Raffi Ahmad Anak Pentolan Aliran Sesat Ahmadiyah,
dan Ketidak Dispilinan “Duta Vaksin”


Ilustrasi cover buku Nabi-nabi Palsu dan Para Penyesat Umat karya Hartono Ahmad Jaiz,
Pustaka Al-Kautsar, Jakarta.)

Silakan simak ini.

***

 

Raffi Ahmad, Ahmadiyah
dan Ketidak Dispilinan “Duta Vaksin”


Oleh: Abdullah Abubakar Batarfie

RAFFI Ahmad namanya belakangan ini mendadak menjadi trending topic di sejumlah media, setelah artis yang disebut-sebut tajir mlintir dan sering memamerkan koleksi barang-barang mewahnya itu.

Polahnya terdedah karena telah melanggar protokol kesehatan Covid-19 lantaran berkerumun tanpa masker dalam sebuah pesta yang juga dihadiri oleh Komisaris Utama PT. Pertamina (Persero), Basuki Tjahaja Purnama (BTP alias Ahok, mantan Gubernur DKI Jakarta yang tersandung hukum akibat perbuatannya dalam kasus penistaan Agama.  Pesta yang berlangsung di tengah pandemi itu, merupakan pesta perayaan ulang tahun bos KFC, Ricardo Gelael di kawasan Mampang, Jakarta Selatan pada Rabu (13/1/2021) malam.

Ironinya, meski telah ada pernyataan maaf dari Rafii Ahmad yang kini banyak meraup sejumlah penghasilan dari YouTube dan memiliki 11.9 juta subscribers ini, pelanggaran prokesnya tersebut dilakukannya usai dirinya divaksin sebagai ikon dari generasi milenial yang dipilih oleh Istana.   Apa yang terlontar dari mulut Raffi Ahmad dalam selorohannya setelah divaksin bak pepatah Lain teringat lain disebut; bertukar angguk dengan ilallah.

Sebagai seorang publik figur, ucapannya tidak lagi dapat dipegang, Ia sudah melakukan suatu perbuatan yang tidak sesuai dengan apa yang telah diucapakannya.  Banyak pihak yang mengaitkan kerumunan pesta yang dihadiri oleh Raffi Ahmad dan Ahok ini, dengan tindakan hukum yang kini sedang dijalani oleh Ustadz Muhammad Riziq Syihab (HRS).

Dalam kasus yang sama, semestinya sanksi hukum juga diberlakukan kepada mereka yang semuanya terlibat dalam pesta, termasuk pemeriksaan kepada Ahok dan Raffi Ahmad yang bisa saja dapat kita nobatkan sebagai “Duta Vaksin Istana”.

“Duta Ahmadiyah”

Raffi Ahmad, artis yang tergolong sukses mencuri perhatian netizen ini, dikenal sebagai artis yang paling rajin membagikan momen dirinya di media sosial. Termasuk foto-foto unggahannya selama berada di luar negeri, hingga memamerkan mobil mewah lamborghini miliknya. Karena itu, tak heran jika kini dirinya disebut sebagai salah satu dari deretan artis kaya raya di Tanah Air.

Siapa sangka, di balik popularitasnya sebagai seorang artis, Raffi Ahmad yang memiliki darah Pakistan dari pihak ayahnya. Kakeknya Malik Aziz Ahmad Khan merupakan pendatang asal Pakistan yang datang ke Indonesia sebagai “Duta Ahmadiyah”, dan tokoh yang telah turut berperan penting dalam penyebaran dan pengembangan ajaran Ahmadiyah Qadiyani di Tanah Air.

Baca: MUI Imbau Menag Yaqut Berhati-hati soal Afirmasi Syiah dan Ahmadiyah

Dalam sebuah laman resmi Ahmadiyah disebutkan, tahun 1937, seorang muballigh Ahmadiyah ditugaskan di Surabaya, beliau bernama Malik Aziz Ahmad Khan. Kedatangannya disambut gembira oleh tiga orang Ahmadi yang telah lebih dulu sudah berada di kota itu sejak 1926, salah satunya adalah Abdul Ghofur, pendatang dari India yang cukup sukses membuka klinik pengobatan (tabib) di Surabaya.

