istri akan memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya untuk sang suami. Misalnya sang suami suka sayur mangut (ikan pari dan sebagainya), maka sang istri memasakkannya secara khusus, bahkan diramu sedemikian rupa agar segalanya jadi sempurna, se-enak-enaknya. Setelah disajikan ke sang suami hingga menikmatinya sambil ngiyer2 kelezatan, maka sang istri senyum dan barulah disampaikan sesuatu yang diidam-idamkan.

“Mas, kita sudah lama ga’ nengok Ibu di kampung ya, selama Pandemi 10-an bulan ini. Mumpung kini lagi libur akhir tahun, bagaimana kalau kita silaturrahim ke Ibu di Kampung, ya Mas,” bujuk sang istri ke suami.

Suami yang lagi keenakan menikmati masakan sang istri kesukakannya itu, dengan begitu sayangnya menyetujui permintaan sang istri.

Begitulah kira2 gambarannya.

Bahkan bukan hanya manusia baik2. Manusia jahat, bahkan setan pun punya pengharapan kepada boss penjahat ataupun boss setan yakni iblis.

Misal di gerombolan penjahat, beberapa penjahat lapor ke boss penjahatnya. Boss, kita2 ini udah berhasil bikin koit sekian orang. Boss pun tentunya faham itu. Bisa ga’ kita2 ini dihadiahi jalan2 ke seantero jagat, dan sepulangnya nanti dinaikkan pangkat?

Di kalangan setanpun setan-setan lapor hasil kerja kerasnya ke boss setan yakni Iblis la’natullah, dengan pengharapan untuk mendapatkan pujian dari Iblis. Bila kejahatan si setan sudah mencapai kriteria sangat merusak manusia, maka si setan pun dipuji Iblis.

Silakan simak hadits ini:

Dari Jabir radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُوْلُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَيَقُوْلُ نِعْمَ أَنْتَ

“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut) kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata, “Aku telah melakukan begini dan begitu”. Iblis berkata, “Engkau sama sekali tidak melakukan sesuatupun”. Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, “Aku tidak meninggalkannya (untuk digoda) hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya. Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, “Sungguh hebat (setan) seperti engkau”
 (HR Muslim IV/2167 no 2813)

Jadi perceraian sangat disukai oleh Iblis dan hukum asal perceraian adalah dibenci, karenanya ulama menjelaskan hadits peringatan akan perceraian

Al-Munawi menjelaskan mengenai hadits ini,

إن هذا تهويل عظيم في ذم التفريق حيث كان أعظم مقاصد اللعين لما فيه من انقطاع النسل وانصرام بني آدم وتوقع وقوع الزنا الذي هو أعظم الكبائر

“Hadits ini menunjukan peringatan yang sangat menakutkan tentang celaan terhadap perceraian. Hal ini merupakan tujuan terbesar (Iblis) yang terlaknat karena perceraian mengakibatkan terputusnya keturunan. Bersendiriannya (tidak ada pasangan suami/istri) anak keturunan Nabi Adam akan menjerumuskan mereka ke perbuatan zina yang termasuk dosa-dosa besar yang paling besar menimbulkan kerusakan dan yang paling menyulitkan” [Faidhul Qadiir II/408]/ muslimafiyah.com

Nah, jadi manusia baik ataupun jahat, bahkan setan masing-masing punya pengharapan, dan untuk mewujudkan pengharapannya itu dikerjakan secara sungguh-sungguh, diupayakan sempurna, agar hasil yang diharapkannya bisa diraih. Orang baik akan mengerjakan kebaikan sebaik-baiknya, sedang orang buruk bahkan setan akan mengerjakan kejahatannya dengan se-jahat-jahatnya. Tidak dikerjakan dengan asal-asalan.

***

Yang telah digambarkan itu adalah menunjukkan betapa pentingnya mengerjakan kebaikan dengan sebaik-baiknya. Lha wong yang jahat bahkan setan pun mengerjakan perbuatan jahatnya dengan serius dan diupayakan sempurna hinga benar2 jahat.

Lantas, ketika orang baik2 mengerjakan kebaikan tapi asal-asalan, sedang penjahat dan bahkan setan menghalanginya dan menggodanya dengan begitu serius bahkan sempurnanya, apakah mungkin perbuatan baik yang hanya asal2an itu akan berhasil dengan baik? Sedangkan tanpa ada gangguan dan halangan dari orang2 jahat bahkan setan2 pun tiada yang menggoda secara serius, misalnya (toh di Bulan Ramadhan, setan2 pun dibelenggu, menurut Hadits), kalau perbuatan baik itu dilakukan hanya asal2an, apakah baik hasilnya? Tentu saja tidak.

Sehingga dapat dibayangkan, perbuatan baik yang hanya asal2an itu jelas tidak akan menghasilkan kebaikan yang begitu baik. Sampai-sampai di kala relatif tidak ada gangguan dari manusia jahat dan juga tidak di diganggu setan secar serius pun, hasilnya tetap kurang baik.

