Penceramah Tarwih di Padang Bolehkan Baca Al Quran dengan Langgam Dangdut

Sabtu, 04-07-2015 | 17:53 WIB | Berita Metro

Screen capture pernyataan pemilik akun Rajo Mudo tentang seorang penceramah tarwih yang membolehkan jemaah mempraktekan pembacaan al Quran dengan langgam dangdut.

VALORAnews — Sebuah akun facebook, Rajo Mudo, sekitar 19 jam lalu, memposting pernyataan mengejutkan. Seorang dosen bergelar doktor sebuah kampus Islam di Padang, disebutkan telah mempraktekan pembacaan al Quran dengan langgam dangdut saat ceramah tarwih di Masjid Baitul Makmur, Air Tawar Barat, Padang.

“Semua yang saya tulis, akan saya petanggungjawabkan di hadapan manusia dan Allah SWT,” ungkap pemilik akun Rajo Mudo yang menuliskan nama aslinya, Husni Alharid, seorang mahasiswa Universitas Negeri Padang (UNP) itu.

Dituliskan Rajo Mudo, malam itu jadi yang mungkin tak terlupakan bagi dirinya. Dia pun menulis lagi kenangan perdebatan soal pembacaan al Quran dengan langgam jawa, saat peringatan Isra’ Mi’raj di Istana negara.

“Masjid di tempat saya shalat, jamaahnya kurang lebih 450 orang. Sebagian besar adalah anak muda. Kemudian, sang ustad yang bergelar akademik doktor itu, merekomendasikan dan mencontohkan bacaan al Quran dengan Irama dangdut. Di ceramahnya, dia juga membolehkan bacaan dengan irama pop dana linnya yaitu surah Al Kafirun,” tulis Rajo Mudo.

Usai ceramah, Rajo Mudo mengaku sempat melemparkan sejumlah pertanyaan, berikut kutipan yang ditulisnya di akun facebook (tulisan tidak diedit-red):

  1. Mohon Klarifikasi tentang bacaan Alquran yg di dendangkan dengan irama dangdut td ustad ?

Ustad : itu murni pendapat saya dan untuk pembelajaran boleh saja, orang tua2 kita dulu sering “mendendangkan” Alquran menidurkan anaknya dibuaian

  1. Tapi kan nd’ harus berirama dangdut ustad, bukankah sudah ada tuntunan irama bacaan alquran yg tidak ada pertentangan ulama ustad ?

ustad : saya Doktor, “seorang Doktor boleh berpendapat” bagaimana remaja sekarang bisa irama tersebut, irama dangdut saja belum lurus.

  1. kata MUI dan juga kata Dosen agama saya di UNP, dilarang untuk membaca Alquran dengan Langgam/irama selain yang telah disepakati (nahwan, bayyati, hijjaz dll).

Ustad : ….(Ustad tersebut menyebut nama dosen agama saya di UNP) itu “jauh dibawah” saya…

Rajo mudo kemudian menarik kesimpulan atas dialognya tadi bahwa paham liberal telah mengancam Sumatera Barat. Kemudian, dia merasa perlu adanya penyikapan serius akan peristiwa ini dari umat Islam Sumatera Barat.

“Ini (apa yang disampaikan-red) fakta, bisa dipertanggungjawabkan. Mudah-mudahan Allah SWT melindungi kita semua,” tutupnya. (kyo)

http://m.valora.co.id/berita/899#sthash.CPXVEojG.dpuf

***

Berikut ini penggalan dari klarifikasi Dr. Mulyadi, M.Pd, dosen IAIN  Imam Bonjol Padang, Red NM yang dimuat serambiminang.com

Husni : Ustad, ceramahnya bagus, kocak, semua jama’ah gembira, bolehkah saya
bertanya?

Saya (Dr. Mulyadi, M.Pd, dosen IAIN  Imam Bonjol Padang, Red NM): boleh, kenapa tidak, selagi bisa saya jawab.

