politik genderuwo/ Mojok


Ramai dibicarakan, lafal yang diproduksi Jokowi, belum lama ini mengenai politikus sontoloyo, lalu baru saja dia lontarkan apa yang disebut politik genderuwo (hantu Jawa), menakut-nakuti.

Keruan saja malah sebutan tidak bagus itu dinilai justru akan menggerus citra pelontarnya, karena kata-kata itu bukan omongan yang baik di kalangan masyarakat, menurut penilaian kubu di luar pelontar.

Di samping itu yang punya kemampuan untuk menakut-nakuti itu justru pemegang kuasa, bukan lainnya, kata wong nggota DPR dari luar kubu pelontar pula.

***

Fahri Katakan Jokowi Sindir Diri Sendiri Soal Politik Sontoloyo & Genderuwo

“Sebenarnya sumbernya itu dari pemerintah,”

INDOZONE.ID – Wakil Ketua Umum DPR, Fahri Hamzah memberikan tanggapannya soal ungkapan sontoloyo dan genderuwo yang dilontarkan Presiden Joko Widodo. Ia mengatakan itu adalah sifat pemerintahan yang dipimpin oleh Jokowi sendiri saat ini. Dia menyatakan, ungkapan Jokowi itu menciptakan suatu pembelahan di masyarakat.

“Ini yang saya maksud kata-kata sontoloyo dan genderuwo adalah penilaian kegagalan identifikasi dari pemerintah, sebenarnya sumbernya itu dari pemerintah atau pemimpinnya. Jadi seperti menepuk air, terpicik ke muka sendiri,” ungkap Fahri di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Selatan, Jumat (9/11), sebagaimana dilansir dari laman merdekacom.

“Yang punya kemampuan untuk menciptakan pembelahan atau opini itu pemerintah, dan yang mampu menutup pembelahan ideologis itu pemerintah,” sambungnya.

Selan itu, dia juga menyinggung pemerintahan sebelumnya oleh Presiden ke enam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), tidak pernah dirasakan adanya perpecahan yang terjadi seperti saat ini.

“Saya suka ulang-ulang, SBY 10 tahun jadi presiden waktu itu ada FPI, HTI, para pejabat dimana-mana sama, tapi kita tidak ada pembelahan dan konflik ideologi yang tajam. Lalu ini karya siapa? Kalau rakyatnya tetap dan pemimpinnya berubah maka dugaannya adalah ini karyanya pemerintah,” ujar dia.

Menurutnya, Jokowi dianggap telah gagal dalam memulihkan ketegangan di antara perbedaan yang ada, justru sebaliknya, dikhawatirkan ketegangan yang muncul semakin kuat.

“Maka kegagalan mengintegrasi tema-tema kebangsaan dalam satu napas rekonsiliasi, itu akan ciptakan ketegangan yang semakin kuat. Dan itu disayangkan berasal dari pak Jokowi,” pungkasnya./ www.indozone.id

***

Usai Sontoloyo, Kini Genderuwo

INDOPOS.CO.ID – Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali membuat heboh perpolitikan tanah air dengan mengeluarkan istilah baru untuk para politikus tak beretika di negeri ini. Setelah sebelumnya ada istilah ‘sontoloyo’,  kini muncul ‘genderuwo’.

Jokowi mengatakan, pada tahun politik seperti saat ini, banyak politikus yang pandai memengaruhi dan kerap menyebarkan propaganda untuk menakut-nakuti masyarakat. “Yang tidak pakai etika politik yang baik. Tidak pakai sopan santun politik yang baik. Coba kita lihat politik dengan propaganda menakutkan, membuat ketakutan, kekhawatiran,” katanya saat membagikan 3.000 sertifikat tanah di GOR Tri Sanja, Kabupaten Tegal, Jawa Tengagh, Jumat (9/11).

Tak hanya itu, lanjut Jokowi, setelah menakut-nakuti rakyat, para politikus tersebut kerap membuat sebuah ketidakpastian dan menggiring masyarakat menuju ketakutan. “Cara-cara seperti ini adalah cara-cara politik yang tidak beretika. Masak masyarakatnya sendiri dibuat ketakutan? Nggak benar kan? Itu sering saya sampaikan, namanya Politik Genderuwo, nakut-nakuti,” tandasnya.

Ia menegaskan bahwa saat ini rakyat hidupnya sedang senang. “Jangan sampai seperti itu. Masyarakat ini senang-senang saja kok ditakut-takuti. Iya tidak? Masyarakat senang-senang kok diberi propaganda ketakutan. Berbahaya sekali,” lanjut dia.