Menyadari hal itu, mari kita lihat kenyataan. Betapa banyaknya Umat Islam yang masuk masjid untuk shalat, dan punya harapan sangat tinggi nilainya bahkan tidak dapat dinilai betapa mahalnya surga yang diharapkan itu; namun si Muslim hanya melakukannya dengan asal-asalan. Tadinya pakai baju atau jaket, lalu dilepaskan, dicopot, tinggal kaos ngampret, cingkrang, badannya gemuk, ketika ruku’ dan sujud pantatnya (maaf) terbuka, hingga sama dengan tidak memenuhi syarat tertutupnya aurat. Itu sangat rawan. Secara hukum, shalat itu sendiri ada syarat2nya, di antaranya aurat harus tertutup secara sempurna. Bila kurang syaratnya, secara hukum bisa tidak sah shalatnya. (Apakah itu merupakan perbuatan secara serius, sungguh-sungguh dengan memperhatikan kesempurnaan shalat? Dikhawatirkan, itu asal-asalan). Bahkan sangat disayangkan, mungkin justru jadi kebiasaan bagi sebagian Umat Islam. Padahal sudah ditunjuki dengan jelas oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya).

۞يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمۡ عِندَ كُلِّ مَسۡجِدٖ وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ وَلَا تُسۡرِفُوٓاْۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ ٣١ [ الأعراف:31-31]

31. Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. [Al A’raf:31]

Tafsirnya:

31. Setelah Allah menurunkan kepada bani Adam pakaian untuk menutupi auratnya dan pakaian indah untuk perhiasaan, Allah berfirman “hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid” yakni tutuplah auratmu ketika shalat, baik yang wajib atau yang sunnah karena menutupnya adalah perhiasan bagi tubuh sebagaimana membukanya berarti membiarkan tubuh dalam keadaan buruk dan tidak pantas. Ada kemungkinan bahwa yang dimaksud dengan perhiasan disini adalah lebih dari sekedar berpakaian yaitu pakaian yang bersih dan baik, ini mengandung perintah menutup aurat dalam shalat memperindah diri didalamnya serta kebersihan pakaian tersebut dari kotoran dan najis. Kemudian Dia berfirman “makan dan minumlah” yakni dari yang baik-baik yang Allah rizkikan kepadamu, “dan janganlah berlebih-lebihan” dalam hal itu berlebih-lebihan bisa dengan melampaui batas kemewahan dalam makan, minum dan berpakaian, dan bisa pula dengan melampaui batas kemewahan dalam makan, minum dan berpakaian, dan bisa pula dengan melampaui batas yang halal kepada yang haram. “sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan” karena sikap berlebih-lebihan itu dibenci Allah membahayakan tubuh dan kehidupan manusia, bahkan bisa menyebabkan ketidakmampuan untuk memberi nafkah. jadi ayat ini mengandung perintah makan dan minum, larangan meninggalkannya serta larangan berlebih-lebihan padanya.

(Tafsir as-Sa’di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, pakar tafsir abad 14 H)/
https://tafsirweb.com

Shalat, dari segi berpakaian saja sudah asal-asalan. Belum lagi dari segi tatacara melaksanakannya, belum lagi soal kekhusyu’annya.

Sangat disayangkan, banyak imam-imam masjid mengimami shalat dengan terburu-buru. Lebihlebih shalat zuhur dan ashar yang memang suara imam tidak dikeraskan. Ma’mum kadang membaca al-fatihah belum selesai sudah buru2 imamnya ruku’. Bahkan kadang suaranya tidak terdengar, padahal pakai pengeras suara. Sehingga gerakan imam dan makmum seperti semrawut.

Ketika imamnya buru2 semacam itu, anehnya biasanya sang imam memimpin dzikir jahar berlama-lama. (Sunnahnya, dzikir itu ya sendiri2). Padahal shalatnya buru2, tapi kemudian memimpin dzikir berlama-lama, padahal selesai shalat ya tidak ada tuntutan untuk memimpin dzikir. Karena yang untuk diimami itu adalah shalatnya, untuk berjamaah. Mestinya yang harus disempurnakan thuma’ninah2nya itu adalah dalam shalat, bahkan menjadi rukun shalat yang wajib dilakukan. Kalau buru2, dikhawatirkan rukun shalat yang wajib di antaranya thuma’ninah itu tidak terpenuhi.

Dikhawatirkan, imam2 shalat yang seperti itu termasuk yang asal-asalan.

Bagaimana ini, punya pengharapan surga, yang nilainya sangat tinggi bahkan tidak bisa dinilai tingginya harga surga, namun imamnya asal-asalan, sedang ma’mumnya juga asal-asalan. Lha punya pengharapan kok pengabdiannya bahkan ibadahnya, bahkan ibadah terpentingnya (yakni shalat) asal-asalan.

