Video :

Jokowi Pole, Jokowi Mole, akankah Jokowi Kalah lagi di Madura

Surat Terbuka untuk Capres Jokowi-Prabowo, Peserta Pilpres 2019 (103)

Catatan Politik oleh Dr. H. Tatang Istiawan (Wartawan Senior)

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo,

Acara Deklarasi Akbar Ulama Madura untuk pemenangan Anda Capres Jokowi, di Gedung Serba Guna Rato Ebuh, Bangkalan, Rabu (19/12/2018) lalu berbuntut.

Kamis pagi kemarin, saya menerima viral video bergambar awal rambut seorang pria. Kamera yang mensyut diputarkan ke beberapa remaja berkaos putih bergambar Jokowi-Ma’ruf. Disekitarnya ada santri wanita dan pria berpakaian coklat memakai topi, duduk di kursi.

Pria ini yang pertama kali memberi salam dua jari malu-malu, diikuti santri-santri lainnya. Di barisan depan, terdengar sayup-sayup nyanyian lagi Jokowi Pole ( lagi), tapi disekitar pria bertopi justru ada suara yang tak kalah gemuruhnya berteriak “Jokowi mole, Jokowi mole..” (jokowi pulang, jokowi pulang).

Viral video ini melukiskan gemuruh suara makin gaduh. Dan kampanye Jokowi di Madura ini diviralkan kemana-mana. Saya sendiri yang tergabung dalam beberapa grup WA, mendapat kiriman sampai 6 (enam) video yang sama.

Menanggapi viral video ini, Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Jokowi-Ma’ruf Amin, Irjen Pol (Purn) Machfud Arifin mengaku tak terkejut, karena pro kontra dianggap hal biasa.

Sementara Sekretaris Badan Pemenangan Prabowo-Sandi di Jatim, Anwar Sadad mengaku telah melihat video tersebut dari media sosial. Bagi Sadad, video itu menunjukkan realitas atau fakta yang terjadi di masyarakat bawah.

Menurut Sadad, kata-kata dalam video tersebut merupakan kejujuran yang apa adanya dan tak bisa ditutup-tutupi.

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo,

Kakek saya kelahiran Pamekasan, Madura. Ada salah satu karakteristik yang menonjol yaitu bicara apa adanya. Sifat ekspresif, spontan, dan terbuka, masih menular ke cucu-cucunya termasuk saya.

Dengan ekspresivitas, spontanitas, dan keterbukaan kakek saya, melihat anak-anak muda dalam viral video itu, saya tidak terkejut.

Anak-anak muda yang berteriak ‘’Jokowi mole, Jokowi mole’’ sambil mengacungkan simbul dua jari khas Anda Capres Prabowo, menurut akal sehat saya ini manifestasi merespon sesuatu yang dihadapi dan tidak sesuai dengan hatinuraninya.

Dengan berani berteriak ‘’Jokowi mole, Jokowi mole’’ mereka yang diajak ikut deklarasi Rabu ini sepertinya tak bisa menerima perlakuan orang lain yang memobilisasinya.

Berbeda jika mobilisasi itu dapat membuat hati mereka senang, maka secara terus terang tanpa basa-basi, mereka akan mengungkapkan rasa terima kasihnya seketika itu juga.

Apalagi melihat record reputasi Anda Capres Prabowo dalam Pilpres 2014 yang lalu. Anda yang saat itu berpasangan dengan Hatta Rajasa menang mutlak di Madura, Jawa Timur.

Saat itu, Anda memperoleh giliran pasangan nomor urut satu. Anda menguasai perolehan suara di empat Kabupaten di Pulau Madura. Hasil rekapitulasi suara Anda bila ditotal perolehan suara Anda sebanyak 830.968. Sementara Jokowi-JK berjumlah 692.631 suara. Berarti Anda Prabowo unggul 138.337 suara dari Jokowi-JK.

Anda berdua juga perlu tahu bahwa orang Madura dikenal senang bersilaturahmi. Saling kunjung ini merupakan ciri khas orang Madura, karena bagi mereka, ada peribahasa ‘’sejauh kaki melangkah kepada keluargalah kita kembali’’. Ini :artinya sejauh-jauhnya orang madura bekerja atau merantau, kepada keluarga mereka pulang (saudara). Mengingat bagi mereka saudara melupakan keluarga dan berkumpul di kampung halaman dengan saudara dan keluarga merupakan keistimewaan tersendiri.

Saudara-saudara kakek saya bercerita tentang prinsip orang Madura yaitu “poteh tolang ango poteh mata”. Artinya lebih baik berputih tulang daripada berputih mata. Prinsip ini selalu dijunjung tingg.

Makanya, bila harga dirinya terluka, carok-lah penyelesaiannya. Diantara harga diri itu termasuk urusan tanah atau lahan bisnis dan istri.

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo,

Selain histori bahwa Anda Capres Prabowo, dalam Pilpres 2014 menang, saudara-saudara saya yang ada di Madura mengaku sangat kecewa dengan Anda Capres Jokowi.

