Di Bone, Suardi alias Pak Guru tewas ditembak Detasemen Khusus (Densus) 88 padahal belum dibuktikan sebagai teroris

Firman Allah Ta’ala:

{وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ } [البروج: 8]

8. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, (QS AL-BURUJ/ 85: 8)

{لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا} [المائدة: 82]

82. Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. (QS AL-MAAIDAH: 82.)

Darah orang Islam itu haram. Bagaimanapun, dibunuhnya seorang Muslim tanpa haq adalah perkara yang sangat berat. Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan dahsyatnya siksa bagi pembunuh orang mu’min dengan sengaja:

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا  [النساء : 93]

93. Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (QS AN-NISAA’/4: 93)

مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا

Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. dan Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. (QS Al-Maaidah/ 5: 32).

Dalam hadits ditegaskan, lenyapnya dunia ini masih lebih ringan dibanding dibunuhnya seorang Muslim tanpa haq. Namun kenyataannya, Bashar Assad di Suriah telah membunuh 110 ribuan Umat Islam, sedang Jendral Al-Sisi di Mesir membunuh 2000 lebih penduduk Muslim. Padahal dalam Islam, ancamannya sangat keras mengenai dibunuhnya orang Islam itu.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

Sungguh lenyapnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang Muslim. ( HR. AN-NASA-I (VII/82), dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu. Diriwayatkan juga oleh at-Tirmidzi (no. 1395). Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiih Sunan an-Nasa-i dan lihat Ghaayatul Maraam fii Takhriij Ahaadiitsil Halaal wal Haraam (no. 439).

Sebegitu dahsyatnya ancaman atas pembunuh orang Islam. Namun dalam kenyataan di dunia ini, termasuk di Indonesia, orang yang mengaku diri mereka Muslim pun tidak takut membunuh bahkan secara terprogram rapi dalam membunuhi orang Islam.

Inilah di antara berita mengenai Densus 88 menangkapi Umat Islam bahkan membunuhnya tanpa bukti kesalahan yang jelas.

***

 

Ramai Isu Mendera SBY, Densus 88 Menangkap Aktifis Islam di Bima

 

 

Dencus1Kota Bima (voa-islam.com) – Setiap kali ada isu yang membelit istana -biasanya- terjadi aksi penangkapan sampai pembunuhan aktifis Islam yang diduga terlibat aksi terorisme. Saat ini sedang ramai isu bunda Putri yang dikait-kaitkan dengan Presiden SBY, Densus 88 melakukan aksi penangkapan terhadap aktivis muslim yang dituduh terlibat terorisme. Kali ini korbannya seorang warga kelurahan Penato’i bernama Satrio alias Rio 23 tahun.

Rio ditangkap setelah menunaikan shalat Jum’at, pukul 13.30 WITA, di Jalan Sukarno Hatta atau tepatnya RT 01/RW 01 Kelurahan Penato’i, Kota Bima, Nusa Tenggara Barat. Sebelum itu, Satrio yang kesehariannya dikenal sebagai penjual es buah sempat ikut menyalatkan jenazah seorang warga sekitar.

Satrio ditangkap tepat di depan gerobak es buah miliknya. Saat itu ia sedang membaca Al-Qur’an di sela-sela menunggu ada pembeli. Tiba-tiba datang beberapa orang berbadan tegak menggunakan 2 Mobil, Avanza dan Innova Hitam serta 3 Motor Mio menyergapnya. Yang menguatkan bahwa pelakunya Densus 88 adalah cara mereka menangkap Satrio yang sangat kejam dan tidak beradab. Dituturkan seorang warga bernama Ummi H. Yusuf yang mengaku melihat dengan mata kepala saat satrio diseret dengan kasar dan dimasukkan ke mobil Kijang Innova berpelat DK.

“Satrio diseret dengan sangat keras dan tidak beradab, kemudian Satrio diseret kedalam mobil Kijang Innova,” tutur Umi H. Yusuf dengan nada sedih [Dikutip dari islampos.com]

Burhan, seorang warga yang menyaksikan penangkapan tersebut  menuturkan bahwa proses penangkapan terhadap Satrio tanpa disertai surat penangkapan dari kepolisian.