Sejak kedatangan Malik Aziz Ahmad Khan di Surabaya, untuk sementara waktu Ia tinggal di kediaman sejawatnya Abdul Ghofur, tapi tidak lama kemudian pindah dan bertempat tinggal di Kampung Kedung Anyar yang akhirnya menetap di Kampung Kedondong Kidul, bersebelahan dengan Tuan Ibrahim yang kelak menjadi seorang Ahmadi.

Selama di Kota Surabaya, Malik Aziz Ahmad Khan yang tampil menjadi “Duta Ahmadiyah”, secara rutin mengisi kegiatan kajian di perkumpulan “Tambah Pengetahuan” yang berada di kampung Gundhih dengan topik bahasan antaranya; ‘Islam Sejati’, Wafat Nabi Isa as’, ‘Masih Mau’ud As’. Dari pertemuan yang diadakan seminggu sekali dalam perkumpulan itupun kelak, kemudian terbentuk untuk pertama kalinya pada tahun 1938 “Andjoeman Ahmadiyah Qodian Departement Indonesia Gemeente Surabaya”.

Di tahun sesudahnya, pada 1939 atas gagasan Malik Aziz Ahmad Khan, di Kampung Gundhih didirikan sebuah masjid yang terbilang sederhana tapi berhasil menjadi sarana kegiatan untuk shalat dan berbagai kegiatan lainnya bagi anggota Ahmadiyah yang jumlahnya sudah semakin banyak.  Konstruksi Masjid yang didirikan saat itu masih berupa dinding papan dan bambu, dan di desain beratap rendah.

Di dinding masjid bagian depan dipancangkan papan nama ‘Andjoeman Ahmadiyyah Qadian Indonesia Gemeente Surabaya’. Selesainya masjid itu disambut sukacita oleh para Ahmadi dan segera sesudahnya tempat itu digunakan untuk shalat Jum’at secara teratur dan pengajian-pengajian serta rapat rutin pengurus dan anggota Ahmadiyah. Walau terkadang pengajian juga dilakukan di kediaman Bapak Harun, seorang pegawai ‘Marine Ujung’ di jalan Benteng, Surabaya.

Baca: Ketika A. Hassan Berdebat dengan Orang Ahmadiyah

Pada tahun 1942, Malik Aziz Ahmad Khan melakukan lawatannya ke Tasikmalaya untuk meresmikan Masjid cabang Ahmadiyah di kota itu. Dalam perjalanannya di bumi periangan itulah sang “Duta Ahmadiyah” kemudian menemukan jodohnya dengan mempersunting wanita Sunda Tatan Khasanah yang salah satu anaknya (Munawar Ahmad) kelak menjadi menantu Brigjen Polisi R.Ahmad Suriahaminata, Ketua dan/atau Wakil Ketua PB Jemaat Ahmadiyah sampai tahun 1980.

Masjid Al-Mubarak sebagai pusat kegiatan ibadah warga Ahmadiyah di Jawa Barat, yang kini masih tetap eksis di Jalan Pahlawan Bandung, pembangunannya berkat kontribusi keluarga Bapak R.Ahmad Suriahaminata, sebagai salah satu pendonor pendirian masjid Ahmadiyah tersebut.