Kecewa, karena mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mohammad Mahfud MD, yang berasal dari Madura, tak jadi Anda Capres Jokowi, umumkan sebagai Cawapres. Padahal, pada awal-awal, Mahfud yang dihormati dan segani oleh kebanyakan orang Madura telah Anda Capres Jokowi, gadang-gadang menjadi bakal cawapres Jokowi.

Nama Mahfud gagal, karena Jokowi memilih KH Ma’ruf Amin sebagai cawapresnya. Ironisnya, gagalnya Mahfud MD menjadi calon pendamping Anda Capres Jokowi pada Pilpres 2019 ditentukan pada detik detik-detik terakhir.

Atas peristiwa ini, orang Madura kecewa dan mendeklarasikan ‘Madura Bersatu‘ untuk mendukung Anda Capres-Cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Pengurus ‘’Madura Bersatu’’ menganggap penggagalan Mahfud MD adalah pelecehan bagi orang Madura.

Maka itu, gratisnya tol Suramadu yang semula disambut-gegap gempita oleh sejumlah tokoh Madura termasuk tokoh Madura yang tergabung di Ikatan Keluarga Madura (IKAMA), tak ambil pusing.

Beberapa teman saya dari Madura, saat saya tanya tentang penghapusan tarif Tol Jembatan Suramadu, malah mengaku tidak berdampak positif. Teman saya menuding yang merasakan adalah orang Madura dan pendatang yang terkait dengan investasi di Madura. Termasuk minyak.

Teman saya menganggap, penggratisan tol Suramadu, sebagai salah satu bentuk Anda Capres Jokowi, ingin menarik simpati warga Madura.

Dengan adanya fakta-fakta yang terjadi saat Deklarasi akbar Ulama Madura mendukung Anda, akal sehat saya berbisik, tampaknya akan makin sulit bagi Anda Capres Jokowi mengalahkan Anda Capres Prabowo, di Madura.

Fakta sentilan bernada guyonan melalui yel-yel ‘’Jokowi Pole, Jokowi Mole’’ menurut akal sehat saya, bukan sekedar sebuah spontanitas yang dilakukan sekelompok pria atau santri yang duduk di bagian belakang panggung deklarasi.

Ada baiknya, Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Jokowi-Ma’ruf Amin, Irjen Pol (Purn) Machfud Arifin, yang semula gembar-gembor akan memenangkan Anda Capres Jokowi, mematok kemenangan diatas 70%, untuk melakukan kajian ulang target capaian suara Capres yang didukungnya.

Melihat realita calon pemilih terutama generasi milenial dan emak-emak yang antusias merespon kehadiran Cawapres Sandiaga Uno, tak ada salahnya, Anda Ketua TKD Jatim melakukan survei internal, benarkah sampai akhir Desember 2018 ini, elektabilitas pasangan Capres dan cawapres Jokowi-Ma’ruf, masih unggul di Jatim atas pasangan Capres Prabowo-Sandiaga. Mari kita tunggu bersama. (tatangistiawan@gmail.com, bersambung)

***

Gerakan Haram Pilih Jokowi Muncul di Madura

Posted on 21 Agustus 2018 – by Nahimunkar.com

Gerakan haram pilih Jokowi muncul di Madura. Diduga, gerakan tersebut dipicu oleh batalnya Jokowi memilih Mahfud MD sebagai cawapres./ Foto gelora.co

Aksi demonstrasi pun berlangsung di sejumlah wilayah di Madura dan Jawa Timur. Sejumlah warga membawa spaduk besar bertulisan “Madura Untuk Indonesia”, “Haram Bagi Orang Madura Memilih Jokowi” di Jembatan Suramadu, Bangkalan, Jawa Timur, Jumat (17/8).

Masyarakat Madura sakit hati dan kecewa dengan keputusan Jokowi lewat drama yang menimpa tokoh mereka./ psid/ glrco

***

Pemimpin yang dibenci kaum, termasuk 3 golongan yang tidak diterima shalatnya

Imamatun Kubra (Pemimpin Umat) baik sulthan, khilafah, gubernur, presiden dst. Apabila jadi pemimpin yang tidak dicintai rakyatnya karena tidak amanah dan ketidakadilannya maka sholatnya tidak diterima bahkan bila dia berkhianat maka dia tidak mencium bau surga. Ketidaksukaan tentu juga karena alasannya syar’i seperti diatas (fasiq, jahl, pelaku bid’ah)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallaahu‘anhumaa

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

‫ثَلَاثَةٌ لَا تَرْتَفِعُ صَلَاتُهُمْ فَوْقَ رُءُوسِهِمْ شِبْرًا رَجُلٌ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ وَأَخَوَانِ مُتَصَارِمَانِ‪

“Ada tiga kelompok yg shalatnya tidak terangkat walau hanya sejengkal di atas kepalanya (tidak diterima oleh Allah).