“Satrio dipaksa dan diseret kedalam mobil disaksikan oleh banyak warga, tanpa surat penangkapan,” terangnya.

Hingga saat ini, pihak keluarga Satrio belum bisa dihubungi karena informasi tentang penangkapan suaminya masih dirahasiakan. Istri Satrio juga terlihat sock sehingga belum bisa ditemui.

Satrio tinggal bersama istri dan 2 orang Anak di Kelurahan Penato’i, Kota Bima. Penjual es buah ini dikenal warga sebagai sosok yang baik dan tidak ada kecurigaan sebagai teroris.

Dikonfirmasi mengenai kejadian ini, Kapolres Bima Kota AKBP Benny Basir membenarkan adanya penangkapan oleh Densus 88. “Kepastian keterlibatan terduga sebagai kelompok teroris, tunggu saja keterangan dari Mabes Polri,” katanya. [PurWD/ IP/voa- islam.com]

* Ket Gambar: Gerobak es milik Satrio

Sabtu, 19 Oct 2013

***

Suaminya Ditembak Mati Densus 88, Ismawati : Masak Baru Tuduhan Sudah Main Tembak?

Sabtu, 19/10/2013 21:11:47 | Shodiq Ramadhan

Ismawati 2Ismawati (40) isteri Suardi alias Pak Guru tengah menjawab sejumlah pertanyaan wartawan terkait suaminya yang tewas ditembak Detasemen Khusus (Densus) 88 di kediamannya Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Sabtu, (19/10/2013). (foto: kompas.com)

 

Bone (SI Online) – Pasca penyergapan terduga teroris yang menewaskan Suardi alias Pak Guru, di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, pihak keluarga mempertanyakan aksi tembak yang dilakukan  aparat di Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror.

Selain menewaskan Suardi, aparat juga menangkap putra sulungnya AI (17), serta seorang lelaki J alias U (37). Saat istri Suardi ditemui wartawan di kediamannya Dusun Cebba, Desa Bila, Kecamatam Amali, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Sabtu (19/10/2013), suasana duka masih menyelimuti.

Meski demikian, Ismawati (40), istri Suardi terlihat tegar menerima kenyataan yang menimpa suaminya. Sesekali Ismawati mengusap kepala serta memeluk kedua anaknya Iqbal (10) dan Cica (8) yang terus berada di sampingnya.

Saat ditanya perihal keterlibatan suaminya dengan aksi terorisme, Ismawati mengaku tak mengerti. Dia mengaku, suaminya tak pernah bepergian keluar pulau, meski rutin mengikuti pengajian setiap Kamis malam.

“Suami saya bukan terduga teroris tapi memang dituduh teroris, masak baru tuduhan sudah main tembak, kalau saya pribadi tidak terlalu bermasalah tapi kasihan anak-anaknya masih kecil-kecil, sudah dicap anak teroris. Padahal belum tentu benar bapaknya teroris atau bukan tapi saya yakin semuanya pasti ada hikmahnya,” kata Ismawati seperti dikutip Kompas.com, sambil mencucurkan air mata dan memeluk kedua anaknya.

Ismawati pun kemudian meminta agar anaknya Ahmad Iswan (17) segera dikembalikan kepadanya. Pasalnya, AI tidak pernah terlibat pengajian. AI kebetulan pulang berlibur ikut membantu ayahnya berkebun. Namun saat pulang dari kebun itulah suami dan anaknya disergap Tim Densus 88 Antiteror.

Sebelumnya, Tim Densus 88 Polri menembak mati Suardi (50) di Desa Alinge, Kecamatan Ulaweng, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan Kamis (17/10/2013). Selain itu Densus 88 juga menangkap dua orang lainnya yang dituduh teroris jaringan Abu Uswah.

“Tim Densus 88 menangkap tiga terduga teroris jaringan Abu Uswah pada Kamis sekitar pukul 14.05 Wita,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar, Kamis (17/10/2013).

Dua orang yang lainnya yang ditangkap Densus 88 adalah Jodi alias Umair (37 tahun) dan Ahmad Iswan (17 tahun).

red: abu faza/kompas.com/dbs/si online

***

(nahimunkar.com)

(Dibaca 399 kali, 1 untuk hari ini)