Rektor UNJ (Universitas Negeri Jakarta) memecat Ketua BEM, Ronny Setiawan, 5 Januari 2016, karena mengkritiknya.

Setelah ada petisi yang dalam waktu singkat mampu menjaring hampir 50 Ribu dukungan terhadap Ronny yang diberhentikan oleh Rektor itu kemudian Pimpinan UNJ bersedia mencabut SK Rektor Nomor 01/SP/2016 tentang Pemberhentian sebagai Mahasiswa UNJ atas nama Ronny Setiawan, nomor registrasi 3315111295, sebagai Mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNJ.

Sebelumnya, pada 5 Januari 2016, secara resmi, melalui surat bernomor 01/SP/2016 tentang Pemberhentian Sebagai Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta, Rektor UNJ melakukan Drop Out terhadap Ronny Setiawan. Alasannya, Ronny dinilai telah melakukan tindak kejahatan berbasis Teknologi dan Penghasutan yang dapat mengganggu ketentraman dan Ronny dinilai telah menyampaikan surat kepada Rektor UNJ yang bernada ancaman (surat audiensi-red).

Latar belakang pemecatan itu diantaranya adanya postingan-postingan di medsos yang mengkritik. Di antara postingan ada yang berisi menagih janji rektorat UNJ untuk mengadvokasi korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum dosen FIS UNJ.

Menurut tim (mahasiswa) aksi universitas, setidaknya ada 7 fokus isu yang kala itu dibahas, seperti: Parkiran, UKT, KKN/KKL, FMIPA, Beasiswa, BEM Prodi, dan kasus pelecehan seksual oleh oknum dosen FIS. Pertemuan kala itu menyepakati bahwa ke depannya perlu diadakan diskusi lebih dalam perihal masalah-masalah itu dengan melibatkan berbagai elemen mahasiswa.

Memanasnya kritikan itu mengakibatkan keluarnya SK Rektor tentang pemberhentian Ronny Setiawan sebagai mahasiswa UNJ. Namun gelombang dukungan berupa petisi yang didukung hampir 50 ribu pendukung Ronny, maka diadakan perdamaian, dan pihak pimpinan UNJ bersedia mencabut SK Rektor tentang pemberhentian Ronny tersebut.

Berikut ini kronologi peristiwa dan perjalanan sampai pungkasnya berupa kesediaan pencabutan SK Rektor tersebut.

***

Kronologi

Ketua BEM UNJ Ronny Setiawan

Ketua BEM UNJ Ronny Setiawan memberikan materi dalam sebuah diskusi.

POJOKSATU.id, JAKARTA – Pemecatan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ronny Setiawan mendapat reaksi keras dari para mahasiswa. Mereka menuntut agar rektor UNJ menganulir pemecatan tersebut.

Bagaimana kronologi pemecatan Ronny Setiawan sebagai mahasiswa UNJ?

Dikutif dari laman change.org, Ronny Setiawan dipecat berawal ketika melakukan aksi demonstrasi pada Rabu, 23 Desember 2015. Mahasiswa FMIPA UNJ itu berdemonstrasi di kampus A UNJ.

Ketika itu, Ronny mewakili para mahasiswa FMIPA UNJ menolak rencana Rektorat UNJ yang akan memindahkan FMIPA dari Kampus B ke Kampus A UNJ.

Mereka menolak kepindahan itu. Alasannya sederhana, fasilitas penunjang akademik dan organisasi di Kampus A belum siap dan tidak memadai.

Rentang waktu antara tanggal 24 sampai 28 Desember, muncul begitu banyak tulisan, baik yang anonim maupun yang jelas penulisnya. Salah satunya adalah tulisan anonim yang berjudul “Almanak Kepemimpinan Rektor Djaali”, yang begitu vokal dalam mengkritik rektor UNJ.

