Emha dengan Kiai Kanjeng di Munkiniemi Church, Helsinki, Finlandia/ foto ist.

Buku Hartono Ahmad Jaiz berjudul ‘Nabi-Nabi Palsu dan Para Penyesat Ummat’ ini membeberkan Moqsith membela nabi palsu Moshaddeq berhadapan dengan MUI. di tivi.

Betapa tidak mutunya. Lha wong Emha Ainun Najib pesangkres alias pentolan pemusik bahkan pengoplos shalawat dengan nyanyian gereja pun dimasukkan dalam daftar 200 muballigh rekomended keluaran Kemenag Ramadhan 1439/2018. Bahkan pembela nabi palsu Moshaddeq dan pembela Lia Eden pembuat agama baru Salamullah, yakni Abdul Moqsith Ghazali dimasukkan pula dalam daftar muballigh yang direkomendasikan Kemenag itu.

Abdul Moqsith Ghazali inilah yang brsama Ulil Absahar Abdalla (dari pihak liberal) berhadapan dengan Hartono Ahmad Jaiz dalam bedah buku ‘Ada Pemurtadan di IAIN’, di UIN Jakarta, 16 April 2005. Untuk mengetahui betapa jauhnya penyimpangan pemikiran Moqsith, silakan baca hasil pantauan dari acara  bedah buku ‘Ada Pemurtadan di IAIN’ itu di link ini: https://www.nahimunkar.org/melawan-setan-jil-di-sarangnya/

Menag Lukman kasus Ramadhan 1436

Umat Islam masih terngiang kasus Ramadhan 2015, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang menulis di twitter, orang yang berpuasa untuk menghormati orang yang tidak berpuasa , eh kini malah “mengangkat pesangkres lagi pengoplos shalawat sebagai muballigh rekomended. Demikian pula pembela nabi palsu. Sedangkan kasus lontaran agar hormati orang yang tidak puasa pun masih terngiang begini:

Belum sembuh luka Umat Islam dari kasus Baca Al-Quran dengan Langgam Jawa itu, tahu-tahu menjelang Ramadhan 1436H/ 2015  Menteri Agama Lukman kembali melontarkan pendapat yang dinilai meresahkan umat lagi. Yaitu orang yang tidak berpuasa Ramadhan juga harus dihormati. Keruan saja Umat Islam bagai lukanya disiram cuka, maka tak kurang sampai ketua komisi VIII DPR Saleh Partaonan Daulay yang membidangi soal agama menulis: “Kalau orang yang berpuasa dituntut menghormati yang tidak puasa, dikhawatirkan bisa melebar ke ranah lain seperti orang yang shalat diminta menghargai orang yang tidak shalat, orang yang berzakat diminta untuk menghargai yang tidak berzakat dan seterusnya.”

Pihak MUI pun berkata, Memang harus saling menghormati. Cuma siapa yang dihormati? Tentu mayoritas dong. Saat bulan puasa, minoritas tentu harus menghormati mayoritas yang berpuasa.

Demikian yang tersebar di media.

Dengan munculnya pendapat baru dari Menag yang dinilai meresahkan itu, di media sosial pun banyak yang bersahut-sahutan dengan mengungkit kembali sederet ulah Menteri Agama Lukman yang melukai Umat Islam.

 Ada yang mengungkit upaya Lukman untuk meresmikan Baha’i (sempalan Syiah yang mencampur aduk Yahudi, Nasrani, dan Islam) agar sebagai agama resmi di Indonesia.

Ada yang mengungkit Menag Lukman yang pro aliran sesat Syiah hingga memberi kata pengantar buku syiah yang menentang buku MUI.

 Ada yang mengungkit kebangetannya Menteri Agama Lukman yang sampai memberikan kesempatan muktamar aliran sesat syiah di ruangan Kementerian Agama, yang ruangan itu sendiri namanya Ruang Prof Dr HM Rasjidi (penentang utama Syiah).

