Foto/ fb Joenita Pardede

Ma’ruf Amin: Khilafah Itu Islami, Tapi Mengancam NKRI-Pancasila

Ma’ruf Amin mengatakan khilafah sebenarnya islami tetapi mengancam NKRI dan Pancasila sehingga harus dilawan.

Oleh tempo.co instant articles

22 Agustus 2019

Berita tersebut, Tempo.co mengutip kata Ma’ruf Amin itu dari sarannya kepada PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) di The Westin Hotel, Nusa Dua, Bali, Rabu, 21 Agustus 2019.

Perlu diingat, hari-hari itu sedang ramai dibicarakan bagaimana lemahnya negeri ini dalam menghadapi kelompok makar Papua.

Karena di Papua ada OPM, ada tuntutan merdeka keluar dari NKRI, bendera merah putih dibakar, sementara bendera Kejora berkibar.

Foto Ma’ruf Amin serta judul dan lead berita itu beredar di medsos via fb Joenita Pardede 13 jam lalu, dan mendapatkan komen2, di antaranya menyayangkan ungkapan itu, dan agar beristighfar.

***

Omongan Satu Kata Dapat Mengakibatkan 70 Tahun di Nereka

Dalam Islam, lisan atau mulut itu berucap satu kata saja bila mengakibatkan murka Allah Ta’ala maka akan mencemplungkan ke neraka Jahannam. Bahkan dengan sebab satu kata ia terjungkal selama 70 tahun di dalam neraka

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

“Sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk keridhaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kalimat itu Allah menaikkannya beberapa derajat. Dan sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk kemurkaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kalimat itu dia terjungkal di dalam neraka Jahannam”. [HR al-Bukhâri, no. 6478].

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah menjelaskan makna “dia tidak menganggapnya penting”, yaitu dia tidak memperhatikan dengan fikirannya dan tidak memikirkan akibat perkataannya, serta tidak menduga bahwa kalimat itu akan mempengaruhi sesuatu. [Lihat Fat-hul-Bâri, penjelasan hadits no. 6478]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لَا يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِي بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِي النَّارِ

Sesungguhnya ada seseorang yang berbicara dengan satu kalimat, ia tidak menganggapnya berbahaya; dengan sebab satu kalimat itu ia terjungkal selama 70 tahun di dalam neraka”.[ HR at-Tirmidzi, no. 2314. Ibnu Majah, no. 3970. Ahmad, 2/355, 533. Ibnu Hibban, no. 5706. Syaikh al-Albâni menyatakan: “Hasan shahîh”.]

Dalam riwayat lain disebutkan bahwasanya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ
أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

Sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang ia tidak mengetahui secara jelas maksud yang ada di dalam kalimat itu, namun dengan sebab satu kalimat itu dia terjungkal di dalam neraka lebih jauh dari antara timur dan barat“. [HR Muslim, no. 2988].

 

https://www.nahimunkar.org/mengendalikan-lidah/

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 682 kali, 1 untuk hari ini)