  • Orang yg mengimami sebuah kaum tetapi kaum itu membencinya
  • Istri yg tidur sementara suaminya sedang marah kepadanya
  • Dua saudara yg saling mendiamkan (memutuskan hubungan)(HR Ibnu Majah I/311 no 971 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Misykat Al-Mashobiih no 1128)

Tiga golongan/kelompok tersebut adalah:

1. Imam yang Dibenci

 رَجُلٌ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ

(Orang yg mengimami sebuah kaum tetapi kaum itu membencinya)

Imam disini bisa bermakna dua:

  1. Imamatun Sughro (Imam Kecil) adalah imam sholat. Apabila dia maju dan makmum tidak suka maka imam tersebut sholatnya tidak diterima. Tentu ketidaksukaannya beralasan syar’i bukan alasan karena panjang ayatnya atau ruku’nya, tetapi karena dia fasiq, jahil dan pelaku bid’ah. Fasik adalah orang yang keluar dari ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya. Al-Jahl yaitu lawan dari ilm atau tidak mempunyai ilmu tentang sesuatu yang seharusnya ia ketahui tentang bacaan qur’an, doa shalat dan fikih shalat. Sedangkan pelaku bid’ah adalah sering melakukan amalan yg bukan contoh dari rasul saw baik dalam qouli (ucapan), fi’li (perbuatan) ataupun taqrir (nabi saw mendiamkan perbuatan sahabat)
  2. Imamatun Kubra (Pemimpin Umat) baik sulthan, khilafah, gubernur, presiden dst. Apabila jadi pemimpin yang tidak dicintai rakyatnya karena tidak amanah dan ketidakadilannya maka sholatnya tidak diterima bahkan bila dia berkhianat maka dia tidak mencium bau surga. Ketidaksukaan tentu juga karena alasannya syar’i seperti diatas (fasiq, jahl, pelaku bid’ah)

2. Istri Tidur Membuat Marah Suaminya

 وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ

Istri yg tidur sementara suaminya sedang marah, murka, tidak suka kepadanya dan bila mati dalam keadaan tersebut maka sholatnya tidak diterima.

Ulamapun (Imam al Muzhir) berpendapat itupun juga sebaliknya bisa terjadi pada suami gara-gara tidak melakukan kewajibannya sebagai suami pada istri (makan, pakaian, tempat tinggal, perhatian, dan pendidikan).

Marah yang tidak diterima sholatnya tentu dengan alasan yang dibenarkan secara agama. yaitu kewajiban suami dan istri tidak dilakukan dengan baik. Maka menjadi kewajiban kita sebagai orang tua untuk mengajari ilmu berumah tangga tentang kewajiban menjadi suami dan istri dalam Islam.

3. Permusuhan Saudara.

وَأَخَوَانِ مُتَصَارِمَانِ‪

Dua saudara yg saling mendiamkan (memutuskan hubungan)/berkonflik/bertikai. Baik saudara kandung atau saudara semuslim karena semua orang mukmin adalah ikhwah

لَا يَحِلُّ لمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ. (مُتَّفَقٌ عليهِ)

“Tidak halal bagi seorang muslim untuk menghajr (memboikot) saudaranya lebih dari 3 malam (yaitu 3 hari). Mereka berdua bertemu namun yang satu berpaling dan yang lainnya juga berpaling. Dan yang terbaik diantara mereka berdua yaitu yang memulai dengan memberi salam.”

(Muttafaqun ‘alaih, diriwayatkan oleh Imām Bukhāri dan Imām Muslim)

Maka walaupun sholatnya banyak sekali tetapi semasa hidup mereka bertikai maka sholatnya tidak diterima tidak terangkat. Bahkan tidak memutus persaudaraan tidak diterima amalannya dan tidak masuk surga.

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ

“Tidaklah masuk surga orang yang suka memutus, ( memutus tali silaturahmi)”. [Mutafaqun ‘alaihi]

أَنَّ رَسُوْلَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمُ الاثْنَيْنِ وَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لا يُشْرِكُ بِالله شَيْئًا إِلا رَجُلا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ ، فَيُقَالُ : أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا

Bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Telah dibukakan pintu-pintu surga setiap hari Senin dan Kamis. Maka seluruh hamba yang tidak berbuat syirik kepada Allāh sama sekali akan diberi ampunan oleh Allāh, kecuali seorang yang dia punya permusuhan antara dia dengan saudaranya.”

Maka dikatakan kepada para malaikat:

“Tangguhkanlah (dari ampunan Allāh) 2 orang ini sampai mereka berdua damai.”

(HR Muslim no. 2565)

وعن أبي خراش السلمي رضي الله عنه أنه سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : مَنْ هَجَرَ أَخَاهُ سَنَةً فَهُوَ كَسَفْكِ دَمِهِ

Dari Abū Khirāsh As-Sulamiy radhiyallāhu ‘anhu: Sesungguhnya dia mendengar dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang memboikot/menghajr saudaranya selama setahun maka seakan-akan dia telah menumpahkan darah saudaranya.”

(HR Ahmad 17935, Abū Dāwūd 4915)

Sumber: www.ceramahsingkat.com dengan diambil seperlunya.

(nahimunkar.org)

(Dibaca 801 kali, 1 untuk hari ini)