Husni : (terlebih dahulu memperkenalkan diri sebagai seorang mhs UNP)

Bolehkah membaca al-Qur’an dengan irama dangdut seperti yang bapak contohkan tadi?

Saya: Menurut saya secara pribadi soal irama membaca alquran boleh saja, untuk sekedar memotivasi remaja agar mampu membaca al-Qur’an dengan baik saya rasa tidak salah, kecuali menyalahi makhraj atau kaidah tajwid. Sebagai seorang Doktor saya rasa saya boleh untuk berpendapat seperti itu.

Husni : Tidak benar itu, karena terkait dengan al-Qur’an sudah diatur iramanya dari semenjak Rasulullah, jangan seperti yang telah terjadi pada peringatan isra’ mi’raj di Istana yang dihadiri oleh Jokowi menggunakan langgam Jawa, saya rasa itu sangat menyalahi.

(Sepenggal dialog yang ditulis DR. Mulyadi, M. Pd Dosen IAIN Padang sebagai Klarifikasi berita tentang dirinya yang disebut bolehkan baca Al-Qur’an pakai Langgam Dangdut).

***

Ramainya berita ini karena dimuat di serambiMINANG.com disertai ulasan, dan kemudian dimuat pula klarifikasi dari pihak penceramah.

Inilah beritanya.

***

Dosen IAIN Imam Bonjol Padang, Bolehkan Baca Al Qur’an Pakai Langgam Dangdut

Abu Faguza Abdullah 2 hari yang lalu Berita

IAIN imam bonjol

serambiMINANG.com – Seperti tidak puas dengan kejadian sebelumnya dimana dosen Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB) menginjak Al Qur’an ketika mengajar di depan mahasiswanya, kali ini penistaan agama dilakukan oleh dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol Padang yang membolehkan membaca Al Qur’an dengan langgam dangdut pada saat ceramah shalat tarawih.

Kejadian ini dilansir dari meda sosial facebook milik Rajo Mudo yang bernama asli Husni Alharid, yang merupakan mahasiswa Universitas Negeri Padang (UNP) yang mengikuti shalat tarawih berjamaah di Masjid Baitul Makmur, Air Tawar Barat, Padang tanggal 3 Juli 2015.

Dr. Mulyadi, M.Pd, yang juga merupakan dosen IAIN  Imam Bonjol Padang yang pada waktu tersebut menjadi penceramah shalat tarawih di Masjid Baitul Makmur, Air Tawar Barat, Padang, dalam ceramahnya membacakan Al Qu’ran surat Al Kafirun dengan langgam atau irama dangdut, dan selanjutnya menjelaskan bolehnya menggunakan langgam POP, atau lainnya ketika membaca Al Qur’an.

Belum lagi lega perasaan umat islam dengan langgam jawa yang diperdengarkan di Istana Negara pada saat peringatan Isra’ Mi’raj oleh Menteri Agama, umat islam seperti ditimpa musibah baru lagi dengan pernyataan dosen yang juga seorang doktor tersebut.

Mendengar pernyataan dosen tersebut, Husni Alharid mencoba melakukan klarifikasi kepada Dr. Mulyadi, M.Pd setelah selesai shalat tarawih. Sayangnya bukan pencerahan yang didapatkan, justru kesombongan yang muncul dari sosok bertitle doktor tersebut.

Husni Alharid mengajukan beberapa pertanyaan klarifikasi terkait pernyataan berliau pada saat ceramah shalat tarawih yang baru saja dilakukannya dihadapan sekitar 450-an jama’ah yang rata-rata adalah anak muda, mahasiswa.

Pertanyaan pertama yang ditanyakan Husni tentang bacaan Al Quran dengan langgam dangdut, sang doktor menjawab bahwa hal tersebut adalah pendapat pribadi Dr. Mulyadi, M. Pd dengan mengambil dalil jika orang-orang tua terdahulu di Minangkabau biasa mendendangkan Al Qur’an untuk menidurkan anak-anaknya.