Jokowi berharap propaganda ketakutan tidak lagi dilakukan untuk menciptakan suasana ketidakpastian dan keraguan satu sama lain di tengah masyarakat. Apalagi aset terbesar bangsa ini adalah persatuan, persaudaraan, dan kerukunan. “Jangan sampai rugi besar kita ini, karena pas setiap lima tahun itu ada pemilihan bupati, gubernur, wali kota ada terus. Jangan sampai (pecah, Red) seperti itu,” katanya.

Wakil Ketua Tim Kampanye Jokowi-Ma’ruf, Arsul Sani menilai Presiden Jokowi tengah menyindir kubu pasangan Prabowo-Sandi saat melontarkan istilah Politik Genderuwo. Pernyataan tersebut dilontarkan Jokowi karena ada pihak yang berkampanye dengan gaya-gaya menakuti masyarakat seperti genderuwo. “Sebenarnya Jokowi sedang menggelitik yang di sebelah agar kualitas konten kampanyenya ditingkatkan, dengan memberikan alternatif kebijakan, ide-ide baru, bukan hanya mencela, teriak bohong atau pencitraan,” ujarnya.

***

Juru Bicara Badan Pemenangan (Jubir BPN) Prabowo-Sandi, Andre Rosiade juga menegaskan bahwa rakyat lebih takut dengan mahalnya harga sembako dan lemahnya nilai tukar rupiah dibanding genderuwo. “Ini kan era milenial. Masa masih saja bawa-bawa genderuwo? Apalagi genderuwo ini kan hanya mitos. Yang ada rakyat tetap lebih takut jika melihat harga kebutuhan pokok dan kondisi ekonomi dan juga dollar,” imbuhnya.

Andre juga mengingatkan, sebagai presiden sebaiknya Jokowi lebih melihat atau berbicara mengenai masa depan bangsa. Bukan berkutat dengan istilah atau mitos yang tidak ada kaitannya dengan cara memperbaiki kondisi ekonomi bangsa. “Genderuwo ini coba digambarkan sosoknya. Jangan hanya berhalusinasi dan terperangkap dengan masa lalu, apalagi yang berbau mitos. Lebih baik pikirkan bagaimana nilai tukar rupiah kuat menghadapi dollar. Bagaimana janji lapangan kerja untuk anak bangsa. Bagaimana menurunkan harga-harga. Itu yang harus dipikirkan. Jangan-jangan janji yang banyak tak dipenuhi jokowi itu juga halusinasi,” pungkasnya.

Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera turut berkomentar bahwa pernyataan sontoloyo dan genderuwo justru makin menunjukkan kesopanan sebagai orang Jawa sudah hilang. “Pertama, gembira karena Jokowi dalam dua pekan menggunakan kata yang buat orang Jawa tidak halus dan lembut, karena Jawa adalah pusat pertarungan. Kata sontoloyo dan genderuwo dua kata yang tidak mencerminkan Jokowi selama ini. Citra dan persepsi publik bisa tergerus,” tuturnya.

Mardani memandang politik harus santai. Soal Politik Genderuwo, dia yakin kubunya bisa mewujudkan pergantian presiden lewat Pilpres 2019. “Buat kami, di politik tidak boleh baper (bawa perasaan, Red). Jadi kita akan jalan terus mewujudkan 2019 Ganti Presiden,” kata wakil ketua BPN Prabowo-Sandi.

Jubir BPN Prabowo-Sandiaga, Faldo Maldini menilai tidak tepat jika sindiran Politik Genderuwo yang dilontarkan Presiden Jokowi ditujukan ke pihaknya. Namun, Faldo sepakat dengan imbauan Presiden Jokowi agar politikus dalam berkampanye tidak menakut-nakuti masyarakat. “Tidak cocok Politik Genderuwo dituduhkan ke pendukung kami. Saya kira tidak lah,” tandasnya saat dikonfirmasi wartawan, kemarin.

Meski demkian, ia sepakat dengan imbauan presiden agar politikus dalam berkampanye tidak menakuti-nakuti masyarakat. Namun ia menilai, Politik Genderuwo seperti disinggung Jokowi itu dilakukan oleh pihak yang kerap mencaci maki. Gaya seperti itu dilakukan kedua belah pihak baik kubu Jokowi-Ma’ruf maupun Prabowo-Sandiaga. “Mungkin ada dari pendukung Prabowo dan Sandi, tetapi juga ada antara pendukung petahana. Himbauan semacam itu saya kira penting disampaikan presiden, untuk kedua pendukung,” kata Politikus PAN tersebut. (dil/aen)/ https://indopos.co.id

(nahimunkar.org)

(Dibaca 666 kali, 1 untuk hari ini)