بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ramadhan tahun 1989 saya dengan sejumlah wartawan dari pusat Jakarta ikut apa yang disebut safari ramadhan oleh seorang menteri zaman Presiden Soeharto. Safari itu dari Aceh hingga Lampung. Artinya, dari ujung utara Sumatera sampai ujung selatan. Siang dan malam berjalan dengan rombongan mobil yang dipandu polisi, dari satu kota ke kota lain.

Di tengah hari ramadhan, saya saksikan, kendaraan di jalana-jalan mana saja wajib minggir. Dan tepat di sebelah mobil rombongan yang saya tumpangi, saya lihat ada bus yang penuh penumpang, sedang minggir karena ada rombongan menteri ini, tahu-tahu bus penuh penumpang itu terguling ke parit. Karena tanah yang dilindas ban bus itu tidak kuat, hingga bus itu tidur miring seketika dalam keadaan penuh penumpang.

Astaghfirullah… mereka adalah rakyat yang sedang berpuasa… sedang berjejal di dalam bus, lalu busnya terguling… entah bagaimana selanjutnya, saya tidak tahu, karena mobil yang saya tumpangi langsung tetap melaju ikut rombongan agar tidak tertinggal. Padahal tergulingnya bus itu juga karena harus minggir lantaran bus yang kami tumpangi untuk 30-an wartawan memang ukuran besar.  Bukan mobil sedan (kecil) seperti yang untuk menjemput menteri dan para pejabat.

Qadarullah, di hari berikutnya, giliran bus yang kami tumpangi yang terguling. Sopir bus –yang mesti memacu busnya agar dapat mengikuti rombongan–  tidak mampu mengendalikannya di jalan berliku yang turun tajam. Maka tergulinglah bus ini dan tetap dalam keadaan terseret di aspal dengan dinding samping bus yang kacanya pecah berhamburan. Para wartawan yang duduk di bus itu terjengkang dan berhamburan entah bagaimana bentuknya. Ada sejumlah wartawan yang luka parah, hingga ada yang harus dioperasi di Singapura segala.

Alhamdulillah, saya sekedar lecet dengkul saya yang terseret di aspal ketika bus masih berjalan dalam keadaan terguling miring. Celana baru yang baru pertama kali saya pakai dan berbahan ulet pun robek kegasrut aspal, hingga dengkul saya kena giliran terkelupas selebar duit krincing.

Walaupun sudah diberi obat merah, namun dengkul yang lecet itu terasa tidak nyaman pula. Maka celana saya terpaksa saya gulung, hingga dengkul yang luka ini agak enakan tidak tergasrut oleh celana. Tetapi dalam bus itu saya duduk dengan dokter pribadi sang menteri. Sehingga setiap dengkul saya bergerak menjadikan naluri dokter itu mau memegang dengkulku sambil melihatnya… (Jangan disangka bahwa dia dokter perempuan. Dia dokter laki-laki. Tetapi kalau ada luka yang tampak di matanya, seakan naluri kedokterannya bereaksi. Jadi saya malah yang kikuk. Karena kalau dengkulku saya tutup maka terasa nyeri. Ya sudah…)

Jam duabelas malam, kami baru sampai di Palembang. Padahal kejadian itu jam satu siang. Kejadian mobil terguling di jalan antara Jambi dan Palembang itu jam 13, kemudian jam 14 ganti bus yang lain yang disediakan untuk menuju Palembang,  tetapi kami baru sampai di Palembang jam 24  karena jalan raya Sumatera saat itu benar-benar rusak. Entah sekarang tahun 2012. Sehingga kami langsung dibawa ke rumahsakit. Yang luka-luka berat itu mulai diperiksa. Adapun saya dan teman-teman yang tidak apa-apa cukup mengantar saja. Ternyata di sana tengah malam itu banyak juga orang yang berdarah-darah. Ketika kita tanya, jawab orang-orang di sana, biasa pak, di sini sering ada kejadian begini. Entah karena ditusuk atau digebuk dan sebagainya. Di bulan Ramadhan pun masih juga banyak orang yang dibikin berdarah-darah… Mudah-mudahan sekarang tidak.

Dulu belum ada telepon genggam. Saya baru kirim kabar tengah malam itu, ketika sudah sampai di ruma sakit Palembang. Saya telepon ke radaksi koran/ surat kabar harian tempat saya bekerja. Bahwa rombongan wartawan mengalami kecelakaan, bus yang ditumpangi terguling. Sebagian terluka bahkan ada yang parah. Tetapi Alhamdulillah saya dan beberapa teman tidak apa-apa.

Laporan saya itu bukan untuk dimuat di koran. Saya tidak tahu, resikonya apa kalau kejadian itu misalnya saya laporkan dengan komplit dan dimuat di koran. Karena di zaman itu, kalau ada peristiwa tertentu, maka redaksi koran diteleponi agar tidak memuat. Kalau ternyata sudah diteleponi tetapi memuat beritanya juga, maka dipanggil. Siapa yang salah maka terkena hukuman.

Tahu-tahu setelah sekian waktu, di satu majalah wanita terbitan Jakarta muncul laporan komplit dengan foto-foto peristiwanya segala. Seingat saya, penulisnya itu justru wartawan yang termasuk paling parah lukanya. Entah apakah diapa-apain atau tidak sesudah memuat berita itu, saya tidak pernah ketemu lagi.

Selang beberapa lama, saya ketemu dengan wartawan televisi RI (saat itu yang namanya wartawan TVRI itu paling dipentingkan oleh penguasa, karena belum ada tv-tv swasta sebesar TVRI) yang lukanya paling parah. Dalam satu pertemuan, saya dekati dia. Bagaimana khabarnya? tanyaku.

Baik… ini saya baru pulang dari Singapur, karena saya harus dioperasi di Singapur… ungkapnya sambil membuka lengan bajunya dan menunjukkan bekas luka-lukanya.

Tahu-tahu setelah dia berlalu, ada orang yang dari tadi memperhatikan percakapan saya dengan teman itu tadi. Orang itu berujar; hanya sakit saja dibanggain….!

Saya tidak mampu untuk bereaksi bagaimana, mendengar komentar itu.

Sebelum itu, pernah juga saya bertemu dengan teman yang termasuk lukanya agak parah. Dia menunjukkan punggung tapak tangannya (tapak tangan bagian luar). Katanya, tapak tangannya itu sudah dioperasi dan sudah dijahit. Tetapi masih tetap sakit nyeri dan bernanah. Lalu dibuka lagi, ternyata masih ada beling-belih kecil di dalam dagingnya, maka harus dibersihkan lagi…

Mungkin pembaca tulisan ini  ada yang bertanya-tanya. Kenapa puasa-puasa malah bercerita yang beginian?

Ya… Alhamdulillah… karena saya dikaruniai sehat saat itu, maka perjalanan dari Aceh sampai Lampung itu saya ni’mati. Terutama ketika shalat tarawih. Rata-rata imamnya bagus-bagus bacaan dan suaranya. (Tentu saja karena telah disiapkan oleh pemda masing-masing dengan imam yang bagus lantaran dikunjungi menteri). Rasa shalat wajib dan tarawih itu ni’mat ketika bacaan imamnya bagus dan shalatnya tidak terburu-buru. Walaupun seharian dalam perjalanan, namun tetap ni’mat ketika shalat seperti itu. Itulah di antara yang saya syukuri. Sebab saat itu banyak masjid yang imam tarawihnya ngebut, dan ruku’ serta sujudnya bagai burung platuk. Padahal itu sangat dibenci dalam Islam. Tetapi malah banyak yang melakukan. Entahlah… sopo sing ngajari aku ora ngerti… (siapa yang mengajari saya tidak tahu…).

Dan kini ternyata di tahun 2012 tidak hanya masjid-masjid yang sedang dikunjungi oleh menteri yang bacaan imamnya bagus-bagus. Bahkan saya baru saja ke Malang Jawa Timur, shalat tarawih di masjid yang dipimpin Ustadz Agus Hasan Bashori, imam-imamnya adalah anak-anak muda yang hafal Al-Qur’an dan bacaannya bagus, suaranya bagus. Sedang para makmumnya juga banyak yang memiliki hafalan al-Qur’an yang cukup lumayan, sehingga ketika ada tersendatnya imam maka mereka mampu membenarkannya. Ini karunia Allah yang pantas disyukuri. Di Ramadhan 1989 imam-imam shalat tarawih yang bagus kemungkinan baru di tempat-tempat yang dikunjungi menteri dan semacamnya. Kini sudah dapat ditemui di masjid-masjid sampai di daerah-daerah. Alhamdulillah…  (Hartono Ahmad Jaiz)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 869 kali, 1 untuk hari ini)