Perlu diingat, shalat itu menjadi ukuran baik dan buruknya amal di akherat.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قاَلَ رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ ، فَإنْ صَلُحَتْ ، فَقَدْ أفْلَحَ وأَنْجَحَ ، وَإنْ فَسَدَتْ ، فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ ، قَالَ الرَّبُ – عَزَّ وَجَلَّ – : اُنْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ، فَيُكَمَّلُ مِنْهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيضَةِ ؟ ثُمَّ تَكُونُ سَائِرُ أعْمَالِهِ عَلَى هَذَا )) رَوَاهُ التِّرمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيثٌ حَسَنٌ ))

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi. Jika berkurang sedikit dari shalat wajibnya, maka Allah Ta’ala berfirman, ‘Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah.’ Maka disempurnakanlah apa yang kurang dari shalat wajibnya. Kemudian begitu pula dengan seluruh amalnya.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan hadits tersebut hasan.) [HR. Tirmidzi, no. 413 dan An-Nasa’i, no. 466. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih.]

https://rumaysho.com/16963-shalat-itu-yang-pertama-kali-akan-dihisab.html

      Pelajaran yang terdapat dalam hadist

1. Shalat adalah tiang Islam. Islam seseorang tidaklah tegak kecuali dengan shalat.
2. Shalat adalah amalan yang pertama kali akan dihisab. Amalan seseorang bisa dinilai baik buruknya dinilai dari shalatnya.
3. Sholat sunnah akan menyempurnakan shalat wajib.
4. Perkara terakhir yang hilang dari manusia adalah shalat.
5. Shalat adalah akhir wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
6. Jangan Meremehkan Shalat
Barang siapa yang berani meremehkan sholat maka dia dengan yang lainnya akan lebih berani meremehkannya (Umar bin Khotob radhiallahu anhu).

      Imam Ahmad – rahimahullah – juga mengatakan perkataan yang serupa, “Setiap orang yang meremehkan perkara shalat, berarti telah meremehkan agama. Seseorang memiliki bagian dalam Islam sebanding dengan penjagaannya terhadap shalat lima waktu. Seseorang yang dikatakan semangat dalam Islam adalah orang yang betul-betul memperhatikan shalat lima waktu. Kenalilah dirimu, wahai hamba Allah. Waspadalah! Janganlah engkau menemui Allah, sedangkan engkau tidak memiliki bagian dalam Islam. Kadar Islam dalam hatimu, sesuai dengan kadar shalat dalam hatimu.”/ http://hospital.umm.ac.id

 

Sebegitu sangat pentingnya arti shalat, hingga sangat menentukan nasib pelakunya, tergantung baik atau buruk shalatnya, namun dalam kenyataan tampak sebegitu kurang dipentingkannya shalat di kalangan Umat Islam kini. Bahkan sampai imam-imam masjid sekalipun, belum tentu memperhatikan benar-benar makna pentingnya shalat yang ia imami itu. Sehingga belum tentu dilakukan dengan benar2 sungguh2 secara hati2 dan cermat serta khusyu’. Bahkan terkesan buru2.

Itu belum lagi kebanyakan Umat Islam yang sampai ada yang seperti tergambar dalam ilustrasi di atas, pakaiannya saja kurang memenuhi syarat untuk menutup aurat secara sempurna.

Oleh karena itu, mari kita setting ulang, perbaiki shalat kita. Pelajari dan cermati ilmunya. Kita laksanakan dengan sebaik-baiknya. Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba-hamba yang beruntung, yakni yang khusyu’ dalam shalatnya. Dan dengan shalat yang khusyu’ itu insyaAllah akan terjaga dari kekejian dan kemunkaran, dan mampu beramal kebaikan-kebaikan yang tinggi nilainya. Hingga akan diberi karunia dengan mewarisi surga firdaus di akherat kelak, abadi selamanya.

قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي صَلَاتِهِمۡ خَٰشِعُونَ ٢ وَٱلَّذِينَ هُمۡ عَنِ ٱللَّغۡوِ مُعۡرِضُونَ ٣ وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِلزَّكَوٰةِ فَٰعِلُونَ ٤ وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِفُرُوجِهِمۡ حَٰفِظُونَ ٥ إِلَّا عَلَىٰٓ أَزۡوَٰجِهِمۡ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُمۡ فَإِنَّهُمۡ غَيۡرُ مَلُومِينَ ٦ فَمَنِ ٱبۡتَغَىٰ وَرَآءَ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡعَادُونَ ٧ وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِأَمَٰنَٰتِهِمۡ وَعَهۡدِهِمۡ رَٰعُونَ ٨ وَٱلَّذِينَ هُمۡ عَلَىٰ صَلَوَٰتِهِمۡ يُحَافِظُونَ ٩ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡوَٰرِثُونَ ١٠ ٱلَّذِينَ يَرِثُونَ ٱلۡفِرۡدَوۡسَ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ١١ [ المؤمنون:1-11]

1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, [Al Mu”minun:1]

2. (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya, [Al Mu”minun:2]

3. dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, [Al Mu”minun:3]

4. dan orang-orang yang menunaikan zakat, [Al Mu”minun:4]

5. dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, [Al Mu”minun:5]

6. kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. [Al Mu”minun:6]

7. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. [Al Mu”minun:7]

8. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. [Al Mu”minun:8]

9. dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. [Al Mu”minun:9]

10. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, [Al Mu”minun:10]

11. (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. [Al Mu”minun:11]

 

 

Dirangkum oleh Hartono Ahmad Jaiz

Ilustrasi foto/dok.net

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 246 kali, 1 untuk hari ini)