Lindwood Pagi Itu

“Ayah!!! Ayo cepat. Nanti kita ketinggalan khutbah Jum’ at”. Seru anak laki-lakiku. Aku masih merapikan kaos kaki yang sedang kupakai.

Anakku, Omar usianya 6 tahun. Masya Allah, semangatnya selalu membara sejak pertama kukenalkan masjid kepadanya. Ia adalah doa-doa yang diijabah Allah kepadaku, ketika ibunya mengandungnya maka harapanku kelak ia menjadi generasi rabbani.

Kami baru saja pindah ke daerah ini karena mutasi pekerjaan. Pertama menjajakkan kaki langsung kucari dimana masjid berada, karena keyakinanku masjid merupakan tempat kesejahteraan dimana ukhuwah terjalin sangat erat disana dan segala kegiatan dilakukan mulai dari tarbiyah sampai kegiatan sosial untuk kaum duafa.

Omar menggandeng tanganku berjalan menuju mobil yang akan kami kendarai menuju masjid untuk menunaikan sholat Jum’ at pagi ini. Ia selalu menyemangatiku untuk datang lebih awal. Dari video-video ceramah ustadz-ustadz baik itu dari negaraku maupun dari negara istriku yang kami selalu tonton bersama saat aku pulang kerja. Ya, istriku seorang kewarganegaraan Paman Sam. Ia mengenal Islam sebelum menikah denganku tetapi baru berpindah agama ketika aku mengkhitbahnya.

Beberapa menit kemudian kami sampai di masjid, kulihat beberapa jamaah sedang memarkirkan mobil mereka dan sebagian lain sudah memasuki ruang sholat. Omar langsung berlari ke dalam, menyalami beberapa jamaah sepuh sambil menebar senyum. Layaknya anak-anak, ia pun mulai aktif berlari kesana kemari di sekitaran tempat sholat.

“Run out Brother, safe your self!!!!”. Sontak aku kaget mendengar teriakan salah satu jamaah dari arah luar. Segera kututup mushafku. Langsung kucari anakku. Omar berlari kearahku dengan muka ketakutan mendengar teriakan beberapa jamaah.

Suara tembakan membabi buta, para jamaah kocar-kacir mencari tempat persembunyian. Beberapa di dekatku ada yang menyembunyikan diri dibalik mimbar khatib, bersembunyi di tembok. Ku dekap Omar dengan erat, jantungnya bertalu sangat cepat. Suasana sangat mencekam. Seorang kawan pengajian berlari kearahku lalu terjatuh saat tembakan itu menghujani tubuhnya. Segera kudekap Omar, kulindungi ia dengan punggungku.

Allah, apakah ini takdir hidupku?, Hasbunallah wa nikmal wakil, la hawla wala quwatta illah billah, La illah ha ilallah. Tak henti aku dengungkan dzikir kepadaNya. Aku berlindung kepadaMu, lindungi anak kami Ya Allah. Peluru itu menghujam tubuhku.

Derai airmatanya tak berhenti diikuti sesenggukan suara tangis. Kusandikan ibu jariku didepan bibirnya tanda untuk diam. Ia pun menuruti kataku. Namun tetap saja airmata berjatuhan dari kedua matanya. Raut mukanya menunjukkan rona ketakutan.

“Omar kuat, you are an excellent boy”. Bisikku ditelinganya. Ia mengangguk.

“Ayah sakit?”. Ia memeluk erat tubuhku.

“Sstt”

Suara tembakan masih berdengung dari arah jalan masuk, pria bersenjata itu kembali berjalan disisi kami, menembaki lagi mereka yang sudah tergeletak tak berdaya.

Lagi, beberapa peluru menyasar ke arahku dan anakku, aku lihat kakinya terkena tembakan, pecah teriaknya menggema di seluruh area sholat tempat kami bersimpuh.

Pria bersenjata itu mengumpati kami yang sudah menjadi korbanya, mengumpati agama kami, dan mengumpati seluruh isi masjid. Suaranya semakin menjauh, namun deru tembakannya masih terdengar.

Tuhan, jika hari ini Engkau jemput kami, wafatkan kami dalam keadaan Engkau ridho kepada kami, ridho kepada amalan semua jamaah di masjid ini. Aku teringat bayangan istriku yang tengah menyiapkan makan siang, siang ini kami akan berkunjung ke salah satu rumah kawan sekampung halamanku.

Kupeluk erat lagi Omar. Tangisnya mereda, aku tahu ia kesakitan. Nafasku mulai sesak, pandanganku mulai membayangkan indahnya kampung halaman, semerbak wangi rumput di pagi hari, kenangan surau tempat kami mengaji, belum sempat aku membawa Omar menikmati keindahan alam itu, mengajaknya berlari di pematang sawah tempat masa kecilku. Aku terlelap.

“Ayah… Ayah… wake up!”. Omar menepuk-nepuk pipiku, kurasakan ia menggoyang tubuhku. Aku tersadar, perlahan kutelentangkan tubuh penuh lubang dan darah, nafasku masih tercekat.

Aku harus kuat demi anakku dan keluargaku.

“Ayah”. Omar bersimpuh didadaku, gerakannya terbatas, airmatanya tumpah lagi.

“Omar sayang, kamu tahu ‘nak kenapa ayah memberi namamu dengan salah satu sahabat utama, Ayah tahu kau adalah anak yang kuat, ayah tahu kau adalah anak yang tidak pernah patah semangat, ayah tahu kau adalah sebaik-baik amanah yang Allah titipkan kepada ayah dan ibumu. Omar, jangan takut dan jangan khawatir, ada Allah sebaik-baik penjagaan, ada Allah sebaik-baik tempat berlindung”.

“Yuk lafadzkan Hasbunallah wa nikmal wakil, La hawla wala quwatta illah billah”. Bibir mungilnya mengeja perlahan mengikutiku. Pelan-lahan hingga airmata kami tumpah.

Aku teringat istriku di rumah. Segera kurogoh telepon pintar dari saku celanaku, kukesampingkan rasa sakit yang begitu kuat, nafasku satu-satu. Omar masih memeluk dadaku melafadzkan dzikir. Ia lebih tak berdaya dengan luka tembak di punggung dan kakinya.

Orang-orang mulai berdatangan, beberapa jamaah masjid yang kukenal berusaha menolong kami, Omar diambilnya untuk dibawa ke ambulan agar segera dilarikan ke rumah sakit.
Sebelumnya kubisikkan kembali di telinganya.

“Omar anak baik, Omar anak yang kuat, jaga ibumu ‘nak, hormatilah ia, jadilah imam yang baik dalam keluarga kita”

“Ayah, aku tidak mau jauh darimu, Ayah!!!!”

“Kita akan ketemu lagi anakku”. Kataku untuk yang terakhir sebelum kami dipisahkan oleh petugas kesehatan.

Lubang didadaku semakin mendesak nafasku, kulihat telapak tanganku mulai memucat, nafasku tercekat di tenggorokan, mataku sudah tak dapat melihat langit-langit masjid ini, pandangaku memutih, masih kudengar panggilan petugas kesehatan, namun raga ini tak sanggup merespon mereka.

——————–

Terinspirasi dari kisah nyata, Jum’ at 15 Maret 2019 menjelang Khutbah Sholat Jum’ at Masjid Linwood, Christchurch, New Zealand.

#repost

Sumber : efrideplin.com

(nahimunkar.org)

(Dibaca 582 kali, 1 untuk hari ini)