Informasi yang beredar begitu cepat tersebar kepada publik UNJ. Terlebih ditambah dengan postingan-postingan yang beredar di berbagai media sosial, seperti broadcast yang mendapat selebaran surat disposisi Rektor UNJ terhadap salah satu mahasiswa di FIP yang mengajukan permohonan penurunan UKT.

Untuk melokalisir isu agar tidak semakin liar, BEM UNJ merancang FGD (Focus group Discussion).

“Untuk meredam isu liar yang beredar di media, saya mengumpulkan tim aksi fakultas se-UNJ dan mitra strategis BEM UNJ pada Minggu (27/12/2015). Tujuannya adalah untuk berdiskusi, dan merumuskan beberapa isu strategis yang perlu dikawal ke depan,” ujar Komandan Green Force UNJ (tim aksi universitas), Ahmad Firdaus, seperti dilansir dari change.org, Selasa (5/1/2016).

Dikatakan Firdaus, rencana FGD itu dilakukan pada selasa, 29 Desember 2015 di Pelataran IKK FT UNJ dan responnya luar biasa. Seluruh undangan mengkonfirmasi akan hadir.

“Tetapi, ada upaya penggembosan terhadap rencana FGD kami. Malam harinya, antara pukul 21.00-23.00, kami mendapat kabar secara serempak, seluruh ketua Lembaga OPMAWA (BEMF & BEMJ) di semua fakultas di UNJ mendapat undangan mendadak dari Dekanat Fakultas,” tambah Firdaus.

Pada Selasa, 29 Desember 2015, pukul 08.00-12.00 WIB, pertemuan dengan dekanat dan jajarannya dilangsungkan.

“Kami diajak bertemu dengan dekanat fakultas masing-masing. Dan sudah bisa ditebak, ucapan semua dekan di tiap fakultas seragam. Surat undangan FGD tersebut dibacakan di hadapan yang hadir,” tambahnya.

Menurutnya, undangan FGD diartikan semua Dekanat Fakultas sebagai rencana demonstrasi. Inti dari pertemuan itu ketua lembaga kemahasiswaan dengan Dekanat Fakultas saat itu adalah membatalkan FGD yang sedianya dilakukan sore harinya.

“Keinginan mereka kami tolak. Melalui tulisan berjudul “UNJ MASIH GAWAT DARURAT”, kami tegaskan bahwa FGD tetap akan terlaksana, apapun alasannya,” tegas Firdaus.

Akhirnya, Selasa sore (29/12/2015) pukul 15.00 WIB, FGD dengan tema “Mengurai Benang Kusut Kampus Pendidikan” dilaksanakan. Peserta diskusi membludak. Tercatat lebih dari 350 mahasiswa UNJ menghadiri forum tersebut.

Forum itu membuat Rektor UNJ berang. Akhirnya pada hari Selasa, 5 Januari 2016, secara resmi, melalui surat bernomor 01/SP/2016 tentang Pemberhentian Sebagai Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta, Rektor UNJ memecat Ketua BEM UNJ Ronny Setiawan.

“Alasannya, Ronny dinilai telah melakukan tindak kejahatan berbasis teknologi dan penghasutan yang dapat mengganggu ketentraman. Ronny dinilai telah menyampaikan surat kepada Rektor UNJ yang bernada ancaman,” pungkas Firdaus. (one/pojoksatu)

By: pojoksatu.id/Ridwan Anugerah-Selasa, 5 Januari 2016 

***

Akhirnya, Rektor UNJ Cabut SK DO Ketua BEM Ronny Setiawan

kanan-ke-kiri-rektor-unj-prof-djaali-bersalaman-

Rektor UNJ Cabut SK DO Ronny Setiawan.

POJOKSATU.id, JAKARTA – Setelah mendapat reaksi keras dari ribuan orang, Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Prof Dr Jaali akhirnya bersedia mencabut SK DO (dropt out) Ketua BEM UNJ, Ronny Setiawan.

Pencabutan SK DO Ronny Setiawan diketahui melalui surat elektronik yang berisi kesepakatan antara Pimpinan UNJ dan BEM UNJ pada Rabu (6/1/2015).

