Jenazah Siyono, terlihat matanya juga memar akibat pukulan benda keras/ foto kiblat.net

Hari Selasa (08/03 2016), ba’da (setelah) maghrib, Siyono (imam masjid) ditangkap orang tak dikenal. Waktu maghrib Selasa (08/03) itu, Siyono masih mengimami warga untuk Shalat Magrib berjamaah di Masjid Muniroh, Dukuh Brengkungan, Desa Pogung, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten Jawa Tengah.

Usai Shalat Magrib, Siyono pun berzikir sejenak. Sebagian jamaah sudah ada yang kembali ke rumah masing-masing. Marso (ayah Siyono) yang masih berada di masjid melihat ada tiga pria asing di masjid tersebut. Salahsatu pria asing itu kemudian kentut dengan suara besar dan membuat jamaah yang tersisa tertawa.

“Orang yang kentut itu berjalan ke arah ke belakang, para jamaah masjid mengira ia akan ambil wudhu, tapi ada jamaah ibu-ibu yang mendengar orang itu menelpon seseorang,” kata Marso kepada Kiblat.net.

Tak lama, Siyono pun dibawa oleh ketiga orang itu ke dalam sebuah mobil berwarna hitam. Siyono yang masih mengenakan sarung tak bisa berbuat banyak, sebab salah seorang pria tampak menodongkan pistol lewat balik ketiaknya. “Gak apa-apa, pak! Ini cuma urusan utang piutang,” kata salah seorang pria yang membawa Siyono. Malam itu Siyono ‘diculik’ dan tak pernah berkabar pada keluarga.

Jumat (11/03) sekitar pukul 14.30 WIB Suratmi (isteri Siyono) bersama Wagiyono kakak Siyono dan Sadiman aparat desa (di wilayah Klaten ini) dibawa oleh tiga mobil Densus 88 ke Jakarta. Sabtu, (12/03), di Jakarta, Suratmi baru diberi tahu oleh seorang polwan bernama Ayu, bahwa suaminya telah tiada.

“Suami ibu terkait dengan kepemilikan senjata api, ia mau dipertemukan dengan Awang di Wonogiri. tapi Siyono shock terus melawan polisi. Dalam perjalanan mau diobati ke rumah sakit, tapi akhirnya meninggal di perjalanan,” kata Suratmi menirukan ucapan Ayu kepadanya.

Suratmi diberi kabar bahwa suaminya meninggal pada Jumat, (11/03). Namun, saat di hotel di Jakarta, Suratmi disuruh menandatangani dua berkas. Yang pertama adalah surat penangkapan, yang kedua adalah sertifikat medis penyebab kematian. Dalam sertifikat tersebut dijelaskan bahwa Siyono telah meninggal sejak Kamis, (10/03). Pemeriksa jenazahnya adalah Dr Arif Wahyono, Sp.F. Tak ada penjelasan apa penyebab kematian Siyono dalam sertifikat itu.

Komnas HAM dan DPR ragukan penjelasan polisi

Komnas HAM, yang melakukan investigasi pada kasus Siyono, menyatakan keraguannya secara terbuka atas penjelasan polisi terkait kematian Siyono.

“Kita meragukan Densus (Detasemen Khusus 88 Antiterori Mabes Polri), karena 90 persen terduga teroris mengalami penyiksaan,” kata Komisioner Komnas HAM, Siane Indriyani seperti dilansir dari Viva.co.id pada Ahad (13/03).

Komnas HAM menuntut polisi mengautopsi jenazah Siyono dan mengumumkan secara terbuka kepada publik hasilnya, agar masyarakat mengetahui pasti penyebab kematiannya. “Jika tidak, Densus berarti harus bertanggung jawab atas kematian Siyono. Kenapa takut lakukan autopsi, jika kematian Siyono wajar,” kata Siane.

Komnas HAM juga menyebutkan data yang dikumpulkan dari pengaduan masyarakat, kasus pembunuhan di luar pengadilan (extra judicial killing) yang dilakukan Densus 88 terhadap sejumlah orang yang dituduh sebagai teroris jumlahnya mencapai 118 orang. Angka ini belum ditambah dengan kasus kematian Siyono.

Kadiv Humas Mabes Polri Anton Charliyan kepada sejumlah awak media menegaskan kematian Siyono disebabkan oleh pukulan benda tumpul di bagian belakang kepala.

“Dia meninggal karena pukulan benda tumpul di belakang kepala” ujar Anton saat konferensi pers di Mabes Polri pada Senin (14/03). Pernyataan ini bertolak belakang dengan ucapan Karo Penmas Brigjen Agus Rianto yang memberikan alasan ganjil.

Anton menjelaskan kejadian itu terjadi ketika Siyono diminta untuk menunjukkan teman yang terkait dengan kelompoknya. Pada awalnya Siyono kooperatif dengan Densus, sehingga pengawalan diturunkan. Siyono dalam pencarian itu hanya dikawal seorang anggota Densus dan seorang petugas yang menjadi supir. Namun, kemudian, Siyono disebut-sebut melakukan perlawanan dan berkelahi dengan seorang anggota Densus.

Sebelumnya, Agus Rianto menyampaikan pada media bahwa Siyono tewas akibat lemas dan lelah setelah mencoba melawan aparat yang membawanya. Karuan saja penjelasan ini membuat anggota Komisi III DPR-RI Nasir Jamil keheranan dan tak habis pikir. Bagaimana mungkin seseorang yang diborgol dan dikawal ketat bisa melawan aparat yang jumlahnya berlipat dibanding korban. Apalagi, kuasa hukum keluarga Siyono menemukan bekas luka fisik pada jasad almarhum.

By: m.kiblat.net/2016/03/15  15 Mar 2016 17:13

***

Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan dahsyatnya siksa bagi pembunuh orang mu’min dengan sengaja:

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا  [النساء : 93]

Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.(QS An-Nisaa’/4: 93)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

Sungguh lenyapnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang Muslim( HR. An-Nasa-i (VII/82), dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu. Diriwayatkan juga oleh at-Tirmidzi (no. 1395). Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiih Sunan an-Nasa-i dan lihat Ghaayatul Maraam fii Takhriij Ahaadiitsil Halaal wal Haraam (no. 439).

Doa Nabi Saw, Laknat Allah atas pemimpin yang menyulitkan Umat Islam

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ _أحمد ، ومسلم عن عائشة

Ya Allah, siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia mempersulit  urusan mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia berusaha menolong mereka, maka tolong pulalah dia.” (HR Ahmad dan Muslim dari Aisyah).

 وَمَنْ وَلِيَ مِنْهُمْ شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَعَلَيْهِ بَهْلَةُ اللَّهِ فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا بَهْلَةُ اللَّهِ قَالَ : لَعْنَةُ اللَّهِ _ رَوَاهُ أَبُو عَوَانَة فِي صَحِيحِهِ

Dan barangsiapa memimpin mereka dalam suatu urusan lalu menyulitkan mereka maka semoga bahlatullah atasnya. Maka para sahabat  bertanya, ya RasulAllah, apa bahlatullah itu? Beliau menjawab: La’nat Allah. (HR Abu ‘Awanah dalam shahihnya. Terdapat di Subulus Salam syarah hadits nomor 1401).

Amien ya Rabbal ‘alamien.

(nahimunkar.com)