• Ganjar, Ketua RW 10 di lingkungan tempat tinggal Hilmi, juga jarang melihat Hilmi salat berjamaah di masjid sekitar. “Saya tidak pernah melihat,” ucapnya kepada merdeka.com.

Inilah hasil investigasi wartawan yang dituangkan di sebuah situs dalam 4 seri, 1-4.

Selamat menyimak.

***

Misteri Hilmi Aminuddin (1) (1-4)

Bungkamnya putra pentolan NII

Reporter : Islahudin, Faisal Assegaf

Senin, 4 Maret 2013 07:00:00

Rumah Hilmi Aminuddin_84532784230

Rumah Hilmi Aminuddin di Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. (merdeka.com/islahuddin)

Setelah mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaaq, kasus dugaan korupsi impor daging sapi ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga menyeret Ridwan Hakim, putra keempat Ketua Majelis Syuro PKS Hilmi Aminuddin. Ridwan menjalani pemeriksaan Senin pekan lalu diyakini berperan sebagai penghubung Luthfi dengan pihak swasta.

Meski perkara itu menjerat anaknya, Hilmi tetap bungkam. Paling cerewet membela dia adalah para pentolan partai. “Kita tidak perlu ribut-ribut, tinggal bapaknya, ustad Hilmi Aminuddin, memanggil anaknya kembali untuk menghormati hukum. Menghormati hukum adalah bagian syariah Islam yang menjadi asas parpol itu,” kata Wakil Ketua KPK Busyro Muqoddas di kantornya, Jakarta, Rabu dua pekan lalu. Dia mengomentari Ridwan yang kabur ke Turki sehari sebelum dicekal.

Ridwan akhirnya pulang dan memenuhi panggilan KPK. Hilmi juga tidak bersuara. Menurut Yusuf Supendi, salah satu pendiri Partai Keadilan, sebelum berganti nama menjadi PKS, Hilmi selalu berpura-pura. Dia mengaku sudah lama mengenal Hilmi sejak masih kuliah di Universitas Islam di Madinah, Arab Saudi, akhir 1979.

Tidak banyak yang tahu soal Hilmi. Dia memang jarang berbicara kepada media. Padahal, kata Yusuf, Hilmi bersama Luthfi dan Presiden PKS Anis Matta merupakan perusak partai. Dia mengungkapkan bulan lalu kedatangan tokoh-tokoh mantan anggota Negara Islam Indonesia (NII). Dari penjelasan mereka, dia mengenal ayah dari Hilmi merupakan petinggi Darul Islam atau NII, yakni Danu Muhammad Hasan.

Pada 1971, Presiden Soeharto diduga menugaskan Ali Moertopo untuk mengendalikan manuver NII. Kemudian Moertopo memerintahkan Pitut Soeharto melaksanakan tugas ini. Akhirnya terjadi pertemuan sejumlah anggota NII di rumah Danu, Jalan Situ Aksan, Bandung, Jawa Barat. Akibat pertemuan itu, NII pecah dua menjadi NII Fillah dan NII Fisabilillah. NII Fillah setuju menghentikan kegiatan separatis mereka dan mendapat ampunan dari Soeharto, sedangkan kelompok kedua menolak tawaran bergabung. “Danu Muhammad Hasan termasuk menerima amnesti,” kata Yusuf saat merdeka.com menemui dia di rumahnya, Jalan Lapan V Nomor 28 RT 012 RW 01 Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Senin malam pekan lalu.

Dalam pertemuan itu, Ismail Pranoto terlambat hadir. Daud Beureuh dari Aceh lantas menunjuk Danu menjadi Panglima NII Jawa dan Madura. menurut informasi dari wartawan senior mewawancarai Pitut di rumahnya, Surabaya, Jawa Timur, Danu bekerja membantu Ali Moertopo di Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) pada 1971-1974. Atas bantuan Ali Moertopo pula, Hilmi bisa melanjutkan kuliah ke Madinah, Saudi, hingga tamat dari Fakultas Syariah akhir 1970-an. 

