Foto Amukan Puting Beliung di Purwomartani

Beberapa foto kerusakan akibat terjangan puting beliung yang melanda wilayah Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta, Jumat (07/12) siang yang diabadikan wartawan Kedaulatan Rakyat, Atiek Widiastuti dan Surya Adi Lesmana.

Puting beliung yang terjadi Jumat (7/12) sore di Sleman Yogyakarta mengakibatkan 140 rumah penduduk rusak sedang hingga berat. Selain itu, angin kencang juga menghancurkan dua kandang ternak serta melukai sembilan warga. Hingga kini, dua orang masih menjalani rawat inap dan lainnya dirawat jalan.

08 Desember 2012 | 08:27 wib

Pemkab Sleman Tetapkan Status Darurat

SLEMAN, suaramerdeka.com – Menyusul bencana puting beliung yang melanda tiga wilayah kecamatan, Pemkab Sleman menetapkan kondisi darurat hingga tiga hari ke depan. Selama masa darurat yang berlaku sampai Senin (10/12), Pemkab dibantu Pemprov DIY sepakat membangun posko dan dapur umum di rumah Kepala Dusun Bromonilan Kalasan, dan Tempelsari Depok.

“Hari ini kami akan menerjunkan sekitar 750 relawan untuk evakuasi. Ditambah bantuan fasilitasi dari Dinas PUP sebanyak lima dam truk,” kata Kabag Humas Setda Sleman, Endah Sri Widiastuti usai rapat koordinasi, Sabtu (8/12).

Puting beliung yang terjadi Jumat (7/12) sore mengakibatkan 140 rumah penduduk rusak sedang hingga berat. Selain itu, angin kencang juga menghancurkan dua kandang ternak serta melukai sembilan warga. Hingga kini, dua orang masih menjalani rawat inap dan lainnya dirawat jalan.

Kerugian bangunan paling banyak tercatat ada di Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, di mana lima dusun diterjang angin lisus yakni Bromonilan, Sidokerto, Sambiroto, Sambisari, dan Kadisoko.Bencana juga menimpa warga di Dusun Sempu, Desa Wedomartani, Kecamatan Ngemplak dan Dusun Mbajeng di Depok.

Kerusakan bangunan sebagian besar disebabkan tertimpa pohon yang tumbang, atau atap diterbangkan angin. “Yang paling parah Dusun Bromonilan, hampir semua rumah warganya rusak,” kata Endah.

Camat Kalasan, Samsul Bakri mengingatkan masyarakat agar tidak meremehkan kegiatan pendataan. Para dukuh mulai sekarang diminta melakukan pendataan secara terperinci by name and address (nama dan alamat-red).

Sejauh ini, bantuan yang sudah disalurkan ke korban berupa 160 kg beras, enam dus sarden, 12 dos mi instan, 24 liter minyak goreng, dan 6 unit terpal. Bantuan tersebut berasal dari Dinas Tenaga Kerja dan Sosial Sleman.

(Amelia Hapsari / CN26 / JBSM) 08 Desember 2012 | 08:27 wib

***

Sebagian Masyarakat Yogyakarta Mempercayai Nyi Roro Kidul 

Kepercayaan masyarakat setempat tentang legenda Nyi Roro kidul juga dengan sendirinya melahirkan ritual tersendiri. Hampir setiap malam Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon, para pengunjung maupun nelayan setempat melakukan upacara ritual di pantai tersebut. Acara ritual diwarnai pelarungan sesajen dan kembang warna-warni ke laut. Puncak acara ritual biasanya terjadi pada malam 1 Suro, dan dua-tiga hari setelah hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Intinya, nelayan meminta keselamatan dan kemurahan rezeki dari penguasa bumi dan langit./ newssession

Minta keselamatan kepada selain Allah

Kesesatan tertinggi adalah menyekutukan Allah dengan selain-Nya. Itulah kemusyrikan.

Siapapun, ketika keyakinannya sudah sesat, maka cara berfikir, pandangan hidup, dan prakteknya akan menyimpang. Hingga setan pun dipuja, lalu manusia yang salah pun dibela bila dianggap sebagai rekan setan, agar dengan cara membela rekan setan itu akan mendapatkan perlindungan dari setan. Untuk mendapatkan sesuatu dari setan, dilakukanlah apa saja yang menjadi ridhonya setan. Sampai berdoa dan menyembah yang hanya untuk Allah pun sampai dikorbankan menjadi demi setan. Itulah kejahatan dan kesesatan paling dahsyat.

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ(5)

Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (do`a) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do`a mereka? (QS Al-Ahqaf/ 46: 5).

Dan itu dipraktekkan dalam kehidupan dengan aneka macam bentuk.