Tak puas dengan pertanyaan tersebut, Husni mencoba sedikit memperjelas bahwa telah ada tuntunan irama-irama yang tidak dipertentangkan ulama dan langgam dangdut tentu tidak benar. Sang doktor malahan semakin memperlihatkan kesombongan dengan menjawab bahwa dirinya (Dr. Mulyadi, M. Pd) adalah seorang Doktor dan seorang Doktor boleh berpendapat. Dan kemudian menambahkan, bagaimana mungkin remaja sekarang bisa irama tersebut (irama yang disepakati ulama-red), sedangkan irama dangdut saja belum lurus.

Mendengar jawaban tersebut, Husni kemudian mencoba mengambil penjelasan yang didapati dari dosen agama islam di kampusnya dan penjelasan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengatakan bahwa tidak dibenarkan membaca AL Qur’an dengan langgam atau irama selain yang disepakati, namun sayang, pak dosen IAIN yang merupakan seorang doktor kembali menunjukkan kesombongannya dengan mengatakan bahwa dosen agama yang ada di kampus Husni “jauh dibawah” dirinya.

Pernyataan-pernyataan dosen IAIN Imam Bonjol Padang tersebut semakin mengkerutkan kening umat islam. Dimana seorang akademis justru berpendapat tidak secara akademis namun justru mendahulukan logika dan akal. Umat Islam harus semakin berhati-hati dengan cara berfikir liberal seperti yang dilakukan oleh Dr. Mulyadi, M.Pd tersebut.

Di kutip dari muslim.or.id, ustadz Muhammad Abduh Tuasikal memberikan penjelasan bahwa memang ada beberapa maqamat atau cara melagukan Al-Quran yang disebutkan oleh para Qurra yaitu bayati, rast, nahawanad, siika, shabaa, dan hijaz. (Lihat Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 169799)

Tentang hukum memakai maqamat tadi Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz rahimahullah menyatakan, “Tidak boleh bagi seorang mukmin membaca Al-Qur’an dengan nada-nada para penyayi. Yang diperintahkan bagi kita adalah membaca Al-Qur’an seperti yang dibaca oleh para ulama salaf kita yang shalih yaitu para sahabat radhiyallahu ‘anhum dan yang mengikuti mereka. Caranya adalah memperindah bacaan dengan tartil, dengan meresapi dan khusyu’ sampai berpengaruh dalam hati yang mendengarkan maupun yang membaca. Adapun membaca Al-Qur’an dengan cara yang biasa dilakukan oleh para penyayi, seperti itu tidaklah dibolehkan.” (Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, 9: 290. Dinukil dari Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 9330).

Intinya, boleh saja melagukan Al-Quran sebagaimana perintah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Barangsiapa yang tidak memperindah suaranya ketika membaca Al Qur’an, maka ia bukan dari golongan kami.” (HR. Abu Daud no. 1469 dan Ahmad 1: 175. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Kata Imam Nawawi bahwa Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah juga kebanyakan ulama memaknakan ‘yataghonna bil Qur’an’ adalah,

“Memperindah suara ketika membaca Al Quran.”

Namun aturan dalam melagukan Al Qur’an harus memenuhi syarat berikut:

– Tidak keluar dari kaedah dan aturan tajwid.
– Huruf yang dibaca tetap harus jelas sesuai yang diperintahkan.
– Tidak boleh serupa dengan lagu-lagu yang biasa dinyanyikan. (Lihat Bahjatun Nazhirin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, 1: 472)

