GIDI Didukung Pemberontak dan Israel

Pasca peristiwa Tolikara – Papua, satu per satu rahasia GIDI terbongkar. Mulai dari pelarangan jilbab dan shalat Idul Fitri, serta pelarangan speaker dan plang nama masjid mau pun musholla, hingga kerjasama GIDI dengan Israel dan keterlibatannya dengan OPM (Organisasi Papua Merdeka).

GIDI Jatuhkan Denda Rp500 Ribu bagi Warga yang tidak Mengecat Bendera Israel

Inilah ulasan dan beritanya.

***

GIDI Diback-up OPM dan Israel

Kamis, 23/07/2015 07:01:08

GIDI0002

Ilustrasi

Hingga hari ini, GIDI terus berkelit untuk lepas dari tanggung-jawab atas tragedi Tolikara. Di awal mereka berkelit bahwa surat edaran GIDI tertanggal 11 Juli 2015 tentang pelarangan jilbab dan shalat Idul Fitri adalah tidak valid alias palsu. Kemudian ketika validitas surat edaran GIDI terbukti, mereka pun berkelit bahwa surat edaran tersebut tidak resmi.

Lalu saat mereka tidak bisa lari dari fakta keresmian surat yang di buat di atas kop surat resmi GIDI dan ditandatangani pimpinan GIDI lengkap dengan stempelnya, maka mereka berkelit lagi bahwa surat edaran tersebut sudah dibatalkan.

Selanjutnya, tatkala ditanyakan tentang tak adanya satu instansi pun yang menerima surat pembatalan GIDI, kali ini mereka berkelit bahwa surat pembatalannya belum sempat dikirim.

Akhirnya, setelah tidak lagi dapat berkelit baru minta maaf, itu pun atas pembakaran kios, bukan pembakaran masjid, dengan tetap membela para perusuh dan melemparkan kesalahan kepada polisi dan militer serta pemerintah.

Luar biasa, GIDI menganggap semua bangsa Indonesia goblok, sehingga mudah dibodohi oleh kelit lidah busuk mereka. Dasar cecunguk licik dan culas serta tidak punya malu …!!!

Namun demikian, pasca peristiwa Tolikara – Papua, satu per satu rahasia GIDI terbongkar. Mulai dari pelarangan jilbab dan shalat Idul Fitri, serta pelarangan speaker dan plang nama masjid mau pun musholla, hingga kerjasama GIDI dengan Israel dan keterlibatannya dengan OPM (Organisasi Papua merdeka).

GIDI dirikan negara dalam negara

Pelarangan jilbab dan shalat Idul Fitri, serta pelarangan penggunaan speaker dan plang nama masjid mau pun musholla di seluruh kabupaten Tolikara – Papua, bukan berasal dari SK kepala daerah atau pun Perda yang dikeluarkan DPRD setempat, bukan pula aturan keamanan dari TNI ataunpun Polri, akan tetapi hanya berupa surat edaran gereja atas nama GIDI (Gereja Injili di Indonesia).

Dan pihak GIDI pun langsung mengontrol penerapan surat edaran yang mereka terbitkan, serta mengerahkan pemuda Kristen radikal untuk menggebuk siapa saja yang tidak mematuhinya, sebagaimana yang terjadi pada hari raya Idul Fitri tanggal 17 Juli 2015 di Tolikara.

Dengan demikian, GIDI telah menjadikan gereja sebagai legislatif yang membuat peraturan, sekaligus sebagai eksekutif yang melaksanakan peraturan tersebut, dan juga sebagai yudikatif yang menghakimi para pelanggar peraturannya.

Dengan kata lain, bahwa GIDI telah mendirikan negara dalam negara.

Lihat surat edaran GIDI: http://goo.gl/mwazmf

Kerjasama GIDI – Israel

Indonesia sejak dulu hingga kini tidak pernah mengakui Israel sebagai negara, karena sesuai amanat konstitusi yaitu pembukaan UUD 1945 bahwa penjajahan di atas muka bumi harus dihapuskan, dan Israel adalah penjajah dan perampas bumi Palestina.

Karenanya, tidak boleh ada komponen bangsa Indonesia yang menjalin hubungan apa pun dengan Israel, termasuk organisasi keagamaan apapun.

Dengan demikian, GIDI tidak lagi menghargai konstitusi negara RI, bahkan telah secara sengaja menantang dan menentang konstitusi dengan menjadi kepanjangan-tangan Israel di bumi Indonesia.

Dengan kata lain, GIDI adalah pengkhianat bangsa dan negara Indonesia. Lihat surat kerjasama GIDI – Israel :

Https://goo.gl/photos/gvdoqe329dvzgwwd6

Sebagai catatan khusus, bahwa di Papua, khususnya Tolikara, ditemukan lambang Israel bertebaran di mana-mana. Ada apa ???!!!

GIDI Sarang OPM

Dalam siaran pers tertulis yang disebar luaskan oleh Benny Wenda atas nama pemimpin kemerdekaan Papua Barat (Spokesperson of the United Liberation Movement for West Papua / ULMWP) yang berkantor di Oxford – Inggris dengan perlindungan kerajaan Inggris, terkait peristiwa Tolikara menyatakan :

“Di Papua Barat, polisi dan militer Indonesia tidak dikirim untuk melindungi kita tapi untuk membunuh kami.”

Dalam siaran pers tersebut, ULMWP yang dikenal dengan sebutan OPM (Organisasi Papua Merdeka) menyebutkan :

  1. Bahwa peristiwa Tolikara hanya rekayasa polisi dan militer serta pemerintah Indonesia.
  2. Bahwa polisi dan militer serta pemerintah Indonesia telah merampas dan menjajah Papua.
  3. Bahwa polisi dan militer serta pemerintah Indonesia sedang menjalankan proyek genosida untuk menghabisi bangsa Papua.
  4. Bahwa polisi dan militer serta pemerintah Indonesia selalu menciptakan konflik agama di Papua untuk memecah belah dan mengadu domba bangsa Papua.
  5. Bahwa perjuangan memerdekakan Papua akan terus berlanjut, karena Indonesia adalah masalah, sedang Papua merdeka adalah solusinya.

Substansi pernyataan OPM tersebut sama persis dengan isi pernyataan GIDI pasca kejadian, yaitu “melimpahkan kesalahan kepada polisi dan militer serta pemerintah” untuk mencari perhatian internasional.

Pernyataan resmi OPM : http://goo.gl/5r6bg7

Pernyataan resmi GIDI : http://goo.gl/1wsymk

Istana dan Tolikara

Pada awal kejadian, Presiden RI, Joko Widodo, hanya menyatakan “menyesal” atas peristiwa Tolikara, tidak lebih.

Namun, setelah masalahnya menjadi issu nasional, baru Jokowi menegaskan pentingnya penegakan hukum dan memerintahkan pembangunan

Kembali masjid dan kios yang dibakar, sebagaimana disiarkan secara luas oleh berbagai media cetak mau pun elektronik.

Sedang Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, seenaknya menyatakan gara-gara speaker, sehingga ia patut dipanggil “Mr. Speaker”. Lihat pernyataan JK di

Media : http://goo.gl/4t5y6j

Dan Kepala Staf Istana Kepresidenan yang diberi wewenang besar oleh Presiden RI, Luhut Panjaitan, yang beragama Kristen, pada Selasa 21 Juli 2015, ngotot menyatakan bahwa peristiwa Tolikara hanya sebuah kasus biasa, bukan konflik agama. Baca beritanya : http://goo.gl/gkfd8h

Tragedi Konflik Agama

FPI melihat dan menilai bahwasanya peristiwa Tolikara – Papua bukan sebuah “kasus” biasa, tapi suatu “tragedi” yang merupakan “konflik Agama” dan sekaligus menodai dan mencederai rakyat, bangsa dan negara, sehingga wajib ditangani dengan ekstra serius secara komprehensif hingga tuntas.

Kini, FPI sedang menunggu dan melihat serta akan mencermati proposal perdamaian macam apa yang disiapkan pemerintah untuk Tolikara.

Yang jelas, FPI akan menolak keras jika yang diajukan berupa proposal pemutihan ala Mr. Speaker dengan tetap memelihara intoleransi dan diskriminasi terhadap umat Islam.

Dan FPI tetap menuntut penuntasan proses hukum terhadap para perusuh liar yang biadab. Kita lihat saja esok. Insya Allah.

Seruan FPI

Ayo …, bersihkan bumi Cendrawasih dari diskriminasi dan intoleransi … !

Ayo …, bersihkan bumi Nuu-Waar dari separatis Kristen radikal liar … !!

Ayo …, jadikan selalu bumi Irian sebagai pulau NKRI yang toleran … !!!

Allaahu akbar … !!!!!