Rupa-rupa ulah Menteri Agama Lukman itulah yang melatari lebih ramainya pembicaraan mengenai lontaran terakhirnya, agar orang yang tidak berpuasa Ramadhan dihormati juga. https://www.nahimunkar.org/allah-swt-hormati-orang-yang-puasa-setan-hormati-yang-tidak-puasa/

Kementerian Agama merilis 200 daftar nama muballigh, Ramadhan 1439/ 2018

Kementerian Agama merilis 200 daftar nama muballigh atau ustaz/ustazah untuk bisa dijadikan rujukan masyarakat untuk mengisi kegiatan-kegiatan keagamaan.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, Kemenag menerima banyak pertanyaan dari masyarakat terkait nama muballigh yang bisa mengisi kegiatan keagamaan mereka.
Menag berharap rilis daftar nama muballigh ini bisa memudahkan masyarakat dalam mengakses para penceramah yang mereka butuhkan. Langkah ini diharapkan akan memperkuat upaya peningkatan kualitas kehidupan beragama sesuai misi Kementerian Agama.
Demikian berita yang beredar Jum’at 2 Ramadhan 1439H/ 18 Mei 2018.

Mari kita simak, bagaimana dua orang berikut ini (Emha dan Moqsith) dalam mengusik Islam, sehingga kita akan faham, betapa tidak mutunya daftar 200 nama muballigh yang  diharapkan akan memperkuat upaya peningkatan kualitas kehidupan beragama sesuai misi Kementerian Agama itu.

***.

Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun

Posted on 23 November 2013 – by Nahimunkar.com

Pada masanya (sekitar pertengahan tahun 1970-an hingga akhir 1998-an), Emha Ainun Najib, kelahiran Jombang, 27 Mei 1953 ini, begitu populernya. Ia pintar membuat puisi, menulis kolom, bahkan nembang/menyanyi. Bakat berkeseniannya menurun kepada anak lelakinya Sabrang Mowo Damar Panuluh atau biasa disapa Noe, vokalis kelompok musik Letto. Sabrang Mowo Damar Panuluh alias Noe Letto

Meski lahir di Jombang, namun Emha lebih dikenal sebagai Budayawan Yogya. Sejak lulus SD di Jombang (1965), Emha melanjutkan pendidikan di Yogyakarta (SMP Muhammadiyah dan SMA Muhammadiyah, bahkan UGM –Universitas Gajah Mada).

Emha Ainun Nadjib

Kiprah berkeseniannya tidak lepas dari sikap kritis terhadap pemerintah (kala itu Soeharto), yang diekspresikannya melalui berbagai media kesenian seperti Teater. Antara lain, Emha pernah mementaskan karya teaternya bertajukGeger Wong Ngoyak Macan (1989), tentang pemerintahan Soeharto yang dikiaskannya dengan Raja. Bahkan ketika Emha nyantri di Pondok Modern Gontor Ponorogo Jawa Timur ia pernah melakukan demonstrasi melawan pemerintah (Soeharto) (?), sehingga ia harus menerima resiko dipecat. Karena dipecat, maka Emha pun pindah ke SMA Muhammadiyah I Yogyakarta sampai tamat. Namun demikian, di penghujung kekuasaan Soeharto, Emha sempat tampil bareng di atas panggung bersama sang ‘Raja’ untuk takbir bersama pada malam Idul Fitri kala itu.

Lingkup pergaulan Emha memang sangat luas, tidak saja bisa bergaul dengan ‘Raja’ tetapi juga dengan kalangan penganut aliran dan paham sesat seperti Syi’ah. Di tahun 1997 Emha berpartisipasi aktif pada acara yang diadakan kalangan syi’ah, yaitu acara Doa Kumail. Di situ, Emha memberikan ceramah, sambil merintih-rintih, dan benar-benar menangis, di hadapan sekitar 200 hadirin, yang memadati gedung pertemuan Darul Aitam, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Acara pembacaan Doa Kumail adalah bagian dari peringatan peristiwa Karbala, untuk memperingati wafatnya Husein ra, yang wafat dalam perjalanan menuju Kufah (Irak). Kalangan syi’ah menganggap wafatnya Husein ra sebagai syahid. Namun anehnya hanya Husein ra yang dianggap syahid, padahal yang wafat bukan hanya Husein ra. (lihat tulisan berjudul Mas, Sampeyan Syi’ah? nahimunkar.com, May 28, 2008 9:19 pm).

Emha dengan Kiai Kanjeng di Munkiniemi Church, Helsinki, Finlandia/ foto ist.