Ada dua hal melagukan Al-Qur’an yang perlu diperhatikan:
  1. Irama yang mengikuti tabiat asli manusia, tanpa memberat-beratkan diri, belajar atau berlatih khusus. Melagukan bacaan Al-Qur’an seperti ini dibolehkan.
  2. Irama yang dibuat-buat, bukan dari tabiat asli, diperoleh dengan memberat-beratkan diri, dibuat-buat dan dibutuhkan latiham sebagaimana para penyanyi berlatih untuk mahir dalam mendendangkan lagu. Melagukan semacam ini dibenci oleh para ulama salaf, mereka mencela dan melarangnya. Para ulama salaf dahulu mengingkari cara membaca Al-Qur’an dengan dibuat-buat seperti itu. (Zaadul Ma’ad karya Ibnul Qayyim, 1: 474)

Dari penjelasan di atas jelaslah bawah pendapat yang disampaikan oleh Dr. Mulyadi, M. Pd adalah salah dan kemudian tidak dibenarkan membaca Al Qur’an dengan langgam dangdut. Naudzubillah

http://serambiminang.com/2015/07/dosen-iain-imam-bonjol-padang-bolehkan-baca-al-quran-pakai-langgam-dangdut.html/

***

Klarifikasi Dosen IAIN Padang, DR. Mulyadi, M. Pd Atas Langgam Dangdut

Abu Faguza Abdullah 12 jam yang lalu Berita

IAIN imam bonjol 1

Sebelumya serambiminang.com memberitakan tentang dosen IAIN Imam Bonjol Padang, Dr. Mulyadi, M. Pd yang membolehkannya dibaca Al Quran dengan menggunakan langgam dangdutpada ceramah shalat tarawih yang di sampaikan di Masjid Baitul Makmur, Air Tawar Barat, Padangpada tanggal 3 Juli 2015.

Setelah dilakukan klarifikasi langsung, beliau kemudian menjelaskan kesalahapahaman pada ceramah yang disampaikan beliau tentang  langgam dangdut kemudian diterima jamaah oleh Rajo Mudo yang bernama asli Husni Alharid, yang kemudian melakukan klarifikasi pada beliau sesaat setelah melakukan ceramah shalat tarawih.

Klarifikasi beliau tentang langgam dangdut kemudian di muat di website resmi tarbiyahiainib.ac.iddimana merupakan website resmi dari Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, IAIN Imam Bonjol Padang. Berikut Klarifikasi beliau:

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Dr. Mulyadi, S.Ag., M.Pd.
Pekerjaan : Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN Imam Bonjol Padang

Menanggapi pemberitaan yang berkembang saat ini di media sosial, yang diberitakan oleh situs berita http://serambiminang.com/2015/07 tertanggal 4 Juli 2015 dengan judul “Dosen IAIN Imam Bonjol Padang, Bolehkan Baca Al-Qur’an Pakai Langgam Dangdut”, yang bersumber dari akun media sosial facebook milik Rajo Mudo dengan nama asli Husni Alharid, dengan ini saya menyatakan bahwa:

  1. Benar saya memberikan taushiah tarwih di masjid Baitul Makmur Air Tawar pada tanggal 3 Juli 2015 dengan judul “Memahami Kembali Ayat-Ayat Allah”. Dalam uraian materi taushiyah tersebut :
  • Saya menjelaskan ayat-ayat Allah itu ada dua, ayat kauniyah dan ayat qauliyah. Berkenaan dengan ayat qauliyah, saya mengajak jama’ah untuk menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan. Untuk itu, al-Qur’an perlu sering dibaca, dipelajari dan di dipahami. Kondisi sekarang, bagaimana munkin mempedomani al-Qur’an sedangkan dari sisi membacanya saja kebanyakan anak dan remaja kita mengalami kesulitan. Inilah kelebihan orang tua kita dahulu, sambil menidurkan anaknya yang masih bayi diiringi dengan bacaan bacaan al-Qur’an, bahkan dalam mengajarkan al-Qur’an kepada anaknya orantua dahulu menyanyi-nyanyikannya melalui tanda baca dengan irama al-bagdadi, seperti “alif baris duo di ateh an, alif baris duo di bawah in, alif baris duo di depan un, aan iin uun”.
  • Untuk memotivasi jama’ah agar sering dan senang membaca al-Qur’an, saya mengatakan; “bagi ibu ibu penggemar dangdut, tapi tidak menguasai irama al-Qur’an saya rasa boleh saja membaca dengan irama dangdut yang ibu gemari, asalkan saja pertama tidak dibaca dalam shalat, selanjutnya tidak menyalahi kaidah-kaidah ilmu tajwid, misalnya dari segi makhraj huruf, sifat huruf dan lain sebagainya”.
  • Lalu saya mencontohkan cara membaca al-Qur’an (surat at-Tiin dan al-Baqarah) dengan makhraj yang benar sesuai dengan ilmu tajwid yang saya pahami dengan irama tertentu.