[Habib Muhammad Rizieq Syihab]

GIDI Jatuhkan Denda Rp500 Ribu bagi Warga yang tidak Mengecat Bendera Israel

GIDI0003

Banner kegiatan GIDI yang dipampang di kantor pusat GIDI, Jayapura, yang mengundang pendeta asal Israel Benjamin Berger hadir dalam Seminar dan KKR di Tolikara.

Tolikara (SI Online) – Populernya bendera bintang David lambang negara Zionis Israel di Tolikara, Papua, ternyata tak lepas dari peran Gereja Injili di Indonesia (GIDI). Organisasi gereja inilah yang mewajibkan masyarakat mengecat rumah-rumah mereka dengan lambang bendera Israel.

Menurut pengakuan warga, jika mereka tidak mengikuti perintah GIDI itu maka sanksi denda senilai Rp500 ribu dijatuhkan kepada mereka.

“Kami didenda Rp500 ribu jika tidak cat kios, itu kami punya kios,” kata seorang pedagang asal Bone, Agil Paweloi (34), di tempat pengungsian di Tolikara, Papua, Jumat (24/7) dini hari, seperti dilaporkan Republika Online. 

Agil menuturkan pengecatan ruko, rumah, dan trotoar jalan diwajibkan dengan warna biru dan putih. Dalam kegiatan tu, lanjutnya, pihak GIDI menjelaskan kepada warga bahwa instruksi pengecatan tersebut dalam rangka menyambut kedatangan pendeta dari Israel.

Berdasarkan spanduk yang dipampang di halaman kantor Pusat GIDI di Jayapura, acara seminar KKR Internasional GIDI yang berlangsung pada 15 Juli-19 Juli di Kabupaten Tolikara dihadiri pendeta asal Israel, yakni Benjamin Berger.

Tidak hanya penduduk Muslim, seluruh masyarakat Tolikara ikut diwajibkan mengecat rumah mereka dengan warna bendera Israel. Di ruas-ruas jalan dan ruko-ruko pedagang dicat berwarna biru putih. “Saya ikut cat saja dari pada harus bayar Rp500 ribu,” ujarnya.

red: ummu syakira/ Jumat, 24/07/2015 20:58:40

***

Kios-kios warga dihias mengikuti bendera Israel biru-putih bergambar Bintang David.

Kabupaten Tolikara merupakan bagian dari Provinsi Papua dengan luas sekitar 5.234 km2. Tolikara yang diapit Kabupaten Puncak Jaya, Kabupaten Jawawijaya Kabupaten Sarmi dan Kabupaten Jayawijaya merupakan kabupaten baru hasil pemekaran pasca hadirnya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus.

Kabupaten Tolikara yang beribukota di Karubaga terbagi dalam 514 Desa dan 35 Kecamatan. Komoditi unggulan Kabupaten Tolikara yaitu sektor pertanian dan jasa. Sub sektor Pertanian komoditi yang diunggulkan berupa jagung dan ubi kayu.

Yang menarik, meski merupakan tempat terpencil dan akses masih sulit, beberapa pihak mengatakan, pesawat milik orang asing bisa datang dan pergi seenaknya.

Sebagai penunjang kegiatan perekonomian, di wilayah ini tersedia satu bandar udara, yaitu Bandara Bokondini. Namun, seperti dilaporkan Hidayatullah.com, banyak bandara khusus orang asing yang hilir mudik tidak bisa terpantau.

“Di sini banyak pesawat asing datang dan pergi tidak terpantau. Karena aparat di sini sedikit,” kata Hidayat Nurwahid Wakil Ketua MPR.

Yang tidak kalah menarik, banyak bendera-bendera Israel jadi pajangan warga. Seperti dilaporkan Hidayatullah.com, mudah dijumpai kios-kios warga dihias mengikuti bendera Israel biru-putih bergambar Bintang David.

Pada Senin (21/07/2015) masyarakat luar Tolikara mengikuti arak-arakan penutupan kegiatan seminar dan KKR Pemuda GIDI tingkat internasional yang diselenggarakan sejak tanggal 13 Juli 2015. Diperkirakan sekitar 7000 orang mengikuti arak-arakan, dan sebagian banyak mengibarkan bendera Israel. Sementara itu, banyak warga lokal sendiri masih kurang memahami arti bendera-bendera Israel itu.

red: shodiq ramadhan

(nahimunkar.com)

 

(Dibaca 3.174 kali, 1 untuk hari ini)