Gusdurian dan “Kyai Gereja”Nuril Arifin Dinilai Mencatut Nama Sunni, dengan akan menyelenggarakan Seminar “Titik Temu Suni-Syiah” di IAIN Purwokerto.

Semoga Banser dan NU Purwokerto bertindak membubarkan acara sesat dan seminar “Titik Temu Suni-Syiah (di IAIN Purwokerto, Selasa 12 Mei 2015) yang jelas -jelas mencatut nama Sunni dari kalangan liberal ini.

Demikian isi protes di laman nugarislurus.com, 8 Mei 2015

Protes keras pun bertebaran di media sosial.Acara seminar itu agar dibubarkan, karena seakan Kyai Gereja Nuril Arifin mewakili Sunni, sedang Muhsin Labib mewakili Syiah dalam rencana seminarbertema titik temu Sunni-Syiah itu. Padahal jelas mereka itu adalah kaum liberal yang fahamnya telah diharamkan MUI, dan yang satu pihak adalah aliran sesat syiah.

Bila acara ini tetap berlangsung (rencananya diadakan Selasa 12 Mei 2015), maka akan menambah bukti bahwa Ada Pemurtadan di IAIN itu memang nyata. Kalau tidak, masa’ pengusung faham liberal yang telah diharamkan MUI dan aliran sesat syiah berseminar di kampus IAIN, dan seakan yang liberal itu mewakili sunni lagi.

Lebih dari itu, di Cilacap sendiri telah ditegaskan oleh MUI Pusat, Ahad 10/5 2015 bahwa Indonesia kini sudah menghadapi darurat bahaya syiah.

Oleh karena itu protes dari Umat Islam terhadap akan diadakannya seminar Titik Temu Sunni – Syiah di IAIN Purwokerto pun bertebaran. Di antaranya berikut inilah ujudnya.

***

Seminar Titik Temu Suni-Syiah Bersama Kyai Gereja

8 Mei 2015

Gusdurian dan ormas syiah Ahlul Bait Indonesia (ABI) akan mengadakan seminar dengan tema titik temu Suni-Syiah.

Menurut rencana acara yang di helat di IAIN Purwokerto, Selasa 12 Mei ini akan menghadirkan dedengkot kyai gereja Nuril Arifin dan dedengkot syiah Indonesia Muhsin Labib.

Dalam hal ini Gusdurian dan Nuril Arifin telah mempermalukan kaum ASWAJA maka mereka lebih layak mewakili kaum liberal bukan Sunni. Seperti di beritakan sebelumnya PCNU Cirebon dan Banser berusaha membubarkan acara deklarasi Anti Syiah beberapa waktu lalu meski di hadiri Ulama ASWAJA Buya Yahya. NU Cirebon menganggap acara ini mencatut nama NU. Semoga Banser dan NU Purwokerto bertindak hal yang sama dengan membubarkan acara sesat dan seminar “Titik Temu Suni-Syiah yang jelas -jelas mencatut nama Sunni dari kalangan liberal ini. Dan itu akan terjadi jika NU Purwokerto masih merasa NU Bagian dari Sunni. Wallahu A’lam

Ihdinassirothol Mustaqim…!

http://www.nugarislurus.com/

***

Apabila IAIN Purwokerto tetap akan ada seminar “Titik Temu Suni-Syiah”, maka benar-benar bertentangan dengan warning yang elah ditegaskan MUI Pusat di Cilacap (Ahad (11/5/2014), bahwa Indonesia sudah sampai pada darurat mengenai bahaya syiah.

Inilah berita yang ditulis di laman http://rri.co.id/ laman resmi RRI.

***

MUI : Indonesia Darurat Syiah

KBRN, Cilacap : Indonesia disebut-sebut dalam kondisi darurat Syiah. Ini dibuktikan dengan munculnya banyak yayasan berlatar belakang Syiah, bahkan saat ini disinyalir sudah masuk ke ranah politik.

Hal itu diungkapkan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Bidang Hukum dan Perundang undangan, Muhammad Baharun, selaku pembicara Talkshow bertema, Ada Apa dengan Syiah ? Mengupas Lebih Cermat tentang Akidah dan Ajarannya, di Masjid Agung Darussalam, Cilacap, Minggu (11/5/2014).

“Saya katakan Indonesia darurat Syiah. Ini karena sekarang banyak muncul yayasan-yayasan Syiah. Bahkan ada indikasi mereka sudah masuk ranah politik yang bisa berdampak pada kebijakan pemerintah,” jelasnya.

Dikatakan, ada 2 doktrin Syiah yang harus dipahami oleh masyarakat, yaitu doktrin Aqidah dan Negara.

“Dalam aspek Aqidah, Syiah mempersoalkan orisinalitas kitab suci Alquran. Mereka berkeyakinan bahwa Alquran yang ada saat ini tidak lengkap. Selain itu, Syiah juga berperilaku takfir, atau melakukan pengkafiran terhadap sahabat-sahabat Nabi,” tegasnya.

Hal ini, menjadi ancaman serius bagi stabilitas Negara Indonesia, yang sebagian besar merupakan penganut Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

(nahimunkar.com)