Diuber dua pekan terakhir, Hilmi hanya menjawab singkat telepon merdeka.com. “Maaf saya sedang rapat, nanti saja dihubungi.” Hingga artikel ini dilansir, panggilan telepon atau pesan singkat tidak ditanggapi. Diburu di rumahnya, Lembang, Jawa Barat, dia juga tidak dapat ditemui.

Padahal, menurut Ketua RW 10 Ganjar, Hilmi ikut mencoblos saat pemilihan gubernur Jawa Barat di lingkungan tempat tinggalnya, akhir bulan lalu. Pasangan Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar, calon dari PKS, akhirnya menang.

[fas]

***

Misteri Hilmi Aminuddin (2)

Melongok petilasan sang imam

Reporter : Islahudin, Faisal Assegaf

Senin, 4 Maret 2013 07:27:00

Rumah Hilmi Aminuddin_84532784231

Rumah Hilmi Aminuddin di Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. (merdeka.com/islahuddin)

Jauh dari keramaian di atas bukit menuju Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Di sanalah, sang imam, Hilmi Aminuddin, tinggal sejak 2007. Letaknya sebelah kanan jalan, persis di tikungan. Alamat persisnya adalah Kampung Babakan Bandung RT 03 RW 10 nomor 82, Desa Pagar Wangi, Kecamatan Lembang.

Dari arah jalan utama – cuma cukup dua mobil – sudah terlihat bengkel mobil jip kepunyaan tuan rumah. Sejumlah kendaraan dan 20 sepeda motor terparkir di bengkel terbuka itu. Dua karyawan bengkel berseragam serba hitam sedang bekerja, salah satunya sedang mengelas. “Kami bukan tidak mau ngomong, takut salah,” kata seorang lelaki berkepala pelontos dengan wajah basah oleh air wudu kepada merdeka.com, Kamis pekan lalu.

Meski didesak, dia menolak memberi keterangan seputar Hilmi. Satunya lagi, dengan alat las di tangan, tampak mudah dibujuk. “Beliau sudah jarang ke sini,” ujarnya. Seniornya itu memberi tanda agar dia tidak banyak bicara. Obrolan pun berhenti.

Sikap menutup diri juga ditunjukkan oleh seorang petugas keamanan di pintu gerbang kompleks rumah dinamai Padepokan Madani (Madani Centre) itu. Lelaki asal menyebut namanya Doni ini mengaku baru bekerja bulan ini dan tidak tahu apa-apa. Dia membantah, lokasi tempatnya bekerja itu merupakan kediaman ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hilmi Aminuddin. “Ini penginapan dan sudah tidak pakai.” Selepas itu, dia mencatat di buku tamu soal kedatangan merdeka.com.

Dia tidak mengizinkan merdeka.com masuk. Meski begitu, dari pintu pagar besi bercat hitam, terlihat kompleks itu sangat lega. beberapa mobil tampak terparkir di sana. Menurut spanduk di sisi jalan masuk, kompleks itu tidak sekadar tempat tinggal Hilmi. Namun juga menyediakan penginapan dengan tarif 350 ribu per malam dan 450 ribu saban malam di akhir pekan.

Kenyataannya mereka berbohong. Seorang anak pemilik kios membenarkan kompleks tadi merupakan tempat bermukim Hilmi. Warungnya cuma 15 meter dari sana.

Ketua RW 10 Ganjar mengungkapkan Hilmi sudah tinggal di sana sejak 2007. “Dia terakhir terlihat Ahad pekan lalu saat mencoblos dalam pemilihan gubernur Jawa Barat,” tuturnya saat ditemui di rumahnya, di seberang jalan masuk rumah Hilmi. Pemilihan itu dimenangkan oleh jagoan dari PKS, pasangan Ahmad Heryawan dan Deddy Mizwar.

Ganjar mengaku tidak tahu banyak mengenai kehidupan dalam kompleks rumah Hilmi itu. Dia cuma bilang Hilmi tidak pernah salat berjamaah atau memberikan khotbah Jumat di masjid, walau letaknya tepat di belakang rumahnya itu. Cuma anak buahnya suka mengajar ibu-ibu setempat saban Jumat sore. “Pak Haji (Hilmi) orangnya suka tegur sapa, baik. Dia juga sederhana, tidak tampak seperti orang kaya.”

Selain di sana, Hilmi diduga memiliki kompleks sekolah berasrama Nurul Fikri di Cibodas. Lokasinya tidak jauh dari kawasan wisata air terjun Maribaya. “Beliau (Hilmi) sudah jarang ke sini,” ujar seorang perempuan dari bagian hubungan masyarakat Nurul Fikri saat dihubungi melalui telepon.

Di dekat sana, juga terdapat peternakan sapi. Senasib saat bertamu ke kediaman Hilmi. Seorang petugas keamanan membantah peternakan itu milik Hilmi. “Ini punya orang Bandung, namanya Baihaqi” ucapnya seraya menutup gerbang.

Menurut Yusuf Supendi, salah satu pendiri Partai Keadilan sebelum berganti nama menjadi PKS, peternakan itu dikelola oleh Wildan, putra kedua Hilmi. Sedangkan Baihaqi, kata sumber merdeka.com, adalah adik dari bekas Menteri Koperasi Adi Sasono.

Jangankan untuk bertemu langsung, Hilmi selama dua pekan terakhir juga tidak menjawab telepon atau membalas pesan singkat dikirim merdeka.com.

[fas]

***

Misteri Hilmi Aminuddin (3)

Dulu terlilit utang kini penguasa Lembang

Reporter : Faisal Assegaf

Senin, 4 Maret 2013 07:56:00

Ketua Majelis Syuro PKS Hilmi Aminuddin_853642574

Ketua Majelis Syuro PKS Hilmi Aminuddin. (dakwatuna.com)

Beginilah kehidupan Hilmi Aminuddin sepulang menamatkan kuliah pada akhir 1979 dari Fakultas Syariah Universitas Islam, Madinah, Arab Saudi.Dia menjadi juru dakwah di kedutaan Besar Saudi di Jakarta.

Hilmi saat itu masih hidup merana. Istrinya tidak bekerja. Mereka mengontrak rumah petakan tanpa dilapisi ubin di Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Hidupnya mengandalkan pendapatan bulanan sebagai dai. “Motor saja dia tidak punya,” kata Yusuf Supendi, salah satu pendiri Partai Keadilan sebelum berganti nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), saat ditemui merdeka.com di tempat tinggalnya, Jalan Lapan V nomor 28, Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Senin malam pekan lalu.

Dia lantas pindah menyewa rumah agak lebih besar di daerah Kalimalang, Jakarta Timur. Sang istri, Nining, mulai membantu suaminya dengan berjualan busana muslimah. Istri Yusuf Supendi termasuk rekanan bisnisnya. Meski begitu, kehidupan Hilmi masih jauh dari sejahtera.

Motor pertama dia peroleh dari jatah kredit seorang guru kader PKS bernama Bali Pranowo. Kemudian mendiang Sarwizih, pengusaha ban sekaligus murid Hilmi, membelikan dia mobil Kijang seharga Rp 4,6 juta. Lantas dia mendapat mobil jip Rocky dengan uang muka dan cicilan bulanan dibayarkan oleh mantan Menteri Riset dan Teknologi Suharna. Suharna tidak bisa ditemui di rumahnya, Depok, Jawa Barat, saat merdeka.com ingin meminta konfirmasi mengenai cerita ini.

Yusuf menegaskan dia termasuk orang paling dekat dengan Hilmi. Saking karibnya, Hilmi memanggil Yusuf dengan sebutan ayi (adik dalam bahasa Sunda) dan Yusuf memanggil Hilmi akang (kakak). Menurut dia, Hilmi sering memanggil dia ke rumah jika ingin menumpahkan perasaannya terhadap pelbagai persoalan dan itu bisa berlangsung dalam hitungan jam. “Akang masih banyak utang,” ujar Yusuf menirukan ucapan Hilmi pada satu waktu.

Setelah mendirikan Partai Keadilan pada 1998, Hilmi mulai rajin mencari dana buat menghidupi partai baru itu. Yusuf mengungkapkan Hilmi rajin mondar-mandir Timur Tengah. Menurut informasi dia peroleh, setoran itu berasal dari lembaga sosial atau donatur pribadi di Kuwait, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan belakangan Qatar. “Hilmi sendiri cerita sama saya. Kalau nggak salah pernah ada setoran Rp 800 juta.”

Perlahan kehidupannya merangkak naik. Dia bisa membangun rumah tiga lantai di dekat kontrakannya di Kalimalang. Kemudian pada 2003, dia membangun vila di Cinangka, Pantai Karang Bolong, Banten. Hingga 2004, rapat majelis syuro sering menggunakan vila itu. Yusuf mengatakan vila itu terdiri dari belasan bangunan dan masing-masing meliputi dua lantai. Vila itu berdiri di atas lahan milik orang NII (Negara Islam Indonesia) yang diserahkan kepada Danu Muhammad Hasan, ayah Hilmi, dan diakui sebagai wakaf Haji Malik (tokoh Banten).

Ketika dihubungi melalui telepon selulernya, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Banten Mas’ah Toyib awalnya berbelit-belit saat ditanya soal vila itu. Dia akhirnya mengakui keberadaan bangunan itu, namun tidak tahu asal usulnya.

Empat tahun kemudian, dia membangun rumah dan penginapan dilengkapi pelbagai fasilitas di Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Konon ukuran luasnya bukan hektar tapi bukit. “Lima bulan lalu ada yang cerita ke saya sudah memiliki dua bukit, mau membeli bukit ketiga,” tutur Yusuf. Dia juga memperoleh informasi Hilmi memiliki peternakan sapi di Desa Cibodas, Lembang, dan kabarnya pabrik susu miliknya lebih canggih ketimbang pabrik Indomilk di Pasar Rebo.

Menurut Yusuf, kekayaan Hilmi mulai melonjak sejak 2004. Menjelang kampanye, dia menerima Rp 500 juta dari pengusaha Arifin Panigoro. “Hilmi Aminuddin bercerita kepada istri saya.” Namun telepon seluler Arifin Panigoro tidak aktif saat merdeka.com berupaya meminta konfirmasi soal kebenaran kisah ini. 

Mengutip edisi khusus majalah Tempo, Desember 2006, Hilmi dan komplotannya dicurigai menerima RP 21 miliar lantaran menyokong pasangan Wiranto-Salahuddin Wahid pada putaran pertama pemilihan presiden 2004. Menurut Yusuf, informasi adanya uang politik itu juga diperoleh Ketua Dewan Kewanitaan PKS Nursanita Nasution dari teman kuliahnya menjadi tim sukses Wiranto. Padahal, kata dia, 70 persen anggota majelis syuro sepakat mendukung pasangan Amien Rais-Siswono Yudohusodo.

Dengan alasan fulus pula, Yusuf menambahkan, Hilmi menjatuhkan pilihan kepada pasangan Susilo Bambang Yuhoyono-Muhammad Jusuf Kalla dalam babak kedua. Dia mendapatkan informasi dari Hasan Basyir, orang Sudan yang membantu dakwah di Indonesia, yang diceritakan langsung oleh wartawan stasiun televisi Aljazeera Othman al-Batiri, Hilmi menerima Rp 34 miliar atas dukungan itu. “Yang terima Luthfi (mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq). Othman menyaksikan penyerahan Rp 34 miliar itu.

Pada akhir Juni 2004, Yusuf menyampaikan kepada Salim Seggaf al-Jufri untuk segera mengaudit agar jelas mana kekayaan Hilmi, uang jamaah, dan uang partai. “Ini akan bermasalah bila Hilmi mati,” katanya. Pada pertengahan Maret 2011, dia juga sudah melaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi soal Hilmi rajin menerima setoran.

[fas]

***

Misteri Hilmi Aminuddin (4)

Rajin berdakwah malas salat berjamaah

Reporter : Faisal Assegaf

Senin, 4 Maret 2013 08:30:00

Rumah Hilmi Aminuddin_84532784232

Bengkel mobil milik Ketua Majelis Syuro PKS Hilmi Aminuddin di samping rumahnya, Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. (merdeka.com/islahuddin)

Setamat dari kuliah di Universitas Islam, Madinah, Arab Saudi, akhir 1979, Hilmi Aminuddin bekerja sebagai juru dakwah di Kedutaan Besar Arab Saudi, Jakarta. Saat itu, dia mengontrak di daerah Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat, sebelum akhirnya menyewa rumah di Kalimalang, Jakarta Timur.
Menurut Yusuf Supendi, Hilmi mendapat gaji dari pemerintah Saudi. “Jumlahnya fantastis untuk seorang dai ketika itu,” kata Yusuf Supendi, salah satu pendiri Partai Keadilan sebelum berganti nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), saat ditemuimerdeka.com di kediamannya, Jalan Lapan V nomor 28, Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Senin malam pekan lalu. Namun dia mengaku tidak ingat berapa jumlah pendapatan Hilmi itu.

Dia mengungkapkan Hilmi rajin berdakwah dari rumah ke rumah alias halaqah. Normalnya, seorang ustad membimbing satu kelompok beranggotakan sepuluh jamaah, Ketika itu, Hilmi menjadi guru buat Soeripto, Arman, Ema Ruhaema, hartono Mardjono, dan Yusuf Asyari.

Kegiatan dakwah Hilmi sempat berhenti lantaran dia ditahan pada 1981-1983. Setelah bebas, Yusuf mengaku mengurus kembali gaji Hilmi sebagai dai dari kedutaan Arab Saudi. Sekitar 1990-an Hilmi memutuskan berhenti menjadi juru dakwah Kedutaan Saudi.

Sayang sebagai lulusan dari Fakultas Syariah, Hilmi dianggap oleh sebagian tokoh senior PKS tidak suka melaksanakan kewajiban salat berjamaah di masjid atau musala dekat rumahnya. Padahal, menurut sejumlah hadis salat berjamaah di masjid atau musala fardu ain (kewajiban individu). 

Seperti sabda Nabi Muhammad diriwayatkan oleh Abu Hurairah. “Aku berniat memerintahkan kaum muslimin untuk mendirikan salat. Maka aku perintahkan seorang untuk menjadi imam dan salat bersama. Kemudian aku berangkat dengan kaum muslimin membawa seikat kayu bakar menuju orang-orang tidak mau ikut salat berjamaah dan aku bakar rumah-rumah mereka.”

Ali bin Abi Thalib berkata, “Tidak ada tetangga masjid kecuali shalat di masjid.”

Daud Rasyid, dosen dari Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Jati, Bandung, Jawa Barat, termasuk yang marah mendengar kelakuan Hilmi itu. “Salah satu penyebab utama Daud Rasyid keluar dari PKS karena dia mengetahui Hilmi tidak suka salat berjamaah di musala dekat rumahnya di Kalimalang,” ujar Yusuf. 

Saat dimintai konfirmasi, Daud Rasyid tidak menjawab panggilan telepon atau pesan singkat dari merdeka.com.

Fakta lainnya, lanjut Yusuf, para peserta rapat kerja pengurus PKS Sumatera Bagian Selatan di Lembang mempertanyakan tidak hadirnya Hilmi Aminuddin dalam sebuah salat berjamaah diimami oleh Ketua Dewan Syariah Pusat PKS Surahman Hidayat.

Yusuf mengaku mendapat keluhan dan aduan soal kelakuan Hilmi itu dari Rubai, asisten Hilmi. “Saya tidak salat di musala karena saya punya guru, Hilmi Aminuddin,” ucapnya menirukan perkataan Rubai.

Ganjar, Ketua RW 10 di lingkungan tempat tinggal Hilmi, juga jarang melihat Hilmi salat berjamaah di masjid sekitar. “Saya tidak pernah melihat,” ucapnya kepada merdeka.com.

[fas]/ merdeka.com.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 5.296 kali, 1 untuk hari ini)