Raja Tega, Tidak Mengingatkan Saat Mau Terjerumus ke Jurang Murtad dan Kemusyrikan


 

Sebenarnya yang terhitung sebagai raja tega dan tidak punya perasaan justru mereka yang tidak mau mengingatkan orang yang akan terjerumus, WALAU MENGAKU sebagai PENDUKUNG SETIA.

Apalagi mengenai Salam Islam –Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh— sebenarnya sudah cukup, tapi malah dilanjutkan dengan salam-salam agama-agama lain, yang mengakibatkan pelakunya bisa murtad alias keluar dari Islam, dan bisa musyrik.
https://www.nahimunkar.org/bisa-murtad-dan-musyrik-mengucapkan-salam-islam-disertai-salam-agama-lain/?

Sebaliknya, yang punya hati belas kasihan justru yang mau mengingatkan orang ketika akan terjerumus, walau itu dari mulut orang yang tidak disukai, bahkan dikecam.

Maka celakalah manusia yang dilingkupi oleh gerombolan2 yang tidak mau mengingatkan, walau sudah hamper kecemplung jurang yang sangat mengerikan, bahkan jurang kemusyrikan yang merupakan dosa paling besar, bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam jadi murtad.

Karena kalau mati dalam keadaan musyrik, belum sempat bertobat, maka haram masuk surga, dan tempatnya di neraka, kekal selamanya.

Allah Ta’ala  berfirman:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang berbuat syirik terhadap Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun” (QS. Al Maidah: 72).

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini:

أي فقد أوجب له النار وحرم عليه الجنة كما قال تعالى ” إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء

“Maksudnya, Allah wajibkan mereka (orang yang berbuat syirik) masuk neraka dan Allah haramkan mereka masuk surga. Sebagaimana Allah juga berfirman (yang artinya): Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (Tafsir Ibnu Katsir)./ muslim.or.id/

Menjawab Penghujat

Bagaimana kalau ada yang nyinyir: Ngapain muat-muat yang beginian, soal bahayanya salam oplosan dan fatwa haramnya mengikuti upacara natal bagi Muslim. Toh para pejabat yang tidak sayang kepada Islamnya dan golongan terbalik yang justru kasih-kasihan dengan orang kafir ya tetap akan bercengkerama dengang kafirin?

Jawaban cukup dibacakan ayat ini:

{وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ} [الأعراف: 164]

Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhan kalian, dan supaya mereka bertakwa [Al A’raf164]

Ilustrasi / foto reqnewscom

(nahimunkar.org)