Hukum Tumbal dan Sesajen dalam Islam

Mempersembahkan kurban yang berarti mengeluarkan sebagian harta dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (Lihat kitab Taisiirul Kariimir Rahmaan hal. 282), adalah suatu bentuk ibadah besar dan agung yang hanya pantas ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana dalam firman-Nya,

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku (kurbanku), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).’” (QS. al-An’aam: 162-163).

Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Maka, dirikanlah shalat karena Rabb-mu (Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan berkurbanla.” (QS. al-Kautsar: 2).

Kedua ayat ini menunjukkan agungnya keutamaan ibadah shalat dan berkurban, karena melakukan dua ibadah ini merupakan bukti kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan pemurnian agama bagi-Nya semata-mata, serta pendekatan diri kepada-Nya dengan hati, lisan dan anggota badan, juga dengan menyembelih kurban yang merupakan pengorbanan harta yang dicintai jiwa kepada Dzat yang lebih dicintainya, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala.(Kitab Taisiirul Kariimir Rahmaan hal. 228).

Oleh karena itu, maka mempersembahkan ibadah ini kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala (baik itu jin, makhluk halus ataupun manusia) dengan tujuan untuk mengagungkan dan mendekatkan diri kepadanya, yang dikenal dengan istilah tumbal atau sesajen, adalah perbuatan dosa yang sangat besar, bahkan merupakan perbuatan syirik besar yang bisa menyebabkan pelakunya keluar dari agama Islam (menjadi kafir). (Lihat kitab Syarhu Shahiihi Muslim 13/141, al-Qaulul Mufiid ‘Ala Kitaabit Tauhiid 1/215 dan kitab at-Tamhiid Li Syarhi Kitaabit Tauhiid hal. 146).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan sembelihan yang dipersembahkan kepada selain Allah.” (QS. al-Baqarah: 173).

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari berkata, “Artinya, sembelihan yang dipersembahkan kepada sembahan (selain AllahSubhanahu wa Ta’ala) dan berhala, yang disebut nama selain-Nya (ketika disembelih), atau diperuntukkan kepada sembahan-sembahan selain-Nya.” (Kitab Jaami’ul Bayaan Fi Ta’wiilil Quran 3/319).

Dalam sebuah hadits shahih, dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ

Allah melaknat orang yang menyembelih (berkurban) untuk selain-Nya.” (HSR. Muslim no. 1978)

Hadits ini menunjukkan ancaman besar bagi orang yang menyembelih (berkurban) untuk selain-Nya, dengan laknat Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu dijauhkan dari rahmat-Nya. Karena perbuatan ini termasuk dosa yang sangat besar, bahkan termasuk perbuatan syirik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga pelakunya pantas untuk mandapatkan laknat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dijauhkan dari rahmat-Nya. (Keterangan Syaikh Shalih Alu Syaikh dalam kitab at-Tamhiid Li Syarhi Kitaabit Tauhiid  hal. 146).

Penting sekali untuk diingatkan dalam pembahasan ini, bahwa faktor utama yang menjadikan besarnya keburukan perbuatan ini, bukanlah semata-mata karena besar atau kecilnya kurban yang dipersembahkan kepada selain-Nya, tetapi karena besarnya pengagungan dan ketakutan dalam hati orang yang mempersembahkan kurban tersebut kepada selain-Nya, yang semua ini merupakan ibadah hati yang agung yang hanya pantas ditujukan kepada AllahSubhanahu wa Ta’ala semata-mata.

Oleh karena itu, meskipun kurban yang dipersembahkan sangat kecil dan remeh, bahkan seekor lalat sekalipun, jika disertai dengan pengagungan dan ketakutan dalam hati kepada selain-Nya, maka ini juga termasuk perbuatan syirik besar. (Lihat kitab Fathul Majid  hal. 178 dan 179).

Dalam sebuah atsar dari sahabat Salman al-Farisi radhiallahu ‘anhu beliau berkata, “Ada orang yang masuk surga karena seekor lalat dan ada yang masuk neraka karena seekor lalat,  ada dua orang yang melewati (daerah) suatu kaum yang sedang bersemedi (menyembah) berhala mereka dan mereka mengatakan, ‘Tidak ada seorangpun yang boleh melewati (daerah) kita  hari ini kecuali setelah dia mempersembahkan sesuatu (sebagai kurban/tumbal untuk berhala kita).’ Maka, mereka berkata kepada orang yang pertama, ‘Kurbankanlah sesuatu (untuk berhala kami)!’ Tapi, orang itu enggan –dalam riwayat lain: orang itu berkata, ‘Aku tidak akan berkurban kepada siapapun selain AllahSubhanahu wa Ta’ala’–, maka diapun dibunuh (kemudian dia masuk surga). Lalu, mereka berkata kepada orang yang kedua, ‘Kurbankanlah sesuatu (untuk berhala kami)!’, -dalam riwayat lain: orang itu berkata, ‘Aku tidak mempunyai sesuatu untuk dikurbankan.’ Maka mereka berkata lagi, ‘Kurbankanlah sesuatu meskipun (hanya) seekor lalat!’, orang itu berkata (dengan meremehkan), ‘Apalah artinya seekor lalat,’, lalu diapun berkurban dengan seekor lalat, –dalam riwayat lain: maka merekapun mengizinkannya lewat– kemudian (di akhirat) dia masuk neraka.’” (Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam kitab al-Mushannaf (no. 33038) dengan sanad yang shahih, juga diriwayatkan dari jalan lain oleh Imam Ahmad dalam kitab az-Zuhd (hal. 15-16), al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman(no. 7343) dan Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyaa’ (1/203)). ( Ustadz Abdullah Taslim, M.ATumbal dan Sesajen, Tradisi Syirik Warisan Jahiliyahwww.muslim.or.id, Kategori Aqidah | 12-11-2010)

