Previous Post
Tweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on Facebook
Read on Mobile

Rais Am PBNU KH Maruf Amin Haramkan Ucapkan Selamat Natal

KH Maruf Amin (IST)

by 16 Desember 2015

Rais Am Pengurus Besar NU (PBNU) KH Makruf Amin menegaskan keharaman mengucapkan dan ikut perayaan Natal.

Menurut Kiai Maruf Umat Islam haram mengikuti perayaan Natalan bersama, Karena mengandung unsur ibadah, Sehingga akan merusak aqidah dan keimanan umat Islam.

“Bahkan ucapan Selamat Hari Natal, jangan sampai diucapkan oleh umat Islam,” ungkap Kiai Maruf.

Selain itu, Kiai Maruf mengungkapkan, adapun yang diperbolehkan adalah ucapan Selamat Tahun Baru dan itu saja masih diperselisihkan (boleh dan tidaknya).

By: suaranasional.com/16/12/2015

(nahimunkar.org)

(Dibaca 8.122 kali, 1 untuk hari ini)
Next Post

Related Post

KH Ma’ruf Amin dan Oknum MUI Ketularan Bohong? Ingkari Fatwa MUI Sendiri Soal Haramnya Mengucapkan Selamat Natal
KH Ma’ruf Amin dan Oknum MUI telah mengingkari Fatwa MUI yang mereka keluarkan sendiri, yang

Related Post

Investigasi MUI Pusat Temukan Berbagai Penyimpangan Bupati Purwakarta
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH Makruf Amin Investigasi MUI menemukan berbagai penyimpangan kebijakan

3 thoughts on “Rais Am PBNU KH Maruf Amin Haramkan Ucapkan Selamat Natal”

  1. Jika saya tak lagi respek thdp kyai atau siapapun bukanlah dan tak ada hubungan dia ada di kubu mana atau pilih siapa. Yang membuat saya tak respek dan malah muak krn inkonsistensi ucapannya, yang disesuaikan dg pesanan atau ditukar dg harga yg amat murah dan murahan sesuai dg ambisi jabatan dan kepentingannya… Muaaaaakkkkkk

  2. Itu sebelum ma’ruf amin jadi cawapres. kini setelah jadi cawapres, dia berkilah bahwa tidak ada larangan..

    Benar lah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الرَّجُلِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

    “Kerusakan yang ditimbulkan oleh dua serigala kelaparan yang dilepaskan dalam sekawanan kambing lebih ringan dibandingkan (parahnya) kerusakan agama yang ditimbulkan oleh ambisi seseorang terhadap harta dan jabatan”” (Shahih, HR. Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Hibban. Lihat Shahih At-Targhib Wat Tarhib no. 1710)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *