Jenazah H.M Lukminto (Ie Djin Sin) dishalati  di Masjid Baitussyukur, Kompleks Pabrik PT Sritex, Sukoharjo, Kamis (6/2/2014) malam. H.M Lukminto meninggal dalam usia 68 tahun.

.

  

SOLO (voa-islam.com) – Rajak tekstil Asia Tenggara ini memeluk agama Islam. Tetapi jenazahnya diperlakukan menurut tradisi Cina. Tak langsung dikubur. Tapi dibiarkan beberapa hari. Tujuannya memberikan kesempatan pada sanak keluarga, kerabat, dan sahabat yang jauh agar bisa memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum.

Sepekan sudah Haji Muhammad Lukminto meninggal dunia. Namun jasadnya masih disemayamkan di Rumah Duka Tiongting Jebres, Solo. Dalam tradisi dan keyakinan Cina, orang meninggal baru bisa dikubur atau dikremasi setelah diampuni para dewa dan menemukan hari baik. Jika tidak, kematian tersebut bisa membawa petaka.

Itu sebabnya, banyak kalangan mempertanyakan HM Lukminto itu muslim apa bukan? Lalu, bagaimana kisah dan jalan Lukminto memeluk Islam, “Pak Luk masuk Islam karena keinginan sendiri, bukan karena ajakan orang atau desakan pihak lain,” kata Ny Susyana, istri mediang HM Lukminto.

Lantas Susi mengisahkan bagaimana Lukminto memeluk Islam. Pada suatu akhir pekan di 1993 Lukminto beristirahat di vilanya di Tawangmangu, Karanganyar. Seperti biasa, di tempat peristirahatan yang menghadap langsung ke Gunung Lawu itu, Lukminto ditemani Edi, tukang pijatnya.

Hari minggu siang Lukminto dipijat hingga tertidur pulas. Karena Lukminto tertidur pulas, Edi pun pulang. “Menjelang ashar, Pak Luk terbangun karena merasa ada yang membangunkan. Dia kira tukang pijatnya yang membangunkan,” kata Hj Susyana, mengisahkan.

Ternyata tak ada seorang pun yang membangunkan Lukminto. Tukang pijatnya sendiri sudah pulang ke Solo. Lalu Lukminto bercerita pada istrinya bahwa dia baru saja ada yang membangunkan dan minta agar Lukminto melakukan solat. “Pak Luk minta agar tukang pijatnya dipanggil. Dia penasaran ingin tahu solat itu seperti apa,” kata Susyana.

Setelah tukang pijitnya datang, Lukminto minta dijelaskan solat itu seperti apa? Lalu, tukang pijatnya itu mengajak Lukminto berwudhu dan melaksanakan. Setelah ikut solat, Lukminto makin penasaran ingin tahu makna mimpinya itu.

Pria yang terlahir dengan nama Ie Djie Sin itu bertanya tentang makna mimpi itu kepada H Harmoko, mantan Menteri Penerangan Orde Baru. “Itu artinya Pak Luk suruh masuk Islam,” kata Harmoko seperti ditirukan istri Lukminto.

Lukminto tak percaya atas jawaban Harmoko, karena Harmoko memang suka becanda. Lukminto paham betul watak Harmoko, karena mereka bersahabat sejak kecil di Kertosono, Jawa Timur.

Karena itu, Lukminto pun menanyakan makna mimpinya kepada Prof Dr BJ Habibie, Menristek pada waktu itu. Dengan gayanya yang khas dan sangat intelek, Habibie menjelaskan kepada Lukminto.

“Pak Luk selama ini sudah berbuat baik terhadap banyak orang, menolong orang miskin, menggaji ribuan orang, membantu banyak masjid, dan juga membangun masjid sendiri di pabrik. Itu artinya Pak Luk diminta rajin datang ke masjid,” kata Habibie seperti yang juga pernah diceritakan sendiri oleh Lukminto semasa hidup.

Sejak itulah Lukminto memeluk Islam. Lalu, Lukminto memilih Ustadz Amir SH dari Ngruki menjadi pembimbing agamanya. “Pada tahun itu juga, Pak Luk berangkat umroh bersama Pak Habibie,” kata Susyana.

Susyana sendiri tak langsung ikut memeluk Islam. Selama dua tahun Susyana mengikuti perubahan yang terjadi pada diri Lukminto. “Saya lihat Pak Luk lebih tenang dan tidak emosional. Saya sendiri baru ikut Pak Luk memeluk Islam pada 1995,” ujar Hajah Susyana.

Hari Minggu, 16 Februari 2014 jasad Lukminto dikebumikan dengan cara Islam di Komplek Pemakaman Keluarga Delingan, Karangannyar. (dbs/afg/voa-islam.com) Sabtu, 16 Rabiul Akhir 1435 H / 15 Februari 2014 17:06 wib

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.302 kali, 1 untuk hari ini)