Dari pernikahan Munawar Ahmad, anak pasangan Maulana Malik Aziz Khan dan Tatan Khasanah dengan puteri R.Ahmad Suriahaminata itulah, kelak kemudian lahir seorang Raffi Ahmad yang pada rabu kemarin terpilih menjadi “Duta Vaksin” di Istana. Tapi sayang, Ia gagal menjadi ikon milenial yang tidak patut untuk ditiru.*

Ketua Pusat Dokumentasi Dan Kajian Al-Irsyad Bogor

Rep: Admin Hidcom
Editor: Insan Kamil

Hidayatullah.com, Selasa, 19 Januari 2021 – 20:20 WIB

 

***

 

Salinan Fatwa MUI tentang Kesesatan Ahmadiyah

Posted on 30 April 2008

by Nahimunkar.org

S A L I N A N

F A T W A

Majelis Ulama Indonesia (MUI)

T E N T A N G

KESESATAN AHMADIYAH

MUSYAWARAH NASIONAL VII

MAJELIS ULAMA INDONESIA TAHUN 2005


KEPUTUSAN FATWA

MAJELIS ULAMA INDONESIA

Nomor: 11/MUNAS VII/MUI/15/2005

Tentang

ALIRAN AHMADIYAH


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ


Majelis Ulama Indonesia (MUI), dalam Musyawarah Nasional MUI VII, pada 19-22 Jumadil Akhir 1426 H / 26-29 Juli 2005 M, setelah


MENIMBANG :

a. bahwa sampai saat ini aliran Ahmadiyah terus berupaya untuk mengembangkan pahamnya di Indonesia, walaupun sudah ada fatwa MUI dan telah dilarang keberadaannya;

b. bahwa upaya pengembangan faham Ahmadiyah tersebut telah menimbulkan keresahan masyarakat;

c. bahwa sebagian masyarakat meminta penegasan kembali fatwa MUI tentang faham Ahmadiyah sehubungan dengan timbulnya berbagai pendapat dan berbagai reaksi di kalangan masyarakat;

d. bahwa untuk memenuhi tuntutan masyarakat dan menjaga kemurnian aqidah Islam, Majelis Ulama Indonesia memandang perlu menegaskan kembali fatwa tentang aliran Ahmadiyah.


MENGINGAT :

1. Firman Allah subhanahu wata’ala.:

1) مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلكِنْ رَّسُوْلَ اللهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّيْنَ، وَكَانَ اللهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا (الأحزاب : 40)

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi; dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. Al-Ahzab {33}: 40).

2) وَأَنَّ هذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ وَلاَ تَتَّبِعُوْا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهِ، ذلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ (الأنعام : 153(

Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-An’am {6}: 153)

3) يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لاَ يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ … (المائدة : 105)

Hai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu, tiadalah orang yang sesat itu akan memberi madharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk…” (QS. al-Ma’idah {5}: 105).

2. Hadits Nabi shallallahu ‘alahi wasallam.; a.l.:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ ، لاَنَبِيَّ بَعْدِيْ (رواه البخاري(

“Rasulullah bersabda: “Tidak ada nabi sesudahku” (HR. Bukhari).

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ الرِّسَالَةَ وَالنُّبُوَّةَ قَدِ انْقَطَعَتْ، فَلاَ رَسُوْلَ بَعْدِيْ وَلاَ نَبِيَّ (رواه الترمذي(

“Rasulullah bersabda: “Kerasulan dan kenabian telah terputus; karena itu, tidak ada rasul maupun nabi sesudahku” (HR. Tirmidzi)


MEMPERHATIKAN :

1. Keputusan Mujamma’ al-Fiqh al-Islami Organisasi Konferensi Islam (OKI) Nomor 4 (4/2) dalam Muktamar II di Jeddah, Arab Saudi, pada tanggal 10-16 Rabi’ al-Tsani 1406 H / 22-28 Desember 1985 M tentang Aliran Qadiyaniyah, yang antara lain menyatakan bahwa aliran Ahmadiyah yang mempercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi sesudah Nabi Muhammad dan menerima wahyu adalah murtad dan keluar dari Islam karena mengingkari ajaran Islam yang qath’i dan disepakati oleh seluruh ulama Islam bahwa Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir.Teks Keputusan tersebut adalah sebagai berikut:

إِنَّ مَاادَّعَاهُ مِيرْزَا غُلاَم أَحْمَد مِنَ النُّبُوَّةِ وّالرِّسَالَةِ وَنُزُوْلِ الْوَحْيِ عَلَيْهِ إِنْكَارٌ صَرِيْحٌ لِمَا ثَبَتَ مِنَ الدِّيْنِ بِالضَّرُوْرَةِ ثُبُوْتًا قَطْعِيًّا يَقِيْنِيًّا مِنْ خَتْمِ الرِّسَالَةِ وَالنُّبُوَّةِ بِسَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، وَأَنَّهُ لاَيَنْزِلُ وَحْيٌ عَلَى أَحَدٍ بَعْدَهُ، وَهذِهِ الدَّعْوَى مِنْ مِيرْزَا غُلاَم أَحْمَدَ تَجْعَلُهُ وَسَائِرَ مَنْ يُوَافِقُوْنَهُ عَلَيْهَا مُرْتَدِّيْنَ خَارِجِيْنَ عَنِ اْلإِسْلاَمِ، وَأَمَّا الَّلاهُوْرِيَّةُ فَإِنَّهُمْ كَالْقَادِيَانِيَّةِ فِي الْحُكْمِ عَلَيْهِمْ بِالرِّدَّةِ، بِالرَّغْمِ مِنْ وَصْفِهِمْ مِيرْزَا غُلاَم أَحْمَدَ بِأَنَّهُ ظِلٌّ وِبُرُوْزٌ لِنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ.

Sesungguhnya apa yang diklaim Mirza Ghulam Ahmad tentang kenabian dirinya, tentang risalah yang diembannya dan tentang turunnya wahyu kepada dirinya adalah sebuah pengingkaran yang tegas terhadap ajaran agama yang sudah diketahui kebenarannya secara qath’i (pasti) dan meyakinkan dalam ajaran Islam, yaitu bahwa Muhammad Rasulullah adalah Nabi dan Rasul terakhir dan tidak akan ada lagi wahyu yang akan diturunkan kepada seorangpun setelah itu. Keyakinan seperti yang diajarkan Mirza Ghulam Ahmad tersebut membuat dia sendiri dan pegikutnya menjadi murtad, keluar dari agama Islam. Aliran Qadyaniyah dan Aliran Lahoriyah adalah sama, meskipun aliran yang disebut terakhir (Lahoriyah) meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad hanyalah sebagai bayang-bayang dan perpanjangan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam“.

2. Keputusan Fatwa MUNAS II MUI pada tahun 1980 tentang Ahmadiyah Qadiyaniyah.

3. Pendapat Sidang Komisi C Bidang Fatwa pada Munas VII MUI 2005


Dengan bertawakal kepada Allah subhanabu wata’ala

M E M U T U S K A N

MENETAPKAN :

FATWA TENTANG ALIRAN AHMADIYAH

1. Menegaskan kembali keputusan fatwa MUI dalam Munas II Tahun 1980 yang menetapkan bahwa Aliran Ahmadiyah berada di luar Islam, sesat dan menyesatkan, serta orang Islam yang mengikutinya adalah murtad (keluar dari Islam).

2. Bagi mereka yang terlanjur mengikuti Aliran Ahmadiyah supaya segera kembali kepada ajaran Islam yang haq (al-ruju’ ila al-haqq), yang sejalan dengan al-Qur’an dan al-Hadis.

3. Pemerintah berkewajiban untuk melarang penyebaran faham Ahmadiyah di seluruh Indonesia dan membekukan organisasi serta menutup semua tempat kegiatannya.

Ditetapkan di: Jakarta

 
 

Pada tanggal : 21 Jumadil Akhir 1426 H/28 Juli 2005 M

MUSYAWARAH NASIONAL VII

MAJELIS ULAMA INDONESIA

Pimpinan Sidang Pleno

Ketua, Sekretaris

ttd. ttd.

Prof. Dr. H. Umar Shihab Cap. Prof. Dr. H.M. Din Syamsuddin

(Lihat lampiran Buku Nabi-nabi Palsu dan Para Penyesat Umat karya Hartono Ahmad Jaiz,
Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2008).

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 3.734 kali, 1 untuk hari ini)