Meski sejak lahir beragama Islam, bahkan selalu lekat dengan julukan cendekiawan Muslim, namun Emha ada kalanya suka menggunakan istilah-istilah yang tidak lazim bagi kalangan Islam, yaitu ‘pelayanan’ yang biasa digunakan kalangan Nasrani. Bahkan bersama kelompok musiknya yang bernama Kiai Kanjeng, Emha dan kawan-kawan menampilkan gaya Gospel (ajaran Injil atau berita gembira dari Yesus) sambil bershalawat. Oleh karena itu, Emha tidak terlalu gandrung menggunakan istilah berdakwah, tetapi melayani. ‘Itu hanya bentuk pelayanan. Pelayanan adalah ibadah dan harus dilakukan bukan hanya secara vertikal, tapi horizontal.’

Masjid Cut Mutiah di Jakarta

Emha dan kelompok musik Kiai Kanjeng pernah melakukan pelayanan di Mesjid Cut Meutia, Jakarta Pusat, tepatnya pada hari Sabtu tanggal 14 Oktober 2006, dalam sebuah acara bertajuk Pagelaran Al-Qur’an dan Merah Putih Cinta Negeriku, setelah shalat tarawih. Pada saat itu Emha dan Kiai Kanjeng-nya memadukan (medley) antara lagu Malam Kudus (yang biasa dinyanyikan umat Nasrani dalam rangka peringatan Natal) dengan Shalawat:‘Sholatullah salamullah, ‘ala thoha Rasulillah, sholatullah salamullah, ’ala yaasin Habibillah.’

Ketika itu, Emha dan Kiai Kanjeng mendapat tepukan yang sangat meriah. Sebelum membuat bingung sebagian jamaah, maka Emha pun berujar, ‘Tidak ada lagu Kristen, tidak ada lagu Islam. Saya bukan bernyanyi, saya ber-shalawat.’

Tapi, apa ada aturan yang membenarkan nyanyi-nyanyi di Mesjid setelah shalat tarawih, dengan diiringi berbagai alat musik?

1. Firman Allah SWT di dalam Surat Luqman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ(6)وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ ءَايَاتُنَا وَلَّى مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا كَأَنَّ فِي أُذُنَيْهِ وَقْرًا فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ(7)

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalanAllah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepada ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di telinganya; maka beri khabar gembiralah dia dengan adzab yang pedih.” (QS Luqman: 6-7).

Diposkan oleh Irres Ponorogo di 01.38

http://pono-ragan.blogspot.com, Kamis, 15 Maret 2012

(nahimunkar.com)

https://www.nahimunkar.org/emha-ainun-nadjib-alias-cak-nun/

***

Moqsith pembela nabi palsu Ahmad Moshaddeq berhadapan dengan MUI di TV

Abdul Moqsith Ghazali, dari UIN (Universitas Islam Negeri) Jakarta yang dikenal sebagai tokoh JIL (Jaraingan Islam Liberal) ketika berdialog dengan Ketua Komisi Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) Dr Anwar Ibrahim di Metro TV 29 November 2007 malam, Moqsith bilang mengakui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam nabi terakhir. Tetapi Moqsith menolak bila Ahmad Moshaddeq yang mengaku sebagai nabi baru lagi itu difatwakan oleh MUI sebagai sesat. Dan Moqsith menolak pula ketika hari itu Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta mengeluarkan keputusan pelarangan terhadap Al-Qiyadah Al-Islamiyah yang dipimpin oleh Ahmad Moshaddeq untuk wilayah DKI Jakarta.

 Sikap Moqsith Ghazali ini sangat tak masuk akal yang waras. Kecuali kalau memang dia tidak percaya bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam nabi terakhir; maka penolakannya terhadap Fatwa MUI dan keputusan pelarangan oleh Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta itu baru masuk akal, karena untuk membela keyakinan batilnya yang jelas-jelas melawan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang telah menegaskan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam penutup para nabi (QS Al-Ahzab/ 33: 40), tidak ada sama sekali nabi sesudahnya.

Kesesatan dan pikiran tidak waras Moqsith pembela nabi palsu itu dapat dibaca di buku Hartono Ahmad Jaiz dalam bukunya yang berjudul Nabi-Nabi Palsu dan Para Penyesat Umat, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta 2008).

(nahimunkar.org)

(Dibaca 2.973 kali, 1 untuk hari ini)