2. Dialog saya dengan Husni Alharid alias Rajo Mudo (yang sengaja menemui saya dan mengaku sebagai mahasiswa UNP) itu berlangsung tidak dalam forum taushiyah, melainkan di luar masjid ketika saya akan berangkat dari masjid tersebut menuju RSUP M. Djamil Padang karena anak saya sedang dirawat inap di sana. Pada saat itu terjadi dialog antara saya dengan Husni, di antaranya yang masih segar dalam ingatan saya :

Husni : Ustad, ceramahnya bagus, kocak, semua jama’ah gembira, bolehkah saya
bertanya?

Saya : boleh, kenapa tidak, selagi bisa saya jawab.

Husni : (terlebih dahulu memperkenalkan diri sebagai seorang mhs UNP)

Bolehkah membaca al-Qur’an dengan irama dangdut seperti yang bapak contohkan tadi?

Saya : Menurut saya secara pribadi soal irama membaca alquran boleh saja, untuk sekedar memotivasi remaja agar mampu membaca al-Qur’an dengan baik saya rasa tidak salah, kecuali menyalahi makhraj atau kaidah tajwid. Sebagai seorang Doktor saya rasa saya boleh untuk berpendapat seperti itu.

Husni : Tidak benar itu, karena terkait dengan al-Qur’an sudah diatur iramanya dari semenjak Rasulullah, jangan seperti yang telah terjadi pada peringatan isra’ mi’raj di Istana yang dihadiri oleh Jokowi menggunakan langgam Jawa, saya rasa itu sangat menyalahi.

Saya : Anda bertanya atau menguji? Karena pada prinsipnya bertanya itu mengandung tiga indikasi, pertama bertanya karena ingin mengetahui, kedua bertanya karena menguji. Kalau begini caranya anda menguji saya, katanya saudara mahasiswa tapi tidak sopan kepada saya.

Husni : kata dosen saya di UNP Doktor Ahmad Kosasih sebagai dosen agama, itu tidak benar sama sekali.

Saya : Yaa, kalau begitu yang anda ketahui silakan saudara ikuti, saya tau itu, malah Ahmad Kosasih itu kolega saya (lalu saya menghidupkan mesin mobil saya dan berangkat dari pekarangan masjid).

  1. Dari penjelasan point 1 dan 2 di atas, saya ingin menyatakan:
  • Dengan segala kerendahan hati, saya mohon ma’af dan redha dari seluruh masyarakat muslim/ah, bila pernyataan saya dalam taushiyah di masjid tersebut di atas dianggap salah dan melukai hati masyarakat muslim. Sekalipun pernyataan saya tersebut sudah saya alas atau saya beri batasan, bacaan al-Qur’an dengan irama dimaksud tidak keluar dari kaidah ilmu tajwid dan makhraj hurufnya benar. Tidak ada sedikitpun niat saya untuk melakukan penistaan (seperti yang digambarkan oleh http://serambiminang.com/2015/07) terhadap agama yang saya anut dan saya yakini kebenarannya.
  • Husni Alharid dalam status yang dipostingnya pada akun facebook Rajo Mudo tanggal 3 Juli 2015 jam 22.25 WIB (https://www.facebook.com/husni.alharid?fref=ts) telah menyampaikan beberapa hal yang bersifat fitnah terhadap saya, di antaranya ;