Surat yang berisi 5 poin kesepakatan itu ditandatangani oleh Rektor UNJ Prof Dr Jaali dan Ketua BEM UNJ Ronny Setiawan.

Pada poin 4 disebutkan “Pimpinan UNJ bersedia mencabut SK Rektor Nomor 01/SP/2016 tentang Pemberhentian sebagai Mahasiswa UNJ atas nama Ronny Setiawan, nomor registrasi 3315111295, sebagai Mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNJ.”

Selanjutnya pada poin 5 tertulis “Pimpinan UNJ dan BEM UNJ mengajak kepada seluruh civitas akademika UNJ untuk kembali menciptakan suasana kampus yang sejuk dan kondusif berlandaskan azas kekeluargaan.”

http://pojoksatu.id/Ridwan Anugerah

***

Petisi Didukung Hampir 50 Ribu, Rektor UNJ Cabut SK DO Ronny

Rektor UNJ

Ronny Setiawan, Ketua BEM UNJ dan Rektor UNJ, Mengambil Jalan Damai. Kredit: Seluruh Indonesia

Liputan6.com, Jakarta – Terhitung sejak pertama kali diterbitkan 18 jam lalu, petisi berjudul Cabut SK DO Rektor UNJ, Selamatkan Ronny Setiawan! telah mengantongi 47.471 dukungan per pukul 16.37 WIB. Jelas, ini merupakan salah satu petisi yang mengantongi dukungan dalam waktu yang terbilang sangat cepat.

Dan kini, petisi itu tampaknya telah sampai kepada pihak-pihak yang bersangkutan, antara lain Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang dalam hal ini adalah rektor UNJ.

pernyataan pimpinan UNJ dan BEM UNJ

Berdasarkan informasi yang tim Tekno Liputan6.com terima dari salah seorang mantan pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI), Idam Nurdiansyah, pimpinan UNJ dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNJ, akhirnya mengambil jalan damai.

Kedua belah pihak menandatangani pernyataan bersama yang memuat 5 poin penting, yaitu:

  1. BEM UNJ sepakat untuk menarik dan meralat seluruh pernyatan dan berita-berita yang dimuat di media sosial, yang memuat fitnah, penghinaan, dan penghasutan yang di-posting oleh mahasiswa UNJ yang dapat menimbulkan keresahan serta kesimpangsiuran informasi yang multitafsir, sehingga berdampak buruk pada iklim akademik dan aktivitas kampus secara keseluruhan.
  2. Pimpinan UNJ dan BEM UNJ sepakat untuk melakukan dialog secara kekeluargaan untuk mengklarifikasi berita yang menimbulkan keresahan dan kesimpangsiuran informasi yang multitafsir.
  3. Pimpinan UNJ dan BEM UNJ sepakat untuk menyelesaikan semua persoalan yang ada di UNJ secara musyawarah dan mufakat.
  4. Pimpinan UNJ bersedia mencabut SK Rektor Nomor 01/SP/2016 tentang Pemberhentian sebagai Mahasiswa UNJ atas nama Ronny Setiawan, nomor registrasi 3315111295, sebagai Mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNJ.
  5. Pimpinan UNJ dan BEM UNJ mengajak kepada seluruh civitas akademika UNJ untuk kembali menciptakan suasana kampus yang sejuk dan kondusif berlandaskan azas kekeluargaan.

    Terkait pencabutan SK Rektor yang dimaksud, Idam mengungkapkan rasa syukurnya.

    “Alhamdulilah, terima kasih masyarakat yang telah mendukung #SaveRonny. Rektor UNJ mencabut SK-nya. Sekali lagi‘people power’ mengalahkan kekuasaan. Sekarang giliran penegak hukum mengusut kasus yang dibuka oleh Ronny,” jelas Idam melalui pesan elektronik. (Why/Isk)

By: tekno.liputan6.com/Mochamad Wahyu Hidayat06 Jan 2016

 

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.009 kali, 1 untuk hari ini)