Lihat https://www.nahimunkar.org/tumbal-dan-sesajen-tradisi-syirik-warisan-jahiliyah/

Selanjutnya, mari kita kenali masalah-masalah kemusyrikan secara singkat sebagai berikut:

Syirkiyah atau kemusyrikan

Syirik bisa dipisahkan menjadi dua, syirik besar (akbar) dan syirik kecil (asghar).

Syirik besar mengeluarkan pelakunya dari agama Islam dan menjadikannya kekal di dalam neraka, jika hingga meninggal dunia belum juga bertaubat. Syirik besar adalah memalingkan sesuatu bentuk ibadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, mendekatkan diri dengan penyembelihan kurban atau nadzar untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik untuk kuburan, jin atau setan, atau mengaharap sesuatu selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang tidak kuasa memberikan manfaat maupun mudharat.

Di antara batasan syirik akbar adalah”

  1. Syirik dalam rububiyah, seperti keyakinan bahwa arwah orang yang sudah meninggal mampu memberikan manfaat atau mudharat, memenuhi kebutuhan orang yang hidup, atau keyakinan bahwa ada orang yang ikut mengatur alam raya ini bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala , dan seterusnya.
  2. Syirik dalam asma’ wa shifat, seperti keyakinan bahwa ada orang yang mengetahui hal ghaib selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, misalnya dukun, peramal, dan semacamnya, syirik dengan menyerupakan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sifat makhluk, dan lain-lain.
  3. Syirik dalam uluhiyah (ibadah), seperti syirik dalam ibadah, doa, takut, cinta. Harap, taat, dan sebagainya.

Konsekuensi pelaku syirik akbar ini adalah:

  1. Yang tidak diampuni (apabila pelakunya mati dan belum bertaubat).
  2. Pelakunya diharamkan masuk surga.
  3. Kekal di dalam neraka.
  4. Membatalkan semua amalan, termasuk amalan yang lampau.

Sementara di antara batasan syirik ashghar adalah:

  1. Qauli (berupa ucapan), seperti bersumpah dengan menyebut selain nama Allah Subhanahu wa Ta’ala , dan sejenisnya.
  2. Fi’li (berupa perilaku dan perbuatan), seperti tathayyur, datang ke dukun, memakai jimat dan rajah dan sejenisnya.
  3. Qalbi (berupa amal hati/batin), seperti riya, sum’ah, dan sejenisnya.

Syirik kecil tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, tetapi mengurangi tauhid dan menjadi perantara terjerumus dalam syirik besar. Syirik ini meliputi empat macam, yaitu syirik niat: dari semula meniatkan ibadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala , syirik doa: berdoa kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala atau selain berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berdoa kepada selain-Nya, syirik taat: menaati selain Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana menaati-Nya, syirik mahabbah: mencintai selain Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana mencintai-Nya.

Syirik ini terdiri dari dua, yaitu syirik yang jelas dan samar/tersembunyi:

  1. Dosanya di bawah kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalau Allah Subhanahu wa Ta’ala ampuni pelakunya tidak diadzab dan kalau tidak diampuni, pelakunya masuk terlebih dahulu di neraka meskipun setelah itu dimasukkan ke dalam surga.
  2. Tidak kekal dalam neraka (kalau dia dimasukkan ke dalam neraka)
  3. Tidak membatalkan semua amalan, tetapi sebatas yang dilakukan dengan syirik.

Pelakunya tidak diharamkan dari surga. (Dikutip dari Majalah Fatawa Vol. V/No. 03, Jogjakarta,  Rabi’ul Awwal 1430, Maret 2009 hal. 8-11) Lihat https://www.nahimunkar.org/trend-muslim-bergaya-musyrik/

(nahimunkar.com)

(Dibaca 290 kali, 1 untuk hari ini)