1) Ustad : saya Doktor, “seorang Doktor boleh berpendapat” bagaimana remaja sekarang bisa irama tersebut, irama dangdut saja belum lurus. (dicopas dari status Rajo Mudo).
Yang saya bilang dalam dialog dengan Husni 
waktu itu adalah ; “sebagai seorang doktor menurut saya boleh berpendapat, tidak masalah”.
Tidak pernah saya mengatakan ; bagaimana remaja sekarang bisa irama tersebut, irama dangdut saja belum lurus

2) Ustad : ….(Ustad tersebut menyebut nama dosen agama saya di UNP) itu “jauh dibawah” saya… (dicopas dari status Rajo Mudo).
Tidak pernah saya menyatakan bahwa, Bapak DR. Ahmad Kosasih jauh di bawah saya. Yang katakan adalah ; “saya tau itu, malah Ahmad Kosasih itu kolega saya”.
Yang saya maksud kolega dalam kalimat tersebut adalah sesama orang akademisi, yang saling menghormati dan menghargai bidang keilmuan masing masing.

  • Situs berita http://serambiminang.com dalam beritanya yang ditulis oleh Abu Faguza Abdullah, menurut saya telah melakukan pelanggaran kode etik jurnalistik dalam pemberitaan yang berjudul “Dosen IAIN Imam Bonjol Padang, Bolehkan Baca Al-Qur’an Pakai Langgam Dangdut”, http://serambiminang.com/2015/07 tertanggal 4 Juli 2015, yakni ;

1) Tidak pernah melakukan klarifikasi terhadap saya sebagai objek berita sekaligus sumber utama dari materi berita yang dipublisnya. Wartawan http://serambiminang.com menulis berita hanya berdasarkan status yang diposting pada akun FB atas nama Rajo Mudo, juga tidak ditemukan dalam berita dimaksud adalanya klarifikasi wartawan bersangkutan kepada pengurus atau kepada jama’ah Baitul Makmur masjid tempat saya memberikan taushiyah pada tanggal 3 Juli 2015.

2) Situs berita http://serambiminang.com dan wartawannya sudah melakukan penafsiran sepihak dengan menuduh saya bersikap sombong, hanya berdasarkan status status yang diposting pada akun FB atas nama Rajo Mudo.
Copas tuduhan dimaksud dalam berita http://serambiminang.com/2015/07 tertanggal 4 Juli 2015,;

– Sang doktor malahan semakin memperlihatkan kesombongan dengan menjawab bahwa dirinya (Dr. Mulyadi, M. Pd) adalah seorang Doktor dan seorang Doktor boleh berpendapat.
– namun sayang, pak dosen IAIN yang merupakan seorang doktor kembali menunjukkan kesombongannya dengan mengatakan bahwa dosen agama yang ada di kampus Husni “jauh dibawah” dirinya.
Setahu saya, sikap atau tindakan yang dilakukan wartawan http://serambiminang.com telah menyalahi aturan kode etik pers khususnya dalam pemberitaan tentang saya.

  1. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya, tanpa berniat mendustai atau menutupi apa yang sudah saya lakukan sebelumnya terkait dengan pemberitaan dimaksud di atas. Sekali lagi atas nama pribadi dan keluarga, saya sampaikan klarifikasi ini kepada seluruh umat muslim/ah dan lembaga pendidikan agama Islam (IAIN IB Padang) tempat saya mengabdikan diri sehari hari. Billahittaufiqwalhidayah, wassalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakaatuh.

Padang, 5 Juli 2015
Ttd.

  1. Mulyadi, S.Ag. M.Pd.

http://serambiminang.com/2015/07/klarifikasi-dosen-iain-padang-dr-mulyadi-m-pd-atas-langgam-dangdut.html/

(nahimunkar.com)

(Dibaca 5.295 kali, 1 untuk hari ini)